Thursday, June 30, 2016

The Jose Flash Review
Time Renegades [시간이탈자 ]

Tak salah memang jika ada anggapan bahwa film (walau sebenarnya lebih cenderung benar untuk serial K-drama-nya) Korea Selatan identik dengan melodrama romantis yang cheesy tapi seringkali berhasil memancing emosi para penggemarnya yang sudah mendunia. Namun jangan salah, Korea Selatan juga piawai meramu genre identik mereka dengan genre lain sehingga terasa fresh. Salah satu yang cukup notable adalah unsur fantasi dan crime dari Windstruck (2004), yang ditulis dan disutradarai oleh Kwak Jae-yong. Ia pula yang berada di balik romantic comedy fenomenal Korea Selatan yang mendunia dan sampai di-remake di banyak versi, My Sassy Girl (2001). Tahun 2016 ini ia kembali bereksperimen menggabungungkan berbagai tema sekaligus ke dalam core drama romantis lewat Time Renegades (TR). Dengan dukungan aktor-aktris populer macam Im Soo-jung (I’m a Cyborg, but That’s OK), Lee Jin-wook (Miss Granny), Jo Jung-suk (Architecture 101), Jung Jin-young (Miracle in Cell No. 7 dan Ode to My Father), sampai Lee Min-ho. Tak heran jika TR sempat menduduki posisi jawara box office Korea Selatan di minggu pembukaannya dengan raihan sebesar US$ 2.5 juta dan US$ 3.94 juta dalam lima hari pertama.

TR punya dua plot di setting waktu yang berbeda pula, yaitu 1983 dan 2015. Di tahun 1983 menjelang malam pergantian tahun, seorang guru musik di sebuah SMA, Ji-Hwan berniat melamar sang kekasih, Yoon-Jung, seorang guru science di SMA yang sama. Naas, ada seseorang yang menjembret tas Yoon-Jung. Konsekuensinya, Ji-Hwan yang berhasil menangkap si penjambret sempat mengalami kondisi kritis karena tusukan dari penjambret.

Sementara itu di tahun 2015, seorang detektif muda bernama Gun-Woo dalam sebuah misi juga sempat mengalami kondisi kritis. Untuk mengembalikan kesadarannya, Gun-Woo ditolong oleh alat pacu jantung tua yang dulu juga pernah menyelamatkan nyawa Ji-Hwan. Sejak dari kejadian itu, Ji-Hwan dan Gun-Woo ‘saling bertemu’ lewat mimpi. Ketika Ji-Hwan tidur, lewat mimpi ia seolah menjalani kehidupan Gun-Woo, begitu juga sebaliknya.

Keadaan menjadi semakin menegangkan (bagi kita, penonton, sih seru) ketika di tahun 2015 Gun-Woo menemukan kasus tak terselesaikan dari tahun 1983 yang melibatkan Yoon-Jung. Ji-Hwan yang berada di tahun 1983 tentu sulit dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya sehingga kasus pembunuhan yang ia lihat di tahun 2015 melalui Gun-Woo pun tak terelakkan. Kini tekad Gun-Woo dan Ji-Hwan untuk bekerja sama menemukan si pelaku pembunuhan sebenarnya sebelum jatuh korban lain di tahun 2015.

Secara garis besar, TR memang punya premise yang sangat menarik. Time travel atau time paradox mungkin sudah cukup sering diangkat, terutama Hollywood, begitu juga dengan blending tema romance, seperti yang paling saya ingat The Time Machine (2002) dan The Butterfly Effect. Karena masih berupa fiksi (dan ada pula yang menganggapnya sekedar fantasi), belum ada pembuktian yang empirik bahwa time travel memungkinkan terjadi, maka segala sesuatunya yang terjadi sebagai akibat dari perjalanan waktu adalah sebuah paradoks. Dalam film, ini harus dijaga dengan sangat hati-hati untuk mencegah plothole sekecil apapun. Tak mudah memang, karena jujur, sebenarnya inevitable, tapi setidaknya harus ada logika-logika utama yang dipatuhi, atau jika punya teori (aturan) sendiri, harus selalu dipatuhi. Tanpa perlu susah-susah memikirkan logika yang terlalu jauh tentang aspek sci-fi (khususnya time paradox), di permukaan cerita TR tak terasa punya masalah yang begitu berarti. Penonton terawam pun bisa dengan mudah memahaminya. Kemudian, kemasan yang ternyata lebih dominan dan lebih bikin penasaran penonton ketimbang konsep time paradox-nya adalah thriller investigatif  yang ditata dengan baik pula dan pada banyak kesempatan, menegangkan. Sedikit mengingatkan saya akan Montage (2013), mulai setup tentang unsolved case sampai konsep ‘pancingan’ agar kasusnya terselesaikan, saya sempat berpikir mungkin ini ciri-ciri khas sinema Korea Selatan bertemakan investigatif.

Terakhir, TR tak lupa memberikan sentuhan romance yang oleh beberapa penonton mungkin akan dianggap sebagai melodrama khas Korea Selatan, lengkap dengan sematan konsep kepercayaan tradisional tentang reinkarnasi. Bagi saya, unsur romance yang ditampilkan TR masih dalam kadar yang sangat wajar. Jauh dari kesan melodrama atau cheesy. Malahan, menurut saya unsur traditional belief menjadi penguat kesimpulan yang manis pula untuk unsur romance-nya. Mem-blending berbagai aspek ini menjadi satu adonan, nyatanya dilakukan dengan sangat baik dan seimbang oleh Jae-yong. Alhasil, meski di beberapa part masih ada ke-kurang lancar-an storytelling, terutama dalam menjelaskan lapisan-lapisan cerita tertentu, secara keseluruhan TR bisa dikatakan sebagai satu paket mix-up yang cukup solid. Pun juga menawarkan cerita yang menarik untuk diikuti dan tetap bikin penasaran hingga akhir film.

Bisa dibilang kesemua aktor-aktris pengisi peran-peran sentral tampil sesuai porsi. Terutama sekali Lee Jin-wook sebagai Gun Woo yang menurut saya tampil sedikit lebih menonjol dibandingkan Jo Jung-Suk sebagai Ji-Hwan. Secara keseluruhan, keduanya sama-sama memberikan performa yang baik sesuai porsi peran. Im Soo-jung sebagai Yoon-Jung sekaligus Jung So-eun juga berhasil mengimbangi keduanya meski dengan porsi yang sebenarnya tak terlalu banyak. Setidaknya sebagai karakter wanita yang porsinya paling banyak, Soo-jung masih mampu menjadi daya tarik tersendiri. Di urutan berikutnya, Jung Jin-young sebagai Kang Seung-beom juga layak mendapatkan kredit tersendiri karena berhasil membuat penonton penasaran atas kemisteriusan karakternya.

Sebagai sebuah film dengan dua setting waktu yang berjalan secara paralel, editing TR memegang peranan penting. Beruntung editing Shin Min-kyung menurut saya, top notch. Tak hanya rapi dalam mengedit kedua setting waktu sehingga tidak menimbulkan kebingungan dari penonton, cut-to-cut kedua setting waktu yang berbeda secara back-to-back di opening sekaligus menimbulkan kesan gripping action scene, layak mendapatkan pujian terbesar. Sinematografi Lee Siung-jae pun membingkai kedua setting berbeda dengan sentuhan yang berbeda sesuai dengan mood dominan masing-masing setting (soft dan romantic untuk 1983 serta dark dan dinamis untuk setting 2015), lengkap dengan prop-prop cantik hasil desain produksi Lee Yo-han serta desain kostum yang cukup remarkable dari Jang ju-hee. Sementara musik dari Kim Jin-sung di beberapa momen terdengar (dramatis) berlebihan, tapi setidaknya tak sampai mengganggu keseluruhan mood film. In matter of fact, sangat mendukung dan terdengar unik terutama di adegan-adegan menegangkan.

Jika Anda menggemari tema time travel/time paradox, sekaligus tidak anti dengan unsur romance yang cukup kuat, TR bisa dijadikan referensi yang menarik untuk ditonton. Bahkan mungkin sayang untuk dilewatkan. Sebaliknya, jika Anda penggemar romance a la Korea Selatan, TR tetap bisa jadi sajian yang manis,  dengan variasi warna yang berbeda dari romance biasa.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates