Saturday, June 25, 2016

The Jose Flash Review
Southbound

Pernah menyaksikan film antologi atau yang di sini dikenal sebagai omnibus, dimana dalam satu film panjang terdiri dari beberapa film pendek? Bagi saya, menyaksikan antologi horor punya kenikmatan tersendiri. Alasannya terutama karena tingkat keberhasilan film horor diukur dari kemampuannya merangkai adegan menegangkan atau menyeramkan sehingga bisa dengan efektif tersampaikan dalam waktu yang tak terlalu panjang. Dengan racikan dan urutan yang pas, antologi horor bisa jadi paket hiburan yang menarik. Apalagi dengan feel grindhouse a la B-class movie yang somehow, ngangenin. Sayang tak banyak antologi horor yang masuk bioskop Indonesia. Selain karena rata-rata diproduksi secara independen yang mana peredarannya jadi terbatas, tak banyak distributor yang tertarik membawa ke sini karena potensi penonton yang tak terlalu banyak, akibat dari minim promo yang akhirnya menjadi segmented. Padahal di Amerika Serikat sendiri ada beberapa judul antologi horor yang menurut saya menarik dan bahkan wajib tonton bagi penggemar horor, seperti seri V/H/S (2012) dan favorit saya, ABC’s of Death (2012 - bayangkan, ada 26 film pendek yang judulnya urut sesuai alfabet! Menarik bukan?). Bagi yang belum tau, Indonesia juga pernah berpartisipasi di proyek antologi Amerika Serikat ini, yaitu L for Libido besutan salah satu sutradara Rumah Dara, Timo Tjahjanto, dengan bintang antara lain Kelly Tandiono, Paul Foster, Gary Iskak, dan Epy Kusnandar. Selain itu ada pula Safe Haven di antologi V/H/S/2 (2013) karya Gareth Evans dan Timo Tjahjanto yang dibintangi Fachri Albar, Hannah Al Rashid, Oka Antara, dan Epy Kusnandar.

Selain antologi/omnibus, ada lagi istilah interwoven, yaitu kumpulan film-film pendek yang terkumpul masih punya benang merah yang saling menyambung. Studio major Hollywood lebih sering menggunakan jenis ini. Bisa dipahami, kesinambungan cerita menjadi satu kesatuan yang utuh lebih penting untuk konsumsi layar lebar. Sebut saja film-film Iñárritu seperti Amores Perros dan Babel, Vantage Point, atau Go!. Kali ini Brad Miska, Chris Harding, Roxanne Benjamin, dan Radio Silence yang pernah bekerja sama di seri-seri V/H/S, mencoba sekali lagi menghadirkan antologi dengan konsep lain lagi. Mereka turut menggandeng Greg Newman dan Badie-Hamza-Malik B. Ali yang pernah melahirkan horor-horor indie macam Stake Land, The House of the Devil, The Innkeepers, dan Starry Eye, untuk menghadirkan Southbound. Berdasarkan idiom Bahasa Inggris ‘going south’ yang artinya berujung buruk atau tidak sesuai ekspektasi, ada lima segmen di Southbound yang saling berkaitan: The Way Out, Siren, The Accident, Jailbreak, dan The Way In. Beruntung kali ini ada distributor film lokal yang mengimpornya untuk ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.

Dibuka dengan The Way Out (TWO), Mitch dan Jack tampak sedang dikejar-kejar oleh sosok makhluk aneh yang melayang-layang. Semakin aneh lagi, semakin jauh mereka mengendarai mobil, mereka ternyata hanya berputar-putar di tempat yang sama. TWO menjadi pembuka sekaligus pemanasan untuk memperkenalkan seperti apa gambaran Southbound seluruhnya. Tak membiarkan semuanya terjawab jelas, fokus cerita beralih ke segmen berikutnya, Siren.

Sadie, Ava, dan Kim adalah personel band cewek yang sedang perjalanan menuju lokasi konser. Di tengah jalan, van mereka mogok dan peradaban terdekat jaraknya masih bermil-mil. Mau tak mau mereka menerima tumpangan dari pasangan aneh yang seolah punya gaya hidup ala 70-an yang mengaku anak tetangganya seorang montir. Sesampai di rumah pasangan itu, Sadie merasakan ada yang aneh dengan pasangan ini. Terutama setelah Sadie mendengar pasangan itu menyebut kematian Alex, salah satu personel band mereka yang meninggal dunia. Namun Ava dan Kim tidak menghiraukan kecurigaan Sadie. Keanehan semakin menjadi-jadi ketika makan malam bersama keluarga Kensington yang tak kalah anehnya.

Segmen ketiga, The Accident, membidik seorang pria bernama Lucas yang menyetir di highway sambil menelepon istrinya, Claire. Tak sengaja Lucas menabrak seorang gadis yang akhirnya terluka parah. Saking paniknya, Lucas membawa gadis yang untungnya masih bernafas itu mencari pertolongan di kota terdekat. Anehnya, kota itu bak tak berpenghuni. Rumah sakit yang ia temukan pun seolah sudah terbengkalai puluhan tahun. Dengan bantuan petunjuk lewat telepon dari 911, Lucas terpaksa menangani sendiri gadis yang kondisinya semakin parah itu dengan cara yang sangat ekstrim.

Jailbreak mengestafet cerita dari seorang wanita yang memberi petunjuk Lucas lewat line 911. Setelah menutup telepon, ia mengunjungi sebuah bar. Tak lama duduk, seorang pria masuk dengan membawa shotgun. Mengaku bernama Danny, ia mencari adik perempuannya, Jessie. Akhirnya seorang bartender membawa Danny ke belakang Freez’n Over sambil memperingatkannya untuk segera meninggalkan kota itu selagi bisa. Setelah bertemu sang adik, barulah Danny sadar bahwa peringatan sang bartender sebelumnya bukan tanpa sebab.

Terakhir, film ditutup dengan The Way In yang menjelaskan bagaimana awal mula segmen pertama, The Way Out, bermula. Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Cait dan Daryl, beserta putri tunggal mereka, Jem. Mereka berencana menghabiskan akhir pekan kali ini bersama di sebuah vila sebelum Jem mulai kuliah. Siapa sangka, mereka menjadi korban home invasion oleh sekelompok pria bertopeng. Daryl yang akhirnya sadar siapa komplotan bertopeng ini dan tujuan mereka datang tak punya banyak pilihan selain berusaha semaksimal mungkin agar Jem selamat. Keadaan menjadi berbalik ketika ada sosok mengerikan yang memburu komplotan bertopeng ini.

Punya lima segmen yang saling berhubungan dan runtut menjadikan Southbound bak satu film utuh. Ini menguntungkan sehingga cerita bisa dinikmati dengan lebih mudah, tanpa harus banyak memikirkan benang merahnya. Apalagi ending segmen terakhir memang terhubung langsung dengan segmen pembuka, sehingga menjadikannya ibarat garis yang membentuk lingkaran penuh. Memang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, jika sejak segmen pertama hingga terakhir berjalan secara linear, bagaimana mungkin endingnya kembali menyambung ke adegan pembuka?

Jika Anda melihat tiap segmen sebagai film-film pendek yang berdiri sendiri, maka bisa jadi Anda akan merasa bahwa kesemuanya tak memiliki konsistensi ketegangan dan ke-solid-an cerita. Ini tak salah, karena menurut saya pun kesemua segmen ini tak punya porsi (termasuk juga tingkat ‘ke-penting-an’) yang sama. Pada akhirnya ada beberapa segmen yang begitu menonjol sementara yang lainnya biasa saja. Itu wajar sadalam sebuah antologi. Toh, film juga perlu me-manage ‘rollercoaster’ film agar tiap momen-nya terasa pas dan efektif untuk penonton. Tak mungkin terus-terusan disodori ketegangan. Jika harus memilih, maka saya mengurutkan dari segmen paling favorit sampai yang paling biasa saja sebagai berikut: The Accident, Siren, The Way In, The Way Out, dan terakhir, Jailbreak. Kelimanya menurut saya sama-sama menyuguhkan cerita horor waddafuck yang sama-sama mengerikan dan unik dengan gaya visual yang mengingatkan saya akan Twilight Zone.

Above all, yang membuat saya mengapresiasi Southbound lebih dari sekedar antologi horor biasa adalah konsep besar tentang redemption yang menjadi underline permasalahan di tiap segmen. Ada yang berhasil menebus kesalahan dengan memperbaikinya hingga akhirnya selamat, tapi ada pula yang alih-alih menebus kesalahan tapi justru memperburuk karma. Narasi dari penyiar radio yang membuka sekaligus menutup film menjadi konklusi yang mempertajam tema besar ini.

Southbound tak memakai nama-nama aktor terkenal untuk mengisi peran-perannya. Namun bukan berarti kesemuanya tak mampu menjadi daya tarik selama durasi berjalan. Hampir tiap aktornya memainkan karakter masing-masing sesuai dengan porsinya dan berhasil. Beberapa yang menurut saya paling menarik perhatian adalah Fabianne Therese sebagai Sadie (segmen Siren), Mather Zickel sebagai Lucas (segmen The Accident), Hassie Harrison sebagai Jem, Chad Villella sebagai Mitch, dan Matt Bettinelli-Olpin sebagai Jack. Terakhir, Max dan Nick Folkman sebagai si kembar Kensington yang tampak mengerikan di balik sikap pendiamnya.

Kelima segmen Southbound tak hanya disutradarai dan naskahnya ditulis oleh orang yang berbeda-beda, tapi juga sinematografer dan editor yang berbeda-beda pula. Konsistensi kesinambungan cerita dan pace yang terjaga bak satu film utuh yang dikerjakan oleh orang yang sama, jelas menjadi poin kelebihan tersendiri. Gaya visual grindhouse memang bukan sesuatu yang benar-benar baru, tapi karena termasuk jarang di peredaran luas, maka desain produksi Jennifer Moller beserta timnya patut diberi kredit tersendiri, terutama dalam menjaga kontinuiti tema desain sepanjang film. Terakhir, tentu tak boleh melupakan scoring dari The Gifted yang memasukkan musik-musik synth ala horor 70-80’an seperti Twilight Zone yang begitu signatural sekaligus membangun nuansa eerie.

Di tengah suguhan horor klasik a la James Wan yang mewarnai scene horor beberapa tahun terakhir, kehadiran Southbound dengan konsep antologi interwoven, ide-ide cerita waddafuck, dan kemasan grindhouse a la B-class movie jelas terasa begitu menyegarkan. Apalagi kemudian ternyata ia berhasil membawa konsep besar yang cukup solid pula, maka saya tak akan heran jika kelak ia menjelma menjadi salah satu antologi horor klasik sepanjang masa. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates