Saturday, June 18, 2016

The Jose Flash Review
Finding Dory


Meski konsisten memproduksi animasi-animasi dengan cerita orisinil yang selalu unik, Pixar sesekali menengok kembali karya-karya paling remarkable (dan tentu saja yang laris) untuk kemungkinan dibuatkan sekuel atau perkembangan franchise. Apalagi franchise dengan kekuatan besar adalah aset-aset penting bagi perusahaan yang harus dilestarikan. Speaking of franchise, Pixar tentu punya banyak sekali stock valuable material. Malah tiap film panjang (dan bahkan tak terkecuali film-film pendek juga) yang diproduksi mereka punya kekuatan sebagai franchise yang rata-rata setara. Sampai sekarang terhitung sudah ada Toy Story (3 menuju 4 film), Cars (2 menuju 3 film), dan Monsters Inc. (2 film). Setelah ini masih ada The Incredibles 2 yang dipersiapkan untuk rilis tahun 2019.

Finding Nemo (FN, 2003) adalah salah satu animasi sukses sekaligus diakui sebagai salah satu terbaik dari Pixar dengan penghasilan US$ 936 juta lebih di seluruh dunia. Maka tak heran jika Pixar tertarik untuk makin melebarkan franchise ini. Instead of a sequel, sebenarnya Finding Dory (FD) lebih cocok jika disebut sebagai spin-off. Kendati demikian, tampilnya karakter utama di FN; Nemo dan Marlin dengan porsi yang tak kalah dibandingkan Dory, masih sah jika FD disebut sebagai sekuel FN. Andrew Stanton masih duduk di bangku sutradara sekaligus penulis naskah, dibantu Angus MacLane (pernah terlibat di departemen animasi Pixar dengan berbagai jabatan mulai A Bug’s Life hingga Toy Story 3) dan Victoria Strouse. Beberapa voice talent kembali mengisi suara, seperti Albert Brooks sebagai Marlin dan tentu saja Ellen DeGeneres sebagai Dory. Sementara karakter Nemo yang dulunya disuarakan oleh Alexander Gould digantikan Hayden Rolence karena perubahan suara Gould.

Meski punya rentang waktu sekuel yang cukup lama, yaitu 13 tahun, FD mengambil setting setahun setelah ending FN. Dory kini tinggal bersama Marlin dan Nemo di Great Barrier Reef. Sesekali Dory menjadi asisten relawan untuk Mr. Ray yang memimpin karyawisata laut. Suatu ketika topik keluarga sedang dibahas, mendadak Dory mengingat ayah-ibunya yang sudah lama tidak ia ingat. Sepotong demi sepotong ingatan kembali dan membuat Dory tak sabar ingin menemukan orang tuanya yang diduga berada di Jewel of Morro Bay, California. Meski sempat khawatir, Marlin dan Nemo akhirnya memutuskan untuk menemani petualangan Dory terutama karena ia tak bisa mengingat sesuatu untuk jangka waktu yang lama. Di perjalanan yang tak terduga, Dory terpisah dari Marlin dan Nemo, tapi dibantu oleh Hank si gurita bertentakel tujuh (alias septopus) yang mengincar label yang dimiliki Dory agar bisa diangkut ke Cleveland. Dory juga menemukan sahabat pipanya sejak kecil, seekor paus hiu bernama Destiny dan seekor paus beluga, Bailey yang juga turut membantunya. Petualangan mencari orang tua ini ternyata membuat Dory makin menemukan dirinya sendiri.

Tak berbeda jauh dari FN, Pixar yang beberapa filmografi terakhirnya tergolong ‘berat’ secara konsep, kali ini kembali memakai formula untuk mengedepankan aspek petualangan seru sebagai porsi terbesarnya. Ini yang membuat FD bisa dinikmati sebagai tontonan hiburan yang seru sekaligus menggelitik untuk penonton dari berbagai kalangan usia. Meski dari luar terkesan seru dan lucu, jika mau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada cukup banyak penggambaran sosok Dory yang cukup detail sebagai penderita short-term memory loss yang bikin iba. Bahkan ketika menonton untuk kedua kalinya, saya lebih merasakan nuansa dark (baca: mellow) yang lebih banyak membuat saya terdiam dan berpikir, ketimbang ceria yang lebih sering saya rasakan ketika menontonnya pertama kali.

Di balik kemasan petualangan seru, lucu, penggambaran penderita short-term memory loss yang detail, dan trivia-trivia kelautan yang disematkan secara menarik serta menyatu dalam plot, Pixar tak melupakan value-value sebagai intinya yang mungkin lebih bisa dipahami oleh penonton yang lebih dewasa, seperti konsep tentang keluarga, kejadian tak terduga yang membentuk hidup, bukannya perencanaan, serta yang paling penting, mengubah kelemahan menjadi kelebihan ketika dipahami, diantisipasi. Come on, tak bisa mengingat hal dalam waktu singkat berarti tak ada masalah untuk dipikirkan, bukan? 

Ellen DeGeneres menunjukkan kualitas voice-acting yang semakin mumpuni lewat karakter Dory yang juga ditampilkan lebih kompleks di sini. Tanpa mengurangi comedic side yang masih sama dengan di FN lewat kelainannya sebagai main source, kali ini penonton diajak untuk merasakan sisi kelam dari kelainan short-term memory loss. Ada cukup banyak momen dimana saya dibuat iba dan terdiam terhadap karakter Dory, meski bagi beberapa penonton lain mungkin menganggapnya lucu. Ellen berhasil menampilkan ‘penderitaan’ Dory dengan pas, seimbang dengan sisi karakter Dory yang ceria dan spontaneous. Albert Brooks sebagai Marlin juga masih menunjukkan performa yang setara di FN. Hayden Rolence pun mampu melanjutkan peran Nemo yang sudah lebih dulu dihidupkan oleh Alexander Gould tanpa perbedaan yang terlalu mencolok. Ed O’Neill sebagai Hank mencuri perhatian karena porsi perannya yang cukup banyak dan penting, serta mampu dihidupkan menjadi lovable pula.

Di jajaran voice cast pendukung, Kaitlin Olson sebagai Destiny, Ty Burrell sebagai Bailey, Idris Elba sebagi Fluke, dan Dominic West sebagai Rudder menampilkan performa voice yang sama menariknya, sesuai dengan karakter masing-masing yang memang sudah unik. Eugene Levy dan Diane Keaton sebagai Charlie dan Jenny, ayah-ibu Dory, menjadi pilihan pasangan orang tua yang begitu pas. Terakhir, tentu tak boleh melupakan Sigourney Weaver yang kembali menjadi cameo setelah sebelumnya pernah tampil di Wall-E.

Seperti biasa, Pixar selalu memamerkan perkembangan teknologi di tiap karya animasinya, apalagi setelah punya software animasi sendiri yang diberi nama Presto. Kali ini yang menjadi pusat perhatian adalah animasi karakter Hank si septopus. Mengaku menghabiskan sekitar 2 tahun untuk adegan-adegan yang melibatkan Hank, hasilnya memang sangat luar biasa. Tak hanya pergerakan tubuh serta tentakel Hank yang begitu mulus dan tekstur tubuh yang begitu real, visual effect untuk adegan-adegan kamuflase Hank begitu mencengangkan. Nyaris  membuat saya lupa bahwa ini adalah film animasi 3D saking nyata dan mulusnya. Animasi karakter-karakter lain seperti Marlin dan Nemo pun terasa mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Detail yang luar biasa, tanpa meninggalkan kesan “kartun” yang membuatnya tetap fun. Tata suara yang dimixing dengan sangat baik turut mendukung kualitas visual yang begitu memanjakan mata. Kejernihan dialog dengan kedahsyatan sound effect di tiap kanal surround, ditambah scoring Thomas Newman yang selalu bisa terdengar megah tapi tetap menyatu dengan emosi-emosi adegan. Menikmati FD di layar IMAX 3D sangat-sangat direkomendasikan mengingat aspect ratio-nya yang 1.85:1 sehingga tampak full-screen di layar IMAX. Bak sedang menyaksikan drama panggung berlatar aquarium raksasa a la Sea World. Depth of field-nya sangat indah ditambah sesekali pop-out gimmick yang tak sampai jauh keluar layar tapi tetap memanjakan mata, seperti adegan ikan-ikan berhamburan keluar dari truk atau ketika Marlin dan Dory terlempar ke langit.

Lewat FD, Pixar kembali membawa petualangan seru, tak terduga, dan lucu sebagai menu utama, ketimbang grand design seperti Inside Out atau tema-tema berat yang lebih bisa dipahami penonton dewasa ketimbang dinikmati penonton anak-anak, meski tetap punya detail-detail yang hanya bisa diapresiasi penonton dewasa. Dengan komposisi antara fun dan value yang seperti ini, FD menjadi sajian yang menyenangkan untuk anak-anak, dan  nostalgia sekaligus bahan refleksi diri untuk penonton dewasa. Bagi penonton yang pernah menyaksikan FN, after credit scene pantang untuk dilewatkan. Begitu juga short animation sebagai pembuka yang kali ini berjudul Piper yang secara sederhana dan lucu menjelaskan proses belajar dari seekor burung kecil yang diarahkan sang induk.

Sekedar info tambahan, Indonesia kembali diberi privilege untuk punya FD versi dubbing Bahasa Indonesia secara resmi setelah Wall-E dan The Good Dinosaur. Lebih dari film-film sebelumnya, FD versi Bahasa Indonesia yang diberi titel baru Mencari Dory (MD) ternyata sangat-sangat baik. Selain dikerjakan dengan sound mixing yang sangat baik, sehingga efek surround 7.1 masih terjaga sangat baik, pemilihan-pemilihan kata untuk menyepadankan dengan Bahasa Indonesia juga dikerjakan dengan sangat baik, terutama becandaan plesetan yang keluar dari mulut Dory karena lupa kata aslinya. Memang ada beberapa bagian yang terkesan terburu-buru (mengingat secara umum Bahasa Indonesia rata-rata lebih panjang dari English) dan emosi dari karakter utama Dory tak sepenuhnya bisa tersampaikan lewat suara Siska Tola, tapi jujur, versi MD lebih bisa dinikmati sebagai sebuah petualangan seru yang lucu. Suara Destiny yang disuarakan oleh Syahrini jauh lebih menarik dan unik ketimbang Kaitlin Olson, begitu juga untuk pengisi suara Dory kecil versi MD yang jauh lebih menggemaskan ketimbang aslinya. Adalah ide brilian pula untuk memberikan aksen Madura untuk karakter Chill si kura-kura laut dan memilih Maria Oentoe (voice talent public announcement di jaringan XXI/21) sebagai pengganti Sigourney Weaver. Tak hanya dialog, Disney juga memperbolehkan menerjemahkan titel card di layar dan bahkan property di adegan, seperti papan petunjuk, peta, dan tulisan-tulisan di gedung Lembaga Kelautan. Keren!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates