Sunday, May 15, 2016

The Jose Flash Review
Take Me Home [สุขสันต์วันกลับบ้าน]

Sinema Thai memang dikenal sebagai salah satu industri film paling maju di kawasan Asia Tenggara. Di kancah internasional, sudah cukup banyak produk sinema mereka yang dikenal, terutama dari genre horor, martial art, dan romantic comedy. Tahun 2016, penulis naskah sekaligus sutradara Kongkiat Khomsiri merilis karya terbarunya, sebuah horor dengan latar belakang drama keluarga, Take Me Home (TMH- Sook-San-Wan-Glub-Baan). Khomsiri sebelumnya dikenal lewat horor Art of the Devil 2 (Long Khong), Slice, Unseeable, Coming Soon, dan 407 Dark Flight. Di TMH, Khomsiri menggadeng aktor muda paling populer di Thailand, Mario Maurer (Love of Siam, A Little Thing Called Love, Jan Dara: the Beginning, Pee Mak) sebagai lead.

Selama 10 tahun, Tan tinggal di sebuah rumah sakit tanpa ingatan apa-apa tentang dirinya, kecuali nama dan kecelakaan yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama 10 tahun. Tan tak tinggal diam. Lewat fasilitas internet rumah sakit, ia mencari-cari asal-usulnya. Setelah menemukan artikel koran tentang seorang arsitek yang bunuh diri 10 tahun lalu, yang ia duga sebagai sang ayah, Tan meminta ijin kepada dokter yang merawatnya selama ini untuk pulang. Meski diperingatkan, Tan tetap bersikeras untuk pulang. Setelah sampai di rumah, ia mendapati seorang wanita muda yang mengaku sebagai saudari kembarnya, Tubtim, sudah menikah dengan seorang duda, Chewin yang sudah dikaruniai dua orang anak. Awalnya semua tampak sempurna, sampai Tan mulai merasa bahwa ada yang aneh dengan sosok saudari kembarnya ini. Penasaran dengan apa yang sebenarnya yang terjadi di rumah sempurna itu, Tan menemukan kepingan-kepingan masa lalu yang sempat ia lupakan sebelum kecelakaan.

Horor dengan latar belakang drama keluarga selalu menjadi sesuatu yang menarik, karena tak hanya sekedar berusaha menakut-nakuti penonton, tapi juga punya value kekeluargaan yang tentu saja relate dengan siapa saja (come on, siapapun pasti punya atau pernah punya keluarga, bukan?). Khomsiri memasukkan konsep cerita yang menarik ke dalam suguhan horornya yang bikin penasaran. In the pursuit of family perfection yang memang menjadi bagian dari budaya Timur selama ini menjadi latar belakang yang kuat dan punya muatan kritik sosial yang cukup menggugah.

Sayangnya, Khomsiri agak kesusahan dalam menyampaikan konsep besarnya itu. Alih-alih mengembangkan cerita present time yang nyaris non-existent (hanya sekitar setengah jam pertama dari durasi), ia terlalu banyak (dan lama) bermain-main dengan flashback untuk menjelaskan misterinya. Kepingan-kepingan flashback yang ditampilkan bergantian justru semakin mengaburkan mana yang nyata, mana yang halusinasi. Mana yang masa kini, mana yang masa lalu. Untungnya, karakter Tan dibuat sempat hilang ingatan, sehingga setidaknya bisa jadi explaination device yang masih masuk akal. Sedangkan untuk urusan ‘menakut-nakuti’, ia masih bermain-main dengan generic jump-scare, tapi most of it still worked.

Bisa dibilang Mario Maurer adalah single-fighter-actor yang mendominasi keseluruhan film. Tidak terlalu istimewa sebenarnya, tapi setidaknya ia bisa sedikit keluar dari image sebagai cowok manis dan kalem. Yang menurut saya paling menarik justru Wannarot Sontichai, pengisi peran Tubtim, yang seperti pada film-film dengan karakter serupa, berhasil menampilkan sosok ‘sakit jiwa’ dengan begitu hidup dan membuat saya terdiam terpesona. Cantik dan seksi secara fisik, punya aura sensualitas yang cukup kuat, sekaligus misterius dengan roller-coaster emosi sesuai kebutuhan.

Sinematografi Pramett Chankrasse, scoring, serta sound mixing adalah faktor terbesar keberhasilan TMH sebagai sebuah horor yang mencekam dan menghadirkan suasana creepy. Termasuk pemanfaatan fasilitas surround yang yang cukup efektif dan maksimal. Editing Lee Chatametikool, dibantu Harin Paesongthai, pun cukup efektif dan tepat, terutama ketika menghadirkan adegan yang diulang-ulang tak jatuh menjadi membosankan. Terkadang menggelikan, tapi lama-lama, ngeri juga. Begitu pula desain produksi dari Thana Macaroumput yang memanfaatkan tiap sudut ‘rumah sempurna’  terasa beautifully modern, tapi di sisi lain juga mengerikan.

TMH memang tak sekedar just another Thai horror. Ia punya konsep cerita yang menarik, kuat, dan relevan dengan keluarga Timur. Meski penyampaiannya masih terasa berbelit-belit dan kabur, analisis lebih dalam dengan breakdown tiap adegan sebenarnya masih bisa terbaca dengan jelas. Jika masih tak menemukan detail ending yang jelas, biarlah inti besarnya tetap terasa: Tan has found his home, in any terms.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates