Sunday, July 3, 2016

The Jose Flash Review
The Legend of Tarzan

Siapa di dunia ini yang tak kenal dengan sosok Tarzan? Karakter fiktif karangan Edgar Rice Burroughs ini memang sudah begitu populer di seluruh dunia semenjak kehadirannya pertama kali di tahun 1912. Begitu populernya hingga sampai saat ini sudah banyak sekali diadaptasi dalam berbagai format, mulai novel, komik, serial, film TV, dan tentu saja film layar lebar. Tak hanya di Amerika Serikat, tapi juga negara-negara lain yang mengadaptasi karakter Tarzan dengan kondisi masing-masing budaya. Di Hollywood sendiri, ada beberapa versi yang patut dicatat, seperti Tarzan the Ape Man (1932), Greystoke: The Legend of Tarzan, Lord of the Apes (1984) yang masuk nominasi Oscar untuk kategori Best Screenplay Based on Material from Another Medium, Best Actor in a Supporting Role, dan Best Makeup, serta tentu saja versi animasi Disney, Tarzan (1999) yang menjadi salah satu tonggak sejarah animasi 2D. Semenjak itu, belum ada studio besar yang berani mengangkatnya ke versi layar lebar lagi. Warner Bros. yang pernah memproduksi versi tahun 1984 yang meski masuk nominasi Oscar, tapi pendapatan box office-nya biasa saja, akhirnya yang tertarik untuk kembali mengangkat tokoh Tarzan ke layar lebar untuk generasi 2000-an.

Namun jalan Tarzan untuk kembali ke layar lebar (sama sekali) tak mulus. Kendati sejak 2003 sudah ada naskah yang ditulis John August, bongkar-pasang penulis naskah dan sutradara terus terjadi untuk menemukan versi yang dianggap paling pas. David Yates pun terpilih menjadi sutradara sejak 2012 (setelah menyelesaikan installment terakhir Harry Potter) dengan mengambil versi penulis naskah Adam Cozad dan Craig Brewer, tapi lagi-lagi pengembangan proyek ini dipending tahun 2013, konon karena faktor budget, hingga akhirnya pengambilan gambar dimulai pertengahan 2014. Dengan track record Tarzan versi 1984 yang biasa saja dan proses panjang produksi versi terbaru ini, wajar jika Warner Bros. cukup ketar-ketir dengan resepsi versi terbarunya, The Legend of Tarzan (TLoT) ini.

Alih-alih membuka cerita dengan latar belakang ‘Tarzan’ menjadi sosok bocah rimba bernama Tarzan, TLoT to the point mengambil sudut pandang dari Captain Léon Rom, utusan King Leopold II dari Belgia ke Kongo untuk mencari tambang berlian Opar. Konon pemerintah Belgia butuh tambang berlian ini agar terhindar dari kebangkrutan karena pembangunan infrastruktur negaranya. Saat ekspedisi, tim Captain Léon Rom dibantai habis oleh suku pedalaman yang dipimpin oleh Chief Mbonga, dengan hanya menyisakan dirinya. Chief Mbonga berjanji akan memberikan keseluruhan tambang berlian jika ia berhasil membawa Tarzan ke hutan mereka.

Maka disusunlah siasat agar John Clayton III, sang ‘Tarzan’ mau diundang ke Kongo. Meski awalnya menolak, setelah dibujuk oleh George Washington Williams dari Amerika Serikat yang berniat mencari bukti karena kecurigaan mereka atas Belgia yang melakukan praktek perbudakan di Kongo. Mendengar rancana itu, Jane Porter Clayton, istri John, langsung semangat untuk ikut karena ia rindu dengan tanah tempat ia dibesarkan dulu. Maka berangkatlah ketiganya ke Kongo, sementara Captain Léon Rom sudah menyiapkan berbagai siasat untuk memuluskan rencana besarnya.

Storyline yang ditawarkan TLoT memang lebih sebagai sebuah follow-up atau lanjutan dari kisah dasar Tarzan yang sudah diketahui oleh kebanyakan masyarakat dunia. Keputusan yang baik sebenarnya, karena menyuguhkan cerita kelanjutan baru akan terasa lebih segar ketimbang mengulang lagi dari awal. Sementara yang belum mengenal kisah asal-usul Tarzan, TLoT masih menyisipkan berbagai adegan flashback di sana-sini. Storyline baru yang sebenarnya sangat generik, tapi tetap saja bisa menarik dan seru jika ditangani dengan treatment yang tepat. Sayangnya, alur TLoT mengalir dengan begitu lambat sehingga hingga pertengahan film, saya sudah tak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada karakternya. Pertama, karena faktor cerita yang sudah terlalu generik. Kedua, di paruh pertama cerita tak berhasil membuat karakter-karakternya terasa menarik. Kenapa? Entahlah. Menurut saya, karakter-karakternya, terutama Tarzan dan Jane, seperti tak benar-benar ‘hidup’, hanya menyampaikan dialog-dialog basa-basi tak berarti. Oh, and somehow, chemistry antara keduanya yang benar-benar terasa seperti saling asing satu sama lain. Saya pun tak yakin sensor dari LSF yang kelewatan membabat habis semua adegan romantis keduanya (faktor tayang saat bulan puasa?) yang menjadi faktor mentah dan ‘garing’-nya chemistry mereka. Jangan pula mengharapkan kedalaman karakter, termasuk Captain Léon Rom dan George Washington Williams yang tak lebih dari sekedar mengulang peran serupa di Inglourious Basterds dan The Hateful Eight (meski keduanya sebenarnya justru dipertemukan di Django Unchained). Above all, yang membuat TLoT terasa biasa saja dan jauh dari kesan ‘enjoyable’ adalah penceritaan yang hambar serta cerita yang mengalir begitu saja tanpa perkembangan cerita maupun dinamika yang bikin saya peduli. Somehow, permasalahan penceritaan yang serupa dengan Batman v Superman: Dawn of Justice. Ada apa dengan taste atau image signatural mood yang ingin dibangun dari film-film Warner Bros. akhir-akhir ini?

Satu-satunya hiburan yang bisa saya nikmati adalah beberapa adegan seru yang untungnya masih disisipkan, terutama serangan wild animals stampede ke kota dan adegan-adegan sliding and swinging yang I have to say, nice.

Totalitas Alexander Skarsgård sebagai John Clayton III, terutama latihan fisik berat yang menghasilkan bentuk tubuh super ideal Tarzan memang patut dihargai. Sebagai salah satu komoditas, ia berhasil. Begitu juga dengan gesture-gesture a la manusia rimba yang tidak mudah, tapi berhasil ditampilkan dengan mulus sepanjang film. Bukan salahnya jika karakter Tarzan secara kepribadian maupun psikologis bisa saja, tak ada kedalaman apa-apa, cenderung super dingin. Saya melihat faktor penulisan karakter yang lebih punya andil. Sementara itu Margot Robbie pun punya aura keseksian yang sangat pas untuk Jane Clayton. Kharisma akting seriusnya di beberapa momen pun di atas rata-rata peran tipikal yang dilakoninya selama ini. Sayang, sama seperti karakter John Clayton, karakter Jane pun sama-sama menjadi dangkal meski upaya Robbie sudah cukup maksimal dan terasa tanpa beban. Untuk Christoph Waltz sebagai Léon Rom dan Samuel L. Jackson sebagai George Washington Williams, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sekedar mengulang karakter serupa di film-film Quentin Tarantino.

Di aspek teknis, sinematografi Henry Braham layak mendapatkan kredit tertinggi berkat adegan-adegan yang berhasil sedikit memberikan ‘rasa’ pada petualangan Tarzan, terutama adegan-adegan jungle swinging and sliding, melompat dari ketinggian, serta wild animal stampede to town. Editing Mark Day cukup efektif dalam menyampaikan ceritanya, termasuk sisipan flashback di sana-sini. Jika kemudia hasil akhirnya terasa kurang nyaman diikuti, menurut saya itu lebih kepada faktor konsep mood yang sudah diset sejak awal. Tata suara tak istimewa tapi lebih dari cukup sesuai kebutuhannya. Scoring Rupert Gregson-Williams juga cukup membuat kesan megah, meski tak ada yang memorable. Visual effect, terutama penampilan gorila Mangani meski terlihat real dan buas, tapi tak sampai membuat saya takjub seperti yang ditampilkan Rise of the Planet of the Apes, misalnya. Terakhir, kredit untuk desain produksi, terutama desain kostum dari Ruth Myers yang ‘menghiasi’ layar dengan indahnya.

Format 3D menawarkan depth of field yang cukup dengan beberapa pop-out yang sangat terasa. Tak sampai memberikan efek kejut karena pemunculan yang biasa saja (baca: tidak tiba-tiba), tapi tetap menarik. Jika Anda memilih format 4DX, it’s even better. Hampir semua efek muncul, terutama motion and vibrating seat serta blowing wind yang membuat saya memegang seathandle erat-erat tiap kali hendak adegan melompat dari ketinggian, serta jungle swinging yang seru. Beberapa kali water spray, scent, dan ankle shock juga memberikan experience value yang lebih ketimbang format biasa. Setidaknya, TLoT yang secara cerita tidak menarik bisa masih bisa terasa seru dengan dukungan 4DX 3D.

Saran saya, siapkan ekspektasi yang tepat jika Anda berencana akan menyaksikan TLoT. Even better dengan format 4DX 3D atau minimal 3D, sehingga jika ia juga gagal membuat Anda tertarik dengan storyline-nya, setidaknya masih ada aspek experience lebih yang layak untuk dialami (dan dibayarkan). Jika mau pendapat yang lebih positif, TLoT adalah versi Tarzan yang biasa saja. Tak akan menjadi salah satu versi yang dicatat penting dalam sejarah sinema.


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates