Tuesday, May 17, 2016

The Jose Flash Review
The Angry Birds Movie

Tak terbantahkan, Angry Birds (AB) menjadi salah satu tonggak sejarah penting dunia video game sejak kemunculannya di akhir tahun 2009. Tak hanya menjadi salah satu aplikasi mobile paling laris sepanjang masa dan punya berbagai seri, termasuk dari franchise populer macam Star Wars, Rio, dan Transformers, AB pun berkembang menjadi salah satu franchise era 2000-an yang patut diperhitungkan. Setelah serial animasi, tinggal menunggu waktu saja ada major studio yang tertarik mewujudkannya. Adalah Sony Pictures Imageworks yang berpengalaman mengerjakan semua produksi Sony Pictures Animations, yang berhasil bekerja sama dengan Rovio Animation untuk membawa AB ke layar lebar dengan judul The Angry Birds Movie (TABM). Proyek ini tergolong ambisius. Rovio Entertainment sampai harus memangkas sebanyak 250 karyawan atau setara 40% dari seluruhnya pada pertengahan 2015 lalu, yang mana sisanya dikaryakan untuk mengerjakan versi layar lebar ini. Untuk marketing promosinya saja, Rovio dan Sony konon mengeluarkan hingga sekitar US$ 300 juta, melebihi budget pembuatannya sendiri yang ‘hanya’ US$ 80 juta. Ini tak hanya menandai rekor budget film paling mahal di Finlandia, tapi juga budget promosi terbesar yang pernah dilakukan oleh Sony Pictures Animations. Meski ini merupakan pengalaman penyutradaraan pertama bagi Clay Kaytis (pernah terlibat dalam penggarapan animasi berbagai film Disney, mulai Pocahontas sampai Frozen) dan Fergal Reilly (storyboard artist di berbagai proyek animasi Sony Pictures Animation, seperti Open Season, Cloudy with a Chance of Meatballs, The Smurfs, dan Hotel Transylvania) yang baru pertama kali menyutradarai, serta dukungan penulis naskah Jon Vitti (The Simpsons dan Alvin and the Chipmunks), kesemuanya jelas punya pengalaman lebih dari cukup di bidangnya (baca: animasi).

Jika selama ini kita mengenal si burung merah sebagai karakter utama game, di versi layar lebar ini kita diajak mengetahui latar belakang burung yang punya nama sebutan Red. Lahir dari telur misterius, Red tidak punya keluarga. Ketika tumbuh menjadi anak-anak, ia pun tergolong social outcast. Terutama karena alis tebalnya yang tak lazim di kalangan burung. Tak heran jika Red lantas menjadi pribadi yang pemarah. Sebuah peristiwa tak terduga membawa Red ke komunitas anger management yang dikelola oleh Matilda dan memperkenalkannya dengan ‘sesama’ pasien bad temper; Chuck, burung kuning yang punya kelebihan bisa bergerak secepat kilat, Bomb, burung hitam yang bisa literally meledak jika emosinya terpancing, serta Terrence, burung merah overweight.

Kedamaian Pulau Burung terusik ketika datang sebuah kapal besar berisi para babi hijau yang diketuai oleh Leonard. Berdalih datang dalam damai dan membawa peradaban ke Pulau Burung, diam-diam ternyata para babi ini mencuri telur-telur burung untuk disantap. Awalnya Red tak dipercaya, maka ia bertualang bersama Chuck dan Bomb untuk menemukan sang pahlawan legenda, The Mighty Eagle, untuk membantu mereka meyakinkan warga Pulau Burung. Ternyata sosok The Mighty Eagle sudah jauh berbeda dari yang diceritakan kepada para murid di sekolah selama ini. Ia kini menjadi sosok narsistik pemalas. Sementara itu, ketika para babi berlayar kembali ke pulaunya, barulah seluruh warga menyadari bahwa kekuatiran Red adalah benar. Ia pun dipercaya untuk mengupayakan agar telur-telur yang dicuri bisa pulang dengan selamat. Berbekal ketapel yang dihadiahi oleh para babi dan bad temper, Red memimpin para burung menyerang pulau babi.

Jujur, ketika pertama kali mendengar rencana adaptasi layar lebar, saya tidak bisa membayangkan narasi cerita seperti apa yang ingin disampaikan sebagai modifikasi dari gameplay yang sekedar menyerang para babi dengan burung beterbangan menggunakan ketapel. Okay, yang pasti ada pertarungan antar kubu burung dan babi. Ketika menyaksikan langsung, saya langsung tersenyum dengan cerita background-nya. Tema karakter social outcast yang berubah menjadi pahlawan memang bukan sesuatu yang baru terutama di ranah animasi. Nama Shrek jadi yang paling pertama muncul dalam benak saya. Tak ada yang salah dengan itu, toh memang punya relevansi yang baik dengan perkembangan cerita utamanya. Apalagi dengan mengusung tema seperti ini, bisa dengan mudah pula menyisipkan berbagai guyonan (terutama crude humor yang sifatnya mengolok-olok). Maka berbagai formula generik animasi bak Shrek diinjeksikan ke dalamnya. Hasilnya ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Bukan sesuatu yang baru, tapi tetap berhasil menghibur. Komposisinya yang cukup seimbang antara slapstick yang bisa dipahami penonton cilik dan muda, dan humor bereferensi pop culture (seperti misalnya spoof dari X-Men Days of Future Past, The Shining, Breaveheart, Wild Hogs, Hamlet, sampai Magic Mike, dijamin mampu mengundang tawa dari berbagai kalangan penonton. Oh yeah, sekali lagi kita disuguhi esensi tentang kelebihan yang mungkin dimiliki oleh orang-orang yang dianggap ‘aneh’, but it’s okay since it had good relevance in its story case. Pace yang tergolong cepat (dan most of the time, berisik!), sama seperti kebanyakan film-film animasi produksi Sony Pictures Animation, untungnya masih bisa dengan nyaman diikuti dan dinikmati oleh penonton cilik sekalipun.

Nama-nama populer di jajaran voice cast sebenarnya bisa jadi salah satu nilai jual TABM. Meski cukup berhasil menghidupkan tiap karakter menjadi unik, tapi tak ada yang sampai tahap ikonik. Misalnya Jason Sudeikis sebagai Red, Sean Penn sebagai Terence (yang tergolong ‘hemat’ dialog), Danny McBride sebagai Bomb, dan Bill Hader sebagai Leonard. Maya Rudolph sebagai Matilda masih sedikit lebih menarik karena faktor female cast di antara para pria. Sementara yang paling mencuri perhatian saya adalah Peter Dinklage sebagai Mighty Eagle yang berhasil mengkombinasikan karakter perkasa dengan lazy ass gokil secara seimbang.

Tidak ada pula yang benar-benar istimewa ataupun baru dari gaya animasi TABM. Namun harus diakui tampilan full vibrant colors sangat memanjakan mata, dengan dukungan gimmick 3D yang lumayan pula. Mungkin depth of fields-nya biasa-biasa saja, tapi beberapa pop-out gimmick cukup menyenangkan, terutama paruh-paruh burung yang keluar dari layar. Sound mixing tergarap dengan sangat baik dengan keseimbangan pas antara sound effect, scoring iconic yang di-mix ulang jadi semakin asyik, dan pilihan soundtrack yang familiar di telinga generasi 2000-an sekaligus 80-an (ada Rick Astley, Scorpions, Black Sabbath, dan I Will Survive yang di-recycle oleh Demi Lovato!), menambah suasana ceria yang diusung sepanjang durasi.

So TABM sejatinya dibuat hanya untuk menjadi pure entertainment (dan tentu saja, pengembangan franchise dari sebuah game laris manis). Tak perlu membanding-bandingkan dengan animasi-animasi dengan konsep tinggi bin kuat macam produksi Pixar, misalnya. Ia bahkan tak tertarik untuk menjadi seperti itu. Maka nikmati saja sajian yang memang ditujukan untuk range usia penonton seluas mungkin dengan harapan bisa menghibur semua kalangan secara seimbang. Memang tak terlalu istimewa, tapi sangat menghibur. Dengan dukungan backstory yang relevan dengan gameplay-nya pula. So, I guess we don’t need to think too many times just to decide whether watching it or not, especially if you ever enjoy playing the games.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates