Sunday, February 14, 2016

The Jose Flash Review
The Monkey King 2
[西遊記之孫悟空三打白骨精]

Siapa yang tidak mengenal hikayat Si Kera Sakti, Sun Wu Kong? Di Indonesia, hampir tiap versinya, baik itu layar lebar maupun serial, tayang. Versi yang paling dikenal tentu saja versi serial TV yang tayang di salah satu stasiun TV swasta kita era 90-an. Tahun 2014 lalu satu lagi versi terbaru dari kisah Journey to the West yang diangkat ke layar lebar dengan judul The Monkey King (TMK). Digarap oleh sutradara Cheang Pou-Soi (SPL2), dengan bintang-bintang kelas A macam Donnie Yen, Chow Yun Fat, dan Aaron Kwok. Seperti kebanyakan film Mandarin akhir-akhir ini, TMK lebih menawarkan cerita fantasi dengan gempuran adegan-adegan aksi berlatarkan CG yang terlihat masih jauh dari meyakinkan. Namun jangan salah, perolehan box office di negara asalnya luar biasa, bahkan memecahkan rekor box office nasional dengan angka akhir melewati 1 miliar Yuan atau US$ 167 juta lebih, dan US$ 181 juta di pasar internasional. Sebuah pencapaian box office yang tak main-main. Sempat dirilis versi edit ulang yang punya durasi 30 menit lebih lama, The Monkey King: The Legend Begins untuk pasar US, kini sudah hadir sekuelnya bertajuk The Monkey King 2 (TMK2) bertepatan dengan Tahun Baru Imlek yang memasuki tahun monyet api. Cast dan crew kurang lebih sama, minus Donnie Yen yang mundur dari project karena konflik jadwal sekaligus perbedaan visi. Aaron Kwok yang di seri pertama berperan sebagai The Bull Demon King alias Siluman Kerbau, kini mengisi peran Sun Wu Kong.

500 tahun setelah dihukum di bawah Gunung Lima Jari, Sun Wu Kong dibebaskan oleh Dewi Kwan Im untuk menemani seorang bhiksu yang sedang melalukan perjalanan jauh ke Barat demi mencari kitab suci. Di perjalanan, Sun Wu Kong dan Bhiksu Tang bertemu Siluman Babi, Zhu Bajie, dan Sha Wu Jing yang juga turut ditugaskan untuk menemani. Rintangan pertama yang harus mereka lalui adalah Iblis Tulang Putih, Baigujing, yang berniat melahap Bhiksu Tang agar bisa hidup sebagai iblis selamanya tanpa harus bereinkarnasi menjadi manusia. Baigujing tak sendiri karena ada pula Raja Hercynian yang juga memburu Bhiksu Tang untuk disantap. Darah anak-anak yang selama ini menjadi santapannya kini kurang bisa menopang hidupnya.

Pou-Soi membagi cerita TMK di titik yang tepat untuk menjaga fokus. TMK2 punya plot cerita utama yang lebih familiar ketimbang seri pertamanya. Masih ‘menjual’ adegan-adegan aksi spektakuler dengan balutan CGI sebagai komoditas utamanya, TMK2 melakukan banyak perbaikan di sana-sini. Mungkin masih ada beberapa CGI yang tampak komikal dan palsu, tapi most of them jauh lebih baik ketimbang seri pertamanya. Tone cerita pun dibuat lebih serius ketimbang yang pertama dengan memasukkan unsur-unsur filosofis yang menarik ke dalamnya. Mempertanyakan tentang mana yang lebih substansial sebagai bentuk kepatuhan: menurut sang Bhiksu atau membangkang demi keselamatanya.

Secara keseluruhan, bagi saya TMK2 masih belum bisa menawarkan plot maupun storytelling yang lebih menarik dari cerita aslinya. Semua tampak berjalan begitu saja tanpa kedalaman (terutama karakter) yang lebih sehingga bisa membuat saya peduli dengan karakter-karakternya. All I can enjoy was its action scenes yang meski makin spektakuler, tapi masih belum se-gripping garapan Pou-Soi lainnya, SPL2. Bisa dimaklumi jika ia ingin membuat seri TMK sebagai sebuah petualangan fantasi dengan range usia target audience yang lebih luas.

Meski ditinggalkan Donnie Yen dan Chow Yun Fat pun sudah tak lagi hadir di installment ini, TMK2 masih punya cast yang lebih dari cukup untuk menarik perhatian. Aaron Kwok yang mengisi peran Sun Wu Kong dengan sangat layak. Kharisma-nya lebih dari cukup untuk menghidupkan Sun Wu Kong. Begitu juga Feng Shaofeng yang mengisi peran Bhiksu Tang. Namun above all yang paling menarik perhatian tentu saja si seductive beauty, Gong Li sebagai Baigujing. Tak hanya dengan pesona kecantikannya yang seolah tak luntur oleh usia, Gong Li memberikan performa menggoda yang maksimal sebagai karakter villain.

Selain CGI yang terasa quite well-improved (tentu saja setelah didukung oleh tim visual effect 3D New Zealand yang juga mengerjakan The Lord of the Rings dan The Hobbit, tata suara 7.1 terasa sangat maksimal pula. Clear, crisp, deep bass, dan pembagian kanal surround yang sangat kentara. Scoring tak terlalu istimewa, begitu juga theme song khas film Mandarin lawas, Jiu Shi Sun Wukong yang dibawakan oleh Aaron Kwok sendiri. Sayang versi 3D, IMAX 3D, dan 4DX 3D tak sampai masuk Indonesia. Saya bisa membayangkan pengalaman yang lebih terasa.

Sebagai tontonan untuk menyambut Tahun Baru Imlek kali ini (apalagi memasuki tahun kera api), TMK2 terasa begitu pas. Asalkan Anda tak berekspektasi muluk-muluk, terutama dari segi plot yang tidak banyak berkembang dari cerita aslinya, ia masih bisa jadi tontonan yang menghibur lewat spektakel visualisasinya dan adegan-adegan laga a la Pou-Soi. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates