Tuesday, March 1, 2016

The Jose Flash Review
The Other Side of the Door

Jika Hollywood sudah sejak lama melirik horor Asia, terutama Jepang, sebagai sumber ‘inspirasi’, maka kali ini giliran Inggris yang mencoba untuk mencari source horor dari belahan Asia lainnya yang menarik untuk dimasukkan ke dalam formula horor klasiknya. Sutradara Inggris, Johannes Roberts yang sebelumnya dikenal lewat film horor Forest of the Damned (2005), F (2010), dan Storage 24 (2012), bekerja sama dengan penulis naskah Ernest Riera yang sempat menggarap sekuel dari Forest of the Damned tahun 2011 lalu, mencoba menghadirkan horor mitologi India ke ‘peradaban’ barat lewat The Other Side of the Door (TOSotD). Sebagai lead, digandeng lah aktris yang kita kenal lewat serial The Walking Dead, Sarah Wayne Callies, didukung pula oleh aktor yang kerap jadi sosok makhluk halus di film-film seperti Mama dan Crimson Peak, Javier Botet.

Maria, suaminya, Michael, memutuskan untuk menetap di India bersama kedua anaknya, Oliver dan Lucy. Naas, putra sulung mereka, Oliver, tewas dalam sebuah kecelakaan saat Maria yang memegang kemudi. Dirundung rasa bersalah, Maria tak bisa berhenti meratapi kepergian Oliver, sementara Michael dan Lucy sudah lebih dulu bisa melanjutkan hidup. Melihat kesedihan majikannya, Piki, asisten rumah tangga mereka, menceritakan tentang mitos ritual kuno di sebuah kuil terpencil di luar kota yang konon bisa membuatnya bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal dengan berbekal menaburkan abu jazad orang tersebut. Namun yang perlu diingat, apapun yang dibicarakan ‘sang roh’, manusia dilarang untuk membukakan pintu kuil atau jiwanya akan terjebak dan tidak bisa bereinkarnasi.

Maria pun nekad mengunjungi kuil tersebut sendirian dan menjalani ritual tersebut. Benar saja ia bisa kembali berkomunikasi dengan Oliver. Namun Maria tak sengaja melanggar larangan dan membuka pintu. Semenjak itu kehidupan di rumah keluarga Maria-Michael perlahan berubah menjadi semakin suram. Tanda-tanda kembalinya Oliver ke rumah terlihat, tapi tak ada yang benar-benar yakin bahwa yang kembali itu memang benar-benar Oliver.

Secara premise dasar, TOSotD sebenarnya tak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Seseorang yang melanggar aturan mitos kuno karena kerinduan terhadap orang-orang yang disayangi tapi berbuntut bencana sudah beberapa kali diangkat. Namun yang masih jarang diangkat adalah mitologi India sebagai source horor. Masih memanfaatkan formula-formula generik untuk membangun suasana ketegangan dan terutama, mengaget-ngageti penonton. Pun secara keseluruhan, perkembangan plot TOSotD juga terasa tak banyak. Di tengah-tengah film, ia justru banyak menghabiskan durasi untuk membangun suasana-suasana ketegangan tanpa perkembangan plot yang berarti. Alhasil pace terasa begitu lambat, meski saya mengakui, masih cukup enjoyable berkat score-score pembangun nuansa creep dan elemen-elemen tradisional India yang memang berhasil. Baru ketika hendak memasuki klimaks dan konklusi, plot menjadi lebih menarik dan memaksimalkan kengerian lewat sedikit elemen gore.

Penampilan Sarah Wayne Callies sebagai Maria, seorang ibu yang dirundung stres dan kerinduan yang sangat terhadap sang putra, lebih dari cukup untuk menarik simpati penonton di balik perasaan ngeri dari suasana horor-nya. Ini jelas menjadi drama yang cukup memberikan poin tersendiri sehingga tak sekedar menjadi just another horror movie. Jeremy Sisto tak punya banyak screentime untuk membuat penonton peduli, sementara si cilik Sofia Rosinsky sebagai Lucy dan Logan Creran sebagai Oliver masih bisa lebih menarik perhatian penonton di balik kepolosan mereka. Suchitra Pillai sebagai Piki mendukung nuansa tradisional India yang creepy dengan baik, ditambah Javier Botet sebagi Myrtu yang sosok kehadirannya selalu haunting.

Desain produksi David Bryan serta art dari Prashant Laharia menjadi kekuatan utama di teknis untuk membangun nuansa creepy, mulai kuil kuno sampai rumah Michael-Maria yang juga tak kalah mendukung dengan tampilan klasik yang tetap cantik. Sinematografi dari Maxime Alexandre juga cukup efektif membingkai keindahan desain produksi meski secara angle dan pergerakan kamera tak ada yang terlalu istimewa. Tak ketinggalan  score gubahan Joseph Bishara yang  sangat kuat mendukung suasana seram lewat musik-musik tradisional yang terdengar eerie, berpadu dengan tata suara yang serba pas, baik dari segi keseimbangan suara sampai pembagian kanal efek surround yang cukup dimanfaatkan secara maksimal.

TOSotD mungkin memang tidak menawarkan sesuatu yang baru di ranah film horor, tapi lewat penyajian unsur budaya India yang masih jarang kita lihat (atau alami) dan ternyata cukup berhasil dalam membangun nuansa ngeri, terutama secara psikologis, maka ia masih layak untuk dialami di layar lebar. My advice, untuk merasakan kengeriannya secara maksimal, jangan biarkan konsentrasi Anda terpecah oleh hal lain, seperti mengecek gadget. Biarkan diri Anda hanyut di dalam suasana eerie yang ia bangun, maka TOSotD bak hipnotis yang menghantui, bahkan mungkin sampai beberapa saat setelah film berakhir.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates