Sunday, June 19, 2016

The Jose Flash Review
Te3n


Sebagai industri film yang paling produktif di dunia (yes, even compared to Hollywood!), sudah bukan rahasia lagi bahwa sinema Hindi atau yang lebih kita kenal sebagai Bollywood sering me-remake film-film dari negara lain, baik secara resmi maupun (terlebih lagi) yang tak resmi. Korea Selatan yang industri filmnya sedang menanjak tak jarang menjadi sumbernya. Sebelumnya Bollywood sudah me-remake seperti My Sassy Girl menjadi Ugly Aur Pagli, Oldboy menjadi Zinda, The Chaser menjadi Murder 2, A Bittersweet Life menjadi Awarapan, Seven Days menjadi Jazbaa, I Saw the Devil menjadi Ek Villain, dan yang baru saja rilis bulan lalu, Rocky Handsome yang merupakan remake dari The Man from Nowhere. Te3n yang dibintangi aktor watak, Amitabh Bachchan dan Nawazuddin Siddiqui ini menambah panjang daftar tersebut karena merupakan remake resmi dari Montage (2013). Disutradarai Ribhu Dasgupta (sebelumnya dikenal sebagai sutradara mini seri Yudh yang juga dibintangi Amitabh Bachchan), naskah Te3n dikerjakan oleh Bijesh Jayarajan (juga dari miniseri Yudh), dibantu Suresh Nair dan Ritesh Shah yang pernah bekerja sama mengerjakan naskah film-film high profile seperti Aladin, Kahaani, D-Day, dan Airlift. Judul Te3n sendiri sebenarnya bukan berarti teen dalam bahasa Inggris (=remaja), melainkan bahasa Hindi yang berarti “tiga”.

Delapan tahun sudah John Biswas, seorang kakek berusia 70 tahunan, mengunjungi kantor polisi tiap harinya untuk mengetahui apakah ada perkembangan dari kasus penculikan cucunya yang berakhir dengan kematian sang cucu, Angela. Tak hanya ke kantor polisi, John juga rajin berkunjung ke gereja tempat Pastor Martin Das memberikan pelayanan. Pastor Martin adalah mantan polisi yang dulu menangani kasus Angela. Ia memutuskan untuk menjadi pastor karena dirundung rasa bersalah di masa lalu. John yang tak henti-hentinya mencari keadilan untuk sang cucu sampai suatu ketika tak diduga ia menemukan petunjuk baru yang memungkinkan untuk akhirnya membawanya ke sang pelaku penculikan.

Sementara itu kepolisian yang kini dipimpin oleh Inspektur Sarita Sarkar baru saja mendapatkan laporan kasus penculikan yang mirip dengan kasus penculikan Angela delapan tahun lalu. Untuk itu Sarita meminta bantuan Pastor Martin untuk memecahkan kasus ini. Meski awalnya menolak, lama kelamaan ia penasaran juga dan memutuskan untuk membantu. Misteri siapa pelaku penculikan keduanya pun menjadi semakin pekat sebelum akhirnya menemukan titik terang.

Mungkin tak banyak yang pernah menonton Montage (2013). Saya pun memutuskan untuk menontonnya setelah Te3n. Saya harus mengakui kekuatan terbesar yang menjadikan Montage sebuah thriller yang remarkable adalah keunikan struktur cerita yang mampu menipu penontonnya. Ditambah dengan sinematografi dan editing yang rapi, serta konsep ‘mengejar waktu’, ia berhasil menjadi film thriller investigatif yang seru dan bikin penasaran. Jika Anda sudah pernah menyaksikan Montage sebelum Te3n, mungkin Anda akan dengan mudah membaca struktur cerita yang tak jauh berbeda. Namun saya merasa jauh lebih nyaman mengikuti plot Te3n karena menurut saya memang punya banyak kelebihan dibandingkan Montage. It’s arguable, tergantung aspek apa yang lebih bisa berhasil bagi Anda atau sisi apa yang lebih Anda sukai.

Menurut saya, ada banyak kekuatan Te3n dibandingkan Montage. Pertama, karakter sang ibu korban di versi Montage yang diubah menjadi sosok kakek (diperankan oleh aktor berkharismatik tinggi, Amitabh Bachchan pula!). Jika karakter ibu, Ha-Kyung terkesan emosional, terutama di momen klimaks, karakter John justru tampil penuh wibawa, tahu persis apa yang sedang dilakukannya, dan dengan mudah lebih menarik simpati penonton ketimbang momen yang sama oleh Ha-Kyung. Kedua, di Te3n, porsi antara penyelidikan yang dilakukan oleh John dan Martin-Sarita seimbang. Bandingkan dengan Montage dimana penyelidikan ynag dilakukan oleh Detektif Cheong-Ho porsinya jauh lebih banyak dibandingkan porsi penyelidikan Ha-kyung. Ini membuat plot Te3n berjalan lebih menarik dan bikin penasaran. Memang awalnya dua plot ini terkesan berjalan sendiri-sendiri dan (mungkin) membuat kecurigaan penonton akan ‘rahasia’-nya semakin besar. Untung saja bagi saya yang belum menonton Montage sebelumnya, tetap terkecoh oleh ‘permainan’ struktur yang tetap saja berhasil menipu. Ketiga, karakter Martin yang memutuskan menjadi seorang pastor pun punya kedalaman lebih, terutama tentang konsep penebusan (redemption) yang relevan dengan keseluruhan plot, even brought it all much deeper.

Tak perlu meragukan lagi performa Amitabh Bachchan. Tak pernah kehilangan kharismanya yang begitu kuat, Amitabh juga kembali menggerakkan emosi penonton dengan peran yang begitu pas untuknya. Kepedihan hati seorang kakek yang kehilangan cucu, ditambah rasa bersalah, namun tetap punya daya yang lebih dari cukup untuk mengungkap kebenaran. Nawazuddin pun mampu mengimbangi performa Amitabh dengan sangat baik. Penyesalan, keresahan tentang penebusan, serta kecerdasannya ketika terlibat mengungkap kasus dimainkan dengan begitu meyakinkan dan natural olehnya. Sementara Vidya Balan meski harus diakui tujuan utamanya menjadi pemanis di tengah aktor-aktor watak, tetap saja memberikan performa yang tak kalah kuat dan serius dibandingkan keduanya. Terakhir, Sabyasachi Chakraborty sebagai Manohar Sinha dan Padmavati Rao sebagai Nancy (istri John) juga patut mendapatkan kredit yang tak kalah penting di balik porsi yang lebih sedikit.

Untuk urusan sinematografi dan editing, secara keseluruhan mungkin Te3n masih tak serapi Montage, terutama dalam menyembunyikan twist-nya. Namun dengan aspek-aspek lain yang memperkaya, bisa dipahami ada kepentingan yang lebih banyak ketimbang sekedar menyajikan tipuan struktur cerita semata. Untuk itu sinematografi Tushar Kanti Ray dan editing Gairik Sarkar tetap layak mendapatkan kredit, meski tak bisa dibilang terlalu istimewa juga. Desain produksi Tanmoy Chakraborty cukup mengesankan, terutama dalam menghadirkan detail-detail tiap lokasi, termasuk properti-properti yang mendukung penyelidikan kasus. Terakhir, musik dari Clinton Cerejo tetap berhasil memperkuat emosi dari tiap adegannya meski bagi saya tak ada komposisi yang sampai menjadi begitu remarkable.

Pada akhirnya, Te3n (sama seperti kebanyakan film Hindi) lebih menyentuh emosi penonton lewat berbagai revelation karakternya. Berbeda dengan Montage yang lebih fokus untuk membawa penontonnya pada ‘petualangan’ investigasi pengungkapan misteri. In short, Te3n berhasil memberikan kedalaman lebih di berbagai aspek, termasuk emosi  dengan porsi yang pas, tak sedikit pun terasa jatuh menjadi melodrama tearjerker, tanpa meninggalkan signatural ‘permainan struktur cerita’ yang menipu khas film aslinya, Montage. It’s totally yours to chose which one to see. To be fair, jika Anda sama-sama menyukai film thriller investigatif maupun drama keluarga yang mendalam, saya menyarankan untuk menonton keduanya untuk membandingkan. Bagi saya sih, dengan alasan paling konyol sekalipun, mending menyaksikan seorang Vidya Balan beraksi sebagai inspektur polisi daripada om-om Korea paruh baya. Bukan begitu?

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates