Sunday, February 14, 2016

The Jose Flash Review
A Copy of My Mind

Tiap kali menelurkan karya, Joko Anwar selalu menarik perhatian. Sejak debutnya sebagi penulis naskah di Arisan! dan sutradara di Janji Joni, Joko memang selalu menyuguhkan tontonan yang tak hanya asyik diikuti, tapi seolah-olah dibawa ke alternate universe (of Jakarta, most of the time). Atmosfer ini semakin terasa di Kala (Dead Time), Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Trivia menyelipkan berbagai hint project berikutnya juga menjadi gimmick menarik dari tiap karyanya. Namun di project terbarunya, A Copy of My Mind (ACOMM), Joko rupanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Dengan dukungan budgeting dari CJ Entertainment (Korea Selatan), ACOMM sudah masuk banyak ajang penghargaan internasional dan nasional, termasuk memenangkan 3 dari 7 kategori nominasi di Festival Film Indonesia 2015 lalu.

Sari yang bekerja sebagai terapis di Salon Yelo, salon kelas B di tengah rimba Jakarta, mulai bosan dengan kehidupannya yang terasa tak ke mana-mana. Pulang dari kerja, ia lebih suka berkeliling pusat DVD bajakan di Glodok, berburu DVD film tentang makhluk aneh yang ditontonnya di kamar kos sepetak. Film memang jadi pelarian utama Sari di Jakarta. Ia pun memberanikan diri melamar pekerjaan di spa yang lebih mewah dengan harapan mengubah hidupnya yang monoton. Hidupnya pun makin berwarna ketika bertemu seorang penerjemah subtitle DVD bajakan, Alek, yang nasibnya tak beda jauh: terjebak menjadi sosok bukan siapa-siapa yang hanya sekedar ingin menyambung hidup. Bahkan Alek tak punya satu pun kartu identitas diri. Meski diawali dengan protes Sari atas subtitle asal-asalan dari DVD bajakan yang dibelinya, perlahan Sari dan Alek saling menemukan dan merasa nyaman. Tantangan datang ketika Sari menerima pekerjaan outgoing dari penghuni rutas kelas I, Nyonya Mirna, yang membuat keduanya terjebak dalam pusaran teror bermuatan politis.

Sejak menit pertama, saya cukup terkejut dengan gaya visualisasi Joko kali ini. Jika biasanya ia suka menghadirkan visualisasi alternate-universe yang serba cantik (bahkan di Pintu Terlarang, Joko ingin suasana Manhattan untuk setting Jakarta-nya) dan classic cinematic ala old Hollywood, maka ACOMM terasa sangat indie. Mulai dari tata kamera yang shaky (tapi tidak sampai mengganggu atau bikin pusing), editing yang terkesan kasar, hingga sound effect yang riuh bak perkampungan Jakarta yang sesungguhnya. Semua ini membuat ACOMM terasa begitu realistik, just like daily Jakarta di mata warga-warga perkampungannya.

Untuk urusan plotline, Joko masih piawai membangun alur cerita klasik yang tak hanya enak diikuti, tapi tiap menitnya membuat saya penasaran akan apa yang bakal terjadi berikutnya. It’s so riveting and hypnotizing. Faktor utamanya mungkin saja karena Joko menghadirkan kehidupan dunia yang spesifik dan menarik sebagai background cerita, yaitu persalonan dan alur kerja produksi DVD bajakan. Pemilihan ini bukan sembarangan, karena memang saling relevan serta mendukung dengan konflik-konflik utama yang dibangun, baik dari segi romance maupun political thriller-nya. Di babak berikutnya, romance yang terjalin antara Sari dan Alek terasa begitu sensual, tak banyak bicara tapi tiap adegannya membangun chemistry yang wajar, sehingga dengan mudah semakin mengikat perhatian penontonnya. Keberanian keduanya melakoni adegan intim turut menarik perhatian penonton. Film menjadi makin menarik ketika memasuki babak ketiga yang kental nuansa political thriller-nya. Tak perlu aspek politis yang ribet dan berbelit-belit karena memang dibidik dari kacamata Sari dan Alek yang tergolong ‘orang kecil’, ACOMM membuat penonton deg-deg’an dan merasakan ketegangan maksimal lewat kemisteriusan yang minim score maupun dialog. Di akhir, ACOMM memang tak berusaha menyikap tabir misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik teror yang dialami Sari dan Alek. Tidak juga menjelaskan nasib mereka kedua, tapi penonton diajak ikut merasakan menjadi keduanya. Setelah rollercoaster emosi yang mengikat, penonton pun seolah ditunjukkan bahwa in the end, yang terbaik mungkin hanyalah menjalani keseharian kita yang kesannya monoton dan membosankan daripada terancam bahaya.

Kekuatan visualisasi Joko di ACOMM didukung dengan kuat pula oleh penampilan para aktornya, terutama the leads, Tara Basro dan Chicco Jerikho. Keduanya dengan sangat nyata dan natural menghidupkan karakter masing-masing. Lihat saja ekspresi wajah Tara ketika mengalami hal-hal kecil, seperti takjub melihat LED TV 65 inch, berubah menjadi canggung ketika ditawari berbagai promo oleh sang SPB, atau ketika ia merindukan kehadiran Alek. Sementara Alek dengan mudah menarik simpati penonton lewat hal-hal kecil, seperti ketika menyiapkan makanan untuk induk semangnya, atau ketika ia membela Sari lewat handphone. Pemeran-pemeran pendukung pun turut memperkuat secara maksimal dengan porsi masing-masing, terutama Paul Agusta sebagai Bandi, pemilik spa mewah yang di satu sisi menggelikan tapi bisa berubah menjadi mengerikan, dan Maera Panigoro sebagai Nyonya Mirna yang diam-diam punya aura yang tak kalah ‘mengerikan’-nya.

Meski punya konsep visual yang realistik, natural, dan indie, bukan berarti teknis ACOMM asal-asalan. Sinematografi Ical Tanjung jelas menghadirkan konsep visual tersebut dengan kualitas yang tak asal-asalan. Shaky effect yang tak menggangu, fokus gambar yang rapi terjaga sepanjang film sesuai kebutuhan adegan, serta komposisi yang sinematis. Pujian juga patut dialamatkan kepada tata suara dari Khikmawan Santosa yang memasukkan detail-detail realistik di tiap adegan. Mulai lagu-lagu dangdut sayup-sayup yang membuat saya mengira ‘bocoran’ dari luar auditorium, inaudible chatter, riuh jalanan dan suasana rombongan massa, hingga adzan sholat yang bersahut-sahutan, mengiringi nuansa ‘mistik’ ACOMM. Terakhir, pilihan musik dari Aghi Narotama dan Bembi Gusti yang bersinergi maksimal dengan visualisasinya, seperti biasa makin menghipnotis penonton serta memberikan sedikit sentuhan klasik dan berkelas, termasuk One Moon-Lit Night yang dibawakan oleh The Spouse dan A Copy of Your Mind yang dibawakan Aimee Saras.

Surat cinta untuk kota Jakarta lewat film dengan berbagai kacamata memang sudah banyak, tapi ACOMM mencoba mengajak penonton tak hanya melihat, tapi merasakan secara bold dan powerful, kehidupan kaum kelas bawah yang tinggal di gang-gang sempit nan kumuh dan riuh. Sangat mengikat dan menghantui, bahkan lama setelah film berakhir. Salut untuk Joko yang secara brilian berhasil membangun nuansa yang diinginkannya secara maksimal, meski lewat teknis yang tergolong minimalis. Semoga saja rencana sebuah trilogi yang konon bakal bertajuk A Copy of My Heart dan A Copy of My Soul bisa terwujud, because I will be very excited to experience something like this even more.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates