Saturday, April 2, 2016

The Jose Flash Review
13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi


Sejak mega box office hit franchise Transformers, nama Michael Bay selalu identik dengan franchise robot raksasa tersebut. Baik di mata penggemarnya maupun kritik yang mem-bash kualitas sekuel-sekuelnya. Pain & Gain yang bergenre drama komedi pun gagal menghapus image yang sudah terlanjur melekat kuat itu. Faktor utamanya adalah hasil box office yang biasa-biasa saja. Padahal sebelum Transformers, Bay dikenal sebagai sutradara spesialis action yang sukses melahirkan franchise Bad Boy, serta The Rock dan Armageddon yang statusnya sudah ‘instant classic’. Bay juga pernah (bisa dianggap) berhasil menggarap gabungan drama dan war lewat Pearl Harbor. Kini sekali lagi Bay mencoba untuk menggarap film di luar franchise Transformers yang membayang-bayanginya. Sebuah war-thriller-drama  berdasarkan insiden nyata di Benghazi, Libya, tahun 2012 lalu, yang juga sudah dibukukan dengan judul 13 Hours oleh Mitchell Zuckoff. Menariknya, kaum pemberontak yang dimunculkan di sini adalah cikal bakal ISIS yang menjadi ‘momok’ internasional hingga saat ini. Tema war-thriller-drama  dengan latar militer bukan barang baru bagi Bay yang sering mengangkat unsur militer di film-film sebelumnya.

13 Hours: the Secret Soldiers of Benghazi (13H) membuka narasi dengan memperkenalkan Benghazi, Libya, sebagai zona paling berbahaya di dunia. Paska pemerintahan Gadhafi digulingkan, kelompok militan radikal bermunculan dan ‘meneror’ seantero kota. Duta besar berbagai negara menarik diri, terkecuali Amerika Serikat yang punya misi khusus, termasuk pos fasilitas CIA yang diberi nama The Annex. Jack Da Silva, seorang anggota baru tiba di Benghazi dijemput oleh kawan lamanya, Tyrone. Da Silva bergabung dengan tim yang bertugas mengamankan duta besar Amerika Serikat untuk Libya, Christopher Stevens. Stevens mengupayakan jalan diplomasi untuk memperjuangkan demokrasi di Libya. Keadaan yang awalnya diprediksi aman, berubah menjadi horor ketika 11 September 2012, tepat peringatan ke-11 serangan 9/11. Rumah tempat Stevens bermukim yang merupakan bekas vila konglomerat Libya, diserang oleh sekelompok militan tak dikenal. Da Silva dan timnya ingin segera meluncur ke lokasi yang jaraknya hanya beberapa kilometer, namun tidak diberikan ijin untuk bertindak oleh petinggi CIA pusat. Hingga akhirnya ketika suasana semakin memburuk, mereka berangkat juga melakukan pengamanan. Ternyata tak berhenti sampai di situ, malam panjang (selama 13 jam) harus mereka habiskan dalam suasana teror sebelum dijemput pulang.

Dengan tema yang seperti ini, sebenarnya hanya ada dua formula yang menjadi resep utama 13H: mengulik sisi patriotisme Amerika Serikat dan kemanusiaan di balik tokoh-tokoh sentralnya. Formula yang kurang lebih sama dengan film drama-perang Hollywood beberapa tahun terakhir, seperti misalnya American Sniper dan The Lone Survivor. Bagi yang ‘anti-Amerika’, ini tentu bukan materi yang menguntungkan. Jadi tak perlu heran dengan isu propaganda perang Amerika Serikat atau keluhan, ‘ngapain sih Amerika Serikat segitu keponya ngurusin negara orang?’ yang selalu mencuat mengiringi film jenis ini. As for myself, I don’t really mind with that. It’s out of my concern, as long as the movie delivered everything with proper logic dan yang paling penting, berhasil menyuguhkan hiburan yang menegangkan sekaligus menyentuh. For those purposes, saya harus mengakui bahwa Michael Bay berhasil dengan gemilang. Adegan-adegan penyergapan terasa begitu mencekam dan ketika harus berhadapan dengan realita kemanusiaannya, terutama dari sudut pandang prajurit dengan keluarganya, 13H menguras emosi saya. Tak sampai dengan dramatisasi berlebihan atau menimbulkan isak tangis, tapi cukup bikin perasaan nyess di dada.

Namun bukan berarti 13H tanpa cela. Sejak menit pertamanya bercerita, ia sudah memperkenalkan begitu banyak karakter. Tak hanya 6 karakter utama yang menjadi fokus cerita, tapi juga pejabat-pejabat lain yang punya peran di balik misi di Benghazi ini. Jujur, ini sempat membuat saya bingung. Apalagi dengan body-type dan garis wajah yang tak terlalu berbeda jauh. Tak diperankan oleh aktor-aktor yang cukup familiar bagi saya, pula. Detail karakter pun lebih banyak diberikan kepada Da Silva dan Tyrone. Sedangkan sisanya hanya berupa latar belakang keluarga di rumah yang tergolong tipikal sehingga tak terlalu berkesan. Fokus penonton pun mau tak mau lebih ke Da Silva dan Tyrone. Durasi yang nyaris dua setengah jam pun terasa terlalu panjang dengan interval antar adegan aksi menegangkan yang masih tergolong kurang efektif. Mungkin faktor cerita latar belakang masing-masing karakter yang tipikal, tak beda jauh dengan di film-film sejenis lainnya, yang membuat saya tak terlalu tertarik. Entahlah. Yang pasti latar belakang ini terkesan sekedar ada, tidak punya relevansi yang penting bagi karakter-karakter dengan cerita utama. Identitas dan cerita dari sisi villain pun tak ditampilkan dengan jelas. Sehingga tak salah jika penonton yang tak begitu familiar dengan insiden ini akan mengira ‘musuh’-nya hanyalah random militant group. Mungkin faktor menghindari kontroversial yang berlebihan jika menuding sang pelaku secara terang-terangan. Atau mungkin juga sebagai upaya menjaga fokus cerita dari sudut pandang ‘para prajurit’ Amerika Serikat, yang sudah berkali-kali digunakan film bertema sejenis.

Aktor-aktor di sini sebenaranya memberikan performa yang cukup merata. Tak ada yang benar-benar menonjol. Yang membedakan mungkin hanya porsi durasi di layar. Itulah sebabnya John Krasinski sebagai Da Silva dan James Badge Dale sebagai Tyrone terasa lebih berkesan ketimbang, sebut saja Pablo Schreiber (Tanto), David Denman (Boon), Dominic Fumusa (Tig), dan Max Martini (Oz). Di lini berikutnya, penampilan Matt Letscher sebagai Chris Stevens dan Peyman Moaadi sebagai Amahl cukup mencuri perhatian saya. Sementara Alexia Barlier, sebagai Sona, yang menjadi ‘satu-satunya’ wanita di jajaran testosterone, tak diberi porsi yang cukup untuk lebih memikat.

Michael Bay masih menggunakan signaturalnya di 13H, seperti sinematografi dari Academy Award winner, Dion Beebe, yang menampilkan cukup banyak shaky cam. Untung saja tak sampai membuat saya pusing atau mual dengan tampilan dengan konsep realis ini. Editing dari Pietro Scalia (juga Academy Award winner untuk film sejenis, Black Hawk Down) dan dibantu Calvin Wimmer yang menjadi langganan Bay jelas tak perlu diragukan lagi, terutama dalam menyajikan thrilling dan emotional moment-nya, di balik durasi yang 144 menit. Scoring dari Lorne Balfie mungkin terdengar just like another Hollywood blockbuster, but still work well. Soal tata suara, tak perlu diragukan lagi. 13H menghadirkan keseimbangan kejernihan, deep bass, crisp, dan surround effect yang mumpuni. Terakhir, theme song Til the Sun Comes Back Around yang dibawakan oleh Chris Cornell yang mengalun saat credit title, patut mendapatkan kredit tersendiri untuk menutup film dengan kesahajaan.

Secara keseluruhan, 13H mungkin bukan karya terbaik (apalagi terburuk) Bay. 13H juga bukan film bertema drama-war Amerika Serikat terbaik yang punya naskah lebih solid, seperti misalnya American Sniper, The Lone Survivor, atau bahkan Black Hawk Down sekalipun. Namun signatural style Bay cukup memberikan kontribusi keberhasilan, terutama dalam menyajikan thrilling and emotional moment. Untuk urusan emotional moment, harus saya akui Bay sedikit naik kelas dari sebelum-sebelumnya. So bagi Anda yang menyukai tema war-thriller-drama dan tidak ‘anti-(propaganda) Amerika’, 13H sajian yang tak boleh dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Sound Mixing - Greg P. Russell, Gary Summers, Jeffrey J. Haboush, and Mac Ruth

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates