Tuesday, February 23, 2016

The Jose Flash Review
Dirty Grandpa

Ide cerita tentang ‘kakek nakal’ mungkin masih jarang diangkat, tapi bukan berarti benar-benar baru. Yang paling mudah kita ingat tentu saja karakter kakek nakal dari gank Jackass, Bad Grandpa yang sempat diangkat ke layar lebar 2013 lalu. Namun jika Kakek Irving Zisman sebenarnya diperankan oleh Johnny Knoxville, kali ini aktor kawakan berkelas, Robert DeNiro, yang mencoba untuk memerankan karakter kakek nakal bin cabul. Dengan nama sebesar DeNiro dan tentu saja Zac Efron sebagai karakter sang cucu, Dirty Grandpa (DG) jelas menarik perhatian siapa saja. Meski tak sedikit pula yang mencibir, mau-maunya aktor sekelas DeNiro main di film se-‘murahan’ ini. Well, in my opinion, seiring dengan usia, adalah sebuah perkembangan secara kepribadian jika seseorang hidup semakin laidback, bersenang-senang, dan bisa ‘mentertawai diri sendiri’. Ditangani Dan Mazer yang berada di balik kesuksesan komedi-komedi Sacha Baron Cohen, mulai serial Ali G Indahouse, Borat, hingga Brüno, serta debut penulis naskah John Phillips yang nantinya juga akan menulis naskah Bad Santa 2, DG berpeluang menjadi komedi seks tak senonoh yang mampu menggelitik saraf tertawa.

Pasca kematian sang istri akibat kanker, Dick Kelly tampak sedih tapi berusaha tegar. Sehari setelah pemakaman, beliau meminta diantarkan ke Florida oleh salah satu cucunya, Jason Kelly. Meski sempat menolak karena mepet dengan rencana resepsi pernikahannya dengan Meredith, Jason menyanggupi. Siapa sangka sejak hari pertama perjalanan mereka, Dick menunjukkan gelagat aneh. Perangainya mendadak berubah menjadi nakal dan cabul. Jason yang punya karir bagus sebagai pengacara di firma milik ayahnya dan jauh dari kesan pemuda urakan, ikut terseret. Hingga suatu hari mereka bertemu Shadia, Lenore, dan Bradley. Lenore jatuh hati kepada Dick, sementara Shadia ternyata teman kuliah Jason dan sempat saling jatuh cinta. Kegilaan semakin memuncak serta mengancam tak hanya karir Jason, tapi juga pernikahannya dengan Meredith. Siapa sangka, perubahan drastis Dick ini ternyata bagian dari rencanan besarnya untuk sang cucu.

Di layar, DG memang terasa begitu nakal menghadirkan guyonan-guyonannya, bahkan tak sedikit yang berada di atas batas susila. Dalam hemat saya, DG terasa seperti American Pie versi kakek-cucu. Malah mungkin lebih asusila lagi. Tak hanya guyonan yang bertemakan seks yang sebenarnya masih bisa saya terima dan nikmati, tapi di sisi lain juga tentang narkoba, homoseksual, paedophile yang jujur, membuat saya mengernyitkan dahi. Sangat menggelitik, tapi bisa jadi ofensif. Overall, DG masih mampu membuat saya terbahak terpingkal-pingkal oleh tingkah-tingkah asusila dan celetukan-celetukan Dick yang ternyata sangat ‘melek’ pop culture. Kelemahan justru terletak pada pace film, terutama untuk genre komedi. Mungkin karena saking keasyikan, ada cukup banyak adegan yang terasa terlalu bertele-tele, apalagi wrap-up-nya yang juga tergolong terlalu santai dalam bertutur.

Above all, DG ternyata menyimpan esensi yang baik tentang living life to the fullest by passion. Menariknya lagi, konsep generation gap justru seperti diputar balikkan, yang tua menjadi sangat muda, sementara yang muda justru menjadi terlalu tua. So in the end, DG masih bisa membuat saya tersenyum puas oleh kehangatan dan hati yang cukup besar, setelah dibuat sakit perut saking seringnya tertawa terbahak-bahak.

Sebagai highlight utama, Robert DeNiro tampil begitu luwes memerankan Dick Kelly yang nakal, cabul, sekaligus berhati baik. Di balik kenakalannya, ia masih mampu memenangkan hati penonton. Meski tak bisa dipungkiri kalau ada penonton yang merasa iba, bisa-bisanya seorang DeNiro memainkan karakter se-‘rendah’ itu. Personally, I don’t mind with that. I still can respect him that way. Zac Efron masih memerankan karakter tipikal, tapi berhasil menjalin chemistry yang meyakinkan serta asyik dengan Bob. Zoey Deutch sebagai Shadia mencuri perhatian penonton lewat fisiknya yang memang unggul. Sementara Aubrey Plaza, Jason Mantzoukas, Julianne Hough, Dermot Mulroney, Jeffrey Bowyer-Chapman, Jake Picking, Michael Hudson, Adam Pally, Mo Collins, dan Henry Zebrowski tampil cukup menghibur sesuai porsi dan karakter komikal masing-masing, meski tak ada yang sampai benar-benar jadi remarkable.

Tidak ada yang istimewa dengan tata kamera Eric Alan Edwards, begitu pula editing Anne McCabe yang mungkin agak kebingungan mengedit adegan-adegan overlong yang kadang terasa draggy demi mengejar punchline. Satu-satunya yang patut diberi kredit adalah pemilihan soundtrack-soundtrack yang sedikit memberi energi lebih untuk konsep seru-seruan dan gila-gilaannya. Mulai Classic Man dari Jidenna, Bring Out the Bottles dari Redfoo, Samurai (Go Hard) dari R3HAB, hingga performance Zac Efron menyanyikan Because You Loved Me dari Celine Dion yang juga jadi ringtone Jason.

Dari trailernya saja seharusnya Anda sudah tahu bakal menemukan komedi seperti apa di DG. Bukan film komedi seks yang sangat kuat hingga memorable, tapi sangat menghibur dengan esensi yang cukup penting untuk generasi muda sekarang (terutama di belahan bumi Timur). So it’s your choice, either you’re gonna laugh hard over it or hate it so much due to its inappropriate jokes.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates