Tuesday, February 2, 2016

The Jose Flash Review
Macbeth (2015)

Bagi publik Indonesia, nama William Shakespeare mungkin hanya familiar sebagai penulis dari kisah cinta Romeo and Juliet. Padahal Shakespeare dikenal sebagai salah satu sastrawan paling produktif. Tak hanya novel, tapi juga drama panggung. Salah satu yang paling populer dan sering diadaptasi ke dalam banyak medium adalah Macbeth. Di ranah film, yang paling populer mungkin karya sutradara Roman Polanski tahun 1971 dan Akira Kurosawa, Throne of Blood tahun 1957 yang menjadi favorit aktor Michael Fassbender. Nama aktor yang sedang menjadi salah satu favorit ajang penghargaan internasional ini lah pemeran karakter Raja Skotlandia lalim versi terbaru. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada sineas Australia yang pernah dipuji lewat film The Snowtown Murders (2011), Justin Kurzel. Ke depannya, Kurzel bakal kembali bekerja sama dengan Fassbender dan Marion Cotillard untuk film adaptasi game Assassin’s Creed. Hasilnya ternyata memuaskan. Macbeth berhasil mendapatkan standing ovation selama 10 menit saat screening di Cannes Film Festival ke-68 lalu.

Dianggap berjasa dalam perang oleh Raja Skoltandia, Macbeth mendapatkan gelar bangsawan yang prestisius, The Thane of Glamis. Prestasi ini membuatnya semakin terbuai ketika ia menerima ramalan dari empat penyihir yang mengatakan bahwa dirinya akan menjadi Raja Skotlandia di masa depan. Sang istri, Lady Macbeth, turut tergoda dan mengatur siasat untuk menghabisi Raja Skotlandia yang sekarang. Namun setelah semua berjalan sesuai rencana, muncul ramalan lain yang membuat hidup Macbeth tak bisa tenang. Hukum tiap aksi pasti menimbulkan konsekuensi pun berjalan.

Jujur, saya tak begitu familiar dengan jalan cerita Macbeth, selain hanya nama yang begitu melegenda. Jadi ketika menyaksikan versi Kurzel ini, saya benar-benar tanpa bekal atau ekspektasi apa-apa. Macbeth versi Kurzel ternyata mengusung gaya penceritaan yang kental drama panggung Inggris klasik. Mulai dari dialog-dialog a la bahasa Inggris lawas sampai layout visual yang bak staging drama panggung. Tapi jangan salah, desain produksi dan sinematografinya membuat latar tiap adegannya begitu cantik luar biasa dan tetap menghasilkan feel realistis, bukan panggung. Dialog-dialog yang masih kental terasa ‘panggung’ berhasil ditransformasikan oleh para aktornya menjadi dialog sehari-hari yang wajar. Kompleksitas karakter-karakter utama memberikan layer yang menarik dalam cerita, terutama karakter Macbeth dan Lady Macbeth. Sayangnya, alur yang tergolong lambat, tidak sedinamis sinema masa kini kebanyakan, membuat Macbeth masih terasa segmented. Mungkin penonton umum atau awam masih bisa memahami ceritanya, tapi belum tentu bisa menikmati secara utuh. Apalagi ditambah subtitling dari distributor lokal yang masih tergolong ‘mentah’.

Sebagai Macbeth, Michael Fassbender terasa seperti cast paling sempurna. Kompleksitas karater pahlawan perang yang gagah berani tapi sekaligus punya ketakutan dan kekhawatiran yang besar mampu ditampilkan Fassbender dengan keseimbangan yang bold dan wajar. Marion Cotillard pun mengisi peran Lady Macbeth sama kuatnya dengan Fassbender. Porsi Lady Macbeth yang sama besarnya dengan Macbeth dimanfaatkan dengan maksimal oleh Cotillard untuk bersinar sepanjang durasi. In many parts, Cotillard justru melebihi Fassbender. Akesen Perancis khas-nya masih dipertahankan dengan alasan yang masih logis dan justru memberi kedalaman lebih pada karakternya. Di lini supporting cast, Paddy Considine sebagai Banquo, Sean Harris sebagai Macduff, David Hayman sebagai Lennox, David Thewlis sebagai Duncan, dan Jack Reynor sebagai Malcolm  memberikan performa yang cukup maksimal sehingga mampu berkesan di benak saya sesuai dengan porsi masing-masing.

Kekuatan terpenting dari Macbeth versi Kurzel jelas pada visualisasi yang menghidupkan versi drama panggung klasiknya. Sinematografi Adam Arkapaw dan desainer produksi Fiona Crombie tentu patut mendapatkan kredit terbesar. Editing Chris Dickens pun merangkai gambar-gambar cantik Macbeth menjadi satu kesatuan cerita yang runtut sehingga gaya penceritaannya yang segmented masih bisa dengan mudah dipahami penonton awam sekalipun. Terakhir, scoring dari Jed Kurzel (adik Justin Kurzel) yang minimalis tapi tetap terasa powerful mengiringi keseluruhan mood Macbeth yang gelap.


Macbeth versi Kurzel mungkin bisa dianggap sebagai adaptasi yang setia pada style klasiknya dengan dukungan desain produksi dan sinematografi mumpuni. Hasilnya menjadi sebuah visual puitis yang megah secara sinematis. Gaya bertuturnya masih segmented, tapi dengan mudah dipahami oleh penonton awam sekalipun. Jadi jika Anda tertarik untuk mulai mempelajari karya-karya Shakespeare, Macbeth versi Kurzel ini bisa jadi permulaan yang cocok.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates