Wednesday, July 13, 2016

The Jose Flash Review
Koala Kumal

Siapapun yang pernah melewati medio tahun 2008 ke atas dan tinggal di Indonesia pasti mengenal nama Raditya Dika. Sosok yang mulai dikenal sebagai blogger, kemudian merambah buku dan film, hingga saat ini sudah berhasil menjadi salah satu ikon sekaligus brand bernilai paling tinggi di tanah air. Bagaimana tidak, follower twitternya saja sampai tulisan ini diturunkan sudah sebanyak 13.9 juta. Satu per satu bukunya diangkat ke layar lebar dengan angka pendapatan yang kian meningkat. Mulai Kambing Jantan (2009), Manusia Setengah Salmon (2013) sebanyak 442.631 penonton, Cinta dalam Kardus (2013), Cinta Brontosaurus (2013) sebanyak 892.915 penonton, Malam Minggu Miko Movie (2014), Marmut Merah Jambu (2014) sebanyak 640.682, hingga Single (2015) yang akhirnya berhasil masuk klub 1 juta penonton, tepatnya 1.341.506 penonton. Perolehan angka yang makin meningkat ini didukung pula oleh effort Dika sendiri untuk mengembangkan diri, terutama dalam menulis naskah dan menyutradarai film-filmnya sendiri. Tahun 2016 ini novel terakhirnya, Koala Kumal (2015) mendapat giliran diangkat ke layar lebar oleh StarVision yang sudah memproduksi tiga film Dika sebelumnya; Manusia Setengah Salmon, Cinta Brontosaurus, dan Marmut Merah Jambu. Seperti biasa, Dika menggaet aktris-aktris muda potensial menjadi lebih bersinar. Kali ini giliran Sheryl Sheinafia yang kita kenal sebagai presenter Breakout  di Net serta pernah mendukung Marmut Merah Jambu, pemeran Sophie di Get Married 5, Anggika Bolsterli, Jessica Mila, dan Karina Nadila. Menggandeng pula aktris yang lebih senior, Acha Septriasa, menandai semakin serius dan dewasa karya yang dilahirkannya. Temanya pun masih belum beranjak jauh dari ‘kejombloan’ dan ‘belum bisa move on’.

Mendekati hari pernikahan, Dika mendadak diputuskan oleh tunangannya, Andrea yang jatuh hati kepada James, seorang dokter muda. Patah hati yang mendalam membuat Dika yang seorang penulis kesulitan konsentrasi melahirkan karya baru. Keadaan menjadi lebih absurd (baca: seru) ketika ia dihardik oleh seorang mahasiswi yang mengaku ketua klub buku, Trisna. Awalnya Trisna hanya meminta Dika untuk menjadi tamu di acara-acara bedah buku, tapi mendapati Dika yang kehilangan semangat menulis lagi membuat Trisna akhirnya memutuskan turun tangan menyembuhkan patah hati Dika. Langkah-langkah ‘move on’ mulai mencari gandengan baru hingga membalas dendam terhadap James dilancarkan. Sayangnya kesemuanya ini tidak berhasil menyembuhkan patah hati Dika. Dika pun semakin penasaran dengan Trisna yang terkesan paling niat untuk balas dendam. Ternyata Andrea menyimpan rahasia masa lalu yang membuat dirinya menjadi sosok seperti sekarang.

Tak ada yang salah sebenarnya dengan tema ‘susah move on’ yang terus-terusan menjadi ‘komoditas’ Dika, selama ia tak hanya mengeksploitasi problematika sejuta umat ini hanya sebagai sumber tawa semata, tapi alangkah baiknya jika juga bisa memberikan semacam efek ‘terapi’ bagi umatnya. Tentu saja dengan susunan plot yang mengalir lancar dan koheren hingga konklusi. For that matter, I have to admit, this time Dika did it very well. Sebagai penulis naskah, kepiawaiannya dalam menuturkan kisah dengan solid terasa sejak menit pertama film. Ia pun terasa semakin terasah untuk membuat penonton penasaran akan apa yang akan terjadi berikutnya, kendati masih ada titik di babak kedua yang terasa semacam repetisi dan bahkan membuat alur plot agak menurun ke titik jenuh, sebelum akhirnya berhasil back on track yang kembali mengalir lancar sebagai konklusi. Sedangkan sebagai sutradara, kepekaan dan kepiawaiannya pun makin terasah. Untuk pertama kalinya saya merasakan begitu tersentuh oleh salah satu adegan paling emosional, sekaligus dibuat tersenyum dengan konklusinya yang dewasa dan manis di film Dika. Juga, yang paling noticeable bagi saya adalah keterampilan menampilkan dua adegan dalam satu frame dengan nilai ketertarikan yang sama besar tanpa kesan fokus terpecah. Ada sedikit ‘rasa’ (500) Days of Summer dibubuhkan di beberapa momen, tapi tidak sampai terkesan menjiplak. Soal joke, well… Jika Anda termasuk cocok dengan joke absurd Dika selama ini, mungkin merasakan kadar yang menurun, tergantikan oleh kadar joke dengan setup ala komedi situasi yang semakin meningkat. Tak semuanya berhasil membuat saya terbahak-bahak, tapi setidaknya bisa membuat saya tersenyum dan memahami letak kelucuannya. Nilai plus lainnya, Dika berhasil memunculkan public placement dengan cara yang cukup fresh tapi tetap noticeable.

Sayangnya, as an actor, Dika masih di zona yang sama seperti film-film sebelumnya. Masih dengan ekspresi wajah (dan juga pengucapan dialog) serba datar. Sekalinya menampilkan ‘emosi’ lebih, itu untuk tujuan komedik. Acha Septriasa seperti biasa, tetap berhasil membuat karakternya terasa ‘hidup’ dan menarik bagi penonton meski tergolong antagonis. Namun tentu saja perhatian penonton akan paling banyak dialihkan oleh performance Sheryl Sheinafia yang terasa paling ‘hidup’ dengan keseimbangan yang sangat baik ketika membawakan adegan komedik maupun adegan pemancing emosi terdalam. Sementara di antara pemeran pendukung dan figuran yang diwarnai wajah-wajah populer, Cut Mini sebagai Mama Dika berhasil menjadi pencuri perhatian, terutama karena keluwesannya membawakan joke-joke ala Dika. In many comedic moments, justru yang paling berhasil adalah yang dibawakan olehnya. Kemudian ada Anggika Bolsterli yang penampilannya sangat mengingatkan saya akan sosok Zooey Deschanel. Meski sebelumnya pernah tampil di Youtubers dan Get Married 5, baru kali ini saya dibuat begitu terpesona. Karena penampilannya pula, saya jadi menyadari kepiawaian Dika dalam membuat aktris-aktris wanita muda yang meski tak bisa digolongkan pendatang baru, tapi membuat sosoknya lebih bersinar dan semakin dikenal lewat film-filmnya. Terakhir, saya tak boleh lupa menyebutkan nama Adipati Dolken yang lewat penampilan sekilasnya berhasil menjadi momen emosional terbaik sepanjang film, bahkan mungkin juga penampilan Dolken paling berkesan sepanjang karir aktingnya sampai saat ini, setidaknya bagi saya. 

Sisanya, masih ada Nino Fernandez yang sedikit banyak mengingatkan akan peran sejenis di franchise Get Married, Ernest Prakasa, Dede Yusuf, Dwi Sasono, Lydia Kandou, Muhadkly Acho, Karina Nadila, Bene Dion, Fico Fachriza, Yudha Keling, Kevin Anggara, Jessica Mila, Fero Walandouw, Kevin Julio, Henky Solaiman, Ronny P. Tjandra, sampai adik-adik kandung Raditya Dika; Yudhita, Kianty, Gianty, dan Edgar, yang hampir kesemuanya noticeable di adegan masing-masing.

Di teknis, hampir kesemua aspeknya mendukung produksi dengan baik. Mulai sinematografi Enggar Budiono yang mem-framing adegan-adegan sederhana terasa menjadi lebih efektif dan kaya dalam bercerita, hingga editing Cesa David Luckmansyah yang sudah tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menjaga koherensi dan pace penuturan cerita. Andhika Triyadi sebagai penata musik juga layak mendapatkan kredit dalam membuat adegan-adegan komedik terasa lebih witty dan adegan-adegan emosionalnya menjadi lebih menyentuh, sama sekali tanpa ada kesan over-dramatic. Sebagai bonus, Sheryl Sheinafia menyumbangkan lagu Kedua Kalinya yang menambah 'baper' (=bawa perasaan) adegan diletakkannya lagu tersebut.

Seiring dengan kedewasaan fansnya, wajar jika Dika juga merasa perlu membuat karyanya lebih dewasa, terutama berkaitan dengan tema-tema signatural yang sudah relate secara kuat dengan fansnya. Mungkin bagi fansnya pula, KK terasa ‘kurang lucu’ jika dibandingkan film-film sebelumnya. Tapi saya rasa ada elemen cerita yang lebih valuable untuk disampaikan di balik substitusi humor yang mulai diarahkan ke komedi situasi tertata. Itu adalah effort sekaligus pencapaian lebih yang patut diapresiasi dari Dika lewat KK.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates