Saturday, July 9, 2016

The Jose Flash Review
ILY from 38.000 Ft

Butuh keberanian dan kepercaya-dirian lebih bagi PH untuk berkompetisi saat high season bagi bioskop Indonesia. Apalagi soal programmer jaringan bioskop terbesar di Indonesia yang menentukan berapa banyak jatah layar dan slot waktu bagi suatu PH memasarkan filmnya. Meski baru punya portfolio dua judul yang untungnya laris manis, Screenplay Films berani mengikutkan film terbarunya untuk berkompetisi di momen Lebaran tahun ini, bersama dengan film-film high profile yang juga jelas  punya basis fans berjumlah masif sendiri-sendiri, mulai B. J. Habibie, Raditya Dika, dan Asma Nadia. Ketiganya punya track record jumlah penonton di atas satu juta. Dengan ‘komoditas-komoditas’ yang sudah terbukti menjual, Screenplay Films yakin punya massa yang setidaknya sama besarnya dengan ketiga sosok tersebut; cerita remaja ringan, cenderung cheesy, serta bintang-bintang muda yang sudah lebih dulu populer lewat FTV, terutama Michelle Ziudith yang kali ini dipasangkan dengan Rizky Nazar. Legacy Pictures yang pernah memproduksi Kapan Kawin dan ikut mendukung Ada Apa dengan Cinta 2, digandeng entah untuk pertimbangan apa. Besar kemungkinan, kualitas (setidaknya teknis) yang jauh lebih meningkat atau jumlah penonton yang lebih dari sebelumnya. Apa pun itu, Screenplay Films jelas berupaya untuk ‘naik kelas’ dan itu tak boleh diremehkan. Dengan kru utama yang kurang lebih sama dengan Magic Hour dan London Love Story, tajuk I Love You from 38.000 Ft (ILY) konon terinspirasi dari postingan instagram seorang pramugari beberapa hari sebelum tewas dalam kecelakaan pesawat terbang berupa foto tulisan tangan ‘I Love You from 38.000 Ft’ dengan latar jendela pesawat.

Kabur dari keluarganya ke Bali, Aletta dipertemukan dengan seorang pemuda cool dan pendiam bernama Arga yang beberapa kali menolongnya. Sebagai rasa terima kasih, Aletta menawarkan diri menjadi host program TV traveling Geography Channel yang sedang dikerjakan Arga dan timnya. Kebetulan host mereka yang seharusnya mendadak sakit dan tidak bisa ikut syuting. Niat baik Aletta awalnya ditanggapi sinis oleh Jonah. Untung berkat dukungan Arga, Rimba, dan Bugi, akhirnya Aletta diberi kesempatan untuk unjuk gigi. Peristiwa demi peristiwa membuat Aletta semakin dekat dengan seluruh kru, termasuk Arga yang selama ini dikenal cool dan tidak mudah jatuh cinta, dan Jonah. Ujian mulai muncul ketika Aletta dan Arga yang baru saling jatuh cinta tapi harus segera berpisah.

Sebelum memutuskan untuk menonton, tentu saya sudah mempersiapkan diri dengan ekspektasi yang secukupnya, apalagi setelah menyaksikan Magic Hour dan London Love Story. Tentu, ILY masih punya segudang dialog cheesy, storyline yang seringkali bikin mengernyitkan dahi, karakterisasi (terutama karakter wanita utama) yang manja, menjengkelkan, kekakan, dan terlalu agresif untuk urusan menggaet pasangan, serta melahirkan jargon ABG baru (kali ini ada istilah ‘BPUK’ yang harus Anda cari tahu sendiri artinya jika penasaran). Semuanya khas FTV produksi Screenplay Films (dan akhirnya menjadi signature FTV Indonesia pada umumnya). Namun saya menemukan cukup banyak pula perkembangan yang cukup terasa di ILY.

Pertama background setting profesi produksi program traveling yang jelas lebih serius dan menarik untuk diikuti ketimbang latar gaya hidup anak orang kaya semata. Kemudian yang paling penting adalah konsep cerita yang lebih jelas ketimbang sekedar remaja jatuh cinta secara instan kemudian berkonflik karena urusan sepele. ILY menawarkan tema (baca: pesan moral) asmara yang lebih serius dan dewasa, terutama tentang cara mengungkapkan cinta tiap orang yang beda-beda, tak harus dengan ucapan ‘I love you’. Kali ini, kemanjaan dan keegoisan karakter wanita utama yang diwakili oleh Aletta seolah ‘diberi pelajaran’ yang mendewasakan tentang relationship. Ada pula dialog-dialog cheesy khas keluar dari mulut Aletta, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Di sini saya semakin tertarik untuk menganalisis benang merah film-film Screenplay Films yang mencari jawaban pada Tuhan atas masalah-masalah percintaan yang dialami. Seringkali terdengar bodoh, tapi mungkin memang demikianlah pola pikir remaja saat ini. Screenplay Films mencoba untuk membahas pertanyaan-pertanyaan ‘bodoh’ itu lewat drama-drama percintaan cheesy-nya. Dengan ‘pelajaran’ tentang relationship sebagai konklusi di ending yang juga lebih jelas, ILY tentu semakin membuktikan peningkatan dalam produksi mereka, tetap dengan target audience utama yang memang  masih remaja awal (dan tentu saja sudah terlanjur cocok dengan elemen-elemen khas produksi Screenplay).

Michelle Ziudith masih memerankan karakter tipikal di FTV-FTV yang dibintanginya, tapi dengan beban cerita yang lebih serius, setidaknya sejak paruh kedua film, karakter Aletta berhasil ikut sedikit beranjak ‘dewasa’. Sementara Rizky Nazar yang basically memang effortless cool, jelas menjadi salah satu komoditas ILY yang sangat appealing. Sementara penampilan Tanta Ginting, Derby Romero, dan Ricky Cuaca sebenarnya cukup menyemarakkan. Sayang ketiganya tidak diberi porsi maupun perkembangan karakter lebih di paruh kedua film. Amanda Rawles (adik dari Annisa Rawles yang pernah kita lihat penampilannya di Single) yang muncul dengan porsi jauh lebih kecil sebagai Tiara justru lebhi berhasil mencuri perhatian berkat pesona fisiknya. Terakhir, pendukung lain seperti Ayu Dyah Pasha, Aline Adita, Ira Wibowo, Amara, Rizky Hanggono, Lionil Hendrik, dan Verrell Bramasta adalah pilihan nama-nama beken yang menarik untuk mengisi peran-peran tersier.

Teknis ILY pun dengan sangat jelas menunjukkan kenaikan kelas produksi Screenplay Films. Ini terlihat sekali mulai sinematografi Rama Hermawan yang habis-habisan mengeksplorasi keindahan panorama settingnya menjadi begitu sinematis, mulai padang gurun Baluran hingga alam bawah laut Nusa Penida. Visual effect juga patut mendapatkan kredit lebih, terutama untuk adegan turbulensi pesawat terbang yang dilakukan di studio di Batam. Musik score dari Joseph S Djafar mungkin tak terdengar terlalu istimewa (dan bahkan ada yang mirip-mirip score Forest Gump dan The Holiday), tapi masih sangat nyaman untuk didengarkan mengiringi adegan-adegannya. Tak ada yang berlebihan bak sinetron. Pemilihan lagu yang pas, terutama Kiss Me versi Rebel feat. Sophie Simmons yang mengiringi adegan-adegan percintaan menjadi lebih manis dan asyik. Begitu juga theme song Jangan Hilangkan Dia dari Rossa yang bikin target audience-nya (bahkan saya pun sempat ikut hanyut) baper barbar (=baper bareng-bareng).

Mulai penasaran untuk menyaksikan ILY? Poin terpentingnya adalah nikmati saja ini sebagaimana ia dibuat; untuk remaja awal yang masih penuh dengan pertanyaan-pertanyaan naif tentang cinta. Jika Anda sudah berpengalaman (merasa annoyed) dengan Magic Hour dan/atau London Love Story, maka ILY bakal less annoying kok. Abaikan berbagai cheesiness ala FTV yang ada dan nikmati saja sajian visual dan penampilan aktor-aktris yang memang memanjakan mata. Cukup menghibur kok.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates