Saturday, June 11, 2016

The Jose Flash Review
Now You See Me 2

Now You See Me (NYSM) adalah sebuah kejutan di tahun 2013, bahkan bagi Summit Entertainment sekalipun yang saat itu sangat membutuhkan franchise baru sebagai ‘tambang emas’ pasca berakhirnya Twilight Saga di tahun 2012. Dengan budget sekitar US$ 75 juta, NYSM berhasil mengumpulkan US$ 351 juta lebih di seluruh dunia. Sebenarnya kesuksesan NYSM ini sangat beralasan. Mengusung tema sulap spektakuler yang tergolong sangat jarang diangkat ke layar lebar, dipadukan dengan tema heist yang bisa memoles tampilan spektakuler sulapnya menjadi sajian seru dan menegangkan, NYSM jelas punya potensi besar untuk dijadikan franchise berusia panjang. Apalagi ia juga punya ensemble karakter-karakter menarik yang kerap menjadi modal penting bagi pengembangan franchise, seperti Fast & Furious yang sudah hampir jilid ke-8. Maka tak lama setelah dirilis, keputusan membuatkan sekuelnya pun diumumkan. Meski sutradara Louis Leterrier akhirnya memutuskan mundur dan memilih mengarahkan film komedi Sacha Baron Cohen, The Brothers Grimsby, Jon M. Chu Step Up 2 The Streets, Step Up 3D, dan G.I. Joe: Retaliation) sebagai pengganti juga nama yang tak boleh diremehkan, terutama untuk film dengan atraksi visual memanjakan mata dan beritme dinamis. Aktris Isla Fisher juga memutuskan mundur karena kehamilan ketiganya bersama Sacha Baron Cohen. Tenang, sosok wanita di gang The Four Horsemen digantikan oleh karakter baru yang diperankan oleh Lizzy Caplan yang tak kalah menarik. Begitu antusiasnya Summit hingga mengumumkan rencana pembuatan installment ketiganya setahun sebelum perilisan installment kedua, yaitu dirilis sekitar 2017/2018 dengan Jon M. Chu yang masih duduk di bangku sutradara. Summit Entertainment pun menjanjikan formula franchise besar summer movie: bigger and merrier with more characters.

Now You See Me 2 (NYSM2) dibuka setahun setelah aksi bak Robin Hood mereka dengan kemasan pertunjukan sulap spektakuler. The Four Horsemen memilih untuk hidup low profile, jauh dari publisitas, sambil mempersiapkan pertunjukan spektakuler lainnya yang menunggu instruksi dari The Eye. Agen FBI, Dylan Rhodes, yang sebenarnya juga bagian dari komplotan The Four Horsemen, akhirnya memutuskan aksi mereka selanjutnya. Sial, The Four Horsemen dijebak dan diculik di tengah-tengah pertunjukan. Daniel Atlas, Merritt McKinney, Jack Wilder yang ternyata masih hidup, dan Lula, our new female Horseman, tiba-tiba terlempar ke Macau. Satu-satunya petunjuk mereka adalah kehadiran saudara kembar Merritt, Chase yang membawa mereka ke Walter Mabry, mantan partner Owen yang event besarnya mereka sabotase sebelumnya. Walter memalsukan kematiannya sendiri dan berniat membalas dendam kepada Owen yang dianggapnya mencuri idenya dulu. Untuk itulah The Four Horsemen direkrut (baca: diperas) untuk mencuri memory stick milik Owen yang diduga akan digunakan untuk mencuri data pengguna perangkat yang dijualnya.

Sementara itu, Dylan berusaha keras mencari tahu apa yang terjadi dengan The Four Horsemen. Maka ia datang kepada Thaddeus yang saat ini berada di balik sel karena menanggung hukuman atas yang dilakukan oleh The Four Horsemen setahun sebelumnya. Dylan dan Thaddeus sepakat untuk bekerja sama menemukan The Four Horsemen. Seperti yang bisa ditebak, Walter punya rencana jahat di balik penggunaan The Four Horsemen sebagai ‘pion’-nya.

Daya tarik utama dari NYSM sebenarnya adalah kejutan-kejutan cerita yang diberikan dengan setup-setup sulap rumit yang spektakuler. Saya sendiri mengakui ide dan kedetailan aksi-aksi sulap yang dihadirkan, tapi tidak sebagai sebuah satu jalinan film cerita yang gagal membuat saya peduli akan nasib para karakternya. Berita buruknya, tak banyak franchise dengan pengulangan jenis dan pola kejutan yang sama bisa berhasil kembali memikat untuk kesekian kalinya. Contoh yang paling mudah adalah pola twist Wild Things (James McNaughton, 1998) yang saat itu begitu fresh tak lagi berhasil untuk sekuel-sekuelnya yang akhirnya berakhir untuk konsumsi home entertainment saja. Sayangnya, NYSM2 termasuk kategori gagal dalam hal ini. Balutan plot yang diimplementasikan, yang sedikit banyak mengingatkan saya akan plot Ocean’s Twelve (Steven Soderbergh, 2004), pun tak banyak membantu membangkitkan excitement saya. Lagi-lagi saya tidak dibuat peduli dengan nasib karakternya, hanya sekedar penasaran ‘itu gimana sih kok bisa begitu?’. Setelah mendapatkan jawaban, ya sudah. Just ‘oh…’. Tidak ada perasaan takjub ataupun kekaguman.

Sebenarnya sejak awal film saya memang tak memasang ekspektasi apa-apa, secara NYSM juga tak memberikan impresi apa-apa selain pertunjukan sulap spektakuler yang bikin penasaran “how did they do it?”. Dengan ekspektasi demikian, saya pun masih bisa menikmati satu jam pertama dari NYSM2. Meski adegan chip heist menurut saya terlalu panjang dan tak perlu oper-operan sebanyak itu juga, saya masih bisa menikmati energi yang coba dihadirkan. Namun film jadi terkesan makin dibuat rumit tanpa esensi yang begitu berarti sejak masuk paruh kedua. Mungkin maksud hati ingin menampilkan multi layer twist yang terkesan cerdas, tapi di mata saya tak begitu punya urgensi selain sekedar gaya-gayaan. Saya yang sejak awal tak terlalu peduli dengan para karakternya pun makin terjerumus dalam kebosanan. Klimaks memang kembali sedikit membangkitkan rasa penasaran dengan formula pertunjukan sulap spektakuler. Ya, setidaknya upaya ini masih bisa bikin saya kembali penasaran, meski pada akhirnya sekali lagi saya hanya bereaksi, “oh gitu aja to”. Jujur, level pertunjukan klimaks NYSM2 masih di bawah NYSM. Adegan penjelasan post-revealing yang terlalu detail terkesan unnecessary, tapi untungnya diedit dengan cepat sehingga tak sampai (lagi-lagi) melelahkan saya.

Aktor-aktor inti seperti Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Dave Franco, Mark Ruffalo, Morgan Freeman, dan Michael Caine masih memberikan performa yang tak beda jauh dari NYSM. Eisenberg sudah begitu melekat dengan karakter Daniel Atlas dan menjadi yang paling noticeable. Double performance Harrelson di sini sebagai Merritt sekaligus Chase tergolong biasa saja, tak memberikan tambahan value apa-apa dari performa di seri sebelumnya. Sementara Lizzy Caplan yang dipasang sebagai the Horsemen’s Sweetheart berhasil mencuri perhatian dan menggantikan peran Isla Fisher dengan karakternya sendiri yang memang appealing.

Daniel Radcliffe sebagai Walter Mabry tampil menarik. Image Harry Potter dan babyface yang melekat begitu kuat pada dirinya (yang membuat dirinya sebagai seorang ayah di The Woman in Black masih terasa aneh) bisa sedikit terlepaskan di sini. Terakhir, Jay Chou dipercaya sebagai Li yang sayangnya, tak punya banyak porsi maupun peran penting, selain sekedar cameo (dan bonus pengisi soundtrack?).

Di balik lemahnya naskah, sinematografi dari Peter Demin dan editing Stan Salfas memegang peranan penting agar setidaknya hasil akhir NYSM2 masih bisa dinikmati dan diikuti. Detail pertunjukan sulap berhasil direkam oleh Demin, sementara Salfas juga berhasil menjaga ritme cerita menjadi dinamis di balik perkembangan plot yang terlalu berbelit-belit. Bryan Tyler masih memberikan nafas grande dan blockbuster di tiap adegan, terutama adegan-adegan pertunjukan sulap yang menjadi lebih terasa megah. Plus, full-orkestra di credit yang begitu memanjakan telinga lewat surround sound mixing-nya. Pilihan soundtrack pun lebih dari cukup untuk mewarnai suasana energetic sepanjang film, mulai This Magic Moment dari The Drifters, Purple Haze dari Jimi Hendrix, Magic Moment dari Perry Como, Freedom dari Pharrell Williams, Magic Stick dari 50 Cent feat. Lil’ Kim, sampai warna-warna urban oriental seperti Jay Chou sendiri, MJ116 featuring MC Hot Dog, KO Star, dan Luo Jin.

Fasilitas Dolby Atmos masih dimanfaatkan untuk beberapa momen. Sedikit terasa  terutama pada kanal-kanal ceiling, seperti suara brankas yang dijatuhkan ke laut, dan pesawat yang melaju kencang, meski secara keseluruhan tak terlalu signifikan pula.

So, set your expectation right. Jika Anda termasuk yang ‘mendewakan’ NYSM pertama, maka besar kemungkinan Anda tetap akan memuja-muja NYSM2. Tapi jika Anda termasuk penonton seperti saya yang hanya menikmati pertunjukan-pertunjukan sulap spektakulernya saja, nikmati saja tiap suguhan pertunjukannya. Tak perlu buang-buang tenaga untuk memikirkan twist atau plot ‘sok ribet’-nya yang sebenarnya tak perlu. Setidaknya dengan cara demikian, NYSM2 masih bisa sekedar menjadi hiburan ringan. NYSM3? Well, mungkin saja proyeknya bakal tetap dilanjutkan. Semoga siapa saja penulis naskah dan sutradara yang ditunjuk bisa menemukan pakem cerita yang lebih menarik untuk membuat franchise-nya berumur panjang seperti Fast and Furious.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates