Sunday, June 12, 2016

The Jose Flash Review
The Conjuring 2

Semenjak booming Saw (2004), kegemilangan sineas asal Malaysia yang mengenyam pendidikan film di Australia, James Wan, tak pernah surut, malah justru semakin berkilau. Tak hanya franchise Saw, franchise Insidious dan The Conjuring pun menjadi box office hit di seluruh dunia. Bahkan namanya dilirik oleh studio raksasa Hollywood untuk dipercaya atas proyek besar macam Furious 7. The Conjuring (2013) yang diangkat dari kisah nyata catatan pasangan investigator paranormal legendaris, Ed dan Lorraine Warren, berhasil mengumpulkan US$ 318 juta lebih di seluruh dunia. Padahal budget-nya ‘hanya’ US$ 20 juta saja. Spin-off Annabelle (2014) lebih ‘gila’ lagi. Meski tak ditangani langsung oleh Wan serta mendapatkan kritik negatif dari para kritikus, angka US$ 256 juta lebih di seluruh dunia dari modal ‘hanya’ sekitar US$ 6.5 juta telah menjawab kepiawaian James Wan dalam menciptakan karakter-karakter horor menarik yang bikin penasaran dan berhasil membuat penonton berbondong-bondong. Maka tak salah jika ‘resep’ yang sama terus-terusan digunakan Wan. Dengan kepercayaan dana lebih besar dari studio (konon mencapai US$ 40 juta atau dua kali lipat budget film pertamanya), James Wan menjanjikan peningkatan kualitas di berbagai aspek untuk The Conjuring 2 (TC2).

Kali ini pasangan Ed-Lorraine Warren diundang ke Londong, Inggris, untuk mengivestigasi keberadaan makhluk halus yang mengganggu kediaman seorang single mother, Peggy Hodgson, yang tinggal bersama dua putri; Margaret dan Janet, serta dua orang putra; Johnny dan Billy. Peggy sedang menghadapi permasalahan finansial, masih ditambah krisis kepercayaan terhadap Janet yang mulai menginjak remaja. Gara-gara iseng memainkan semacam papan Ouija buatan sendiri, Janet, Margaret, Johnny, dan Billy mulai diganggu oleh sosok tak kasat mata dan bahkan sampai serangan agresif.

Sementara itu Lorraine yang sempat dihantui oleh mimpi buruk dan premonition mengerikan tentang suaminya, bimbang apakah hendak membantu keluarga Hodgson atau tidak. Setelah diyakinkan oleh Ed, barulah keduanya mantap untuk menginvestigasi kasus supranatural di rumah keluarga Hodgson. Tugas mereka hanya mengumpulkan bukti otentik bahwa ada aktivitas supranatural di kediaman keluarga Hodgson, sementara pacara pengusirannya nanti akan dilakukan oleh pihak Gereja Katolik Roma pusat jika memang terbukti. Anehnya, di saat keduanya mengalami peristiwa-peristiwa supranatural di dalam rumah, Lorraine tak merasakan firasat aneh apa-apa. Bukti visual pun menunjukkan bahwa Janet lah yang menjadi pelaku semuanya. Ed dan Lorraine pun harus memilih untuk percaya keluarga Hodgson dan terus menginvestigasi, atau pulang ke negara asalnya karena bukti-bukti sudah jelas bahwa semua hasil rekayasa keluarga Hodgson, terutama Janet.

Sebenarnya secara garis besar Wan masih memakai formula kesuksesan The Conjuring pertama: horor klasik dengan balutan kisah kekuatan keluarga sebagai latar belakang sekaligus solusi dari permasalahan. Namun kali ini kentara sekali Wan memaksimalkan semua formula-formula yang bisa digali lebih dalam dari franchise-nya. Yang paling terasa tentu saja hubungan antara Ed dan Lorraine Warren yang menjadi karakter sentral. Lewat banyak kesempatan, penonton seolah diajak untuk mengenal lebih dekat, mendalam, dan intim dengan keduanya. Tak hanya dari sudut pandang Lorraine yang lebih dominan seperti di installment pertama, tapi juga Ed yang kali ini mendapat porsi seimbang untuk mencuri simpati penonton.

Kedua, tema keluarga yang menjadi aspek penting installment pertamanya, di sini mendapatkan treatment yang jauh lebih kuat dan juga mendalam. Sosok seorang single mother dengan keempat anaknya, ditambah permasalahan demi permasalahan yang mendera, lebih dari cukup untuk membuat penonton iba dan bersimpati terhadap keadaan mereka. Terakhir, kepiawaian Wan dalam merangkai teror untuk membangun ketegangan sebelum melancarkan jumpscare dan serangan-serangan agresif dari sosok Valak (yang akhirnya menjadi fenomenal itu) lewat berbagai wujud yang diambilnya, patut diacungi jempol. Termasuk horor dengan setup premonition a la Final Destination yang juga berhasil menjadi begitu gripping. Sayangnya, kali ini pecinta horor yang lebih menyukai nuansa lebih ‘khidmat’ dan bersahaja dengan penampakan-penampakan minim yang bikin penasaran harus mengalah karena Wan lebih banyak menggunakan serangan-serangan agresif dan terang-terangan (yang mungkin bagi beberapa penonton, norak). Alhasil, TC2 lebih terasa sebagai sajian horor yang asyik ditonton rame-rame (baca: fun horror) ketimbang horor yang terkesan creepy. Tak salah, tapi memang efeknya bagi tiap penonton bisa berbeda-beda, tergantung lebih bisa berhasil ditakut-takuti oleh formula horor yang mana. Yang pasti, Wan terasa makin piawai dalam membangun ketegangan sebelum klimaks di tiap momen, tak hanya jumpscare murahan generik atau ‘ketegangan palsu’ yang sering dimanfaatkan horor-horor sejenis.

Dengan aspek-aspek yang cukup banyak dalam satu kemasan, tak salah jika TC2 lantas punya durasi 134 menit. Harus diakui ada cukup banyak adegan-adegan pembangun ketegangan yang sebenarnya bisa dipotong tanpa mengganggu kesinambungan keseluruhan cerita, sehingga mungkin ada yang merasa terlalu panjang dan bertele-tele. Padahal sebenarnya Wan mencoba untuk menyeimbangkan porsi ketiganya; horor, keintiman antara Ed-Lorraine, dan  family bond sebagai tema universalnya. Untung saja dua aspek terakhir berhasil menjadi begitu kuat sehingga memberikan value tambahan bagi TC2 sebagai sebuah sajian horor.

Seiring dengan makin mendalamnya hubungan Ed-Lorraine ditampilkan di TC2, maka chemistry antara Patrick Wilson dan Vera Farmiga semakin ditingkatkan. Untung keduanya berhasil meyakinkan penonton betapa serasinya mereka sebagai pasangan. Vera Farmiga sebagai sosok Lorraine Warren yang seringkali dilanda kecemasan karena ketulusan rasa sayang terhadap suaminya, sekaligus mudah bersimpati terhadap orang lain, makin terasa sebagai cast yang sempurna untuk perannya. Patrick Wilson sendiri pun berhasil mengimbangi Farmiga dengan tampilan karakter Ed yang tak kalah manis sekaligus berwibawa. Apalagi performance-nya membawakan Can’t Help Falling in Love dari Elvis Presley yang pasti dengan mudah membuat siapa saja bersimpati penuh terhadap sosoknya.

Di jajaran cast pendukung, Frances O’Connor terasa begitu cocok sebagai Peggy Hodgson yang rapuh namun berusaha tetap tegar. Hanya dari raut wajahnya saja sudah dengan mudah mengundang iba dari penonton. Tak kalah pula Lauren Esposito sebagai Margaret, Benjamin Haigh sebagai Billy, Patrick McAuley sebagai Johnny, dan tentu saja Madison Wolfe sebagai Janet Hodgson yang berhasil menghidupkan adegan-adegan kesurupan dengan begitu mengerikan dan meyakinkan. Bahkan mungkin bisa disetarakan dengan Linda Blair di film horor klasik The Exorcist. Terakhir, sosok mengerikan Bonnie Aarons sebagai The Nun Demon, Javier Botet sebagai Crooked Man yang ternyata melakukan aksinya sendiri, bukan CGI dengan gerakan bak stop-motion, Bob Adrian sebagai si tua Bill Wilkins, dan tentu saja Joseph Bishara, sang composer langganan Wan yang juga selalu mengisi peran sosok mengerikan di The Conjuring maupun franchise Insidious, juga memang layak mendapatkan kredit lebih.

Dengan budget yang digandakan, Wan bisa dengan lebih leluasa mengeksplor pendekatan visual yang lebih ketimbang sebelumnya. Alhasil ia berhasil menghadirkan one long continuous shot di beberapa adegan lewat bidikan Don Burgess. Desain produksi bersetting 1975 pun semakin detail, terutama desain tiap ruangan di rumah keluarga Hodgson yang ditata sedemikian rupa hingga terasa sangat remarkable. Scoring dari Joseph Bishara seperti biasa, tetap menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun nuansa creepy. Dipadu dengan sound mixing yang serba seimbang serta mantap di tiap kanal surround-nya pada momen-momen yang tepat.

Sebagai salah satu franchise horor dengan reputasi bagus, TC2 jelas mampu menjaganya dengan sangat baik. Mungkin tak semua pecinta horor bisa cocok (baca: menyukai) dengan gaya horornya yang lebih agresif dan terang-terangan ketimbang membangun suasana creepy, tapi harus diakui kepiawaian Wan dalam membangun ketegangan dan yang paling penting, meng-create sosok-sosok iconic (yang jelas disengaja sebagai setup pembuatan spin-off-nya seperti Annabelle), semakin meningkat dari film ke film. Terserah apa kata fans ataupun kritikus, karena pada akhirnya yang menjadi parameter terbesar adalah penghasilan dengan variabel yang lebih jelas: uang. Untuk hal itu, Wan jelas sudah terbukti berkali-kali berhasil membangun ‘brand image’-nya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates