Friday, March 4, 2016

The Jose Flash Review
Comic 8: Casino Kings Part 2

Comic 8 bukanlah franchise yang main-main. Selalu mencetak angka di atas 1 juta penonton (1.6 juta penonton untuk Comic 8 tahun 2014 dan 1.2 juta penonton untuk Comic 8: Casino Kings Part 1), jelas ini fenomena yang masih sangat jarang terjadi di scene film Indonesia. Meski keputusan membagi Casino Kings menjadi 2 bagian terdengar seperti proyek aji mumpung yang mengakibatkan part 1-nya seperti sekedar intro menuju klimaks semata, toh antusias penonton tak menurun. Terbukti sampai penayangan  minggu kedua, part 2 ini berhasil mengumpulkan angka 1.5 juta penonton. Bukan tak mungkin ini bakal melampaui perolehan Comic 8 di tahun 2014 lalu. Terlepas dari kritik serta munculnya fans dan haters, fenomena ini jelas menunjukkan bahwa sebenarnya formula-formula box office untuk penonton Indonesia sudah mulai bisa dibaca dan ditangkap oleh produser film. Toh munculnya fans dan haters menjadi salah satu bukti ‘keberhasilan’ sebuah franchise, setidaknya dari segi marketing yang berhasil menciptakan topik tersendiri.

Melanjutkan langsung dari part 1-nya, delapan komika utama kita masih harus menyelesaikan permainan jebakan yang telah disiapkan The King dan kaki tangan pelaksananya, Dr. Pandji. Mereka berhadapan dengan jagoan-jagoan film aksi veteran, seperti Barry Prima, Welly Dozan, George Rudy, dan Lydia Kandou. Sementara itu agen Interpol Chintya, mulai mengorek info dari Indro yang akhirnya membuat keduanya bekerja sama menyelamatkan kedelapan komika serta membongkar kedok kejahatan The King di pulau terpencilnya.

Sebelum membahas lebih jauh, patut dipahami dulu konsep besar Comic 8. Tak hanya sekedar komedi dengan menjual guyonan khas dari masing-masing komika, Comic 8 dibungkus dengan cerita ala agen rahasia, tak ketinggalan twist-twist yang bagi saya, menarik dan tak sekedar asal ngetwist, tapi punya relevansi-relevansi logis dari setup-setup sebelumnya. Coba perhatikan tiap detail cerita, meski terkesan main-main, tapi perjalanan plotnya masih dalam koridor logika yang baik dan digarap serius. Ensemble cast yang all star tentu menjadi faktor daya tarik yang tak kalah kuatnya. It’s a pure entertainment dengan berbagai elemen-elemen box office yang punya nilai hiburan tinggi. So, jelas Anda salah alamat jika mengharapkan subteks sosial atau apapun itu seperti yang dibandingkan oleh salah satu kritik media cetak besar nasional dengan film komedi lain, Talak 3 atau Ngenest. Jika hanya membandingkan karena perkara sama-sama genre komedi, jelas kurang relevan, karena konsepnya jelas-jelas berbeda.

About Part 2 sendiri, karena melanjutkan langsung, maka ia membuka dengan beberapa cuplikan dari seri sebelumnya dan langsung to the point melanjutkan kisahnya. Satu per satu twist pun dibuka. Ada yang memang cukup substansial bagi cerita, seperti twist di ending film, tapi ada pula yang sengaja memang cuma sekedar untuk dijadikan materi komedi, seperti tentang identitas asli The King. Speaking of jokes, masih mengusung style yang tak beda jauh dari seri-seri sebelumnya. Secara porsi mungkin agak sedikit berkurang, hit and miss pula, tapi secara keseluruhan, masih bisa membuat penonton yang kebetulan cocok dengan gaya humornya, tertawa terbahak-bahak. Atau setidaknya sekedar menyimpulkan senyum, seperti yang sering terjadi pada saya sepanjang film. Yang membuat saya lebih bahagia adalah melihat penonton lain yang bisa tertawa terbahak-bahak sepanjang film dan itu tidak terlihat dipaksakan atau dibuat-buat. Once again, soal humor, tingkat keberhasilannya sangat tergantung pada selera tiap penonton. Jadi betapa soknya saya jika mengklaim tidak lucu sementara jelas-jelas berhasil membuat penonton lain tertawa terbahak-bahak. Selain humor, Part 2 juga menawarkan lebih banyak adegan aksi yang bertebaran dan sangat eye candy. Favorit saya, tentu saja pertarungan Prisia Nasution vs Hannah Al Rashid.

Penampilan delapan komika utamanya; Ernest Prakasa, Mongol Stres, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting, dan Ge Pamungkas, masih menjalankan peran masing-masing dengan stabil, meski secara porsi masing-masing harus berbagi dan sayangnya, di sini tak terlalu sememorable seri-seri sebelumnya. Begitu juga dengan pemeran-pemeran pendukung seperti Pandji Pragiwaksono, Sophia Latjuba, Donny Alamsyah, dan Hannah Al Rashid. Sementara Indro dan Prisia mendapatkan porsi yang lebih banyak dan lebih penting dari seri sebelumnya. Sisanya, terasa lebih sebagai cameo yang tak terlalu penting tapi memang semakin meramaikan suasana. Mulai Agus Kuncoro, Candil, Ence Bagus, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Bagus Netral, Ray Sahetapy, Temon, Boris Bokir, Gandhi Fernando, Joe P Project, Boy William, Agung Hercules, Nikita Mirzani, dan Cak Lontong.

Visual effect menjadi salah satu elemen penting dari franchise Comic 8. Kabar baiknya, saya harus mengakui special visual effect Part 2 mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari seri-seri sebelumnya. Abaikan dulu penampilan naga terbang di penghujung film yang mungkin masih terlihat CGI-nya, tapi perhatikan pesawat jet yang dikendarai oleh Agus Kuncoro dan Candil, atau lihat juga adegan penyerangan rumah Indro yang digarap dengan baik sehingga berhasil menciptakan ketegangan. Sinematografi dan pergerakan kamera Dicky R Maland terasa sangat efektif dan berenergi untuk visualisasi film aksi, bersinergi dengan editing Andi Mamo yang berhasil menjaga pace keseluruhan film dengan pas. Tata suara juga digarap dengan tidak kalah seriusnya. Tak hanya terdengar menggelegar berkat sound effect-sound effect spektakuler, tapi juga membagi kanal surround dengan cukup cermat.

So, angka selalu di atas 1 juta penonton jelas bukan prestasi sembarangan. Apalagi rekor diraih dalam waktu yang tak sampai seminggu. Alih-alih mencibir dan membanding-bandingkan dengan film Indonesia lain yang jelas kurang relevan, ada baiknya justru mempelajari fenomena ini untuk diimplementasikan pada film-film lain. Bagaimana pun yang paling utama dari film adalah disukai oleh penontonnya dan bisa menghibur. Tanpa penonton yang tertarik, maka sia-sialah film tersebut dibuat. Mau sebawel atau sepenting apapun esensi yang coba ditampilkan lewat film tersebut. Comic 8 adalah contoh film yang berhasil membangun sebuah franchise, terlepas dari fenomena ‘love it or hate it’ yang tak terelakkan. Jika Anda cocok dengan style-nya, nikmati saja. Jika memang sejak awal mengakui tidak cocok, ya lebih baik tidak perlu memaksakan untuk nonton. Menikmati film sebenarnya se-simple itu, bukan? Toh bagi saya, meski tak terlalu istimewa, harus diakui Comic 8: Casino Kings Part 2 was explosively entertaining.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates