Sunday, July 24, 2016

The Jose Flash Review
Ghostbusters (2016)

Sejak perilisan pertama kali di tahun 1984, Ghostbusters yang diprakarsai oleh Dan Aykroyd segera menjadi fenomena global. Berhasil mengumpulkan US$ 238.6 juta (dengan perhitungan inflasi setara US$ 525 juta saat ini), diikuti sekuelnya, Ghostbusters II (1989) yang masih berhasil mengumpulkan total US$ 215.3 juta di seluruh dunia. Ghostbusters pun menjelma menjadi franchise baru yang juga merambah novel, video game, dan serial TV animasi. Sayang perjalanan panjang mengiringi installment layar lebar ketiga. Sebenarnya berbagai ide cerita untuk installment ketiga bermunculan sejak lama, termasuk  dari Aykroyd sendiri  sejak 1990-an dengan titel Ghostbusters III: Hellbent. Columbia Pictures selaku studio dan para cast tak kunjung menemukan titik temu, sampai kematian salah satu pemeran personel utama, Harold Ramis (Dr. Egon Spengler) di tahun 2014 membuat cast asli yang lain semakin skeptis. Columbia Pictures pun membuka diri untuk kemungkinan-kemungkinan lain. Pitch dari Paul Feig untuk membuat reboot Ghostbusters dengan versi para wanita mendapatkan lampu hijau untuk diproduksi. Muncul pula rencana tetap membuat reboot dengan anggota tim para pria seperti aslinya yang dipercayakan kepada Russo Brothers (Joe & Anthony Russo – Captain America: The Winter Soldier dan Captain America: Civil War). Namun rencana ini akhirnya dibatalkan sama sekali dan Ivan Reitman (sutradara dua installment pertama) dalam sebuah wawancara mengakui rencana ini tidak pernah benar-benar dikembangkan secara serius.

Praktis tinggal Ghostbusters versi Paul Feig yang serius untuk dikembangkan. Feig kembali menggandeng Katie Dippold setelah sukses berkolaborasi di The Heat serta tentu saja Melissa McCarthy yang sudah menjadi ‘korban eksploitasi’ favorit Feig. Diikuti Kristen Wiig yang pernah bekerja sama dengannya di Bridesmaids, serta pendukung dari Saturday Night Lives lainnya, Kate McKinnon dan Leslie Jones. Menambah semarak suasana gokil, Chris Hemsworth didapuk menjadi Kevin, versi pria dari Janine Melnitz. Tentu saja proyek reboot ini diwarnai kontroversi, termasuk haters berjemaah yang mem-bash habis di berbagai situs review, bahkan sampai menuduh review-review positif sebagai review berbayar, tak ada yang bisa dipercaya sampai Anda menyaksikan (baca: mengalami)-nya sendiri.

Erin Gilbert adalah seorang profesor fisika di sebuah universitas yang karirnya sedang menanjak. Namun semuanya terancam berakhir ketika seorang pria mengenalinya sebagai penulis buku tentang fenomena paranormal beberapa tahun yang lalu bersama sahabatnya, Abby Yates. Ternyata buku itu dijual lagi oleh Abby secara online sebagai bentuk penggalangan dana demi keberlangsungan penelitiannya tentang dunia paranormal yang diyakininya ada. Awalnya Erin meminta Abby menurunkan iklan penjualan buku itu sebelum dilihat oleh para koleganya di universitas, tapi setelah mengalami sendiri Erin setuju untuk bergabung dengan Abby dan Jillian Holtzmann memburu para hantu yang berkeliaran dengan teknologi fisika yang mereka kembangkan. Apalagi setelah beberapa hari terakhir New York diteror oleh berbagai penampakan hantu yang meresahkan. Dengan bantuan petugas kereta bawah tanah, Patty Tolan dan pria dungu bernama Kevin, tim yang mereka namakan Ghostbusters tak hanya mulai membasmi hantu-hantu yang dilaporkan sedang berkeliaran, tapi juga menemukan dalang dari teror ini. Apalagi walikota Bradley tampak membutuhkan jasa mereka tapi tak mau nama mereka populer karena dipercaya akan membuat masyarakat makin panik.

Mengalami Ghostbusters versi Feig ini sebenarnya seperti mengalami kembali petualangan para pemburu hantu dari versi aslinya. Dengan jalinan plot investigatif yang sebenarnya cukup generik, lebih mengingatkan saya akan franchise Scooby Doo yang lebih scientific ketimbang Ghostbusters versi aslinya yang lebih banyak dipengaruhi okultisme dan materi-materi supernatural lainnya. Ditambah dengan karakter-karakter dan guyonan khas Feig yang begitu khas, seperti yang pernah ditunjukkan di Bridesmaids, The Heat, dan Spy. Mulai ‘mengeksploitasi’ habis-habisan Melissa McCarthy dan Kristen Wiig, humor situasional, slapstick, humor bereferensi pada budaya pop, sampai sindiran misogynist dan rasis yang sering dituduhkan sejak ide pertama all-female Ghostbusters diumumkan. Bagi saya sendiri hampir semua humornya berhasil, baik yang sekedar bikin senyum hingga yang tertawa terbahak-bahak. Karakter-karakter utamanya memang identik dengan versi original-nya, tapi masih punya karakteristik khas masing-masing, sehingga tak terkesan sekedar copy-paste dengan gender-swap semata.

Yang patut paling saya puji dari Ghostbusters versi Feig ini sebenarnya adalah kemampuan dalam menyeimbangkan antara bangunan universe baru yang khas milik ia sendiri dengan elemen-elemen original yang sudah melekat kuat, bahkan lewat elemen-elemen tribute dan cameo dari para cast aslinya yang berhasil ‘menyenangkan’. Pun bagi penonton yang belum pernah menyaksikan versi asli sebelumnya, Ghostbusters juga masih menyuguhkan jalinan cerita sederhana yang jelas serta tak lupa yang terpenting, pengalaman visual yang sangat menyenangkan. Lagipula, Feig menyelipkan elemen-elemen ‘asal-mula’ yang tak dimunculkan di dua versi aslinya, seperti nama, logo, dan kendaraan ‘dinas’ Ghostbusters.

Para pengisi karakter utama Ghostbusters versi Feig berhasil mendominasi durasi dengan cukup seimbang, terutama Melissa McCarthy sebagai Abby dan Kristen Wiig sebagai Erin. Disusul Kate McKinnon sebagai Jillian Holtzman yang ternyata mampu mencuri perhatian lewat perangainya yang berhasil menangkap kepribadian karakter versi orisinilnya, Dr. Egon Spengler, tapi dengan balutan sensualitas dan komedik yang pas serta khas. Leslie Jones sebagai Patty Tolan yang diset sebagai versi baru dari Winston Zeddmore, masih punya porsi peran yang kurang lebih sama seperti versi originalnya. Kalah jika dibandingkan ketiga lainnya, tapi tetap bisa menjadi penyampai guyonan (terutama yang bertema rasisme) yang cukup efektif. Sementara Chris Hemsworth sebagai Kevin di sini mendapatkan highlight yang lebih besar ketimbang karakter aslinya, Janine Melnitz. Tentu faktor ‘he’s Chris Hemsworth, he’s an action hero, Thor!’ yang tiba-tiba harus memerankan karakter komedik dungu, sangat berpengaruh, tapi ia juga punya porsi dalam cerita yang awalnya saya kira ‘begitu saja’ (baca: penghias layar semata), ternyata cukup penting menjelang klimaks.

Neil Casey sebagai tokoh villain, Rowan North, tampil tak terlalu berkesan tapi tergolong cukup baik dalam memerankan karakter jahat sekaligus nyentrik. Terakhir, tentu saja kehadiran para cameo dari Ghostbusters versi 1984-1989; Bill Murray, Dan Aykroyd, Annie Potts, Ernie Hudson, dan Sigourney Weaver mampu membuat penonton versi aslinya senyum-senyum.

Salah satu daya tarik Ghostbusters versi 2016 adalah tampilan visualnya yang mendukung petualangan para pemburu hantu menjadi begitu menyenangkan dan seru. Terutama sekali format 3D yang saya akui, terbaik selama beberapa tahun terakhir. Ada banyak sekali pop-out gimmick yang bersinergi dengan timing adegan sehingga menghadirkan efek spontanitasa yang maksimal bagi saya. Gimmick out-of-frame pun menjadi daya tarik lebih dari format 3D, apalagi jika Anda menyaksikannya di Large Premium Format seperti IMAX (yang sayangnya tak mampir di Indonesia karena lebih dikuasai Star Trek Beyond) atau Sphere-X sebagai alternatif yang punya kualitas kurang lebih setara. Sinematografi Robert D. Yeoman serta editing Melissa Bretherton dan Brent White tentu punya andil yang cukup besar dalam memaksimalkan ‘efek kejut’ 3D-nya, yaitu lewat framing yang tepat dan timing yang serba pas pula. Scoring Theodore Shapiro masih tak jauh-jauh bermain dengan original score-nya tapi masih mampu menghadirkan suasana creepiness sekaligus fun. Pemilihan soundtrack pendukung yang sebenarnya hanya beda aransemen dan tak jauh-jauh dari tema ‘who you gonna call’ serta lirik-lirik asli theme song Ghostbusters, tapi terkesan variatif ketika diletakkan pada momen-momen yang pas. Mulai versi Fallout Boys feat. Missy Elliott, Pentatonix, Walk the Moon, hingga Mark Ronson, Passion Pit & A$AP Ferg. Terakhir, tata suara juga memanfaatkan efek surround dengan maksimal, sekaligus menghadirkan keseimbangan suara yang jernih, crispy, deep bass, dan terdengar dahsyat menghiasi sepanjang durasi.


Ghostbusters versi Paul Feig memang dibuat untuk sebanyak mungkin memikat penonton, baik yang familiar dengan versi originalnya maupun penonton dari generasi baru (yang mau tak mau, perlu, mengingat rentang waktu antar installment yang cukup lama, yaitu 27 tahun!). Dengan mempertahankan elemen-elemen ‘klasik’ dengan warna-warna khas Feig yang modern, termasuk me-modern-kan plot yang lebih bisa diterima penonton masa kini yang kian rasional dan scientific, dengan detail minor ‘asal mula’ yang memuaskan, serta tentu saja menghadirkan petualangan yang masih mampu jadi menarik meski generik, Ghostbusters versi Feig adalah paket hiburan yang sangat seru dan menyenangkan. Bahkan mungkin masuk salah satu summer movie 2016 paling seru dan menyenangkan di tengah suguhan-suguhan yang didominasi kesan ‘gelap’. Experience it in 3D for the true experience it was intended to be!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates