Tuesday, July 26, 2016

The Jose Flash Review
Skiptrace [绝地逃亡]

Sebagai salah satu aktor Cina yang bisa dikatakan berhasil ‘menaklukkan’ Hollywood, wajar jika Jackie Chan berupaya untuk membuat keduanya bekerja sama dalam memproduksi film. Sebenarnya Jackie sempat bekerja sama dengan sutradara Renny Harlin yang kita kenal sebagai sutradara Die Hard 2 – Die Harder dan Cliffhanger untuk proyek bertitel Nosebleed yang akhirnya dibatalkan sama sekali setelah awalnya sempat akan melakukan pengambilan gambar di atap World Trade Center di pagi serangan 9/11. Untung Jackie saat itu menundanya karena mendapatkan ide koreografi yang lain. Proyek Skiptrace sendiri awalnya diumumkan tahun 2013 dengan Sam Fell (Flushed Away, The Tale of Despereaux, dan ParaNorman) di bangku sutradara dan Seann William Scott (Stifler dari franchise American Pie) sebagai ‘sidekick’ Jackie. Seiring dengan perkembangannya, Scott digantikan oleh salah satu dedengkot Jackass, Johnny Knoxville, dan bangku sutradara beralih ke Harlin. Perubahan ini menurut saya justru membuat Skiptrace terkesan lebih meyakinkan. I mean, Scott akan membuat banyak penonton teringat dengan peran serupa di Bulletproof Monk atau The Rundown (and it means it’s not good). Sedangkan Harlin tentu punya pengalaman (serta prestasi) lebih di genre action adventure.

Pasca kematian partner terbaiknya, Bennie Chan, opsir polisi Hong Kong lebih banyak menghabiskan tenaga untuk membuktikan bahwa konglomerat bernama Victor Wong adalah bos mafia berjuluk The Matador. Ia pun menjaga putri satu-satu dari sang sahabat, Samantha. Petunjuk penting muncul ketika terjadi pembunuhan di kasino milik Victor di Macau. Seorang pria Amerika yang dikenal penipu bernama Connor Watts dituduh sebagai pembunuhnya. Sebelum sempat tertangkap, Connor malah diculik dibawa ke Rusia oleh gembong mafia setempat. Maka berangkatlah Bennie ke Rusia untuk menemukan Connor dan mendapatkan informasi penting terkait Victor. Maka petualangan love-hate friendship keduanya dimulai dari Rusia ke Hong Kong lewat jalan darat.

Membaca sinopsis yang demikian sebenaranya penonton bisa dengan mudah menebak ke mana arah cerita. Well, this is a Jackie Chan’s movie. That’s not supposed to be the main reason why you see his, is that? Dengan formula-formula khas Jackie; aksi stunt bela diri dengan bumbu akrobatik, petualangan lintas negara antara 2 orang yang seru sekaligus kocak yang membuat keduanya saling mengenal dan akrab, hingga aksi klimaks yang ditunggu-tunggu, sekaligus membongkar rahasia sosok The Matador sebenarnya, Skiptrace mencoba untuk sekali lagi menghibur, terutama bagi para fans Jackie Chan. For that purpose, Skiptrace harus saya akui sekali lagi berhasil menjadi instant entertainment. Seru, lucu, dan punya hearty moment yang cukup. Harlin terbukti mampu bersinergi dengan ‘energi’ Jackie sehingga menjadikan adegan-adegan aksi khasnya sangat menghibur di sini. Harus saya akui, ada beberapa part terutama di babak kedua yang tak banyak berkembang, terkesan tidak penting, dan sekedar memanfaatkan latar sebagai pemanis yang cantik, tapi secara keseluruhan tidak sampai mengganggu pace film. Setidaknya, masih cukup membantu untuk membuat chemistry antara Bennie-Connor menjadi terasa lebih convincing.

Jackie Chan is still Jackie Chan. Tak banyak perbedaan karakter yang ia mainkan, tapi energinya sebagai (martial art) action hero tak sedikit pun pudar di usianya yang sudah kepala enam. Still gripping and still kickin’ ass. Johnny Knoxville pun menjadi sidekick yang bisa mengimbangi aksi (dan comedic) Jackie dengan baik. Karakter tipikal, tapi masih berhasil dimainkan sesuai porsi perannya. Fan Bingbing sebagai Samantha, seperti biasa, mempesona dengan daya tarik fisik dan keanggunannya, meski porsinya tergolong sedikit. Eric Tsang, Winston Chao, Michael Wong, dan Jung-hoon Yeon, dan tentu saja pegulat WWE, Eve Torres, turut mendukung film menjadi lebih menarik lagi.

Aksi beladiri Jackie yang fast-pace berhasil di-shot oleh sinematografi Kwok-Hung Chan yang sampai harus meregang nyawa, tenggelam ketika melakukan pengambilan gambar adegan sampan untuk film ini. Untungnya, posisi director of photography yang kemudian diserahkan kepada Chi-Ying Chan tak membawa kendala yang begitu berarti pada hasil akhirnya. Sambil menikmati aksi bela diri Jackie, penonton juga disuguhi berbagai panorama dan ‘pameran’ tradisi lokal terutama di Mongolia, Gurun Gobi,  dan provinsi-provinsi kecil di daratan Cina. Editing Derek Hui, Judd H. Maslansky, dan David Moritz makin membuat pace film terjaga sepanjang durasi, terlepas dari momen-momen tak begitu penting di pertengahan film yang masih bisa dirangkai sehingga tak sampai mengganggu pace keseluruhan. Scoring dari Kwong Wing Chan tak terlalu istimewa tapi cukup mengiringi tiap adegan sesuai dengan tujuannya. Kredit lebih untuk performance Jackie membawakan Rolling in the Deep dari Adele dengan ‘tradisi’ Mongolia yang bisa dianggap salah satu momen paling mengesankan sepanjang film.

Jackie Chan masih punya taji sebagai action hero Cina, bahkan mungkin masih merajai dan yang paling berhasil di pasar Amerika Serikat. Meski Skiptrace masih menyajikan suguhan yang tak jauh berbeda dengan film-film Jackie sebelumnya, ia masih mampu menjadi instant entertainment yang sangat menghibur, apalagi jika Anda termasuk fans Jackie. Nikmati saja gelaran aksi yang disajikan tanpa perlu banyak melibatkan otak. I was still having fun.


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates