Friday, June 17, 2016

The Jose Flash Review
Central Intelligence

Action-comedy dengan tema buddy adalah salah satu formula favorit Hollywood yang sering diangkat ke layar lebar. Formula dasarnya mudah: menyatukan dua orang dengan latar belakang yang jauh berbeda atau kepribadian bertolak belakang sehingga menimbulkan kelucuan-kelucuan ketika harus menyelesaikan sebuah konflik. Kebanyakan sih mengambil latar belakang kepolisian atau agen rahasia untuk membangun konfliknya. Entah sudah ada berapa puluh atau malah ratusan pasangan buddy yang pernah dipopulerkan dengan berbagai variasi, mulai Afro-American dan Caucasian di franchise legendaris Lethal Weapon sampai Afro-American dan Chinese di franchise Rush Hour. Afro-America tampaknya menjadi salah satu karakter wajib ada di film buddy action-comedy Hollywood. Mungkin faktor karakter Afro-American yang identik big-mouth dan kocak menjadi daya tarik tersendiri. Terkesan rasis memang, tapi jika untuk kausa yang positif dan berhasil, why not? Embrace it!

Sutradara Rawson Marshall Thurber yang kita kenal lewat Dodgeball: A True Underdog Story dan We’re the Millers, tertarik juga untuk mengangkat action-comedy yang sudah menjadi root-nya selama ini dengan tema buddy bertajuk Central Intelligence (CI). Dengan menggandeng penulis naskah dari serial Hulu, The Mindy Project dan FTV Megawinner, Ike Barinholtz dan David Stassen, Thurber sekaligus ‘menyatukan’ New Line Cinema (yang merupakan bagian dari WarnerBros) dan Universal Pictures, yang mana merupakan pertama kalinya setelah Twister 20 tahun yang lalu. Konsepnya yang menggabungkan tema buddy dengan tema teenage bullying menjadi lebih menarik (setidaknya untuk dijadikan value added atau sekedar setup joke).

Calvin Joyner bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan. Saat ini Calvin merasa seiring dengan waktu dirinyanya semakin mengalami kemunduran ketimbang kemajuan. Bagaimana tidak, asistennya dulu kini ‘melangkahi’ jabatannya setelah dipromosikan oleh atasan, ditambah tekanan dari sang istri, Maggie, yang terus-terusan menginginkan anak. Saking malunya, Calvin enggan menghadiri pesta reuni SMA karena dulu ia dinobatkan sebagai ikon sekolah yang diprediksi akan menjadi orang besar. Ketika tiba-tiba ada friend request dari seseorang bernama Bob Stone di Facebook, Calvin penasaran siapa sosok yang mengaku teman SMA-nya ini. Setelah ketemuan, Calvin kaget setengah mati ternyata Bob Stone adalah Robbie Weirdicht yang dulunya overweight dan jadi korban bullying favorit satu sekolah. Bagi Bob, Calvin adalah sosok pahlawan yang menolongnya ketika ia dipermalukan di sekolah dulu. Kini Bob bertransformasi menjadi sosok tinggi tegap bak binaragawan.

Siapa sangka pertemuan kembali Calvin dan Bob adalah awal dari petualangan yang merubah nasib Calvin yang selama ini dirasa membosankan. Bob mengaku sebagai seorang agen CIA yang sedang dikejar-kejar oleh satuannya karena difitnah membelot ketika menyelesaikan misi menangkap sosok Black Badger yang berniat menjual kode rahasia satelit kepada penawar tertinggi. Sempat dilanda kebingungan, Calvin tak punya pilihan selain ikut terlibat dalam aksi kejar-kejaran ini. Calvin semakin bingung ketika pihak CIA menjelaskan justru Bob yang berkhianat dan bahkan membunuh partnernya sendiri, Phil. Along the way, Calvin harus menyelidiki sendiri mana yang bisa ia percaya.

Sebenarnya dengan membaca premise dan konsep secara garis besar, apa yang ditawarkan CI tergolong teramat sangat generik. Membuka cerita dengan sangat baik, di tengah-tengah naskah CI terasa mulai kedodoran, terutama ketika karakter Calvin kebingungan memilih pihak; mempercayai Bob atau CIA. Bahkan cukup lama adegan berputar-putar untuk meyakinkan (atau malah membingungkan) Calvin tanpa memberikan materi setup yang cukup penting berarti bagi laju cerita. Setelah berhasil mengembalikan keseruan di klimaks, CI malah menawarkan konklusi yang kelewat prechy tentang bullying. It’s okay actually, tapi ketika disampaikan dengan terlalu serius (apalagi untuk sebuah komedi) hasilnya malah jadi berlebihan ketimbang menyentuh. Shortly, sebenarnya CI masih kebingungan menyeimbangkan komedi aksinya dengan valued content yang ingin disampaikan sehingga hasil akhirnya terkesan fully-stuffed, tidak sepenuhnya mulus berjalan beriringan ataupun saling mendukung.

Naskah yang sempat mengalami kedodoran mempengaruhi pula pada nuansa CI secara keseluruhan. Memang bombardir adegan-adegan aksi terhitung cukup banyak, tapi di antaranya terbentang cukup lama adegan-adegan drama (memang masih diselipi jokes-nya sih) yang membuat nuansa film berubah drastis menjadi lebih lengang. Tak heran jika di banyak kesempatan, CI lebih terasa seperti FTV atau film video ketimbang sajian layar lebar.

Namun tentu yang menjadi concern terbesar penonton adalah bisa tertawa terbahak-bahak lewat bertemunya Dwayne ‘The Rock’ Johnson dan Kevin Hart, ketimbang jalinan cerita. For that purpose, tim penulis naskah cukup berhasil menyuntikkan berbagai jenis joke, terutama referenced jokes (termasuk ‘bitch’ pronounce dari Aaron Paul yang merujuk pada karakternya di serial Breaking Bad), racial jokes (‘black don’t go to the psychiatrist, they go to the barbershop’ LOL!), hingga slapstick jokes yang jelas lebih bisa berhasil memancing tawa lebih banyak penonton karena tak butuh referensi apa-apa untuk memahaminya. Worked and failed, tergantung seberapa jauh Anda bisa dibuat tertawa oleh humor-humornya, yang receh atau yang butuh referensi lebih.

Duet Dwayne Johnson dan Kevin Hart jelas menjadi spotlight utama penonton, secara memang itu pula yang  menjadi komoditas utama CI. Secara keseluruhan, keduanya cukup mampu membangun chemistry yang meyakinkan sekaligus kocak, meski ada beberap momen yang masih terkesan awkward. Dwayne Johnson sendiri kali ini ditantang untuk menghidupkan momen yang lebih serius, terutama ketika Bob dihadapkan pada trauma masa SMA-nya. Luckily, he did it very well. Sementara Hart cukup berhasil pula menjadi comedic character. Sayangnya, transisi antara Calvin sebelum bertemu Bob yang kelewat serius dan depresif hingga setelah bertemu Bob menjadi jauh lebih ceriwis bak Chris Tucker, terasa terlalu drastis dan terkesan dibuat-buat. Either salah naskah yang menuliskan perkembangan karakternya, Thurber yang mengarahkan, atau Hart sendiri yang salah menginterpretasi karakter yang dimainkannya.

Di deretan peran pendukung, Aaron Paul sebagai Phil, mantan partner Bob, tampil gokil dengan sedikit banyak merujuk pada karakter Jesse Pinkman yang ia perankan di serial Breaking Bad. Cameo dari Jason Bateman dan Melissa McCarthy pun tak kalah gokil-nya. Terakhir, Danielle Nicolet sebagai Maggie, istri Calvin yang cukup menarik perhatian lewat kharisma smart-sexy meski porsinya tak begitu banyak.

CI didukung sinematografi dari Barry Peterson yang mungkin memang tak terlalu istimewa, tapi lebih dari cukup efektif ber-storytelling. Editing Michael L. Sale sendiri sebenarnya cukup berperan dalam menjaga pace secara keseluruhan, termsauk ketika sampai pada plot yang sempat mengalami kedodoran. Kredit khusus untuk pemilihan soundtrack yang memanjakan anak gaul 90-an macam My Lovin’ (You’re Never Gonna Get It) dari En Vogue, Unbelievable dari EMF, Me So Horny dari 2 Live Crew, Jump Around dari House of Pain, Party Up (Up in Here) dari DMX, sampai My Own Worst Enemy dari Lit dan Song 2 dari Blur. Beberapa tergolong overrated, tapi bagi saya cukup membangkitan nostalgia kejayaan era 90-an.

Meski menjanjikan valued content lebih ketimbang buddy action-comedy lainnya, tanpa dukungan penulisan naskah yang solid dan seimbang, serta penyutradaraan yang benar-benar tepat, CI harus jatuh menjadi just another one. Namun jika Anda hanya ingin dibuat tertawa oleh Dwayne Johnson-Kevin Hart dan merasa punya referensi film dan Afro-American yang cukup luas, CI boleh lah menjadi pilihan hiburan ringan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates