It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Thursday, June 30, 2016

The Jose Retrospective
Remembering Anton Yelchin

Tahun 2016 tampaknya bukan tahun yang begitu bagus untuk dunia entertainment. Baru sampai paruh tahun, sudah banyak pesohor legenda yang harus menutup usia. Tercatat, kita sudah kehilangan David Bowie, Alan Rickman, Prince, Muhammad Ali. Terakhir, kita harus kehilangan aktor muda berdarah Rusia, Anton Viktorovich Yelchin atau yang lebih kita kenal sebagai Anton Yelchin. Anton ditemukan dalam keadaan tewas 19 Juni 2016 karena terjepit mobil Jeep Grand Cherokee keluran 2015 miliknya sendiri yang meluncur secara tak sengaja dan akhirnya menghantam pilar kotak surat batu serta pagar pengaman. Kabar ini mengejutkan banyak pihak mengingat usianya yang masih sangat muda, yaitu 27 tahun.

Anton semakin menambah panjang daftar selebriti yang harus menutup usia di usia 27 tahun (atau populer disebut sebagai The 27 Club) setelah Brian Jones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morrison, Kurt Cobain, dan Amy Winehouse. Meski sebenarnya lebih didominasi oleh musisi, usia 27 tahun tetap menjadi misteri yang menakutkan bagi siapa saja, terutama para selebriti.
Kasus kematian Anton sendiri menimbulkan isu yang lebih luas, yaitu kesalahan teknis pada kendaraan Jeep Grand Cherokee yang konon sudah ditemukan oleh pihak Fiat Chrysler Automobiles (FCA) sejak Agustus tahun lalu tapi sampai kasus Anton terjadi (yang berarti hampir setahun kemudian), belum melakukan penarikan produk. Sempat diberitakan ada tuntutan hukum kepada pihak FCA, pemakaman Anton Yelchin sendiri berlangsung private pada 24 Juni lalu.

Untuk mengenang Anton Yelchin, saya mencoba untuk mengumpulkan judul-judul film yang menjadi highlight sepanjang karirnya. Seperti kita ketahui, Anton Yelchin begitu familiar berkat reboot Star Trek yang dimulai tahun 2009. Ia juga dikenal memerankan karakter Kyle Reese di Terminator Salvation (2009) dan dua installment live-action The Smurfs sebagai Clumsy. Sebenarnya karir Anton dimulai dari berbagai TV series populer, seperti ER, Judging Amy, Taken, The Practice, Without a Trace, Curb Your Enthusiasm, dan NYPD Blue. Karirnya di layar lebar yang notable dimulai dari 15 Minutes, Along Came a Spider, dan Hearts in Atlantis (ketiganya rilis 2001) saat ia masih berusia 12 tahun. Namanya juga semakin dikenal lewat drama arahan Jodie Foster, The Beaver, remake horor remaja bertemakan vampire, Fright Night dan film adaptasi novel supernatural yang disutradarai Stephen Sommers, Odd Thomas. Belum lama ini kita melihatnya di film thriller Green Room dan akhir Juli nanti masih ada

Sebelum menyaksikan Star Trek Beyond yang menandai penampilan terakhirnya di franchise Star Trek, akhir Juli 2016 nanti, saya mencoba melakukan semacam retrospektif terhadap lima judul film yang cukup penting dalam karir seorang Anton Yelchin tapi tergolong tidak begitu sering terdengar di kalangan penonton film Indonesia umum. Salah satu faktornya adalah tidak tayang di bioskop Indonesia. Siapa tahu bisa jadi referensi buat Anda yang juga ingin mengenang Anton Yelchin.

House of D (2004)

Bagi seorang David Duchovny (aktor The X Files), House of D (HoD) tak hanya debutnya sebagai penulis naskah, sutradara, sekaligus aktor, tapi juga film yang begitu personal.

Cerita dibuka dengan sosok Tommy Warshaw, seniman asal Amerika Serikat yang kini tinggal di Paris, berniat memberikan hadiah kejutan untuk putranya, Odell, yang merayakan ulang tahun ke-13. Bagi Tommy, usia 13 adalah angka keramat yang menjadi titik balik anak laki-laki menjadi seorang pria. Kita pun dibawa mundur ketika dirinya masih berusia 13 tahun. Setelah sang ayah meninggal dunia, Tommy tinggal bersama sang ibu yang tampak tak bahagia dengan hidupnya. Bersekolah di sekolah khusus laki-laki karena beasiswa, Tommy tergolong cerdas, terutama dalam bermain kata-kata. Kendati demikian, Tommy tak punya banyak teman. Sahabatnya justru adalah seorang petugas kebersihan sekolah yang mengalami keterbelakangan mental dan dipanggil sebagai Pappass. Bersamanya, Tommy juga bekerja sampingan sebagai pengantar di toko daging. Dari pekerjaaan inilah Tommy bertemu dengan seorang gadis pujaan bernama Melissa yang bersekolah di sekolah khusus perempuan. Tommy juga menjalin persahabatan dengan seorang wanita bernama Bernadette yang dipanggilnya sebagai Lady. Tommy berkomunikasi dengan Lady lewat dinding penjara yang tinggi. Satu per satu masalah kemudian mulai terjadi, mulai dari yang berasal dari sang ibu sendiri, Pappas, dan Melissa, yang memaksa Tommy tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Anton Yelchin di sini berperan sebagai Tommy remaja yang porsinya paling dominan sepanjang film. Di usia yang masih 16 tahun, Anton bisa dikatakan begitu bersinar mengisi peran utama. Naskah bertemakan coming of age yang sebenarnya agak ‘aneh’ (kurang punya koherensi kuat antara tiap elemen cerita dengan konklusi), menjadi sedikit tertutupi oleh performance Anton. Belum lagi ditambah performa Almarhum Robin Williams sebagai Pappas yang meski tak sampai menyentuh hati (lagi-lagi gara-gara penulisan karakter yang jauh dari kesan solid), tapi masih mampu menarik perhatian.

Lihat data film ini di IMDb.

Alpha Dog (2006)

Di antara kelima judul yang saya bahas di sini, bisa jadi Alpha Dog (AD) ini adalah yang paling populer di telinga Anda. Tentu faktor utamanya adalah film arahan Nick Cassavetes ini dukungan jajaran aktor populer, seperti Emile Hirsch, Justin Timberlake, Ben Foster, Olivia Wilde, Amanda Seyfried, hingga Bruce Willis dan Sharon Stone. Anton Yelchin pun mendapatkan peran yang juga tak kalah pentingnya.

Berdasarkan kisah nyata dengan nama-nama karakter yang di-fiksi-kan, AD bercerita tentang kehidupan anak-anak konglomerat Los Angeles yang masih berusia 20 tahunan tapi coba-coba bermain gangster. Adalah Johnny Truelove yang menjalankan bisnis narkoba dan menjadi pusat pergaulan teman-teman yang membutuhkan narkobanya. Sahabatnya adalah Frankie, anak seorang botanis (dan tentu saja, termasuk marijuana), dengan ‘pengikut-pengikut’ setianya, seperti Tiko ‘TKO’ Martinez, Bobby ‘911’, dan Elvis. Masalah muncul dari Jake Mazursky yang berhutang banyak pada Johnny. Bukannya melunasi hutang, Jake yang temperamental justru menyerang Johnny. Tak terima, Johnny dan teman-temannya mencari cara untuk membalas. Kesempatan itu datang ketika adik tiri Jake, Zack, berusaha kabur dari rumah karena tak tahan hidup bersama kedua orang tuanya yang dianggap ‘aneh’. Tanpa perencanaan matang, mereka menculik Zack yang sedang lewat di jalan. Johnny yang kebingungan apa yang akan dilakukan kepada Zack, akhirnya memutuskan menyerahkannya untuk tinggal sementara bersama Frankie. Frankie yang tak ada niatan apa-apa akhirnya membebaskan Zack. Anehnya, Zack justru ingin hidup ala Frankie dan teman-temannya yang mengasyikkan. Apalagi Zack bertemu gadis-gadis yang menganggap dirinya seksi. Sementara itu hilangnya Zack membuat Jake semakin murka terhadap Johnny dan gengnya. Jake pun makin kebingungan apa yang harus ia lakukan berikutnya.

Punya premise yang menarik (apalagi based on true story), AD memang sempat menjadi dark comedy yang cukup menggelitik. Sayangnya, ada banyak momen dimana ia seolah-olah kebingungan bagaimana menggerakkan cerita, se-bingung Johnny untuk mengambil tindakan berikutnya. Sudut pandang cerita dan fokus utama karakter yang seringkali tidak konsisten, pun mengurangi keasyikan mengikuti ceritanya dan tak ada karakter yang benar-benar terasa solid. Ketika awalnya cerita berfokus pada sudut pandang Johnny dan Jake, di pertengahan fokus malah lebih dominan pada karakter Frankie. Di babak berikutnya berpindah lagi pada Zack.

Sebagai Zack, salah satu karakter yang diberi spotlight lebih, Anton Yelchin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersinar. Benar saja, dibandingkan karakter yang dimainkan oleh Emile Hirsch, Justin Timberlake, dan Ben Foster, karakter Zack justru menjadi karakter yang paling berhasil menarik simpati penonton. Apalagi Zack lah yang menjadi titik klimaks yang paling penting.

Lihat data film ini di IMDb.

Charlie Bartlett (2007)

Satu lagi tema coming-of-age yang dibintangi Anton Yelchin. Kali ini di bawah komando sutradara Jon Poll yang sebenarnya lebih dikenal sebagai editor untuk film-film komedi dan keluarga seperti Austin Powers: The Spy Who Shagged Me, Austin Powers in Goldmember, Dunston Checks In, Meet the Parents, Meet the Fockers, Scary Movie 3, dan The Campaign. Istimewanya, Charlie Bartlett (CB) ini didukung pula oleh Robert Downey, Jr., Hope Davis, dan Kat Dennings.

Charlie Bartlett adalah anak orang kaya yang baru saja dikeluarkan dari sekolah swasta karena kepergok membuat kartu identitas palsu untuk teman-temannya. Ia tinggal bersama sang ibu yang lebih membutuhkan ketimbang dibutuhkannya. Charlie tak punya pilihan lain ketimbang pindah ke sekolah negeri. Penampilan Charlie yang parlente jelas menjadi sasaran empuk bagi tukang bully di sekolah. Namun Charlie tak kehabisan akal. Dengan iming-iming bisnis obat-obatan bareng, ia menggandeng si pem-bully, Murphy Bivens, menggapai popularitasnya di sekolah. Berbekal pengetahuan dari psikiatris pribadinya, Charlie membuka ‘praktek’ curhat di toilet cowok. Siapa sangka ‘praktek’-nya ini sangat diminati hampir seluruh siswa SMA Western Summit, termasuk Susan, putri kepala sekolah Nathan.  Tujuan Charlie untuk menjadi populer pun tercapai. Belum lagi kemudian muncul isu pemasangan CCTV di ruang bebas yang ditentang habis-habisan oleh para siswa karena dianggap melanggar privasi. Namun niat baik Charlie berbuntut masalah ketika salah satu ‘pasien’-nya ditemukan overdosis. Nathan pun akhirnya ambil tindakan dengan memanggil Charlie yang juga dituduh telah memprovokasi para siswa menentang pemasangan CCTV. Alih-alih menyelesaikan masalah, terbongkar lah masa lalu Nathan yang mempengaruhi hubungannya dengan Susan.

Meski bertemakan coming-of-age, konten-konten ‘dewasa’ CB, terutama penggunaan obat-obatan dan konflik-konflik serius lainnya, membuatnya lebih cocok menjadi semacam bahan introspeksi untuk para orang tua untuk memahami anak-anak remajanya, atau juga sebagai ajang nostalgia masa muda sekaligus self-reminder bagi orang-orang dewasa. Untuk penonton remaja, mungkin masih bisa menikmati kemasan luarnya yang begitu youthful, fresh, dan witty, tapi belum bisa memahami isu-isu besarnya sebagai bahan introspeksi secara utuh.

Memainkan karakter sentral Charlie Bartlett, jelas Anton Yelchin menjadi spotlight paling terang. Apalagi karakternya memang ditulis dengan sangat menarik; cerdas, nakal, witty, wise sekaligus naif. Complicated memang, tapi terbukti Anton berhasil memainkannya dengan sangat jelas dan manusiawi. Definitely, one of Anton’s best performances sepanjang karir aktingnya.

Lihat data film ini di IMDb.

Like Crazy (2011)

Ketika beranjak dewasa, tipikal peran Anton Yelchin yang sebelumnya dominan coming-of-age pun berkembang menjadi romance yang lebih dewasa. Salah satunya Like Crazy (LC) yang menyandingkannya dengan Felicity Jones dan Jennifer Lawrence di bawah arahan sutradara/penulis naskah Drake Doremus.

Anna dan Jacob seketika saling jatuh cinta ketika sama-sama menjadi mahasiswa di sebuah universitas di Los Angeles. Hubungan tak terpisahkan mereka berlangsung cukup lama sampai suatu ketika Anna yang berwargakenegaraan Inggris melanggar aturan student visa di Amerika Serikat. Sebagai ganjarannya, Anna harus segera pulang ke negaranya dan masuk blacklist sehingga tak bisa kembali mengunjungi Amerika Serikat. Awalnya LDR mereka tampak lancar-lancar saja, apalagi Jacob masih bisa mengunjungi Anna di Inggris. Namun lama-kelamaan, seiring dengan waktu dan kesibukan masing-masing, hubungan pun semakin terasa berjarak. Meski masih saling merindukan, tak dipungkiri hubungan mereka semakin susah untuk dijalani. Kedatangan Sam di kehidupan Jacob dan Simon di kehidupan Anna makin menggoyahkan hubungan mereka.

Dengan style storytelling (terutama dari segi visual) yang khas indie, LC menunjukkan dengan cukup detail dan nyata terasa betapa susahnya menjalani LDR. Lupakan pola pikir cheesy, dangkal, dan ababil tentang LDR dan kesetiaan, karena LC menunjukkan kewajaran kedatangan pihak lain karena faktor ‘kebutuhan’ serta tentu saja yang lebih penting, ujian hubungan yang sebenarnya, bukan sekedar cinta monyet atas dasar suka sama suka semata. Bahkan LC memberikan konklusi yang masih mempertanyakan dasar hubungan masing-masing pihak setelah sebenarnya sudah berhasil bersatu dan diresmikan di atas kertas. Apakah masih ada chemistry sekuat dulu atau sekedar sayang dengan semua perjuangan dan pengorbanan yang sudah dilakukan selama ini. Sebuah drama romantis dewasa yang bisa dijadikan referensi movie-therapy bagi pasangan yang menjalani hubungan serius.

Jujur, sebenarnya Felicity Jones mendapatkan porsi karakter yang jauh lebih banyak. Namun bukan berarti Anton Yelchin kalah kharisma. Karakter Jacob mungkin tak terlalu digali lebih dalam ketimbang Anna, tapi tetap punya detail perubahan karakter yang jelas serta ditunjukkan dengan gemilang pula oleh Anton.

Lihat data film ini di IMDb.

5 to 7 (2014)

Semakin matang usia Anton, semakin dewasa pula pilihan karakter yang ia mainkan dalam film. Salah satunya drama romantis yang cukup unik karya sutradara/penulis naskah Victor Levin (Win a Date with Tad Hamilton! Dan My Sassy Girl versi Hollywood). Tak tanggung-tanggung, Anton dipasangkan dengan Bérénice Marlohe yang usianya sepuluh tahun lebih tua. Ia didukung pula oleh aktor senior macam Frank Langella dan Glenn Close.

Brian Bloom adalah seorang pemuda yang nekad hidup sendiri di belantara New York. Hiasan di apartemennya adalah surat-surat penolakan dari berbagai media besar yang sudah menjadi semacam wallpaper. Suatu ketika ia tertarik pada seorang wanita yang sedang merokok tak jauh dari apartemennya. Setelah saling berkenalan, keduanya mulai saling tertarik hingga diaturlah pertemuan-pertemuan berikutnya dengan wanita Perancis bernama Arielle ini. Semakin saling kenal, kagetlah Brian ketika mendapati bahwa Arielle sudah menikah dan bahkan punya dua orang anak. Arielle menjelaskan konsep hubungan ala Perancis yang membolehkan dirinya menjalin hubungan dengan pria lain di saat-saat tertentu, begitu juga sang suami, Valery yang merupakan seorang diplomat Perancis, sementara perkawinan keduanya tetap terjaga harmonis.

Meski awalnya merasa aneh, Brian memutuskan untuk menerima syarat-syarat menjalin hubungan dari Arielle. ‘Jatah’ jam pertemuan mereka hanya dari jam lima sampai tujuh sore. Hubungan keduanya pun makin lama makin mendalam dan serius. Brian bahkan dikenalkan ke Valery dan kedua anaknya malah akrab dengan Brian. Mendengar hubungan ‘unik’ yang dijalani putranya, Sam memberi peringatan akan masa depan hubungan mereka. Sementara Arlene, ibu Brian, justru menghargai perbedaan budaya yang ada dan bahkan akrab dengan Arielle. Ketika akhirnya berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai seorang penulis, Brian juga berniat membawa hubungannya dengan Arielle lebih serius lagi. Arielle yang sudah merasa Brian sebagai sosok pria yang selama ini diidam-idamkannya pun dihadapkan pada pilihan sulit.

Dengan kehadiran wanita dengan kharisma sekuat dan seseksi Marlohe, perhatian penonton dengan mudah teralihkan padanya. Apalagi ia pun memainkan perannya dengan sangat baik dan berhasil membuat penonton jatuh cinta dengan karakternya. Namun tetap saja karakter Brian Bloom yang diperankan oleh Anton Yelchin adalah poros cerita yang menjadi pengundang simpati utama penonton. Konklusi cerita tentang perbedaan antara hubungan resmi dalam pernikahan dan koneksi perasaan yang saling melengkapi, menjadi tema besar hubungan dewasa yang begitu bold dan bisa dengan kuat dirasakan oleh penonton, meski lewat kemasan yang terkesan ringan, manis, dan seringkali cerdas sekaligus menggelitik. Tentu 5 to 7 dengan mudah masuk menjadi salah satu yang paling mengesankan dari daftar filmografinya. 

Lihat data film ini di IMDb.

Прощай, Антон Ельчин!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Time Renegades [시간이탈자 ]

Tak salah memang jika ada anggapan bahwa film (walau sebenarnya lebih cenderung benar untuk serial K-drama-nya) Korea Selatan identik dengan melodrama romantis yang cheesy tapi seringkali berhasil memancing emosi para penggemarnya yang sudah mendunia. Namun jangan salah, Korea Selatan juga piawai meramu genre identik mereka dengan genre lain sehingga terasa fresh. Salah satu yang cukup notable adalah unsur fantasi dan crime dari Windstruck (2004), yang ditulis dan disutradarai oleh Kwak Jae-yong. Ia pula yang berada di balik romantic comedy fenomenal Korea Selatan yang mendunia dan sampai di-remake di banyak versi, My Sassy Girl (2001). Tahun 2016 ini ia kembali bereksperimen menggabungungkan berbagai tema sekaligus ke dalam core drama romantis lewat Time Renegades (TR). Dengan dukungan aktor-aktris populer macam Im Soo-jung (I’m a Cyborg, but That’s OK), Lee Jin-wook (Miss Granny), Jo Jung-suk (Architecture 101), Jung Jin-young (Miracle in Cell No. 7 dan Ode to My Father), sampai Lee Min-ho. Tak heran jika TR sempat menduduki posisi jawara box office Korea Selatan di minggu pembukaannya dengan raihan sebesar US$ 2.5 juta dan US$ 3.94 juta dalam lima hari pertama.

TR punya dua plot di setting waktu yang berbeda pula, yaitu 1983 dan 2015. Di tahun 1983 menjelang malam pergantian tahun, seorang guru musik di sebuah SMA, Ji-Hwan berniat melamar sang kekasih, Yoon-Jung, seorang guru science di SMA yang sama. Naas, ada seseorang yang menjembret tas Yoon-Jung. Konsekuensinya, Ji-Hwan yang berhasil menangkap si penjambret sempat mengalami kondisi kritis karena tusukan dari penjambret.

Sementara itu di tahun 2015, seorang detektif muda bernama Gun-Woo dalam sebuah misi juga sempat mengalami kondisi kritis. Untuk mengembalikan kesadarannya, Gun-Woo ditolong oleh alat pacu jantung tua yang dulu juga pernah menyelamatkan nyawa Ji-Hwan. Sejak dari kejadian itu, Ji-Hwan dan Gun-Woo ‘saling bertemu’ lewat mimpi. Ketika Ji-Hwan tidur, lewat mimpi ia seolah menjalani kehidupan Gun-Woo, begitu juga sebaliknya.

Keadaan menjadi semakin menegangkan (bagi kita, penonton, sih seru) ketika di tahun 2015 Gun-Woo menemukan kasus tak terselesaikan dari tahun 1983 yang melibatkan Yoon-Jung. Ji-Hwan yang berada di tahun 1983 tentu sulit dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya sehingga kasus pembunuhan yang ia lihat di tahun 2015 melalui Gun-Woo pun tak terelakkan. Kini tekad Gun-Woo dan Ji-Hwan untuk bekerja sama menemukan si pelaku pembunuhan sebenarnya sebelum jatuh korban lain di tahun 2015.

Secara garis besar, TR memang punya premise yang sangat menarik. Time travel atau time paradox mungkin sudah cukup sering diangkat, terutama Hollywood, begitu juga dengan blending tema romance, seperti yang paling saya ingat The Time Machine (2002) dan The Butterfly Effect. Karena masih berupa fiksi (dan ada pula yang menganggapnya sekedar fantasi), belum ada pembuktian yang empirik bahwa time travel memungkinkan terjadi, maka segala sesuatunya yang terjadi sebagai akibat dari perjalanan waktu adalah sebuah paradoks. Dalam film, ini harus dijaga dengan sangat hati-hati untuk mencegah plothole sekecil apapun. Tak mudah memang, karena jujur, sebenarnya inevitable, tapi setidaknya harus ada logika-logika utama yang dipatuhi, atau jika punya teori (aturan) sendiri, harus selalu dipatuhi. Tanpa perlu susah-susah memikirkan logika yang terlalu jauh tentang aspek sci-fi (khususnya time paradox), di permukaan cerita TR tak terasa punya masalah yang begitu berarti. Penonton terawam pun bisa dengan mudah memahaminya. Kemudian, kemasan yang ternyata lebih dominan dan lebih bikin penasaran penonton ketimbang konsep time paradox-nya adalah thriller investigatif  yang ditata dengan baik pula dan pada banyak kesempatan, menegangkan. Sedikit mengingatkan saya akan Montage (2013), mulai setup tentang unsolved case sampai konsep ‘pancingan’ agar kasusnya terselesaikan, saya sempat berpikir mungkin ini ciri-ciri khas sinema Korea Selatan bertemakan investigatif.

Terakhir, TR tak lupa memberikan sentuhan romance yang oleh beberapa penonton mungkin akan dianggap sebagai melodrama khas Korea Selatan, lengkap dengan sematan konsep kepercayaan tradisional tentang reinkarnasi. Bagi saya, unsur romance yang ditampilkan TR masih dalam kadar yang sangat wajar. Jauh dari kesan melodrama atau cheesy. Malahan, menurut saya unsur traditional belief menjadi penguat kesimpulan yang manis pula untuk unsur romance-nya. Mem-blending berbagai aspek ini menjadi satu adonan, nyatanya dilakukan dengan sangat baik dan seimbang oleh Jae-yong. Alhasil, meski di beberapa part masih ada ke-kurang lancar-an storytelling, terutama dalam menjelaskan lapisan-lapisan cerita tertentu, secara keseluruhan TR bisa dikatakan sebagai satu paket mix-up yang cukup solid. Pun juga menawarkan cerita yang menarik untuk diikuti dan tetap bikin penasaran hingga akhir film.

Bisa dibilang kesemua aktor-aktris pengisi peran-peran sentral tampil sesuai porsi. Terutama sekali Lee Jin-wook sebagai Gun Woo yang menurut saya tampil sedikit lebih menonjol dibandingkan Jo Jung-Suk sebagai Ji-Hwan. Secara keseluruhan, keduanya sama-sama memberikan performa yang baik sesuai porsi peran. Im Soo-jung sebagai Yoon-Jung sekaligus Jung So-eun juga berhasil mengimbangi keduanya meski dengan porsi yang sebenarnya tak terlalu banyak. Setidaknya sebagai karakter wanita yang porsinya paling banyak, Soo-jung masih mampu menjadi daya tarik tersendiri. Di urutan berikutnya, Jung Jin-young sebagai Kang Seung-beom juga layak mendapatkan kredit tersendiri karena berhasil membuat penonton penasaran atas kemisteriusan karakternya.

Sebagai sebuah film dengan dua setting waktu yang berjalan secara paralel, editing TR memegang peranan penting. Beruntung editing Shin Min-kyung menurut saya, top notch. Tak hanya rapi dalam mengedit kedua setting waktu sehingga tidak menimbulkan kebingungan dari penonton, cut-to-cut kedua setting waktu yang berbeda secara back-to-back di opening sekaligus menimbulkan kesan gripping action scene, layak mendapatkan pujian terbesar. Sinematografi Lee Siung-jae pun membingkai kedua setting berbeda dengan sentuhan yang berbeda sesuai dengan mood dominan masing-masing setting (soft dan romantic untuk 1983 serta dark dan dinamis untuk setting 2015), lengkap dengan prop-prop cantik hasil desain produksi Lee Yo-han serta desain kostum yang cukup remarkable dari Jang ju-hee. Sementara musik dari Kim Jin-sung di beberapa momen terdengar (dramatis) berlebihan, tapi setidaknya tak sampai mengganggu keseluruhan mood film. In matter of fact, sangat mendukung dan terdengar unik terutama di adegan-adegan menegangkan.

Jika Anda menggemari tema time travel/time paradox, sekaligus tidak anti dengan unsur romance yang cukup kuat, TR bisa dijadikan referensi yang menarik untuk ditonton. Bahkan mungkin sayang untuk dilewatkan. Sebaliknya, jika Anda penggemar romance a la Korea Selatan, TR tetap bisa jadi sajian yang manis,  dengan variasi warna yang berbeda dari romance biasa.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 27, 2016

The Jose Flash Review
Raman Raghav 2.0 [रमन राघव 2.0]

Tak seperti kebanyakan sineas mainstream Hindi (baca: Bollywood), Anurag Kashyap punya jalan karir yang menarik. Memulai karir di TV series Last Train to Mahakali (1999), di layar lebar ia lebih dikenal sebagai sutradara/penulis naskah spesialis either tema thriller, crime, mafia, dan violence. Namanya mulai dilirik dunia internasional ketika Black Friday (2004), drama thriller tentang pemboman berantai di Bombay tahun 1993 yang begitu kontroversial. Semakin menanjak ketika Gangs of Wasseypur (2012), saga gangster (tiga generasi!) a la The Goodfather dengan setting kota kecil di India bernama Wasseypur, yang ambisius diputar di segmen Director’s Fortnight Cannes Film Festival. Film yang dibagi menjadi dua bagian (dengan total durasi 320 menit!) ini semakin memperkuat posisi Anurag Kashyap sebagai sutradara Hindi yang ‘berbeda’, seperti halnya sang idola, Quentin Tarantino. Kejutan lainnya, ia menjadi salah satu penulis naskah film Kanada, Water yang dinominasikan untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year tahun 2007. Tema gangster dilanjutkannya dengan Bombay Velvet (2015) yang tak kalah ambisius dan kali ini dengan sentuhan jazzy. Sayang, Bombay Velvet flop di pasaran dan mendapatkan komentar beragam dari para kritikus. However, Bombay Velvet mendapatkan pujian saat di-screen di Locarno.

Tak mau terus-terusan terpuruk, tahun 2016 Kashyap kembali menghadirkan tema favorit dengan style-style signaturalnya. Diilhami dari sosok Raman Raghav, pembunuh berantai yang meneror Mumbai di pertengahan era 60-an dan tercatat telah membunuh sebanyak 41 korban, Kashyap memutuskan untuk membawa cerita ke setting sekarang untuk menghemat budget (konon budget Raman Raghav 2.0 – RR2.0 – ‘hanya’ 3.5 crore atau sekitar US$ 520.000. Bandingkan dengan Bombay Velvet yang berbudget 120 crore.). Nevertheless, perubahan setting dan cerita yang ‘hanya diilhami’ dari sosok aslinya memberikan keleluasaan bagi Kasyap untuk menyusun naskah, detail visual, kreativitas adegan, tanpa ada batasan dari pihak manapun. Kashyap kembali menggandeng Nawazuddin Siddiqui yang pernah bekerja sama dengannya di Black Friday, Dev D, dan Gang of Wasseypur, Vicky Kaushal (Bombay Velvet), serta Miss Earth India 2013, Sobhita Dhulipala yang mana ini merupakan debutnya berakting.

Seorang pria misterius bernama Ramanna tiba-tiba mengaku telah menghabisi 9 nyawa kepada pihak kepolisian. Inspirasinya adalah sosok Raman Raghav, pembunuh berantai yang beraksi di Mumbai era 60-an. Polisi tak lantas mempercayainya karena selama ini baru ditemukan tujuh korban. Lagipula mereka juga mencurigai bahwa Ramanna hanya mengaku-ngaku telah membunuh karena selama ini hidup susah. Dengan ditangkap, ia membayangkan hidup serba lebih mudah karena mendapatkan tempat tinggal dan makan gratis. Setelah dilepaskan, kegilaan Ramanna semakin menjadi. Satu per satu korban berjatuhan, sampai pada kehidupan sang polisi muda, Raghavan dan pasangannya, Simmy. Raghavan sendiri menghadapi masalah dengan dirinya sendiri, keluarga, dan tentu saja berimbas juga pada hubungannya dengan Simmy. Somehow, Ramanna memburu Raghavan untuk menjadi partner kejahatan.

Lewat RR2.0, Kashyap masih mempertahankan semua remark-nya, mulai adegan-adegan gory violence (meski kebanyakan off-screen), timing dalam menyampaikan membangun thrill meski serba sederhana dan jauh dari kesan bombastis, serta lusinan visual remark lainnya. Secara keseluruhan, atmosfer dan adegan-adegan RR2.0 yang begitu ekstatik berhasil membuat saya terbius dan tenggelam dalam film. Sayangnya, sejauh itu saja impresi RR2.0 bagi saya. Visualisasi yang begitu menghibur, termasuk track-track pengiring adegan ‘sakit’ yang semakin menimbulkan kesan yang kuat, bahkan sampai jauh setelah film berakhir. Konsep besar Kashyap untuk RR2.0 tentang pencarian ‘belahan jiwa’ serta persamaan polisi dan kriminal dalam hal membunuh hanya terkesan sebagai sentilan semata. Masih jauh dari kesan bold. Konsep penceritaan yang terbagi dalam chapter pun terkesan hanya gaya-gayaan saja, tak ada fungsi yang benar-benar krusial, seperti misalnya memperjelas inti dari tiap chapter seperti yang dilakukan oleh Tarantino. Saya yang awalnya mengharapkan ending gila-gilaan bak Gangs of Wasseypur (yang dalam fantasi saya sebenarnya tetap punya relevansi dengan konsep besar cerita. Malah mungkin membuatnya jadi jauh lebih bold sekaligus memorable: menutup film dengan kepuasan penonton semaksimal mungkin), harus puas dengan konklusi yang ‘hanya’ demikian. Sampai pada konklusi, tapi kesannya biasa saja. Sekedar tipis-tipis.

Untung saja selain visual yang menghibur, RR2.0 masih punya performa para aktor yang begitu kuat. Nawazuddin Siddiqui ternyata mampu menghidupkan karakter psikopat dengan sangat mengerikan. Lewat sorot matanya saja saya sudah merasa terintimidasi setengah mati. Ditambah gestur ketika berbicara dan ekspresi wajah yang tampak bisa melakukan hal seekstrim apapun, Nawazuddin menjadi highlight terkuat RR2.0 selain signatural visual Kashyap. Vicky Kaushal pun memberikan performa yang tak kalah kuatnya sebagai Raghavan, polisi muda yang di luar terlihat keras dan beringas, tapi sebenarnya dihantui oleh diri sendiri. Di momen klimaks pun, Nawazuddin dan Vicky membentuk chemistry yang cukup ‘sakit jiwa’. Sementara Sobhita Dhulipala sebagai Simmy sebenarnya tak buruk. Bahkan di momen-momen tertentu ia cukup menarik perhatian berkat kharisma sensual (tapi cerdas)-nya. Sayang naskah tak memberikan cukup banyak porsi penting bagi karakter Simmy (dan juga karakter wanita lainnya, seperti Lakshmi dan Ankita).

Sinematografi Jay Oza mampu mewujudkan visi-visi Kashyap dengan sangat baik, terutama dalam membangun nuansa ‘sakit jiwa’ dan violence yang tetap working meski off-screen. Begitu pula editor Aarti Bajaj yang tergolong efektif menyajikan tiap adegan dengan pace yang cukup pas, sekaligus dalam pembagian chapter. Tata suara menjaga keseimbangan antara silent, crisp, dan kejernihan sound effect dalam mendukung suasana menegangkan sepanjang film. Terakhir, musik-musik pengiring yang begitu sakit jiwa. Mulai Qatl-E-Am dengan sentuhan techno-pop yang begitu memorable dalam ingatan saya sampai sekarang, Behooda yang bernuansa swing untuk mengiringi adegan ‘sakit jiwa’ tak terlupakan, sampai title theme yang menutup RR2.0 yang ekstatik dengan begitu menghentak.

Secara keseluruhan, RR2.0 mungkin bukan karya terbaik Kashyap, meski harus diakui Gangs of Wasseypur pun punya banyak sekali kendala di naskah yang bertele-tele. Mungkin ada baiknya Kashyap mempekerjakan penulis naskah tambahan yang lebih berpengalaman untuk karya-karya berikutnya agar bisa lebih solid dan bold, sementara ia duduk di bangku sutradara saja dimana ia tetap bisa leluasa mengkreasi hasil akhirnya. Kendati demikian, nikmati saja RR2.0 apa adanya. Bisa jadi tanpa diinginkan, kepingan-kepingan adegannya akan menempel terus dalam benak Anda untuk jangka waktu yang cukup lama, seperti yang terjadi pada saya.


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 25, 2016

The Jose Flash Review
Southbound

Pernah menyaksikan film antologi atau yang di sini dikenal sebagai omnibus, dimana dalam satu film panjang terdiri dari beberapa film pendek? Bagi saya, menyaksikan antologi horor punya kenikmatan tersendiri. Alasannya terutama karena tingkat keberhasilan film horor diukur dari kemampuannya merangkai adegan menegangkan atau menyeramkan sehingga bisa dengan efektif tersampaikan dalam waktu yang tak terlalu panjang. Dengan racikan dan urutan yang pas, antologi horor bisa jadi paket hiburan yang menarik. Apalagi dengan feel grindhouse a la B-class movie yang somehow, ngangenin. Sayang tak banyak antologi horor yang masuk bioskop Indonesia. Selain karena rata-rata diproduksi secara independen yang mana peredarannya jadi terbatas, tak banyak distributor yang tertarik membawa ke sini karena potensi penonton yang tak terlalu banyak, akibat dari minim promo yang akhirnya menjadi segmented. Padahal di Amerika Serikat sendiri ada beberapa judul antologi horor yang menurut saya menarik dan bahkan wajib tonton bagi penggemar horor, seperti seri V/H/S (2012) dan favorit saya, ABC’s of Death (2012 - bayangkan, ada 26 film pendek yang judulnya urut sesuai alfabet! Menarik bukan?). Bagi yang belum tau, Indonesia juga pernah berpartisipasi di proyek antologi Amerika Serikat ini, yaitu L for Libido besutan salah satu sutradara Rumah Dara, Timo Tjahjanto, dengan bintang antara lain Kelly Tandiono, Paul Foster, Gary Iskak, dan Epy Kusnandar. Selain itu ada pula Safe Haven di antologi V/H/S/2 (2013) karya Gareth Evans dan Timo Tjahjanto yang dibintangi Fachri Albar, Hannah Al Rashid, Oka Antara, dan Epy Kusnandar.

Selain antologi/omnibus, ada lagi istilah interwoven, yaitu kumpulan film-film pendek yang terkumpul masih punya benang merah yang saling menyambung. Studio major Hollywood lebih sering menggunakan jenis ini. Bisa dipahami, kesinambungan cerita menjadi satu kesatuan yang utuh lebih penting untuk konsumsi layar lebar. Sebut saja film-film Iñárritu seperti Amores Perros dan Babel, Vantage Point, atau Go!. Kali ini Brad Miska, Chris Harding, Roxanne Benjamin, dan Radio Silence yang pernah bekerja sama di seri-seri V/H/S, mencoba sekali lagi menghadirkan antologi dengan konsep lain lagi. Mereka turut menggandeng Greg Newman dan Badie-Hamza-Malik B. Ali yang pernah melahirkan horor-horor indie macam Stake Land, The House of the Devil, The Innkeepers, dan Starry Eye, untuk menghadirkan Southbound. Berdasarkan idiom Bahasa Inggris ‘going south’ yang artinya berujung buruk atau tidak sesuai ekspektasi, ada lima segmen di Southbound yang saling berkaitan: The Way Out, Siren, The Accident, Jailbreak, dan The Way In. Beruntung kali ini ada distributor film lokal yang mengimpornya untuk ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.

Dibuka dengan The Way Out (TWO), Mitch dan Jack tampak sedang dikejar-kejar oleh sosok makhluk aneh yang melayang-layang. Semakin aneh lagi, semakin jauh mereka mengendarai mobil, mereka ternyata hanya berputar-putar di tempat yang sama. TWO menjadi pembuka sekaligus pemanasan untuk memperkenalkan seperti apa gambaran Southbound seluruhnya. Tak membiarkan semuanya terjawab jelas, fokus cerita beralih ke segmen berikutnya, Siren.

Sadie, Ava, dan Kim adalah personel band cewek yang sedang perjalanan menuju lokasi konser. Di tengah jalan, van mereka mogok dan peradaban terdekat jaraknya masih bermil-mil. Mau tak mau mereka menerima tumpangan dari pasangan aneh yang seolah punya gaya hidup ala 70-an yang mengaku anak tetangganya seorang montir. Sesampai di rumah pasangan itu, Sadie merasakan ada yang aneh dengan pasangan ini. Terutama setelah Sadie mendengar pasangan itu menyebut kematian Alex, salah satu personel band mereka yang meninggal dunia. Namun Ava dan Kim tidak menghiraukan kecurigaan Sadie. Keanehan semakin menjadi-jadi ketika makan malam bersama keluarga Kensington yang tak kalah anehnya.

Segmen ketiga, The Accident, membidik seorang pria bernama Lucas yang menyetir di highway sambil menelepon istrinya, Claire. Tak sengaja Lucas menabrak seorang gadis yang akhirnya terluka parah. Saking paniknya, Lucas membawa gadis yang untungnya masih bernafas itu mencari pertolongan di kota terdekat. Anehnya, kota itu bak tak berpenghuni. Rumah sakit yang ia temukan pun seolah sudah terbengkalai puluhan tahun. Dengan bantuan petunjuk lewat telepon dari 911, Lucas terpaksa menangani sendiri gadis yang kondisinya semakin parah itu dengan cara yang sangat ekstrim.

Jailbreak mengestafet cerita dari seorang wanita yang memberi petunjuk Lucas lewat line 911. Setelah menutup telepon, ia mengunjungi sebuah bar. Tak lama duduk, seorang pria masuk dengan membawa shotgun. Mengaku bernama Danny, ia mencari adik perempuannya, Jessie. Akhirnya seorang bartender membawa Danny ke belakang Freez’n Over sambil memperingatkannya untuk segera meninggalkan kota itu selagi bisa. Setelah bertemu sang adik, barulah Danny sadar bahwa peringatan sang bartender sebelumnya bukan tanpa sebab.

Terakhir, film ditutup dengan The Way In yang menjelaskan bagaimana awal mula segmen pertama, The Way Out, bermula. Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Cait dan Daryl, beserta putri tunggal mereka, Jem. Mereka berencana menghabiskan akhir pekan kali ini bersama di sebuah vila sebelum Jem mulai kuliah. Siapa sangka, mereka menjadi korban home invasion oleh sekelompok pria bertopeng. Daryl yang akhirnya sadar siapa komplotan bertopeng ini dan tujuan mereka datang tak punya banyak pilihan selain berusaha semaksimal mungkin agar Jem selamat. Keadaan menjadi berbalik ketika ada sosok mengerikan yang memburu komplotan bertopeng ini.

Punya lima segmen yang saling berhubungan dan runtut menjadikan Southbound bak satu film utuh. Ini menguntungkan sehingga cerita bisa dinikmati dengan lebih mudah, tanpa harus banyak memikirkan benang merahnya. Apalagi ending segmen terakhir memang terhubung langsung dengan segmen pembuka, sehingga menjadikannya ibarat garis yang membentuk lingkaran penuh. Memang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, jika sejak segmen pertama hingga terakhir berjalan secara linear, bagaimana mungkin endingnya kembali menyambung ke adegan pembuka?

Jika Anda melihat tiap segmen sebagai film-film pendek yang berdiri sendiri, maka bisa jadi Anda akan merasa bahwa kesemuanya tak memiliki konsistensi ketegangan dan ke-solid-an cerita. Ini tak salah, karena menurut saya pun kesemua segmen ini tak punya porsi (termasuk juga tingkat ‘ke-penting-an’) yang sama. Pada akhirnya ada beberapa segmen yang begitu menonjol sementara yang lainnya biasa saja. Itu wajar sadalam sebuah antologi. Toh, film juga perlu me-manage ‘rollercoaster’ film agar tiap momen-nya terasa pas dan efektif untuk penonton. Tak mungkin terus-terusan disodori ketegangan. Jika harus memilih, maka saya mengurutkan dari segmen paling favorit sampai yang paling biasa saja sebagai berikut: The Accident, Siren, The Way In, The Way Out, dan terakhir, Jailbreak. Kelimanya menurut saya sama-sama menyuguhkan cerita horor waddafuck yang sama-sama mengerikan dan unik dengan gaya visual yang mengingatkan saya akan Twilight Zone.

Above all, yang membuat saya mengapresiasi Southbound lebih dari sekedar antologi horor biasa adalah konsep besar tentang redemption yang menjadi underline permasalahan di tiap segmen. Ada yang berhasil menebus kesalahan dengan memperbaikinya hingga akhirnya selamat, tapi ada pula yang alih-alih menebus kesalahan tapi justru memperburuk karma. Narasi dari penyiar radio yang membuka sekaligus menutup film menjadi konklusi yang mempertajam tema besar ini.

Southbound tak memakai nama-nama aktor terkenal untuk mengisi peran-perannya. Namun bukan berarti kesemuanya tak mampu menjadi daya tarik selama durasi berjalan. Hampir tiap aktornya memainkan karakter masing-masing sesuai dengan porsinya dan berhasil. Beberapa yang menurut saya paling menarik perhatian adalah Fabianne Therese sebagai Sadie (segmen Siren), Mather Zickel sebagai Lucas (segmen The Accident), Hassie Harrison sebagai Jem, Chad Villella sebagai Mitch, dan Matt Bettinelli-Olpin sebagai Jack. Terakhir, Max dan Nick Folkman sebagai si kembar Kensington yang tampak mengerikan di balik sikap pendiamnya.

Kelima segmen Southbound tak hanya disutradarai dan naskahnya ditulis oleh orang yang berbeda-beda, tapi juga sinematografer dan editor yang berbeda-beda pula. Konsistensi kesinambungan cerita dan pace yang terjaga bak satu film utuh yang dikerjakan oleh orang yang sama, jelas menjadi poin kelebihan tersendiri. Gaya visual grindhouse memang bukan sesuatu yang benar-benar baru, tapi karena termasuk jarang di peredaran luas, maka desain produksi Jennifer Moller beserta timnya patut diberi kredit tersendiri, terutama dalam menjaga kontinuiti tema desain sepanjang film. Terakhir, tentu tak boleh melupakan scoring dari The Gifted yang memasukkan musik-musik synth ala horor 70-80’an seperti Twilight Zone yang begitu signatural sekaligus membangun nuansa eerie.

Di tengah suguhan horor klasik a la James Wan yang mewarnai scene horor beberapa tahun terakhir, kehadiran Southbound dengan konsep antologi interwoven, ide-ide cerita waddafuck, dan kemasan grindhouse a la B-class movie jelas terasa begitu menyegarkan. Apalagi kemudian ternyata ia berhasil membawa konsep besar yang cukup solid pula, maka saya tak akan heran jika kelak ia menjelma menjadi salah satu antologi horor klasik sepanjang masa. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 24, 2016

The Jose Flash Review
Independence Day: Resurgence

Siapa penggemar film blockbuster Hollywood yang tak mengenal nama Roland Emmerich? Sejajar dengan Michael Bay, nama Emmerich sebenarnya sudah jauh lebih dulu dikenal sebagai sutradara film-film blockbuster fenomenal dengan visual effect gila-gilaan sebagai daya tarik utamanya sebelum Bay populer dengan franchise Transformers yang makin lama makin dicerca kritikus tapi hasil box office-nya semakin meningkat. Sebelum ‘terpuruk’ menjadi sutradara gigantic blockbuster yang sebenarnya tak menawarkan banyak hal baru lewat film-filmnya (let’s saya The Day After Tomorrow dan 2012 yang… ya begitu deh), salah satu film yang bisa dianggap sebagai karya terbaiknya adalah Independence Day (ID4, 1996). Di kala tak banyak film bertemakan serangan alien, ID4 berhasil menjadi racikan pas antara pertarungan seru melawan alien dengan aspek-aspek humanis yang seimbang. Apalagi dengan berbagai signatural scene yang boleh dianggap ‘klasik’ dan visual effect yang membelalakkan mata pada jamannya, ID4 pun menjelma menjadi salah satu action sci-fi paling mengesankan sepanjang sejarah perfilman. Dengan alasan menunggu teknologi visual effect yang bisa dengan sempurna mewujudkan visinya, baru 20 tahun kemudian sekuelnya dihadirkan, Independence Day: Resurgence (IDR). Rentang waktu yang terlalu jauh (hingga lintas generasi) sebenarnya, yang beresiko pada reaksi penonton sekaligus hasil box office-nya. Pertaruhan yang tak main-main bagi 20th Century Fox yang konon harus mengeluarkan budget hingga US$ 165 juta, melebihi dua kali lipat budget film pertamanya. Bagi penonton, tentu yang paling ditunggu-tunggu adalah, pencapaian visual effect apa lagi yang ditawarkan Emmerich lewat IDR.

Dua puluh tahun setelah kejadian makhluk luar angkasa yang menyerang bumi habis-habisan tapi berhasil dilumpuhkan, bumi hidup dengan tenang dan damai. Amerika Serikat bersama beberapa negara lain membentuk Earth Space Defense yang bermarkas di Area 51 untuk mencegah serangan dari luar angkasa lainnya. Tiba-tiba mereka menemukan ada semacam benda berbentuk lingkaran yang mendekati bumi. Tak banyak berpikir panjang, segera mereka meluluh-lantakkan benda tersebut. Setelah diselidiki oleh tim peneliti, termasuk Dr. Brakish Okun yang baru saja siuman dari koma selama 20 tahun. Sementara di Afrika, David Levinson bertemu Dr. Catherine Madceaux untuk meneliti lokasi pesawat alien yang jatuh ke bumi. Di bawah pimpinan Dikimbe Umbutu, pasukan asal Afrika ini berhasil melumpuhkan para alien yang menyerang sebelumnya.

Ternyata benda berbentuk lingkaran ini merupakan permulaan dari serangan yang lebih besar. Berangkatlah ‘pahlawan-pahlawan’ muda yang sebenarnya masih punya pertalian dengan karakter-karakter di ID4, seperti Dylan yang adalah putra Steven Hiller (karakter yang diperankan oleh Will Smith), Patricia yang adalah putri mantan presiden Thomas Whitmore, Jake yang adalah tunangan Patricia, Charlie sahabat Jake, dan tentu saja karakter beretnis Cina (bagi film blockbuster Hollywood saat ini adalah hal wajib jika ingin filmnya bisa dengan mudah diputar di Cina dan mencetak box office besar!), Rain, yang adalah keponakan dari Jendral Jiang Lao, untuk sekali lagi melindungi bumi dari invasi alien.

Simple? Familiar? Come on, alasan terbesar penonton berbondong-bondong ke bioskop bukan untuk mencari cerita yang kompleks bukan? You know it’s Roland Emmerich’s and definitely not a Nolan’s. Secara garis besar cerita, Emmerich memang masih menggunakan formula lawas: pertarungan melawan alien dengan teknologi yang jauh lebih canggih dari manusia bumi dengan sentuhan-sentuhan humanis dan patriotisme sebagai bumbu yang menggerakkan cerita sekaligus emosi. Basi? Tentu saja dengan karakter-karakter yang sudah familiar bagi penonton ID4, tak susah untuk mengulang formula yang sama dengan bungkus pertalian dengan karakter-karakter lawas sebagai koneksi. Itulah sebabnya sebenarnya tak masalah jika ada penonton yang belum menonton ID4 tapi ingin langsung menikmati IDR. Anda tak akan menemukan kendala ‘nggak nyambung’ yang berarti. Bagi sebagian besar penonton, bisa jadi. Tanpa adanya karakter yang diberikan kedalaman lebih dan detail tentang alien yang tergolong biasa saja, IDR tak ubahnya pengulangan ID4 dengan skala yang serba jauh lebih bombastis (tapi tidak lebih remarkable). Positifnya, setidaknya meski menampilkan cukup banyak karakter (baik yang lawas maupun baru), kesemuanya masih bisa dikenali serta diingat dengan sangat baik tanpa menimbulkan kebingungan ‘ini siapa?’ atau ‘itu siapa?’.

Now I know that most of us want to see IDR hoping to see spectacular adventure and battle between human being and aliens. Tentu saja IDR menyajikannya sebagai menu utama. Bigger and grandeur, tapi sayangnya tak disusun dengan lebih baik. Banyak adegan pertarungan yang sedikit mengingatkan saya akan Starship Troopers atau bahkan pesawat-pesawat X-wing vs Death Star di Star Wars: A New Hope, yang berpotensi seru tapi tak sampai mencapai titik klimaks yang cukup memuaskan. Seru, tapi secara keseluruhan adegan bombastisnya terkesan serba tanggung.

Di lini terdepan sebenarnya diletakkan aktor-aktor muda, seperti Liam Hemsworth sebagai Jake, Jessie T. Usher sebagai Dylan Hiller, Maika Monroe sebagai Patricia Whitmore, Travis Tope sebagai Charlie, dan Angelababy sebagai Rain. Liam beruntung diberi karakter utama yang porsinya jauh lebih banyak dan menarik perhatian ketimbang perannya di franchise The Hunger Games, meski secara kualitas akting masih tergolong standard. Angelababy semakin mengejawantahkan karir dirinya di Hollywood dengan karakter yang juga jauh lebih noticeable setelah Hitman: Agent 47. Maika Monroe yang sebelumnya kita kenal lewat It Follows dan The 5th Wave sedikit lebih menarik perhatian berkat wajahnya yang (menurut saya) di sini mirip Reese Witherspoon muda.

Di deretan karakter-karakter lawas, Jeff Goldblum sebagai David Levinson masih tak begitu banyak mengalami perkembangan selain membawa benang merah feel dari ID4. Chemistry cliché-nya dengan Charlotte Gainsbourg (senang rasanya melihat dirinya tampil berpakaian utuh sepanjang film) boleh lah. Di posisi berikutnya ada William Ficthner sebagai Jendral Adams, Judd Hirsch sebagai Julis Levinson, dan Brent Spinner sebagai Dr. Brakish Okun. Sementara Bill Pullman sebagai mantan presiden Whitmore, Sela Ward sebagai Presiden Lanford, dan yang paling parah, Vivica A. Fox sebagai Jasmine Hiller, tak lebih dari sekedar asal ada atau asal menyambung dari installment sebelumnya (dan masih bersedia kembali tampil).

Seperti yang sudah saya sampaikan di beberapa paragraf sebelumnya, IDR menawarkan visual effect yang jauh lebih banyak, lebih masif, dan lebih detail ketimbang ID4, tapi tak satupun yang punya remarkable value sekuat ID4. Tata suara yang ditawarkan sedikit banyak membantu membombardir senses Anda. Scoring dari Herald Kloser dan Thomas Wander masih berhasil memberikan kesan grande dan blockbuster meski tak juga sampai menjadi remarkable yang hummable.

Menikmati IDR dengan format 4DX 3D memberikan experience value yang jauh lebih seru, terutama untuk adegan pesawat tempur menyerang alien yang banyak memanfaatkan sudut pandang a la simulator. Perpaduan motion seat, vibrating seat, dan hembusan angin membuat experience perang dengan pesawat tempur semakin seru. Water spray beberapa kali muncul, seperti saat semburan air laut dan semburan alien. Sementara untuk asap, kilatan blitz, dan aroma tak banyak tapi muncul di saat yang memang diperlukan. Terakhir, ankle shock yang biasanya memang tak banyak muncul, sekali lagi brhasil mengejutkan saya di momen yang pas pula. Untuk efek 3D-nya tergolong lumayan, terutama dari segi depth of field. Namun tak ada gimmick pop-out yang cukup berarti.

Secara keseluruhan sebenarnya tampak upaya Roland Emmerich untuk mengulang ID4 lewat IDR ini. Sayangnya semakin banyak film action sci-fi yang tergolong remarkable dan inovasi visual effect yang tak terlalu banyak, membuat IDR terasa jauh berada di bawah ID4. Storytelling yang juga tergolong kalah rapi (gara-gara terlalu banyak karakter?), membuat IDR semakin less memorable. Tapi setidaknya, menurut saya IDR tak sampai se-‘biasa’ The Day After Tomorrow atau 2012.  Masih ada adegan-adegan aksi spektakuler nan seru yang membuat sadar bahwa saya selalu merindukan mengalami petualangan melawan alien seperti ini sesekali. Just for instant exciting experience. Go see for this purpose, and you’ll still be highly-entertained.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 19, 2016

The Jose Flash Review
Te3n


Sebagai industri film yang paling produktif di dunia (yes, even compared to Hollywood!), sudah bukan rahasia lagi bahwa sinema Hindi atau yang lebih kita kenal sebagai Bollywood sering me-remake film-film dari negara lain, baik secara resmi maupun (terlebih lagi) yang tak resmi. Korea Selatan yang industri filmnya sedang menanjak tak jarang menjadi sumbernya. Sebelumnya Bollywood sudah me-remake seperti My Sassy Girl menjadi Ugly Aur Pagli, Oldboy menjadi Zinda, The Chaser menjadi Murder 2, A Bittersweet Life menjadi Awarapan, Seven Days menjadi Jazbaa, I Saw the Devil menjadi Ek Villain, dan yang baru saja rilis bulan lalu, Rocky Handsome yang merupakan remake dari The Man from Nowhere. Te3n yang dibintangi aktor watak, Amitabh Bachchan dan Nawazuddin Siddiqui ini menambah panjang daftar tersebut karena merupakan remake resmi dari Montage (2013). Disutradarai Ribhu Dasgupta (sebelumnya dikenal sebagai sutradara mini seri Yudh yang juga dibintangi Amitabh Bachchan), naskah Te3n dikerjakan oleh Bijesh Jayarajan (juga dari miniseri Yudh), dibantu Suresh Nair dan Ritesh Shah yang pernah bekerja sama mengerjakan naskah film-film high profile seperti Aladin, Kahaani, D-Day, dan Airlift. Judul Te3n sendiri sebenarnya bukan berarti teen dalam bahasa Inggris (=remaja), melainkan bahasa Hindi yang berarti “tiga”.

Delapan tahun sudah John Biswas, seorang kakek berusia 70 tahunan, mengunjungi kantor polisi tiap harinya untuk mengetahui apakah ada perkembangan dari kasus penculikan cucunya yang berakhir dengan kematian sang cucu, Angela. Tak hanya ke kantor polisi, John juga rajin berkunjung ke gereja tempat Pastor Martin Das memberikan pelayanan. Pastor Martin adalah mantan polisi yang dulu menangani kasus Angela. Ia memutuskan untuk menjadi pastor karena dirundung rasa bersalah di masa lalu. John yang tak henti-hentinya mencari keadilan untuk sang cucu sampai suatu ketika tak diduga ia menemukan petunjuk baru yang memungkinkan untuk akhirnya membawanya ke sang pelaku penculikan.

Sementara itu kepolisian yang kini dipimpin oleh Inspektur Sarita Sarkar baru saja mendapatkan laporan kasus penculikan yang mirip dengan kasus penculikan Angela delapan tahun lalu. Untuk itu Sarita meminta bantuan Pastor Martin untuk memecahkan kasus ini. Meski awalnya menolak, lama kelamaan ia penasaran juga dan memutuskan untuk membantu. Misteri siapa pelaku penculikan keduanya pun menjadi semakin pekat sebelum akhirnya menemukan titik terang.

Mungkin tak banyak yang pernah menonton Montage (2013). Saya pun memutuskan untuk menontonnya setelah Te3n. Saya harus mengakui kekuatan terbesar yang menjadikan Montage sebuah thriller yang remarkable adalah keunikan struktur cerita yang mampu menipu penontonnya. Ditambah dengan sinematografi dan editing yang rapi, serta konsep ‘mengejar waktu’, ia berhasil menjadi film thriller investigatif yang seru dan bikin penasaran. Jika Anda sudah pernah menyaksikan Montage sebelum Te3n, mungkin Anda akan dengan mudah membaca struktur cerita yang tak jauh berbeda. Namun saya merasa jauh lebih nyaman mengikuti plot Te3n karena menurut saya memang punya banyak kelebihan dibandingkan Montage. It’s arguable, tergantung aspek apa yang lebih bisa berhasil bagi Anda atau sisi apa yang lebih Anda sukai.

Menurut saya, ada banyak kekuatan Te3n dibandingkan Montage. Pertama, karakter sang ibu korban di versi Montage yang diubah menjadi sosok kakek (diperankan oleh aktor berkharismatik tinggi, Amitabh Bachchan pula!). Jika karakter ibu, Ha-Kyung terkesan emosional, terutama di momen klimaks, karakter John justru tampil penuh wibawa, tahu persis apa yang sedang dilakukannya, dan dengan mudah lebih menarik simpati penonton ketimbang momen yang sama oleh Ha-Kyung. Kedua, di Te3n, porsi antara penyelidikan yang dilakukan oleh John dan Martin-Sarita seimbang. Bandingkan dengan Montage dimana penyelidikan ynag dilakukan oleh Detektif Cheong-Ho porsinya jauh lebih banyak dibandingkan porsi penyelidikan Ha-kyung. Ini membuat plot Te3n berjalan lebih menarik dan bikin penasaran. Memang awalnya dua plot ini terkesan berjalan sendiri-sendiri dan (mungkin) membuat kecurigaan penonton akan ‘rahasia’-nya semakin besar. Untung saja bagi saya yang belum menonton Montage sebelumnya, tetap terkecoh oleh ‘permainan’ struktur yang tetap saja berhasil menipu. Ketiga, karakter Martin yang memutuskan menjadi seorang pastor pun punya kedalaman lebih, terutama tentang konsep penebusan (redemption) yang relevan dengan keseluruhan plot, even brought it all much deeper.

Tak perlu meragukan lagi performa Amitabh Bachchan. Tak pernah kehilangan kharismanya yang begitu kuat, Amitabh juga kembali menggerakkan emosi penonton dengan peran yang begitu pas untuknya. Kepedihan hati seorang kakek yang kehilangan cucu, ditambah rasa bersalah, namun tetap punya daya yang lebih dari cukup untuk mengungkap kebenaran. Nawazuddin pun mampu mengimbangi performa Amitabh dengan sangat baik. Penyesalan, keresahan tentang penebusan, serta kecerdasannya ketika terlibat mengungkap kasus dimainkan dengan begitu meyakinkan dan natural olehnya. Sementara Vidya Balan meski harus diakui tujuan utamanya menjadi pemanis di tengah aktor-aktor watak, tetap saja memberikan performa yang tak kalah kuat dan serius dibandingkan keduanya. Terakhir, Sabyasachi Chakraborty sebagai Manohar Sinha dan Padmavati Rao sebagai Nancy (istri John) juga patut mendapatkan kredit yang tak kalah penting di balik porsi yang lebih sedikit.

Untuk urusan sinematografi dan editing, secara keseluruhan mungkin Te3n masih tak serapi Montage, terutama dalam menyembunyikan twist-nya. Namun dengan aspek-aspek lain yang memperkaya, bisa dipahami ada kepentingan yang lebih banyak ketimbang sekedar menyajikan tipuan struktur cerita semata. Untuk itu sinematografi Tushar Kanti Ray dan editing Gairik Sarkar tetap layak mendapatkan kredit, meski tak bisa dibilang terlalu istimewa juga. Desain produksi Tanmoy Chakraborty cukup mengesankan, terutama dalam menghadirkan detail-detail tiap lokasi, termasuk properti-properti yang mendukung penyelidikan kasus. Terakhir, musik dari Clinton Cerejo tetap berhasil memperkuat emosi dari tiap adegannya meski bagi saya tak ada komposisi yang sampai menjadi begitu remarkable.

Pada akhirnya, Te3n (sama seperti kebanyakan film Hindi) lebih menyentuh emosi penonton lewat berbagai revelation karakternya. Berbeda dengan Montage yang lebih fokus untuk membawa penontonnya pada ‘petualangan’ investigasi pengungkapan misteri. In short, Te3n berhasil memberikan kedalaman lebih di berbagai aspek, termasuk emosi  dengan porsi yang pas, tak sedikit pun terasa jatuh menjadi melodrama tearjerker, tanpa meninggalkan signatural ‘permainan struktur cerita’ yang menipu khas film aslinya, Montage. It’s totally yours to chose which one to see. To be fair, jika Anda sama-sama menyukai film thriller investigatif maupun drama keluarga yang mendalam, saya menyarankan untuk menonton keduanya untuk membandingkan. Bagi saya sih, dengan alasan paling konyol sekalipun, mending menyaksikan seorang Vidya Balan beraksi sebagai inspektur polisi daripada om-om Korea paruh baya. Bukan begitu?

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 18, 2016

The Jose Flash Review
Finding Dory


Meski konsisten memproduksi animasi-animasi dengan cerita orisinil yang selalu unik, Pixar sesekali menengok kembali karya-karya paling remarkable (dan tentu saja yang laris) untuk kemungkinan dibuatkan sekuel atau perkembangan franchise. Apalagi franchise dengan kekuatan besar adalah aset-aset penting bagi perusahaan yang harus dilestarikan. Speaking of franchise, Pixar tentu punya banyak sekali stock valuable material. Malah tiap film panjang (dan bahkan tak terkecuali film-film pendek juga) yang diproduksi mereka punya kekuatan sebagai franchise yang rata-rata setara. Sampai sekarang terhitung sudah ada Toy Story (3 menuju 4 film), Cars (2 menuju 3 film), dan Monsters Inc. (2 film). Setelah ini masih ada The Incredibles 2 yang dipersiapkan untuk rilis tahun 2019.

Finding Nemo (FN, 2003) adalah salah satu animasi sukses sekaligus diakui sebagai salah satu terbaik dari Pixar dengan penghasilan US$ 936 juta lebih di seluruh dunia. Maka tak heran jika Pixar tertarik untuk makin melebarkan franchise ini. Instead of a sequel, sebenarnya Finding Dory (FD) lebih cocok jika disebut sebagai spin-off. Kendati demikian, tampilnya karakter utama di FN; Nemo dan Marlin dengan porsi yang tak kalah dibandingkan Dory, masih sah jika FD disebut sebagai sekuel FN. Andrew Stanton masih duduk di bangku sutradara sekaligus penulis naskah, dibantu Angus MacLane (pernah terlibat di departemen animasi Pixar dengan berbagai jabatan mulai A Bug’s Life hingga Toy Story 3) dan Victoria Strouse. Beberapa voice talent kembali mengisi suara, seperti Albert Brooks sebagai Marlin dan tentu saja Ellen DeGeneres sebagai Dory. Sementara karakter Nemo yang dulunya disuarakan oleh Alexander Gould digantikan Hayden Rolence karena perubahan suara Gould.

Meski punya rentang waktu sekuel yang cukup lama, yaitu 13 tahun, FD mengambil setting setahun setelah ending FN. Dory kini tinggal bersama Marlin dan Nemo di Great Barrier Reef. Sesekali Dory menjadi asisten relawan untuk Mr. Ray yang memimpin karyawisata laut. Suatu ketika topik keluarga sedang dibahas, mendadak Dory mengingat ayah-ibunya yang sudah lama tidak ia ingat. Sepotong demi sepotong ingatan kembali dan membuat Dory tak sabar ingin menemukan orang tuanya yang diduga berada di Jewel of Morro Bay, California. Meski sempat khawatir, Marlin dan Nemo akhirnya memutuskan untuk menemani petualangan Dory terutama karena ia tak bisa mengingat sesuatu untuk jangka waktu yang lama. Di perjalanan yang tak terduga, Dory terpisah dari Marlin dan Nemo, tapi dibantu oleh Hank si gurita bertentakel tujuh (alias septopus) yang mengincar label yang dimiliki Dory agar bisa diangkut ke Cleveland. Dory juga menemukan sahabat pipanya sejak kecil, seekor paus hiu bernama Destiny dan seekor paus beluga, Bailey yang juga turut membantunya. Petualangan mencari orang tua ini ternyata membuat Dory makin menemukan dirinya sendiri.

Tak berbeda jauh dari FN, Pixar yang beberapa filmografi terakhirnya tergolong ‘berat’ secara konsep, kali ini kembali memakai formula untuk mengedepankan aspek petualangan seru sebagai porsi terbesarnya. Ini yang membuat FD bisa dinikmati sebagai tontonan hiburan yang seru sekaligus menggelitik untuk penonton dari berbagai kalangan usia. Meski dari luar terkesan seru dan lucu, jika mau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada cukup banyak penggambaran sosok Dory yang cukup detail sebagai penderita short-term memory loss yang bikin iba. Bahkan ketika menonton untuk kedua kalinya, saya lebih merasakan nuansa dark (baca: mellow) yang lebih banyak membuat saya terdiam dan berpikir, ketimbang ceria yang lebih sering saya rasakan ketika menontonnya pertama kali.

Di balik kemasan petualangan seru, lucu, penggambaran penderita short-term memory loss yang detail, dan trivia-trivia kelautan yang disematkan secara menarik serta menyatu dalam plot, Pixar tak melupakan value-value sebagai intinya yang mungkin lebih bisa dipahami oleh penonton yang lebih dewasa, seperti konsep tentang keluarga, kejadian tak terduga yang membentuk hidup, bukannya perencanaan, serta yang paling penting, mengubah kelemahan menjadi kelebihan ketika dipahami, diantisipasi. Come on, tak bisa mengingat hal dalam waktu singkat berarti tak ada masalah untuk dipikirkan, bukan? 

Ellen DeGeneres menunjukkan kualitas voice-acting yang semakin mumpuni lewat karakter Dory yang juga ditampilkan lebih kompleks di sini. Tanpa mengurangi comedic side yang masih sama dengan di FN lewat kelainannya sebagai main source, kali ini penonton diajak untuk merasakan sisi kelam dari kelainan short-term memory loss. Ada cukup banyak momen dimana saya dibuat iba dan terdiam terhadap karakter Dory, meski bagi beberapa penonton lain mungkin menganggapnya lucu. Ellen berhasil menampilkan ‘penderitaan’ Dory dengan pas, seimbang dengan sisi karakter Dory yang ceria dan spontaneous. Albert Brooks sebagai Marlin juga masih menunjukkan performa yang setara di FN. Hayden Rolence pun mampu melanjutkan peran Nemo yang sudah lebih dulu dihidupkan oleh Alexander Gould tanpa perbedaan yang terlalu mencolok. Ed O’Neill sebagai Hank mencuri perhatian karena porsi perannya yang cukup banyak dan penting, serta mampu dihidupkan menjadi lovable pula.

Di jajaran voice cast pendukung, Kaitlin Olson sebagai Destiny, Ty Burrell sebagai Bailey, Idris Elba sebagi Fluke, dan Dominic West sebagai Rudder menampilkan performa voice yang sama menariknya, sesuai dengan karakter masing-masing yang memang sudah unik. Eugene Levy dan Diane Keaton sebagai Charlie dan Jenny, ayah-ibu Dory, menjadi pilihan pasangan orang tua yang begitu pas. Terakhir, tentu tak boleh melupakan Sigourney Weaver yang kembali menjadi cameo setelah sebelumnya pernah tampil di Wall-E.

Seperti biasa, Pixar selalu memamerkan perkembangan teknologi di tiap karya animasinya, apalagi setelah punya software animasi sendiri yang diberi nama Presto. Kali ini yang menjadi pusat perhatian adalah animasi karakter Hank si septopus. Mengaku menghabiskan sekitar 2 tahun untuk adegan-adegan yang melibatkan Hank, hasilnya memang sangat luar biasa. Tak hanya pergerakan tubuh serta tentakel Hank yang begitu mulus dan tekstur tubuh yang begitu real, visual effect untuk adegan-adegan kamuflase Hank begitu mencengangkan. Nyaris  membuat saya lupa bahwa ini adalah film animasi 3D saking nyata dan mulusnya. Animasi karakter-karakter lain seperti Marlin dan Nemo pun terasa mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Detail yang luar biasa, tanpa meninggalkan kesan “kartun” yang membuatnya tetap fun. Tata suara yang dimixing dengan sangat baik turut mendukung kualitas visual yang begitu memanjakan mata. Kejernihan dialog dengan kedahsyatan sound effect di tiap kanal surround, ditambah scoring Thomas Newman yang selalu bisa terdengar megah tapi tetap menyatu dengan emosi-emosi adegan. Menikmati FD di layar IMAX 3D sangat-sangat direkomendasikan mengingat aspect ratio-nya yang 1.85:1 sehingga tampak full-screen di layar IMAX. Bak sedang menyaksikan drama panggung berlatar aquarium raksasa a la Sea World. Depth of field-nya sangat indah ditambah sesekali pop-out gimmick yang tak sampai jauh keluar layar tapi tetap memanjakan mata, seperti adegan ikan-ikan berhamburan keluar dari truk atau ketika Marlin dan Dory terlempar ke langit.

Lewat FD, Pixar kembali membawa petualangan seru, tak terduga, dan lucu sebagai menu utama, ketimbang grand design seperti Inside Out atau tema-tema berat yang lebih bisa dipahami penonton dewasa ketimbang dinikmati penonton anak-anak, meski tetap punya detail-detail yang hanya bisa diapresiasi penonton dewasa. Dengan komposisi antara fun dan value yang seperti ini, FD menjadi sajian yang menyenangkan untuk anak-anak, dan  nostalgia sekaligus bahan refleksi diri untuk penonton dewasa. Bagi penonton yang pernah menyaksikan FN, after credit scene pantang untuk dilewatkan. Begitu juga short animation sebagai pembuka yang kali ini berjudul Piper yang secara sederhana dan lucu menjelaskan proses belajar dari seekor burung kecil yang diarahkan sang induk.

Sekedar info tambahan, Indonesia kembali diberi privilege untuk punya FD versi dubbing Bahasa Indonesia secara resmi setelah Wall-E dan The Good Dinosaur. Lebih dari film-film sebelumnya, FD versi Bahasa Indonesia yang diberi titel baru Mencari Dory (MD) ternyata sangat-sangat baik. Selain dikerjakan dengan sound mixing yang sangat baik, sehingga efek surround 7.1 masih terjaga sangat baik, pemilihan-pemilihan kata untuk menyepadankan dengan Bahasa Indonesia juga dikerjakan dengan sangat baik, terutama becandaan plesetan yang keluar dari mulut Dory karena lupa kata aslinya. Memang ada beberapa bagian yang terkesan terburu-buru (mengingat secara umum Bahasa Indonesia rata-rata lebih panjang dari English) dan emosi dari karakter utama Dory tak sepenuhnya bisa tersampaikan lewat suara Siska Tola, tapi jujur, versi MD lebih bisa dinikmati sebagai sebuah petualangan seru yang lucu. Suara Destiny yang disuarakan oleh Syahrini jauh lebih menarik dan unik ketimbang Kaitlin Olson, begitu juga untuk pengisi suara Dory kecil versi MD yang jauh lebih menggemaskan ketimbang aslinya. Adalah ide brilian pula untuk memberikan aksen Madura untuk karakter Chill si kura-kura laut dan memilih Maria Oentoe (voice talent public announcement di jaringan XXI/21) sebagai pengganti Sigourney Weaver. Tak hanya dialog, Disney juga memperbolehkan menerjemahkan titel card di layar dan bahkan property di adegan, seperti papan petunjuk, peta, dan tulisan-tulisan di gedung Lembaga Kelautan. Keren!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 17, 2016

The Jose Flash Review
Central Intelligence

Action-comedy dengan tema buddy adalah salah satu formula favorit Hollywood yang sering diangkat ke layar lebar. Formula dasarnya mudah: menyatukan dua orang dengan latar belakang yang jauh berbeda atau kepribadian bertolak belakang sehingga menimbulkan kelucuan-kelucuan ketika harus menyelesaikan sebuah konflik. Kebanyakan sih mengambil latar belakang kepolisian atau agen rahasia untuk membangun konfliknya. Entah sudah ada berapa puluh atau malah ratusan pasangan buddy yang pernah dipopulerkan dengan berbagai variasi, mulai Afro-American dan Caucasian di franchise legendaris Lethal Weapon sampai Afro-American dan Chinese di franchise Rush Hour. Afro-America tampaknya menjadi salah satu karakter wajib ada di film buddy action-comedy Hollywood. Mungkin faktor karakter Afro-American yang identik big-mouth dan kocak menjadi daya tarik tersendiri. Terkesan rasis memang, tapi jika untuk kausa yang positif dan berhasil, why not? Embrace it!

Sutradara Rawson Marshall Thurber yang kita kenal lewat Dodgeball: A True Underdog Story dan We’re the Millers, tertarik juga untuk mengangkat action-comedy yang sudah menjadi root-nya selama ini dengan tema buddy bertajuk Central Intelligence (CI). Dengan menggandeng penulis naskah dari serial Hulu, The Mindy Project dan FTV Megawinner, Ike Barinholtz dan David Stassen, Thurber sekaligus ‘menyatukan’ New Line Cinema (yang merupakan bagian dari WarnerBros) dan Universal Pictures, yang mana merupakan pertama kalinya setelah Twister 20 tahun yang lalu. Konsepnya yang menggabungkan tema buddy dengan tema teenage bullying menjadi lebih menarik (setidaknya untuk dijadikan value added atau sekedar setup joke).

Calvin Joyner bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan. Saat ini Calvin merasa seiring dengan waktu dirinyanya semakin mengalami kemunduran ketimbang kemajuan. Bagaimana tidak, asistennya dulu kini ‘melangkahi’ jabatannya setelah dipromosikan oleh atasan, ditambah tekanan dari sang istri, Maggie, yang terus-terusan menginginkan anak. Saking malunya, Calvin enggan menghadiri pesta reuni SMA karena dulu ia dinobatkan sebagai ikon sekolah yang diprediksi akan menjadi orang besar. Ketika tiba-tiba ada friend request dari seseorang bernama Bob Stone di Facebook, Calvin penasaran siapa sosok yang mengaku teman SMA-nya ini. Setelah ketemuan, Calvin kaget setengah mati ternyata Bob Stone adalah Robbie Weirdicht yang dulunya overweight dan jadi korban bullying favorit satu sekolah. Bagi Bob, Calvin adalah sosok pahlawan yang menolongnya ketika ia dipermalukan di sekolah dulu. Kini Bob bertransformasi menjadi sosok tinggi tegap bak binaragawan.

Siapa sangka pertemuan kembali Calvin dan Bob adalah awal dari petualangan yang merubah nasib Calvin yang selama ini dirasa membosankan. Bob mengaku sebagai seorang agen CIA yang sedang dikejar-kejar oleh satuannya karena difitnah membelot ketika menyelesaikan misi menangkap sosok Black Badger yang berniat menjual kode rahasia satelit kepada penawar tertinggi. Sempat dilanda kebingungan, Calvin tak punya pilihan selain ikut terlibat dalam aksi kejar-kejaran ini. Calvin semakin bingung ketika pihak CIA menjelaskan justru Bob yang berkhianat dan bahkan membunuh partnernya sendiri, Phil. Along the way, Calvin harus menyelidiki sendiri mana yang bisa ia percaya.

Sebenarnya dengan membaca premise dan konsep secara garis besar, apa yang ditawarkan CI tergolong teramat sangat generik. Membuka cerita dengan sangat baik, di tengah-tengah naskah CI terasa mulai kedodoran, terutama ketika karakter Calvin kebingungan memilih pihak; mempercayai Bob atau CIA. Bahkan cukup lama adegan berputar-putar untuk meyakinkan (atau malah membingungkan) Calvin tanpa memberikan materi setup yang cukup penting berarti bagi laju cerita. Setelah berhasil mengembalikan keseruan di klimaks, CI malah menawarkan konklusi yang kelewat prechy tentang bullying. It’s okay actually, tapi ketika disampaikan dengan terlalu serius (apalagi untuk sebuah komedi) hasilnya malah jadi berlebihan ketimbang menyentuh. Shortly, sebenarnya CI masih kebingungan menyeimbangkan komedi aksinya dengan valued content yang ingin disampaikan sehingga hasil akhirnya terkesan fully-stuffed, tidak sepenuhnya mulus berjalan beriringan ataupun saling mendukung.

Naskah yang sempat mengalami kedodoran mempengaruhi pula pada nuansa CI secara keseluruhan. Memang bombardir adegan-adegan aksi terhitung cukup banyak, tapi di antaranya terbentang cukup lama adegan-adegan drama (memang masih diselipi jokes-nya sih) yang membuat nuansa film berubah drastis menjadi lebih lengang. Tak heran jika di banyak kesempatan, CI lebih terasa seperti FTV atau film video ketimbang sajian layar lebar.

Namun tentu yang menjadi concern terbesar penonton adalah bisa tertawa terbahak-bahak lewat bertemunya Dwayne ‘The Rock’ Johnson dan Kevin Hart, ketimbang jalinan cerita. For that purpose, tim penulis naskah cukup berhasil menyuntikkan berbagai jenis joke, terutama referenced jokes (termasuk ‘bitch’ pronounce dari Aaron Paul yang merujuk pada karakternya di serial Breaking Bad), racial jokes (‘black don’t go to the psychiatrist, they go to the barbershop’ LOL!), hingga slapstick jokes yang jelas lebih bisa berhasil memancing tawa lebih banyak penonton karena tak butuh referensi apa-apa untuk memahaminya. Worked and failed, tergantung seberapa jauh Anda bisa dibuat tertawa oleh humor-humornya, yang receh atau yang butuh referensi lebih.

Duet Dwayne Johnson dan Kevin Hart jelas menjadi spotlight utama penonton, secara memang itu pula yang  menjadi komoditas utama CI. Secara keseluruhan, keduanya cukup mampu membangun chemistry yang meyakinkan sekaligus kocak, meski ada beberap momen yang masih terkesan awkward. Dwayne Johnson sendiri kali ini ditantang untuk menghidupkan momen yang lebih serius, terutama ketika Bob dihadapkan pada trauma masa SMA-nya. Luckily, he did it very well. Sementara Hart cukup berhasil pula menjadi comedic character. Sayangnya, transisi antara Calvin sebelum bertemu Bob yang kelewat serius dan depresif hingga setelah bertemu Bob menjadi jauh lebih ceriwis bak Chris Tucker, terasa terlalu drastis dan terkesan dibuat-buat. Either salah naskah yang menuliskan perkembangan karakternya, Thurber yang mengarahkan, atau Hart sendiri yang salah menginterpretasi karakter yang dimainkannya.

Di deretan peran pendukung, Aaron Paul sebagai Phil, mantan partner Bob, tampil gokil dengan sedikit banyak merujuk pada karakter Jesse Pinkman yang ia perankan di serial Breaking Bad. Cameo dari Jason Bateman dan Melissa McCarthy pun tak kalah gokil-nya. Terakhir, Danielle Nicolet sebagai Maggie, istri Calvin yang cukup menarik perhatian lewat kharisma smart-sexy meski porsinya tak begitu banyak.

CI didukung sinematografi dari Barry Peterson yang mungkin memang tak terlalu istimewa, tapi lebih dari cukup efektif ber-storytelling. Editing Michael L. Sale sendiri sebenarnya cukup berperan dalam menjaga pace secara keseluruhan, termsauk ketika sampai pada plot yang sempat mengalami kedodoran. Kredit khusus untuk pemilihan soundtrack yang memanjakan anak gaul 90-an macam My Lovin’ (You’re Never Gonna Get It) dari En Vogue, Unbelievable dari EMF, Me So Horny dari 2 Live Crew, Jump Around dari House of Pain, Party Up (Up in Here) dari DMX, sampai My Own Worst Enemy dari Lit dan Song 2 dari Blur. Beberapa tergolong overrated, tapi bagi saya cukup membangkitan nostalgia kejayaan era 90-an.

Meski menjanjikan valued content lebih ketimbang buddy action-comedy lainnya, tanpa dukungan penulisan naskah yang solid dan seimbang, serta penyutradaraan yang benar-benar tepat, CI harus jatuh menjadi just another one. Namun jika Anda hanya ingin dibuat tertawa oleh Dwayne Johnson-Kevin Hart dan merasa punya referensi film dan Afro-American yang cukup luas, CI boleh lah menjadi pilihan hiburan ringan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates