Tuesday, February 16, 2016

The Jose Flash Review
Pride and Prejudice and Zombies

Di antara karya-karya sastra Inggris, novel Pride & Prejudice karya Jane Austen menjadi salah satu yang paling populer. Bagi Jane sendiri, novel tentang lima gadis Bennet juga merupakan novel yang paling populer. Berkali-kali diangkat ke berbagai medium, terutama TV dan layar lebar, tahun 2016 ini difilmkan versi ‘parodi’-nya, Pride and Prjudice and Zombies (PPZ). Jangan salah, versi ini juga diangkat dari versi novel parodi yang ditulis oleh Seth Grahame-Smith tahun 2009. Siapa sangka novel parodi ini berkembang menjadi franchise tersendiri, mulai graphic novel, interactive e-book, video game, bahkan clothing line. Novel ini juga yang ‘menginspirasi’ genre mash-up lainnya, seperti Sense and Sensibility and Sea Monsters dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter (yang terakhir sudah diangkat ke layar lebar lebih dulu tahun 2012 lalu). Rencana adaptasi film PPZ sebenarnya sudah ada sejak 2009. Bahkan sutradara sekelas David O. Russell sempat didapuk menjadi komando. Sayangnya bongkar pasang cast dan crew membuatnya terhambat hingga baru benar-benar mulai produksi tahun 2014 dan siap tayang Februari 2016 ini.

Kelima saudari Bennet saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian pria dan menikahinya. Ini didukung pula oleh sang ibu, Mrs. Bennet yang seolah-olah seperti ‘menjual’ putri-putrinya. Di tengah serangan para zombie di Inggris, Mr. Bennet membekali kelima putrinya dengan ilmu bela diri di Cina. Menurut Mrs. Bennet ini justru membuat kelima putrinya semakin susah menarik perhatian pria kaya dan bangsawan. Adalah Elizabeth Bennet yang paling tidak suka dengan ide buru-buru kawin, tapi sebenarnya jatuh cinta kepada Mr. Darcy, bangsawan yang datang ke desa mereka untuk menginvestigasi serangan zombie. Sayangnya, Mr. Darcy bersikap angkuh dan sering mengejek Elizabeth di belakangnya. Di saat yang bersamaan keluarga bangsawan kaya raya Bingley, pindah ke desa mereka. Salah satu yang menarik perhatian adalah pemuda tampan, Mr. Bingley yang diharapkan memilih satu dari kelima saudari Bennet.

Ada pula Parson Collins yang terang-terangan menyampaikan keinginannya menikahi salah satu saudari Bennet. Terakhir, prajurit Mr. Wickham yang terlihat tampan dan sopan, yang sempat berhasil menarik perhatian Elizabeth. Ternyata Mr. Wickham punya masa lalu dengan keluarga Mr. Darcy yang membuat mereka kini tak akur. Wickham mengusulkan perundingan dengan kaum zombie demi masa depan yang lebih baik. Ide gila ini tentu ditolak mentah-mentah oleh Mr. Darcy dan sang bibi yang terkenal sebagai pemimpin pembasmi zombie, Lady Catherine de Bourgh. Hubungan antara pria-pria ini dengan saudari Bennet semakin memuncak seiring dengan peperangan melawan para zombie.

I have to admit, memadukan kisah klasik Pride & Prejudice yang kental nuansa feminisme dan perubahan budaya kuno menjadi modern, dengan zombie terdengar asal. Betul, di versi layar lebar pun, kedua elemen yang berseberangan ini tak mampu menyatu dengan baik. Terutama elemen zombie yang terkesan hanya tempelan semata, tanpa kaitan yang logis dengan plot utamanya. But hey, try to see PPZ as a light pure entertainment show. Ternyata ia menjadi sajian yang cukup menghibur, terutama saat menggelar adegan-adegan laga gory yang tak ditahan-tahan meski mengantongi rating PG-13.

Sebagai lead character, Elizabeth, Lily James mampu menarik simpati penonton lewat sudut pandang pemikirannya yang lebih modern ketimbang saudari-saudarinya. Ketika melakukan adegan aksi pun Lily semakin terlihat menarik untuk disimak. Meski harus diakui, chemistry-nya dengan Sam Riley tak terasa begitu terasa kuat. Aktor-aktris pendukung, mulai Sam Riley sebagai Mr. Darcy, Douglas Booth sebagai Mr. Bingley, Matt Smith sebagai Parson Collins, Jack Huston sebagai George Wickham, dan Lena Headey sebagai Lady Catherine de Bourgh, memeberikan performa yang sama menariknya bagi penonton sesuai porsi masing-masing. Sayang, saudari Bennet lainnya; Bella Heathcote sebagai Jane, Ellie Bamber sebagai Lydia, Millie Brady sebagai Mary, dan Suki Waterhouse sebagai Kitty, tak punya porsi yang cukup untuk mencuri perhatian penonton, selain sekedar pelengkap yang bisa diperankan siapa saja.

Tak ada yang benar-benar istimewa dari teknis PPZ selain desain produksi yang tergolong niat untuk genre parodi, terutama desain kostum dan set. Sinematografi Remi Adefarasin didukung editing Padraic McKinley cukup mendukung adegan-adegan aksi yang tetap terasa seru. Tata suara yang ditampilkan cukup terdengar mantap lewat deep bass, terutama saat jumpscare, serta pembagian kanal surround yang juga terdengar jelas.


Penampilan para gadis Bennet sebagai pembasmi zombie yang kick-ass harus diakui menawarkan daya tarik tersendiri. Seksi dan keren. Elemen plot utama yang sebenarnya lebih dominan juga disajikan dengan bumbu humor di mana-mana (tapi tidak sampai jatuh menjadi berlebihan), yang menyebabkan laju cerita juga terasa makin segar. Tak benar-benar istimewa apalagi mashup yang tidak menyatu dengan sinergi yang pas, tapi hasil akhir PPZ masih cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates