Saturday, April 30, 2016

The Jose Flash Review
Ada Apa dengan Cinta 2

Setelah kesuksesan Petualangan Sherina tahun 1999, Mira Lesmana lewat bendera Miles-nya memproduksi karya kedua yang kali ini bergenre drama remaja. Di tengah kondisi perfilman nasional yang masih lesu, kehadiran Ada Apa dengan Cinta? (AADC) di awal tahun 2002 langsung disambut dengan luar biasa. Tak hanya berhasil membukukan angka sekitar 2.7 juta penonton (yang artinya juga masuk lima besar film Indonesia terlaris sampai saat ini), AADC menjelma jadi ikon generasi yang legendaris sampai saat ini. Mulai dari scene, quote, lagu, sampai elemen-elemen remeh lainnya, menjadi ikonik yang memorable. Kesuksesan ini tentu sayang jika tak dimanfaatkan menjadi sebuah franchise, mengingat tak banyak film Indonesia yang berhasil melahirkan franchise kuat. Jika sekuel saat itu dianggap susah untuk dikembangkan, maka serial TV jadi pilihan.  Sinemart memproduksi serialnya sebanyak 104 episode yang tayang Desember 2003 sampai Juli 2005.

Lalu pertengahan 2015, sebuah aplikasi chat memproduksi sebuah film pendek yang tentu saja digunakan sebagai promotional tool, seolah-olah menyambung kisah genk Cinta dan Rangga. Se-Indonesia tentu langsung heboh dan menganggap bahwa ini adalah teaser untuk sekuel AADC setelah 13 tahun. Let’s say, benar, kontrak iklan dengan aplikasi chat itu sebagai teaser untuk kembali membangun awareness, tapi tak salah juga jika ada yang menduga, produksi film pendek ini adalah salah satu cara mengumpulkan budget pembuatan AADC2. Apalagi setelah Pendekar Tongkat Emas yang awalnya digadang-gadang dijadikan pancingan untuk lahirnya AADC2, merugi secara komersial. The show must go on. Miles lantas menggandeng Legacy Pictures yang ‘sukses’ dengan Kapan Kawin. Maka diproduksi lah AADC2, terutama untuk memuaskan dahaga kerinduan fans film pertamanya, dan sebisa mungkin, menjaring fans baru dari generasi yang sudah berbeda.

Setelah 14 tahun, genk Cinta; Milly, Maura, dan Karmen sepakat untuk berkumpul lagi. Kembalinya Karmen dari rehab menjadi momen yang dirasa pas bagi mereka untuk liburan bersama ke Jogjakarta. Kebetulan Cinta sedang ada event seni di kota budaya itu. Berniat seru-seruan bak masih SMA, mereka malah tak sengaja bertemu dengan Rangga yang beberapa tahun yang lalu mendadak memutuskan hubungan dengan Cinta tanpa alasan yang jelas. Rangga jauh-jauh mengunjungi Jogjakarta dari New York untuk berdamai dengan masa lalu, terutama dengan sang ibu kandung yang merindukan kehadirannya. Menurut Karmen, ini adalah kesempatan untuk Cinta dan Rangga menuntaskan urusan di antara mereka berdua sebelum Cinta menikahi kekasihnya yang seorang businessman, Trian. Sempat menolak ide tersebut, namun bagaimanapun juga, Cinta akhirnya bertemu Rangga. Akhirnya Cinta setuju untuk mengusahakan ‘perdamaian’ dengan Rangga. Tentu ini menjadi penentuan penting tentang bagaimana kelanjutan hubungan keduanya.

Sebagai sebuah franchise dengan jutaan penggemar, tak hanya di Indonesia, tapi juga Malaysia dan Brunei Darussalam, kelanjutan kisah AADC tak bisa dikembangkan dengan main-main. Belum lagi ketika bertemu dengan para kritik yang selalu punya alasan untuk tidak mencerca karya. Maka menjaga keseimbangan di antara keduanya; memuaskan penggemar dan menjaga kualitas cerita dan penggarapan, mejadi krusial. Tentu, dengan reputasi Miles dan penyutradaraan yang beralih dari Rudi Soedjarwo ke tangan Riri Riza, kualitas AADC2 sebenarnya tak perlu dipertanyakan lagi.

Meski dibangun atas konsep cerita perjalanan nostalgia persahabatan dan berdamai dengan masa lalu (terutama lewat karakter Rangga yang mencoba berdamai dengan Cinta dan ibu kandungnya), PR paling utama yang sebenarnya berhasil dikerjakan dengan memuaskan adalah membawa kembali atmosfer nostalgic dari AADC pertama. Karakter-karakter utama, terutama genk Cinta, Mamet, dan Rangga, masih mampu melanjutkan karakter yang sama setelah sekian lama. Elemen-elemen penting yang memperkuat tiap karakter utama berhasil dipertahankan, dengan perkembangan kedewasaan yang seimbang. Keseimbangan karakter otentik dan kedewasaan ini paling terasa, misalnya ketika terjadi tarik-ulur hubungan antara Cinta-Rangga. Di satu sisi, Cinta masih menyimpan dendam yang mendalam terhadap Rangga, tapi sisi ‘kedewasaan’-nya lalu berusaha untuk berdamai. Sementara di sisi terdalamnya, Cinta sebenarnya juga masih punya harapan-harapan.

Begitu juga plot persahabatan Cinta-Karmen-Milly-Maura yang meski porsinya terkesan dikalahkan porsi hubungan Cinta-Rangga, masih berusaha ditampilkan di sini. Tak hanya seru-seruan bak popular-teenage-chick-click, tapi juga ikatan emosional yang meski tak terasa sekuat di AADC (ini cukup wajar dipahami, mengingat semakin dewasa, ada sekat antara urusan pribadi dalam persahabatan), tetap terasa. Peran Alya yang di AADC pertama sebagai tempat curhat terdekat Cinta, kali ini digantikan oleh Karmen yang berkat berbagai permasalahan hidup, menjadikannya punya pemikiran yang lebih bijak dan dewasa.

Pemilihan kota New York dan Jogjakarta sebagai setting terasa punya kepentingan yang kuat untuk memperkuat karakter. Terutama Jogjakarta yang mana tak hanya berhasil dieksplor untuk membuat penontonnya ingin menjalani tour ala AADC2, tapi juga memperkuat karakter serta hubungan Rangga-Cinta sebagai penikmat seni-budaya. Misalnya, adegan wayang boneka yang seolah menjelaskan hubungan antara Cinta-Rangga dan Cinta-Trian. Dialog-dialog antara keduanya yang terasa awkwardly sweet, natural, tapi mampu menjelaskan perasaan terdalam masing-masing, terjadi dengan berbagai latar landmark Jogja yang tak begitu banyak orang tahu. Seolah menciptakan adegan-adegan ikonik tersendiri, bak Jesse-Celine di trilogy Before milik Richard Linklater. Tentu saja dengan signatural taste mereka sendiri.

Above all, yang menjadikan AADC2 begitu powerful adalah kemampuannya membuat tiap adegan begitu emosional bagi penonton, tanpa dramatisasi berlebihan. Oke, faktor nostalgic dan kedekatan penonton dengan para karakter yang sudah dijalin sejak film pertamanya memang menjadikan tugas ini terlihat lebih mudah. Namun kepiawaian Riri Riza membangun adegan-adegan down-to-earth dan cliché menjadi begitu terasa powerful, ditambah akting para aktornya, adalah motor utamanya. Apalagi estafet bangku penyutradaraan dari Rudi ke Riri yang jelas-jelas punya style yang berbeda. Terbukti Riri berhasil menghadirkannya, tanpa meninggalkan berbagai signatural khasnya di berbagai momen. Misalnya shot-shot silent ala Riri ketika di Brooklyn, serta shot-shot lain yang mengingatkan saya akan Petualangan Sherina dan Gie. Mungkin emotional impact-nya tak semagis AADC pertama, tapi bagi saya, tetap punya emotional impact tersendiri. Sepanjang film.

Melanjutkan peran sebelumnya, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra menjadi daya tarik utama. Porsi karakter yang mendominasi sekaligus performa yang memang sekuat AADC pertama, menjadi faktornya. I have to say, hanya Dian dan Nicho yang bisa memainkan karakter berbahasa baku tapi tetap terdengar wajar. They still are. Keseimbangan antara the same characters dan kedewasaan, sekaligus pergulatan emosi antara keduanya, juga berhasil ditampilkan dengan sangat wajar dan natural.

Adinia Wirasti yang punya jam terbang akting paling banyak pasca AADC, tentu tak punya banyak masalah melanjutkan peran Karmen. Tak semeledak-meledak dulu, transformasi karakternya menjadi lebih wise dan sedikit lebih introvert, masih dalam kadar masuk akal. Sissy Priscillia sebagai Milly menjadi pencuri perhatian penonton berkat karakternya yang mungkin tak selugu dulu, tapi tetap menjadi pencair suasana dan pengundang senyum sekaligus tawa di banyak momen. Sementara Titi Kamal yang sebenarnya punya porsi karakter paling sedikit dan taksemenonjol Sissy, masih mampu menarik perhatian penonton lewat tingkahnya.

Di jajaran pemeran pendukung, terutama Dennis Adishwara, Chrisitan Sugiono, dan Ario Bayu, mungkin tak punya porsi karakter yang cukup penting atau kuat, tapi tetap saja kemunculannya menarik perhatian untuk lebih menyemarakkan film. Terakhir, Dimi Cindyastira yang memerankan adik tiri Rangga, Sukma, menjadi yang terlemah. Performa aktingnya masih sangat mentah dengan ekspresi-ekspresi sinetron-ish ketimbang pendalaman karakter yang natural.

Di teknis, sinematografi Yadi Sugandi yang sudah menjadi partner langganan dengna Riri, menjadi salah satu kekuatan utama dalam menghadirkan atmosfer nostalgic sekaligus emosional AADC2. Tak hanya berhasil mengekplorasi kontras kota New York dan Jogjakarta dengan begitu terasa kuat, tapi juga mampu bercerita tersendiri di atas plot adegan-adegan yang berjalan. Alunan score dan musik-musik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed turut memberikan nyawa lebih hidup sepanjang film. Musik-musiknya mungkin tak sememorable AADC pertama, tapi tetap saja berhasil menghanyutkan penonton ke dalam cerita sepanjang film. Notable credit dari saya, Ora Minggir Tabrak dari Kill the DJ yang seolah mem-fusion nuansa urban dan budaya tradisional.

Desain produksi oleh Eros Eflin yang dibantu oleh Chitra Subiyakto sebagai penata busana dan Jerry Octavianus sebagai penatara rias, melanjutkan konsep pop, yang kini ditambahkan karakter sophisticated dan maturity dengan begitu cantik serta yang terpenting, menguatkan tiap karakter.
Sayang, editing W Ichwandiardono membuat banyak sekali transisi shot terasa kurang mulus yang sedikit mengganggu kenyamanan menonton, terutama karena ini tergolong film yang kekuatannya terletak pada kemampuan menghanyutkan emosi penonton. Beberapa kontinuiti angle yang miss pun masih terasa di sana-sini. Namun setidaknya koherensi antar adegan masih terjaga sehingga tetap nyaman untuk diikuti.

So, jika Anda ragu-ragu akan menyukai AADC2 atau tidak, maka akan sangat tergantung pada pihak mana Anda berasal dan apa ekspektasi Anda. Saya bisa memahami Mira-Riri membuat AADC2 untuk memuaskan kalangan mayoritas penggemarnya dengan menghadirkan berbagai tribute nostalgic dan adegan-adegan yang diharapkan penonton, dengan jawaban-jawaban yang cukup memuaskan dan wajar atas berbagai pertanyaan yang muncul dari AADC pertama. Keseimbangan antara karakter-karakter yang sama dan berbagai kedewasaan berhasil dicapai, tanpa terasa terlalu cheesy ataupun sok cerdas/sok bijak/sok dewasa. Justru pergulatan antara perasaan terdalam dan desakan untuk bersikap dewasa dijadikan salah satu elemen cerita tentang perjalanan persahabatan serta berdamai dengan masa lalu yang menarik untuk disimak. Cliche? Mungkin, tapi justru itulah yang membuat AADC begitu membumi, dekat dengan mayoritas penontonnya, sekalipun sudah menyandang status ‘dewasa’. Itulah resep sukses komersial AADC (dan juga AADC2) yang memang digarap dengan konsep yang jelas, kuat, serta teknis yang serba mumpuni. Itu pula yang membuat banyak fans  selalu kangen untuk menontonnya berulang-ulang, lagi dan lagi.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates