Friday, March 4, 2016

The Jose Flash Review
Gods of Egypt


Ketika legenda dan mitologi Yunani sudah sampai pada titik jenuh untuk diangkat ke layar lebar, sudah saatnya Hollywood melirik mitologi peradaban dunia tertua lain yang tak kalah menariknya; Mesir! Selama ini Hollywood terhitung sangat jarang mengangkat mitologi Mesir. Itu pun lebih banyak mengangkat sosok legendaris mummy sebagai materi horor. Padahal Mesir punya mitologi dewa-dewi yang tak kalah menarik dan banyaknya dengan Yunani ataupun Romawi. Peluang ini yang tampaknya dilirik oleh Lionsgate/Summit Entertainment. Digandeng lah sutradara Alex Proyas yang cukup berpengalaman menggarap film-film bertema fantasi dengan desain produksi ‘unik’ macam Dark City, I, Robot, dan Knowing, tapi sudah absen selama 7 tahun, di bawah bendera Mystery Clock Cinema. Untuk naskah, dipilih duet Matt Sazama dan Burk Sharpless yang sebelumnya menggarap naskah Dracula Untold dan The Last Witch Hunter. Dengan budget konon sampai US$ 140 juta, Gods of Egypt (GoE) jelas merupakan project yang sangat ambisius dari studio non-big five.

Tepat saat upacara inaugurasi Dewa Horus sebagai pemimpin tahta Mesir, menggantikan sang ayah, Dewa Osiris, sang paman yang merupakan Dewa Kegelapan, Set, datang mengacau. Tak hanya membunuh Osiris, Set juga mencongkel kedua mata Horus hingga tak berdaya. Tahta Mesir pun dikudeta oleh Set. Di bawah kekuasaan Set, rakyat Mesir mengalamai penderitaan akibat pemerintahan diktatornya yang semena-mena. Seorang pemuda pemberani bernama Bek dan kekasihnya, Zaya, percaya bahwa hanya Horus harapan rakyat Mesir untuk kembali hidup sejahtera. Maka mereka berdua mencoba untuk membantu Horus kembali mengumpulkan kekuatannya dan menggulingkan tahta Set. Bukan hal yang mudah, mengingat Horus yang sebelumnya tak peduli dengan rakyat dan lebih sering menghabiskan waktu untuk berfoya-foya serta mabuk-mabukan, sudah kehilangan semangat hidup.

Meski secara garis besar ceritanya tak beda jauh dengan mitologi dewa-dewi lain, konsep budaya Mesir kuno jelas menjadi daya tarik yang segar dan menarik. Apalagi ternyata di tangan Proyas, GoE menjadi tontonan aksi petualangan yang mengasyikkan. Tak hanya jalinan plot yang mengalir lancar, tapi juga berhasil menghadirkan karakter-karakter yang lovable, terutama Bek dan Zaya. Perkembangan karakter Horus yang cukup kuat pun menjadi elemen yang tak kalah menariknya. Seringkali petualangannya terasa terlalu rapi, bahkan mungkin terlalu mulus, tapi dengan durasi yang cukup panjang, yaitu 2 jam 7 menit, Proyas berhasil menyuguhkan tiap elemen ceritanya dengan porsi yang cukup seimbang, petualangan yang menarik untuk diikuti, dan tentu saja visualisasi yang sangat memanjakan. Tak ketinggalan, esensi serta subteks menarik, terutama tentang kekuasaan, keberanian, dan pengorbanan, mampu diselipkan Proyas dengan cukup menarik.

Ada tiga karakter yang sama-sama menonjolnya di GoE. Pertama, Nikolaj Coster-Waldau sebagai Horus yang meski tak terlalu ikonik, namun kharismanya sebagai lead protagonist lebih dari cukup. Perkembangan karakter yang ditulis dengan wajar pun ditampilkan Waldau dengan baik pula. Kedua, Gerard Butler yang meski porsinya tak sebanyak Waldau tapi berkat kharisma yang kuat menjadikan karakternya punya daya tarik yang sejajar dengan Horus. Terakhir, bintang muda, Brenton Thwaites yang beruntung memainkan karakter lovable, Bek. Aura ketulusan dan keberanian Bek dengan sangat meyakinkan ditampilkan Thwaites. Selain dari itu, Courtney Eaton sebagai Zaya, Elodie Yung sebagai Hathor, dan Emma Booth sebagai Nephthys, menjadi eye-candy dengan pesona sensualitas sangat tinggi, mengimbangi testosteron yang menjadi porsi utama. Lini berikutnya, Chadwick Boseman sebagai Thoth berhasil menjadi penyegar yang menghibur. Terakhir, Geoffrey Rush sebagai Ra dan Rufus Sewell sebagai Urshu, seperti biasa menampilkan karakter berkharisma kuat dan unik untuk mampu mencuri perhatian.

Salah satu komoditas utama sekaligus kekuatan terbesar GoE adalah tampilan visualisasinya yang spektakuler. Okay, mungkin beberapa CGI-nya terasa terlalu ‘fantasi’ dan over the top. Bahkan ada seorang teman yang mengaku seperti menonton serial Saint Seiya. Namun yang patut saya hargai adalah kepiawaian Proyas beserta dengan sinematografer Peter Menzies Jr. yang piawai membuat visualisasi super megah sebagai latar cerita sekaligus memanfaatkan pergerakan kamera sebagai roda petualangan yang seolah mengajak penonton ikut terlibat di dalamnya. Penggunaan kamera Panavision Primo berlensa seri 70 yang baru digunakan pertama kali oleh film ini jelas dimanfaatkan dengan sangat maksimal. Dengan efek 3D yang sangat memikat, baik dari segi depth of field dan pop out gimmick, saya sangat merekomendasikan sebisa mungkin mengalaminya di format IMAX 3D.
Tata suara pun digarap dengan sangat baik untuk menghadirkan suara yang sangat powerful, menggelegar, jernih, crisp, keseimbangan yang sangat baik antara dialog dan efek suara lainnya, serta penggunaan efek surround yang juga tak kalah maksimalnya. Visual dan audio yang begitu mumpuni ini jelas sangat mendukung petualangan dan aksi GoE menjadi begitu epic.

So yes, bagi Anda penggemar cerita mitologi dewa-dewi, GoE jelas sebuah petualangan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Malahan, wajib sebisa mungkin mengalaminya di IMAX 3D. Mungkin memang tak ada yang terlalu istimewa maupun benar-benar baru dari segi cerita, tapi setidaknya alami sebuah petualangan yang ditata dengan sangat enjoyable oleh Proyas. Other than that, nikmati saja visualisasinya yang memanjakan mata.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates