Sunday, February 21, 2016

The Jose Flash Review
I Am Hope

Salah satu sub-genre yang populer dibuat di ranah film Indonesia adalah disease drama atau drama tentang penyakit. Sayangnya, kebanyakan hanya menonjolkan eksploitasi penderitaan untuk menguras air mata penonton, sementara logika cerita termasuk detail fakta medis, dikesampingkan. Satu-dua masih bisa berhasil, tapi lama-lama rupanya penonton jenuh juga dan membuat beberapa judul harus gagal di pasaran. Lantas apa perbedaan yang coba ditawarkan I Am Hope (IAH), film tentang penderita kanker yang digagas oleh Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, dan Amanda Soekasah ini?

Sebelum membahas filmnya, IAH diawali sebagai gerakan kepedulian terhadap para penderita kanker. Misinya memberikan dukungan, baik materiil dan moriil kepada penderita kanker untuk sembuh dan menjadi cancer survivor. Awalnya dengan penjualan ‘gelang harapan’ yang dibuat dari sisa-sisa kain fashion desainer, Ghea Panggabean, sejak Oktober 2014. Gerakan kemudian berkembang menjadi sebuah film yang diharapkan bisa menyebarkan gerakan lebih luas lagi. Naskahnya ditulis dan disutradarai oleh suami Wulan, Adilla Dimitri, dibantu oleh Renaldo Samsara. Di cast, bintang muda yang sedang naik daun, Tatjana Saphira, Fachri Albar, Tio Pakusadewo (yang mana istrinya, Yvonne Ligaya Simorangkir, sedang berjuang melawan kanker, sehingga menjadi salah satu inspirasi naskah IAH), Ariyo Wahab, Febby Febiola, dan Putri Pariwisata 2010, Alessandra Usman.

Sama seperti mendiang ibunya, Mia memiliki passion yang begitu besar pada seni pertunjukan. Sayang di tengah usahanya untuk mulai menulis naskah sebuah pertunjukan, Mia didiagnosis kanker paru-paru. Ayahnya, Raja, yang dulu seorang komposer musik, ingin Mia fokus pada treatment dan kesembuhan. Ia tak mau kehilangan Mia seperti sang istri yang juga meninggal karena kanker. Sementara Mia justru melihat ini sebagai tantangan untuk mewujudkan pementasan drama pertamanya, sebelum pertaruhan hidup, selamat atau tidak dari kanker. Dengan bantuan David, seorang aktor panggung yang jatuh cinta kepadanya, dan teman khayalannya yang selalu memberikan harapan, Maya, Mia menawarkan naskah berjudul “Aku dan Harapanku” kepada Rama Sastra, produser pertunjukan yang karirnya sudah sampai Milan. Di tengah kondisinya yang terus menurun, Mia masih terus berusaha memperjuangkan mimpinya memproduksi pementasan drama pertunjukan itu.

Secara garis besar, IAH terasa sedikit berbeda dengan kebanyakan disease drama Indonesia. Terutama aspek harapan yang menjadi garis besar cerita, bukan eksploitasi kesedihan semata. IAH mungkin bukan yang pertama menawarkan cerita perjuangan melawan penyakit mematikan seiring dengan perjuangan mewujudkan passion. Elemen cerita tentang drama pertunjukan juga seperti berjalan terlalu mulus, tanpa hambatan berarti. Tentu ini dilakukan untuk menjaga fokus cerita tentang perjuangan melawan kanker. Atas nama tujuan tersebut, IAH masih tergolong berhasil. Lewat adegan-adegan yang juga tak berusaha untuk menjadi tearjerker yang eksplisit, IAH secara lembut dan perlahan memancing emosi penonton. Tak terasa beberapa adegan tetap berhasil membuat saya tertegun dan berkaca-kaca.

Keberhasilan IAH memancing emosi penonton tak lepas dari performa cast-nya. Terutama sekali Tio Pakusadewo yang tak hanya membangun chemistry yang kuat dan luwes dengan Tatjiana, tapi juga ekspresi wajar namun terasa mendalam di banyak adegan. Lihat saja ketika ia menyanyikan lagu Kidung Abadi, atau ketika ia berusaha menenangkan Tatjana. Bahkan ketika ia memimpin orkestra, aksinya begitu meyakinkan dan kharismatik. Jujur, performa Tio, lengkap dengan kacamata a la John Lennon-nya, berkali-kali membuat momen di IAH begitu heartbreaking. Tatjana pun terasa sedikit naik kelas lewat karakter Mia. Meski ada adegan menangis yang dilakoninya masih terasa sedikit dibuat-buat, secara keseluruhan Tatjana menghidupkan karakter Mia dengan perkembangan yang terasa wajar, realistik, dan pada akhirnya menjadi karakter yang lovable. Kehadiran Fachri Albar, Ariyo Wahab, Alessandra Usman, dan Febby Febiola juga menjadi peran pendukung yang cukup memorable meski tak sekuat Tio dan Tatjana. Terakhir, taburan cameo superstar di adegan puncak, mulai Sandra Dewi, Sophia Latjuba, Hamish Daud, Kelly Tandiono, dan banyak lagi, tentu menjadi eyecandy yang tak boleh dilewatkan.

Tak perlu mempertanyakan kualitas Yudi Datau sebagai penata kamera yang lagi-lagi berhasil mem-framing adegan demi adegan menjadi begitu cantik dan pergerakan kamera yang sinematik. Tata artistik dan tata kostum juga patut mendapatkan kredit, terutama dalam menghidupkan drama panggung “Aku dan Harapanku”. Meski poster-poster film musikal yang tampak low-res di set kamar Mia tentu terasa menggelikan. Aline Jusria mengedit IAH sehingga menjadi kesatuan yang enak dinikmati, membuat cerita yang sebenarnya tak bergerak terlalu banyak bisa tetap mengalir lancar. Adegan-adegan flashback yang cukup banyak (bahkan menjadi penggerak cerita) pun tak terasa berlebihan. Terakhir, tata musik dari Aghi Narottama dan Bembi Gusti, serta pemilihan lagu-lagu, menjadi pengiring adegan yang terasa begitu tepat dan secara halus menggerakkan emosi penonton. Mulai Nyanyian Harapan dari RAN, Kasih Jangan Kau Pergi dari Yura, dan tentu saja Kidung Abadi dari Almarhum Chrisye yang berhasil menyentuh saya tiap kali mendengarkannya.

So yes, dengan lebih menekankan pada elemen harapan dan survival, IAH terasa sedikit berbeda dengan kebanyakan disease drama yang eksploitatif. Di balik naskah yang sebenarnya biasa saja, ternyata Adilla Dimitri sukses memvisualisasikannya, bahkan juga memancing emosi penonton secara lembut dan perlahan. Ditambah campaign pendonasian sebagian keuntungan film kepada pasien kanker, IAH tentu layak mendapatkan dukungan lebih.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates