Sunday, July 10, 2016

The Jose Flash Review
Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea

Asma Nadia adalah sebuah ‘brand’ yang punya basis penggemar cukup kuat di Indonesia, baik sebagai penulis maupun kini juga merambah di film (yang rata-rata memang diangkat dari novelnya). Tak heran jika PH-PH tanah air mengincar hak untuk mengangkat karya-karyanya ke layar lebar. Dimulai dari Emak Ingin Naik Haji (2009), dilanjutkan Rumah Tanpa Jendela (2011). Kesuksesan baru benar-benar terlihat ketika Assalamualaikum Beijing (AB) yang diproduksi Maxima Pictures tahun 2014 berhasil membuat 560 ribu lebih penonton berbondong-bondong ke bioskop. Puncaknya, Surga yang Tak Dirindukan produksi MD Pictures yang tahun lalu menjadi jawara film Lebaran sekaligus jawara film Indonesia terlaris sepanjang tahun 2015 dengan mengumpulkan 1.5 juta lebih penonton. Awal tahun ini sempat jeblok dengan Pesantren Impian (yang juga diproduksi MD Pictures), film yang diangkat dari salah satu novel fenomenal Asma, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (JT), giliran Rapi Films mencoba untuk bersaing di bursa film Lebaran tahun ini. Dengan kru inti yang sama dengan AB, mulai sutradara Guntur Soeharjanto, penulis naskah Alim Sudio, penata kamera Enggar Budiono, dan editor Ryan Purwoko, kali ini JT membawa salah satu aktris Indonesia paling high profile saat ini, Bunga Citra Lestari, sebagai lini terdepan, dan Morgan Oey yang setelah menjadi pemuda Beijing, kali ini memerankan karakter pemuda Korea.

Sejak kecil, Rania dimotivasi oleh sang ayah untuk berkeliling melihat dunia bak penjelajah Islam terkenal yang menjadi rujukan dunia, Ibnu Battuta. Sementara sang ibu sering mengkhawatirkan Rania yang menjelajah dunia sendirian tanpa mahram-nya. Ketika sedang sakit parah, sang ayah menyarankan dirinya untuk mengunjungi tempat sang ayah dan ibu bertemu untuk pertama kali, yaitu Baluran, Banyuwangi. Ketika sampai di Baluran, Rania bertemu turis Korea yang sedang menjelajahi Indonesia, Hyun Gen bersama temannya yang orang Indonesia, Alvin. Sejak awal bertemu Hyun Gen sudah tertarik dengan Rania, sementara Rania memilih untuk menghindar karena sikap Hyun Gen yang diangkat tidak sopan. Ketika pulang, Rania menyesal karena tak sempat berada di sisi sang ayah ketika meninggal dunia. Sejak itu ia berjanji pada diri sendiri untuk berhenti menjelajahi dunia dan menemani sang ibu. Lagipula ada sosok pria yang tampak serius dengan Rania, Ilhan, meski Rania sendiri masih belum terlalu yakin apakah ia sosok yang dicari selama ini.

Ketika mendapatkan tawaran mengikuti program penulis untuk tinggal di Korea Selatan selama beberapa bulan, Rania sempat menolak. Berkat dorongan sang ibu yang melihat Rania tidak bahagia dengan pilihan hidupnya sekarang, ia akhirnya berangkat juga. Ketakutan semua pihak, termasuk Rania sendiri adalah bertemunya kembali Rania dengan Hyun Gen. Apalagi Hyun Gen ternyata akan bertunangan dengan putri konglomerat Korea. Tak hanya soal siapa pria yang akan dipilih, Rania juga dihadapkan pada pilihan hidup yang membuat dirinya sendiri bahagia.

Sebenarnya karya-karya Asma Nadia menarik untuk dibahas, terutama karena kerap membenturkan isu emansipasi wanita dengan budaya (atau lebih tepatnya, akidah) Islam. Meski pada akhirnya lebih cenderung jatuh ke drama roman biasa ketimbang pembahasan yang ‘berani’ seperti yang biasa dilakukan Hanung Bramantyo. Secara garis besar, sebenarnya saya menemukan kemiripan tema antara JT dengan AB. Sama-sama wanita muslimah mandiri yang tak terlalu memikirkan urusan jodoh. Jika Asmara trauma karena perselingkuhan yang dilakukan tunangan, maka Rania lebih menikmati perjalanannya berkeliling dunia. Harus saya akui, dalam banyak aspek JT menjadi semacam AB dengan berbagai aspek yang jauh lebih baik. Terutama sekali naskah Alim Sudio dengan bangunan cerita yang lebih masuk akal, fokus pada konsep besar cerita pun terasa lebih dewasa, terutama tentang sosok teman hidup yang berhasil dihubungkan secara kuat dengan pencarian jati diri. Tetap ditampilkan tanpa meninggalkan kemasan drama roman ringan yang sudah terlanjur diterima oleh pangsa pasarnya dengan baik, serta yang paling penting, membenturkan isu emansipasi dengan akidah Islam secara lebih masuk akal, tapi tetap halus dan tak sampai menimbulkan kontroversial. Tak ada lagi karakter yang ‘ngebet’ dengan alasan dangkal seperti Sekar, tak perlu juga menggunakan eksploitasi penyakit sebagai pemancing air mata, tak ada lagi karakter utama pria yang ‘dipaksakan’ menjadi muslim agar bisa menjadi suami sang karakter wanita utama (meski saya masih melihat ada keegoisan dari karakter Rania yang hobi keliling dunia dan mengabadikan lewat kamera, sementara ia tidak suka difoto oleh orang lain), Guntur Soeharjanto terasa lebih luwes dalam menyampaikan jalinan cerita menjadi lebih enak untuk diikuti, dengan pace yang serba pas, mengalir lancar, dan emosi-emosi yang ditata dengan pas, tanpa terkesan dramatis berlebihan. Lagipula, secara tampilan JT juga lebih sinematis dan megah ketimbang AB.

Bunga Citra Lestari jelas pilihan yang paling tepat dalam mengisi peran wanita utama yang mandiri, berkepribadian kuat, tapi tetap punya sisi sensitif. Tanpa perlu banyak effort, BCL sudah punya image yang demikian. Spotlight yang lebih mengalihkan perhatian adalah Morgan Oey yang benar-benar convincing sebagai Hyun Gen yang asli Korea. Tak hanya penyampaian aksen, termasuk ketika menggunakan Bahasa Indonesia, yang begitu natural serta jauh dari kesan dibuat-buat, tapi juga gestur serta ekspresi wajah yang jauh lebih serius dan hidup. Ketidak-konsistenan penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Korea Selatan sepanjang film masih arguable, tapi jelas tidak asal gonta-ganti bahasa. Giring Ganesha pun juga cukup membuat saya tercengang dengan tampilan yang jauh lebih berwibawa dan serius dari biasanya. Meski harus saya akui dialog-dialog yang keluar dari mulutnya seringkali dengan artikulasi yang tidak natural. Faktor terlalu terbiasa menjadi voice talent animasi, mungkin? Ringgo Agus Rahman mungkin tak beda jauh dengan ‘fungsi’ karakter yang diperankan Desta di AB, tapi Ringgo is Ringgo. Ia seperti memasukkan kepribadian aslinya ke dalam film untuk memberikan warna tersendiri, terutama dalam effort memasukkan unsur komedi yang cukup pas, tidak sampai mengganggu mood keseluruhan film. Dewi Yull menjadi pemeran pendukung favorit saya sepanjang film dengan segala kharisma keibuan yang begitu bersahaja.

Di teknis, sinematografi Enggar Budiono jelas menjadi daya tarik utama. Semua setting yang ditata sangat cantik, baik untuk setting rumah Rania, Baluran, Ijen, dan terutama tiap sudut Korea Selatan yang ditampilkan, berhasil direkam oleh Enggar dengan angle-angle sinematis yang cukup maksimal dan pergerakan kamera yang smooth, selaras dengan mood film. Editing Ryan Purwoko pun berhasil merangkai laju plot dengan begitu mengalir lancar dan enak diikuti. Score music terasa begitu pas menggiring emosi tiap adegan, tapa dramatisasi berlebihan. Termasuk pula theme song Aku Bisa Apa dari BCL yang semakin memperkuat emosi film. Kredit yang tak kalah pentingnya layak diberikan kepada penata artistik Allan Sebastian dan penata busana Aldie Harra yang memberi warna lebih kaya untuk desain produksi JT secara keseluruhan.

Jika Anda termasuk penggemar karya-karya Asma Nadia yang diangkat ke layar lebar, JT jelas tak boleh dilewatkan begitu saja. Ini adalah yang terbaik dari semua film yang diangkat dari novelnya sampai saat ini. Meski tak sempurna, masih ada beberapa elemen dan/atau momen yang tak lebih dari sekedar pemantik konflik dramatis semata, tapi secara keseluruhan dikemas dengan jauh lebih dewasa, natural, serta mengalir lebih lancar ketimbang AB. Lagipula tampilan visualnya yang serba cantik tetap saja menjadi daya tarik tersendiri.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates