Thursday, June 30, 2016

The Jose Retrospective
Remembering Anton Yelchin

Tahun 2016 tampaknya bukan tahun yang begitu bagus untuk dunia entertainment. Baru sampai paruh tahun, sudah banyak pesohor legenda yang harus menutup usia. Tercatat, kita sudah kehilangan David Bowie, Alan Rickman, Prince, Muhammad Ali. Terakhir, kita harus kehilangan aktor muda berdarah Rusia, Anton Viktorovich Yelchin atau yang lebih kita kenal sebagai Anton Yelchin. Anton ditemukan dalam keadaan tewas 19 Juni 2016 karena terjepit mobil Jeep Grand Cherokee keluran 2015 miliknya sendiri yang meluncur secara tak sengaja dan akhirnya menghantam pilar kotak surat batu serta pagar pengaman. Kabar ini mengejutkan banyak pihak mengingat usianya yang masih sangat muda, yaitu 27 tahun.

Anton semakin menambah panjang daftar selebriti yang harus menutup usia di usia 27 tahun (atau populer disebut sebagai The 27 Club) setelah Brian Jones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morrison, Kurt Cobain, dan Amy Winehouse. Meski sebenarnya lebih didominasi oleh musisi, usia 27 tahun tetap menjadi misteri yang menakutkan bagi siapa saja, terutama para selebriti.
Kasus kematian Anton sendiri menimbulkan isu yang lebih luas, yaitu kesalahan teknis pada kendaraan Jeep Grand Cherokee yang konon sudah ditemukan oleh pihak Fiat Chrysler Automobiles (FCA) sejak Agustus tahun lalu tapi sampai kasus Anton terjadi (yang berarti hampir setahun kemudian), belum melakukan penarikan produk. Sempat diberitakan ada tuntutan hukum kepada pihak FCA, pemakaman Anton Yelchin sendiri berlangsung private pada 24 Juni lalu.

Untuk mengenang Anton Yelchin, saya mencoba untuk mengumpulkan judul-judul film yang menjadi highlight sepanjang karirnya. Seperti kita ketahui, Anton Yelchin begitu familiar berkat reboot Star Trek yang dimulai tahun 2009. Ia juga dikenal memerankan karakter Kyle Reese di Terminator Salvation (2009) dan dua installment live-action The Smurfs sebagai Clumsy. Sebenarnya karir Anton dimulai dari berbagai TV series populer, seperti ER, Judging Amy, Taken, The Practice, Without a Trace, Curb Your Enthusiasm, dan NYPD Blue. Karirnya di layar lebar yang notable dimulai dari 15 Minutes, Along Came a Spider, dan Hearts in Atlantis (ketiganya rilis 2001) saat ia masih berusia 12 tahun. Namanya juga semakin dikenal lewat drama arahan Jodie Foster, The Beaver, remake horor remaja bertemakan vampire, Fright Night dan film adaptasi novel supernatural yang disutradarai Stephen Sommers, Odd Thomas. Belum lama ini kita melihatnya di film thriller Green Room dan akhir Juli nanti masih ada

Sebelum menyaksikan Star Trek Beyond yang menandai penampilan terakhirnya di franchise Star Trek, akhir Juli 2016 nanti, saya mencoba melakukan semacam retrospektif terhadap lima judul film yang cukup penting dalam karir seorang Anton Yelchin tapi tergolong tidak begitu sering terdengar di kalangan penonton film Indonesia umum. Salah satu faktornya adalah tidak tayang di bioskop Indonesia. Siapa tahu bisa jadi referensi buat Anda yang juga ingin mengenang Anton Yelchin.

House of D (2004)

Bagi seorang David Duchovny (aktor The X Files), House of D (HoD) tak hanya debutnya sebagai penulis naskah, sutradara, sekaligus aktor, tapi juga film yang begitu personal.

Cerita dibuka dengan sosok Tommy Warshaw, seniman asal Amerika Serikat yang kini tinggal di Paris, berniat memberikan hadiah kejutan untuk putranya, Odell, yang merayakan ulang tahun ke-13. Bagi Tommy, usia 13 adalah angka keramat yang menjadi titik balik anak laki-laki menjadi seorang pria. Kita pun dibawa mundur ketika dirinya masih berusia 13 tahun. Setelah sang ayah meninggal dunia, Tommy tinggal bersama sang ibu yang tampak tak bahagia dengan hidupnya. Bersekolah di sekolah khusus laki-laki karena beasiswa, Tommy tergolong cerdas, terutama dalam bermain kata-kata. Kendati demikian, Tommy tak punya banyak teman. Sahabatnya justru adalah seorang petugas kebersihan sekolah yang mengalami keterbelakangan mental dan dipanggil sebagai Pappass. Bersamanya, Tommy juga bekerja sampingan sebagai pengantar di toko daging. Dari pekerjaaan inilah Tommy bertemu dengan seorang gadis pujaan bernama Melissa yang bersekolah di sekolah khusus perempuan. Tommy juga menjalin persahabatan dengan seorang wanita bernama Bernadette yang dipanggilnya sebagai Lady. Tommy berkomunikasi dengan Lady lewat dinding penjara yang tinggi. Satu per satu masalah kemudian mulai terjadi, mulai dari yang berasal dari sang ibu sendiri, Pappas, dan Melissa, yang memaksa Tommy tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Anton Yelchin di sini berperan sebagai Tommy remaja yang porsinya paling dominan sepanjang film. Di usia yang masih 16 tahun, Anton bisa dikatakan begitu bersinar mengisi peran utama. Naskah bertemakan coming of age yang sebenarnya agak ‘aneh’ (kurang punya koherensi kuat antara tiap elemen cerita dengan konklusi), menjadi sedikit tertutupi oleh performance Anton. Belum lagi ditambah performa Almarhum Robin Williams sebagai Pappas yang meski tak sampai menyentuh hati (lagi-lagi gara-gara penulisan karakter yang jauh dari kesan solid), tapi masih mampu menarik perhatian.

Lihat data film ini di IMDb.

Alpha Dog (2006)

Di antara kelima judul yang saya bahas di sini, bisa jadi Alpha Dog (AD) ini adalah yang paling populer di telinga Anda. Tentu faktor utamanya adalah film arahan Nick Cassavetes ini dukungan jajaran aktor populer, seperti Emile Hirsch, Justin Timberlake, Ben Foster, Olivia Wilde, Amanda Seyfried, hingga Bruce Willis dan Sharon Stone. Anton Yelchin pun mendapatkan peran yang juga tak kalah pentingnya.

Berdasarkan kisah nyata dengan nama-nama karakter yang di-fiksi-kan, AD bercerita tentang kehidupan anak-anak konglomerat Los Angeles yang masih berusia 20 tahunan tapi coba-coba bermain gangster. Adalah Johnny Truelove yang menjalankan bisnis narkoba dan menjadi pusat pergaulan teman-teman yang membutuhkan narkobanya. Sahabatnya adalah Frankie, anak seorang botanis (dan tentu saja, termasuk marijuana), dengan ‘pengikut-pengikut’ setianya, seperti Tiko ‘TKO’ Martinez, Bobby ‘911’, dan Elvis. Masalah muncul dari Jake Mazursky yang berhutang banyak pada Johnny. Bukannya melunasi hutang, Jake yang temperamental justru menyerang Johnny. Tak terima, Johnny dan teman-temannya mencari cara untuk membalas. Kesempatan itu datang ketika adik tiri Jake, Zack, berusaha kabur dari rumah karena tak tahan hidup bersama kedua orang tuanya yang dianggap ‘aneh’. Tanpa perencanaan matang, mereka menculik Zack yang sedang lewat di jalan. Johnny yang kebingungan apa yang akan dilakukan kepada Zack, akhirnya memutuskan menyerahkannya untuk tinggal sementara bersama Frankie. Frankie yang tak ada niatan apa-apa akhirnya membebaskan Zack. Anehnya, Zack justru ingin hidup ala Frankie dan teman-temannya yang mengasyikkan. Apalagi Zack bertemu gadis-gadis yang menganggap dirinya seksi. Sementara itu hilangnya Zack membuat Jake semakin murka terhadap Johnny dan gengnya. Jake pun makin kebingungan apa yang harus ia lakukan berikutnya.

Punya premise yang menarik (apalagi based on true story), AD memang sempat menjadi dark comedy yang cukup menggelitik. Sayangnya, ada banyak momen dimana ia seolah-olah kebingungan bagaimana menggerakkan cerita, se-bingung Johnny untuk mengambil tindakan berikutnya. Sudut pandang cerita dan fokus utama karakter yang seringkali tidak konsisten, pun mengurangi keasyikan mengikuti ceritanya dan tak ada karakter yang benar-benar terasa solid. Ketika awalnya cerita berfokus pada sudut pandang Johnny dan Jake, di pertengahan fokus malah lebih dominan pada karakter Frankie. Di babak berikutnya berpindah lagi pada Zack.

Sebagai Zack, salah satu karakter yang diberi spotlight lebih, Anton Yelchin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersinar. Benar saja, dibandingkan karakter yang dimainkan oleh Emile Hirsch, Justin Timberlake, dan Ben Foster, karakter Zack justru menjadi karakter yang paling berhasil menarik simpati penonton. Apalagi Zack lah yang menjadi titik klimaks yang paling penting.

Lihat data film ini di IMDb.

Charlie Bartlett (2007)

Satu lagi tema coming-of-age yang dibintangi Anton Yelchin. Kali ini di bawah komando sutradara Jon Poll yang sebenarnya lebih dikenal sebagai editor untuk film-film komedi dan keluarga seperti Austin Powers: The Spy Who Shagged Me, Austin Powers in Goldmember, Dunston Checks In, Meet the Parents, Meet the Fockers, Scary Movie 3, dan The Campaign. Istimewanya, Charlie Bartlett (CB) ini didukung pula oleh Robert Downey, Jr., Hope Davis, dan Kat Dennings.

Charlie Bartlett adalah anak orang kaya yang baru saja dikeluarkan dari sekolah swasta karena kepergok membuat kartu identitas palsu untuk teman-temannya. Ia tinggal bersama sang ibu yang lebih membutuhkan ketimbang dibutuhkannya. Charlie tak punya pilihan lain ketimbang pindah ke sekolah negeri. Penampilan Charlie yang parlente jelas menjadi sasaran empuk bagi tukang bully di sekolah. Namun Charlie tak kehabisan akal. Dengan iming-iming bisnis obat-obatan bareng, ia menggandeng si pem-bully, Murphy Bivens, menggapai popularitasnya di sekolah. Berbekal pengetahuan dari psikiatris pribadinya, Charlie membuka ‘praktek’ curhat di toilet cowok. Siapa sangka ‘praktek’-nya ini sangat diminati hampir seluruh siswa SMA Western Summit, termasuk Susan, putri kepala sekolah Nathan.  Tujuan Charlie untuk menjadi populer pun tercapai. Belum lagi kemudian muncul isu pemasangan CCTV di ruang bebas yang ditentang habis-habisan oleh para siswa karena dianggap melanggar privasi. Namun niat baik Charlie berbuntut masalah ketika salah satu ‘pasien’-nya ditemukan overdosis. Nathan pun akhirnya ambil tindakan dengan memanggil Charlie yang juga dituduh telah memprovokasi para siswa menentang pemasangan CCTV. Alih-alih menyelesaikan masalah, terbongkar lah masa lalu Nathan yang mempengaruhi hubungannya dengan Susan.

Meski bertemakan coming-of-age, konten-konten ‘dewasa’ CB, terutama penggunaan obat-obatan dan konflik-konflik serius lainnya, membuatnya lebih cocok menjadi semacam bahan introspeksi untuk para orang tua untuk memahami anak-anak remajanya, atau juga sebagai ajang nostalgia masa muda sekaligus self-reminder bagi orang-orang dewasa. Untuk penonton remaja, mungkin masih bisa menikmati kemasan luarnya yang begitu youthful, fresh, dan witty, tapi belum bisa memahami isu-isu besarnya sebagai bahan introspeksi secara utuh.

Memainkan karakter sentral Charlie Bartlett, jelas Anton Yelchin menjadi spotlight paling terang. Apalagi karakternya memang ditulis dengan sangat menarik; cerdas, nakal, witty, wise sekaligus naif. Complicated memang, tapi terbukti Anton berhasil memainkannya dengan sangat jelas dan manusiawi. Definitely, one of Anton’s best performances sepanjang karir aktingnya.

Lihat data film ini di IMDb.

Like Crazy (2011)

Ketika beranjak dewasa, tipikal peran Anton Yelchin yang sebelumnya dominan coming-of-age pun berkembang menjadi romance yang lebih dewasa. Salah satunya Like Crazy (LC) yang menyandingkannya dengan Felicity Jones dan Jennifer Lawrence di bawah arahan sutradara/penulis naskah Drake Doremus.

Anna dan Jacob seketika saling jatuh cinta ketika sama-sama menjadi mahasiswa di sebuah universitas di Los Angeles. Hubungan tak terpisahkan mereka berlangsung cukup lama sampai suatu ketika Anna yang berwargakenegaraan Inggris melanggar aturan student visa di Amerika Serikat. Sebagai ganjarannya, Anna harus segera pulang ke negaranya dan masuk blacklist sehingga tak bisa kembali mengunjungi Amerika Serikat. Awalnya LDR mereka tampak lancar-lancar saja, apalagi Jacob masih bisa mengunjungi Anna di Inggris. Namun lama-kelamaan, seiring dengan waktu dan kesibukan masing-masing, hubungan pun semakin terasa berjarak. Meski masih saling merindukan, tak dipungkiri hubungan mereka semakin susah untuk dijalani. Kedatangan Sam di kehidupan Jacob dan Simon di kehidupan Anna makin menggoyahkan hubungan mereka.

Dengan style storytelling (terutama dari segi visual) yang khas indie, LC menunjukkan dengan cukup detail dan nyata terasa betapa susahnya menjalani LDR. Lupakan pola pikir cheesy, dangkal, dan ababil tentang LDR dan kesetiaan, karena LC menunjukkan kewajaran kedatangan pihak lain karena faktor ‘kebutuhan’ serta tentu saja yang lebih penting, ujian hubungan yang sebenarnya, bukan sekedar cinta monyet atas dasar suka sama suka semata. Bahkan LC memberikan konklusi yang masih mempertanyakan dasar hubungan masing-masing pihak setelah sebenarnya sudah berhasil bersatu dan diresmikan di atas kertas. Apakah masih ada chemistry sekuat dulu atau sekedar sayang dengan semua perjuangan dan pengorbanan yang sudah dilakukan selama ini. Sebuah drama romantis dewasa yang bisa dijadikan referensi movie-therapy bagi pasangan yang menjalani hubungan serius.

Jujur, sebenarnya Felicity Jones mendapatkan porsi karakter yang jauh lebih banyak. Namun bukan berarti Anton Yelchin kalah kharisma. Karakter Jacob mungkin tak terlalu digali lebih dalam ketimbang Anna, tapi tetap punya detail perubahan karakter yang jelas serta ditunjukkan dengan gemilang pula oleh Anton.

Lihat data film ini di IMDb.

5 to 7 (2014)

Semakin matang usia Anton, semakin dewasa pula pilihan karakter yang ia mainkan dalam film. Salah satunya drama romantis yang cukup unik karya sutradara/penulis naskah Victor Levin (Win a Date with Tad Hamilton! Dan My Sassy Girl versi Hollywood). Tak tanggung-tanggung, Anton dipasangkan dengan Bérénice Marlohe yang usianya sepuluh tahun lebih tua. Ia didukung pula oleh aktor senior macam Frank Langella dan Glenn Close.

Brian Bloom adalah seorang pemuda yang nekad hidup sendiri di belantara New York. Hiasan di apartemennya adalah surat-surat penolakan dari berbagai media besar yang sudah menjadi semacam wallpaper. Suatu ketika ia tertarik pada seorang wanita yang sedang merokok tak jauh dari apartemennya. Setelah saling berkenalan, keduanya mulai saling tertarik hingga diaturlah pertemuan-pertemuan berikutnya dengan wanita Perancis bernama Arielle ini. Semakin saling kenal, kagetlah Brian ketika mendapati bahwa Arielle sudah menikah dan bahkan punya dua orang anak. Arielle menjelaskan konsep hubungan ala Perancis yang membolehkan dirinya menjalin hubungan dengan pria lain di saat-saat tertentu, begitu juga sang suami, Valery yang merupakan seorang diplomat Perancis, sementara perkawinan keduanya tetap terjaga harmonis.

Meski awalnya merasa aneh, Brian memutuskan untuk menerima syarat-syarat menjalin hubungan dari Arielle. ‘Jatah’ jam pertemuan mereka hanya dari jam lima sampai tujuh sore. Hubungan keduanya pun makin lama makin mendalam dan serius. Brian bahkan dikenalkan ke Valery dan kedua anaknya malah akrab dengan Brian. Mendengar hubungan ‘unik’ yang dijalani putranya, Sam memberi peringatan akan masa depan hubungan mereka. Sementara Arlene, ibu Brian, justru menghargai perbedaan budaya yang ada dan bahkan akrab dengan Arielle. Ketika akhirnya berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai seorang penulis, Brian juga berniat membawa hubungannya dengan Arielle lebih serius lagi. Arielle yang sudah merasa Brian sebagai sosok pria yang selama ini diidam-idamkannya pun dihadapkan pada pilihan sulit.

Dengan kehadiran wanita dengan kharisma sekuat dan seseksi Marlohe, perhatian penonton dengan mudah teralihkan padanya. Apalagi ia pun memainkan perannya dengan sangat baik dan berhasil membuat penonton jatuh cinta dengan karakternya. Namun tetap saja karakter Brian Bloom yang diperankan oleh Anton Yelchin adalah poros cerita yang menjadi pengundang simpati utama penonton. Konklusi cerita tentang perbedaan antara hubungan resmi dalam pernikahan dan koneksi perasaan yang saling melengkapi, menjadi tema besar hubungan dewasa yang begitu bold dan bisa dengan kuat dirasakan oleh penonton, meski lewat kemasan yang terkesan ringan, manis, dan seringkali cerdas sekaligus menggelitik. Tentu 5 to 7 dengan mudah masuk menjadi salah satu yang paling mengesankan dari daftar filmografinya. 

Lihat data film ini di IMDb.

Прощай, Антон Ельчин!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates