Monday, April 18, 2016

The Jose Flash Review
The Huntsman: Winter's War

Dongeng klasik princess tak pernah kehabisan ide untuk dimodifikasi. Salah satu yang paling menarik perhatian di tahun 2012 lalu adalah Snow White and the Huntsman (SWatH) yang menjadikan dongeng romantis sebuah film aksi petualangan bersetting era medieval. Jujur, formula seperti ini tak begitu menarik minat saya. I’ve had enough of medieval war atau peperangan dengan seragam armor and sword. (Apalagi pemerannya Kristen Stewart yang sudah bikin saya turn-off sejak The Twilight Saga). Namun rupanya SWatH menjelma menjadi franchise yang menguntungkan bagi Universal Pictures sehingga berniat untuk dikembangkan lebih lanjut. Tahun 2016, sebuah installment bertajuk The Huntsman: Winter’s War (THWW) dirilis. Dengan menggunakan judul The Huntsman instead of Snow White, jelas bahwa karakter Snow White tak lagi menjadi tokoh sentral. To be exact, THWW merupakan prekuel sekaligus sekuel dari SWatH, atau bisa juga disebut sebagai spin-off.

Alkisah, Ratu Ravenna yang tamak menggunakan berbagai cara untuk memperluas wilayah kekuasaannya, termasuk membunuh. Sang adik, Freya, pun dididik serupa. Maka ketika ia mendapati Freya hamil dan berniat lari dengan kekasihnya, Ravenna merekayasa kematian anak dan kekasihnya. Freya murka dan mendirikan kerajaan sendiri dengan satu aturan, tidak ada yang boleh jatuh cinta karena dianggap sebagai kelemahan. Bertahun-tahun kemudian, dua prajurit Freya; Sara dan Eric ditemukan diam-diam memadu kasih. Freya pun membunuh Sara tepat ketika hari mereka berdua merencanakan kabur dari kerajaan. Eric yang patah hati tak punya pilihan lain selain tetap menjadi seorang Huntsman. Bertahun-tahun kemudian, Raja William dari Tabor meminta tolong Eric untuk mencari cermin ajaib yang hilang ketika akan dipindahkan ke sebuah tempat aman. Raja William mengutus dua orang kurcaci, Nion dan Gryff untuk membantu Eric. Di perjalanan, Eric menemukan kenyataan lain yang mencengangkan. Misi pencarian cermin ajaib pun berujung pada konfrontasi dengan Freya dan Ravenna.

Dibandingkan SWatH, THWW menawarkan plot yang lebih jauh lagi dari pakemnya. Dari dongeng princess menjadi murni action-adventure fantasy. Tak ada yang salah dengan konsep demikian, meski bagi saya ini juga bukan sesuatu yang istimewa. Apalagi plot dasarnya yang dengan mudah mengingatkan siapa saja akan animasi sukses Disney, Frozen, beberapa tahun lalu. Esensi cinta yang jauh lebih penting above anything and can conquer anything, memang tak sampai terasa cheesy, tapi sebagai film blockbuster yang lebih mementingkan fun factor, juga tak terasa unik, kuat, ataupun berkesan. Untung saja sebagai sebuah film action-adventure blockbuster, THWW masih punya cukup banyak adegan pertarungan yang seru. Tak istimewa, saya tahu tak akan tertanam lama dalam benak saya, tapi harus diakui, cukup eye-candy dan menghibur sesaat.

Salah satu faktor utama yang membuat THWW menarik adalah penampilan ketiga aktris utamanya: Charlize Theron, Emily Blunt, dan Jessica Chastain. Meski tidak tampil sebagai trio (alias berdiri sendiri-sendiri), ketiganya mampu ‘menyihir’ penonton dengan pesona masing-masing. Theron dengan kharisma villainous yang anggun, berkelas, sekaligus keji, bak Angelina Jolie di Maleficent. Blunt dengan keanggunan, serta kekerasan sekaligus kerapuhan hati. Sedangkan Chastain dengan badass action performance-nya yang seksi. Meski terkesan dikalahkan ketiga aktris utama, Chris Hemsworth sebagai Eric masih mampu memikat khususnya penonton wanita dengan kharisma protagonis jagoan. Bukan salahnya jika karakter Eric menjadi kalah menarik perhatian. Kemudian sebagai karakter-karakter penyegar suasana, Nick Frost, Rob Brydon, Sheridan Smith, dan Alexandra Roach sebagai kurcaci-kurcaci, cukup berhasil menyeimbangkan nuansa keseluruhan film yang serius dan depresif.

Sinematografi Phedon Papamichael cukup berhasil membuat adegan-adegan aksinya terasa seru dan dinamis, dipadu dengan editing Conrad Buff yang juga serba tepat. Namun yang paling memikat tentu saja desain produksi Dominic Watkins yang megah, luxury, dan cantik. Tak ketinggalan visual effect yang begitu memukau, terutama ketika Ravenna bertransformasi dari cairan ke bentuk asli. Stunning! Kredit lain yang patut diapresiasi adalah sound design yang sangat sangat memanjakan telinga. Powerful, crispy, clear, dan punya detail yang luar biasa. Fasilitas surround 7.1. dimanfaatkan dengan teramat maksimal untuk menghadirkan experience yang makin menggelegar.

Jadi tentukan ekspektasi yang tepat sebelum menonton THWW. Tak perlu berharap terlalu muluk, karena ia memang dibuat sebagai tontonan hiburan yang seru, tanpa perlu banyak berpikir, dan tentunya eye-and-ear-candy. Nikmati saja tiap momennya, karena belum tentu kesemuanya bisa menempel lama dalam benak.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates