Wednesday, March 2, 2016

The Jose Flash Review
Stay with Me

Nama Rudi Soedjarwo memang menjadi semacam jaminan mutu di perfilman Indonesia. Keberhasilannya lewat Ada Apa dengan Cinta?, Mengejar Matahari, Pocong 2, Mendadak Dangdut, sampai Garuda di Dadaku 2, menorehkan namanya di jajaran sineas Indonesia bergengsi. Beberapa tahun belakangan, Rudi lebih memilih untuk mementori workshop filmnya sendiri dengan nama Rumah Terindah yang kemudian berubah nama menjadi Underdog Kickass dan terakhir, Underdog Fightback. Tak hanya workshop, Rudi mengajak murid-muridnya ini untuk ikutan memproduksi film layar lebar. Di bawah bendera IFS (Integrated Film Solution), studio film one-solution yang juga ia dirikan, Rudi menghasilkan Janji Hati tahun 2015 lalu. Meski sudah memasang aktor muda yang sedang naik daun, Aliando Syarief sebagai lead, sayangnya JH tak begitu berhasil secara komersil. Tak putus asa, tahun 2016 ini Rudi kembali memproduksi film keduanya di bawah bendera IFS, Stay with Me (SwM) yang kali ini menggandeng Boy William dan pendatang baru, Ully Triani. Konon, menurut Rudi, SwM adalah film yang paling personal bak diary yang ia tuturkan lewat medium film.

Boy dan Deyna bak pasangan serasi yang memang sudah ditakdirkan berjodoh. Sayang, pasca kematian orang tuanya dalam sebauh kecelakaan pesawat, Deyna memutuskan untuk tinggal bersama sang tante di Eropa. Deyna meminta Boy berjanji untuk selalu setia menunggunya kembali. Bertahun-tahun berlalu, kehidupan mereka masing-masing pun berlanjut. Boy menjadi sutradara film dengan seorang istri dan seorang putri. Di tengah rumah tangganya yang mendingin setelah sang istri mengaku tak lagi mencintainya, Boy tak sengaja bertemu lagi dengan Deyna. Tak beda jauh, Deyna juga sudah menikah dengan pengusaha kaya dan dikaruniai putra. Meski berawal dengan canggung, perlahan kehangatan di antara keduanya kembali terjalin. Sekarang keputusan mereka berdua lah yang akan menentukan arah hubungan ini.

Secara keseluruhan, SwM bak sebuah film dokumenter (atau semacam video pre-wed?) yang menggambarkan pasang-surut hubungan Boy-Deyna. Berjalan dengan sangat lambat, ia lebih menawarkan kecantikan visual sebagai gantinya. Yang paling mengganggu saya adalah ketika sudah menyadari bahwa mereka masih saling mencintai dan keadaan rumah tangga masing-masing yang sudah tak patut dipertahankan lagi, Boy-Deyna sebenarnya tak perlu berpikir panjang untuk kembali bersatu. Alih-alih, ia malah memasukkan dilematis dari sisi Deyna yang terasa dangkal dan sedikit membuat saya mengernyitkan dahi. Terutama ketika tercetus angka 50 miliar yang menjadi motivasi Boy bekerja keras dan bisa menikahi Deyna. I mean, tak jelas buat apa uang sebanyak 50 miliar yang disebutkan Deyna di percakapannya dengan sang tante lewat telepon. Lagipula, sebegitu matrenya kah Deyna merasa tak kuasa menceraikan suaminya? Padahal jika mau nekad dan tak peduli, dengan mudah Deyna memutuskan menceraikan sang suami. Lika-liku, yang menurut saya, tak begitu penting dan agak tak masuk akal. Sebaliknya, tanpa lika-liku tersebut, SwM mungkin hanya punya durasi yang jauh lebih singkat. Let’s say, 1 jam saja, instead of 107 menit yang menjadi durasi akhirnya.

Di balik plotnya yang tak begitu banyak berkembang, Boy William dan Ully Triani sebenarnya berhasil menjalin chemistry yang kuat dan cukup memorable bagi penonton. Sebagai karakter individu, Boy mungkin terasa sedikit berkembang dari peran-peran tipikal. Pun tak buruk. Sementara Ully yang masih pendatang baru, juga berhasil menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya lewat fisiknya (terutama curve dan garis wajah), tapi juga kepribadiannya. Selain dari itu, Natasha Ratulangi sebagai Key, istri Boy, dan Firman Hermansyah sebagi suami Deyna, tak buruk tapi juga tak sampai mencuri perhatian saya.

Salah satu yang membuat saya tetap bertahan mengikuti kisah SwM adalah sinematografi Arfian yang memang cantik, bak dokumentasi prewed. Tone warna desain Ariyo Erlangga yang lebih ke pastel juga mendukung nuansa itu. Sementara musik dari Andi Rianto lewat suguhan orkestranya menghiasi hampir keseluruhan adegan, terasa sangat berusaha untuk mengisi pace cerita yang super lambat menjadi lebih bertenaga. Sedikit terasa berlebihan, tapi tetap patut mendapatkan kredit tersendiri.

Sebagai karya yang diakui sangat personal dan konon katanya menjadi semacam diary bagi Rudi, saya tak bisa terlalu menjustifikasi SwM. Tak buruk, tapi lewat penuturannya yang lambat, melankolis, dan perkembangan cerita yang tak banyak dengan durasi yang 107 menit, ia jelas bukan jadi film drama romantis favorit saya. Setidaknya saya masih menghargai konsep hubungan roman dewasa yang tidak jatuh menjadi klise pada moralitas berkeluarga a la Indonesia.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates