Saturday, April 23, 2016

The Jose Flash Review
Surat Cinta untuk Kartini

Tema biopic sempat menjadi primadona di ranah perfilman Indonesia. Satu per satu tokoh maupun pahlawan nasional diangkat ke layar lebar. Namun akibat dari adat-istiadat untuk menghormati sosok-sosok (terutama yang telah tiada) yang masih begitu kental, tak jarang biopic Indonesia terjerumus ke dalam lubang yang sama: menampilkan sosok yang serba sempurna dari karakter sentral, yang jelas menjadi tak manusiawi. Bahkan ada cukup banyak kasus yang membuat sosok sang tokoh sentral berjarak dengan penonton. Akibatnya, penonton tidak bisa memahami peran penting dari tokoh tersebut. Kasus lainnya, biopic lebih berfokus pada kejadian-kejadian kronologis yang detail, mengesampingkan storytelling dengan angle tertentu yang memungkinkan penonton bisa memahami sang tokoh sentral, misalnya. Agak repot juga sih sebenarnya menggarap biopic di Indonesia. Selalu saja ada pihak yang menggugat keotentikan cerita film maupun detail. Alhasil, biopic yang digadang-gadang bisa membuat penonton (khususnya siswa-siswi) belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan ketimbang dari buku pelajaran, terus-terusan gagal untuk ‘menyentuh’ maupun sekedar ‘mendekati’ range penonton yang luas. Belajar dari yang sudah-sudah, agaknya MNC Pictures mencoba untuk menggunakan pendekatan lain untuk mengangkat biopic tentang sosok pahlawan wanita yang tiap tahun diperingati secara khusus, R. A. Kartini. Sejak awal MNC Pictures menegaskan bahwa Surat Cinta untuk Kartini (SCuK) ini adalah cerita fiksi yang diinspirasi oleh sosok R. A. Kartini. Dengan demikian, seharusnya SCuK sedikit lebih terbebas dari klaim keotentikan cerita maupun elemen-elemennya.

Seorang guru wanita baru masuk ke kelas hendak menceritakan tentang kiprah R. A. Kartini. Karena sudah bosan, anak-anak di kelas protes. Untung ada seorang pria yang masuk dan mencoba menceritakan kisah R. A. Kartini dari perspektif seorang tukang pos. Adalah Sarwadi, tukang pos yang baru pindah dari Semarang ke Jepara, bersama putri semata wayangnya, Ningrum. Perhatiannya teralihkan ketika mengantarkan sepucuk surat kepada salah satu putri bupati Jepara yang tentu saja berasal dari kalangan priyayi (bangsawan), R. A. Kartini. Tak mengindahkan peringatan dari sahabatnya, Mujur, Sarwadi terus-terusan mencari cara untuk mendekati Kartini. Setelah mengetahui Kartini bercita-cita mendirikan sekolah untuk mendidik putra-putri bumiputra (pribumi), Sarwadi pun memanfaatkan Ningrum untuk mendekatinya. Sarwadi turut membantu Kartini mengumpulkan anak-anak di desanya untuk menjadi murid Kartini. Sebagai tempat mengajar, ia memilih sebuah pantai sepi yang sebenarnya dikhususkan untuk orang-orang Belanda. Semangat Sarwadi, begitu juga Kartini terpatahkan begitu mendengar kabar Kartini akan dipinang menjadi istri keempat Bupati Rembang. 

Tak ada yang salah dengan pendekatan fiksi untuk menceritakan kembali sebuah biopic. Formula ini bukan barang baru lagi di ranah perfilman asing, seperti Hollywood atau Eropa, tapi masih tak banyak dilakukan di Indonesia. Apalagi diakui bahwa karakter fiktif Sarwadi dihadirkan berdasarkan surat-surat yang pernah ditulis oleh Kartini sendiri. Maka MNC Pictures tergolong berani mengambil pendekatan beresiko ini. Seperti yang ditampilkan sebagai narasi pembuka, SCuK agaknya memang sengaja lebih menyasar ke penonton anak-anak. Laju cerita SCuK dibuat se-simple mungkin dengan pace yang cukup lambat. Bagi penonton yang mengharapkan cerita yang dinamis dan kompleks, sayangnya harus dibuat kecewa.

Apalagi yang mengharapkan detail-detail otentik yang terkesan diabaikan. Misalnya saja Kartini yang terkesan bebas ke mana-mana tanpa kawalan ketat. Sebagai seorang bangsawan, ini tentu mustahil. Belum lagi detail lain seperti pantai yang digunakan berombak besar, yang mustahil ada di pesisir utara Jepara, motif kain batik yang berbeda antara bangsawan dan rakyat biasa, serta detail-detail lain yang bisa secara otomatis bikin penonton yang paham, ilfil. Menilik dari minimnya setting yang digunakan, saya menduga ini semua dilakukan untu memotong budget. Toh, dengan label “cerita fiksi yang diinspirasi oleh kisah R. A. Kartini”, itu semua sah-sah saja, bukan?

Sebagai penonton dewasa yang mengenal sosok R. A. Kartini hanya sebagai pahlawan pejuang emansipasi wanita dan minim cerita yang lebih detail, saya bisa merasakan kondisi sosio-kultural di era itu.  Lewat adegan-adegan yang cukup gamblang, adat dan kebiasaan yang menurut kacamata sekarang terlalu mengekang, seperti perkawinan paksa di usia muda, kesempatan pendidikan yang mustahil untuk rakyat jelata, sampai perasaan seorang wanita yang bahkan tidak dianggap sebagai ibu oleh anak kandungnya. Semua ditampilkan dengan dramatisasi yang cukup untuk menyentuh saya. Tak hanya itu, kiprah sederhana Kartini yang selama ini terkesan kurang bisa dirasakan secara langsung, mampu digambarkan SCuK dengan jelas. Setidaknya, poin positif yang penting (dan jarang dicapai biopic Indonesia) ini tersampaikan dengan cukup terasa lewat SCuK.

Chicco Jerikho sebagai Sarwadi, sang storytelling device terasa yang paling menonjol dari jajaran cast, meski bukan juga performa terbaiknya. Ia menghidupkan karakter Sarwadi dengan sangat baik, meski detail karakternya memang tak begitu banyak diberikan. Sayang dalam banyak kesempatan, bahasa Jawa dan aksen Jawa Tengah-nya terdengar tidak konsisten. Begitu juga dengan penggunaan bahasa serta aksen Jawa Tengah untuk karakter-karakter lain.

Sebagai debut, Rania Putrisari tak buruk. Bukan salahnya jika sosok Kartini digambarkan sebagai seorang wanita lemah lembut yang punya cita-cita besar tapi tak cukup berani untuk lebih ‘memberontak’, seperti sosok yang kita kenal selama ini. Mungkin ini untuk kepentingan dramatisasi agar lebih mudah. So, Rania terkesan memainkan karakter yang aman dan biasa saja. Kalem, lemah lembut, dan malu-malu. Debutant lainnya, bintang cilik, Christabelle Grace Marbun, harus lebih sering membiasakan diri berakting, termasuk pengucapan dialog yang lebih natural lagi. Sebagai pemeran pendukung, Ence Bagus cukup berhasil sekedar menjadi karakter penyegar suasana, meski tak sampai menjadi karakter yang memorable. Terakhir, Donny Damara sebagai Ario Sosroningrat, terasa biasa saja. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyangka (atau bahkan tidak peduli?) bahwa Donny-lah pemerannya.

Lupakan sejenak detail-detail otentik yang diabaikan dan minimnya setting yang digunakan. SCuK sebenarnya masih berusaha tampil cantik di layar lewat art-nya. Asalkan Anda tergolong awam untuk detail-detail set, maka upaya itu cukup berhasil. Scoring Aghi Narottama dan Bemby Gusti berhasil menghantarkan emosi-emosi adegannya dengan lembut. Tak sampai jadi catchy atau memorable, tapi cukup berhasil semakin menghidupkan adegan. Sinematografi Muhammad Firdaus mungkin juga tak istimewa, tapi lebih dari cukup untuk bercerita dan memberikan kesan sesuai eranya. Begitu juga editing Yoga Krispratama yang tak istimewa selain sekedar cukup efektif dalam bercerita, dengan pace yang pas.

Secara keseluruhan, SCuK memang terkesan tanggung atau malah ‘asal’ dengan cukup banyak yang diabaikan. Alur cerita dan pace-nya terlalu sederhana tanpa konflik yang benar-benar terasa mencuat bagi beberapa kelompok penonton. Namun coba ajak anak-anak untuk menyaksikannya. Siapa tahu cukup efektif untuk menjelaskan kondisi socio-kultural dan kiprah Ibu Kartini saat itu. Jika berhasil, maka pendekatan ‘nyeleneh’ SCuK ini bisa dicoba untuk biopic lain yang memang ditargetkan untuk anak-anak. Tidak ada yang salah dengan itu, mengingat pelajaran sejarah lebih penting ditanamkan sejak dini, bukan?

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates