Tuesday, May 17, 2016

The Jose Flash Review
Baaghi

Sebagai bagian dari kultur sebuah negara, seni/ilmu beladiri seringkali dijadikan produk budaya yang menarik untuk dijual di pasar internasional. Di Asia, Jepang dan Cina terbukti berhasil melakukannya. Bahkan Hollywood melirik berbagai cabang bela diri untuk diangkat ke layar lebar, bahkan ada yang statusnya seklasik Karate Kid atau franchise B-class macam Kickboxer. Bela diri melahirkan pula banyak sekali aktor spesialis laga. Indonesia sendiri sempat naik ke kancah internasional berkat The Raid: Redemption. Sebaliknya, India sebagai salah satu produsen film terbesar dunia terhitung sangat jarang mengangkat tema martial art, meski genre action bukan sesuatu yang asing lagi di ranah perfilman mereka. Tahun 2016 ini sutradara Sabir Khan (Kambakkgt Ishq dan Heropanti) kembali menggandeng Tiger Shroff, putra aktor Hindi legendaris, Jackie Shroff, untuk menjadi lead di Baaghi: A Rebel in Love. Sejak awal perilisannya Baaghi langsung dikait-kaitkan dengan storyline film Telugu, Varsham, Tezaab (yang juga menjadi inspirasi dari Varsham). Bahkan judulnya mengingatkan penonton akan film berjudul sama versi tahun 1990 dan 2000. Tak ketinggalan, pengaruh The Raid: Redemption yang harus diakui begitu terasa di banyak adegan.

Selepas kepergian sang ayah, Ronny bertolak ke Kerala untuk menjadi murid salah satu sahabat sang ayah yang menjadi guru beladiri khas India, Guruswamy. Ronny yang berjiwa pemberontak harus segera beradaptasi dengan gemblengan keras dari Guruswamy. Seiring dengan pelatihannya, Ronny menjalin kisah asmara dengan Sia, gadis yang pernah ditemuinya ketika perjalanan dengan kereta api. Sayang kisah cinta mereka berdua mendapatkan tantangan dari Raghav, yang tak lain dan tak bukan adalah putra tunggal Guruswamy. Pinangan Raghav diterima ayah Sia karena faktor kekayaan yang ditawarkan. Trik dari ayah Sia pun membuat Ronny dan Shia akhirnya saling membenci. Beberapa bulan kemudian, Sia diculik oleh Raghav dan dibawa ke Thailand, tempat Raghav menjalankan bisnis kotornya. Ayah Sia balik berharap Ronny mau menyelamatkan dan membawa pulang Sia kembali ke India. Meski awalnya menolak karena masih sakit hati, Ronny akhirnya tetap menolong atas dasar kemanusiaan. Bentrokan brutal pun tak terelakkan.

Secara garis besar cerita, memang tak ada yang benar-benar istimewa. Formulanya boleh dibilang benar-benar cliché dan generik, bahkan untuk genre martial art sekalipun. Apalagi dengan bumbu romansa picisan a la Hindi. Untungnya, Sabir Khan masih mampu menggerakkan cerita menjadi tetap menarik untuk diikuti. Bumbu romantis picisan tapi dengan kemasan yang manis (we meet everytime we see rain! It’s damn romantic!) dipadu aksi beladiri yang seringkali brutal, sedikit bumbu komedi, dan emosional yang melibatkan seorang anak bisu. Belum lagi ada adegan dua adegan musikal yang mengobati kerinduan saya akan adegan musikal di sinema Hindi (meski yang pertama asyik, yang kedua agak mengganggu laju cerita). Sayangnya, memasuki babak ketiga, Baaghi mulai terasa bertele-tele. Di saat sebenarnya bisa langsung masuk klimaks (yang sangat The Raid: Redemption itu), ia masih ‘bermain-main’ dengan penuntasan hubungan antara Ronny-Sia terlebih dahulu yang sebenarnya bisa diselesaikan secara singkat sebagai adegan pamungkas.

Meski secara keseluruhan masih belum sepenuhnya cukup kuat sebagai lead, Tiger Shroff perlahan menemukan kharisma yang pas untuk menjadi seorang lead. Sementara Shraddha Kapoor sebagai Sia cukup mampu mengimbangi Tiger dengan aura kecantikan dan keseksian yang tak kalah dengan beberapa bintang muda wanita yang sedang naik daun beberapa tahun terakhir, seperti Alia Bhatt misalnya. Sudheer Babu sebagai Raghav tampil just like another Hindi’s villain, sementara yang sebenarnya cukup menarik justru Sunil Grover sebagai ayah Sia. Terakhir, penampilan guru besar Shifuji Shaurya Bharadwaj sebagai Guruswamy yang sangat kharismatik, juga patut mendapatkan kredit tersendiri.

Baaghi tak menawarkan sinematografi oleh Binod Pradhan yang benar-benar istimewa, selain sekedar pas untuk menyampaikan keseluruhan plotnya, serta yang paling penting membawa nuansa manis bin romantis, begitu juga adegan laga brutal menjadi lebih menggigit. Sedikit kredit (seperti layaknya film-film Hindi lain) untuk musical performance Cham Cham yang mengobati kerinduan saya akan kehadiran musical performance di film Hindi yang kian kemari kian terkikis. Musical performance ke-dua, Sab Tera yang sejatinya tak perlu ada dengan visualisasi cheesy, tapi masih cukup memanjakan mata lewat latar panoramic-nya.

Dibandingkan beberapa judul film Hindi akhir-akhir ini yang tergolong ‘berbobot’ (tapi minim musical performance yang menurut saya seharusnya tak boleh absen di sinema Hindi), Baaghi terasa ‘setia’ dengan pakem-pakem generik Bollywood. Tak sampai menjadi menu masala yang ultimate dan berkesan bak Dilwale akhir 2015 lalu, tapi ia cukup menjadi hiburan ringan yang cukup menghibur pula, terlepas dari aspek-aspek yang comot sana-comot sini. Nikmati saja sebagai sajian aksi martial art brutal dengan bumbu romantis yang cukup manis. Setidaknya sejak menonton Baaghi, tiap hujan turun saya jadi ingat adegan Cham Cham, begitu pula dengan janji antara Ronny dan Sia.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates