Friday, February 5, 2016

The Jose Flash Review
Aach... Aku Jatuh Cinta

Di mata internasional, nama Garin Nugroho sudah dikenal sebagai sineas asal Indonesia yang karyanya diakui punya kualitas dan keunikan. Kalau mau dianalisis, karya-karya filmnya memang punya ciri khas tersendiri. Misalnya gaya a la opera yang divisualisasikan secara sinematis, dialog-dialog yang puitis tapi tetap dekat dengan bahasa masyarakat Indonesia sehari-hari, bahkan tak jarang menggunakan bahasa daerah, dan unsur musik serta tari yang nyaris tak pernah ketinggalan dari karya-karyanya. Di Aach… Aku Jatuh Cinta (AAJC), Garin yang bekerja sama dengan Multivision Plus Pictures, sekali lagi mencoba mengadaptasi kisah cinta klasik bak Romeo dan Juliet (nama karakternya saja Rumi – yang juga mengacu pada nama sastrawan Persia- dan Yulia) dengan gaya visualisasi khasnya. Nama Chicco Jerikho yang sedang high demand dan Pevita Pearce yang juga begitu populer dipasang sebagai cast utama.

Rumi dan Yulia bertetangga sejak kecil. Rumi dengan segala kejahilannya sering mengungkapkan rasa cintanya kepada Yulia. Meski sering dibuat kesal, Yulia sebenarnya juga menaruh hati kepada Rumi. Namun perubahan kondisi sosial ekonomi era ’70-’80-an turut mengubah hubungan mereka berdua. Ibu Rumi meninggalkan dirinya dan sang ayah seiring bisnis limun sang ayah yang semakin surut dikalahkan oleh arus budaya konsumtif modern. Puncaknya, Rumi dan ayahnya pun berpindah, meninggalkan Yulia dalam ketidakjelasan. Satu-satunya jalan mereka berkomunikasi adalah lewat surat yang dimasukkan ke dalam botol limun di tempat tersembunyi. Sementara keluarga Yulia pun tak lebih baik. Sang ayah yang seorang bule meninggalkan ibunya. Sang Ibu pun harus berusaha keras untuk menyambung hidup lewat usaha konveksi yang dimulai dari nol. Seiring dengan pergantian era demi era, kisah asmara Rumi dan Yulia masih terus-menerus diuji.

Secara storyline, mungkin tak ada yang benar-benar istimewa selain kisah asmara manis yang berlika-liku seiring dengan berkembangnya jaman. Namun AAJC mentransformasi storyline asmara klasik itu dengan pendekatan visualisasi yang menarik. Tak hanya gaya opera yang menjadi ciri khas Garin, tapi juga kondisi sosial-budaya dan ekonomi yang menjadi background cerita. Narasi yang disampaikan lewat buku harian Yulia lebih banyak membuat penonton membaca kisah asmara mereka dari sudut pandang Yulia. Sehingga penonton tetap akan dibuat penasaran, menerka-nerka bagaimana perasaan Rumi sebenarnya ketika menghilang dan kerap sesekali muncul secara misterius. Konsep chaotic love story memang menjadi begitu terasa apalagi lewat visualisasi yang mungkin memang dibuat terasa ‘kacau’ dan sedikit nakal juga. Beberapa cut antar adegan turut mendukung konsep ini. Kacau, tapi indah, manis, dan puitis luar biasa.

Pevita Pearce yang selama ini lebih dikenal lewat peran-peran tipikal gadis cantik dan manis di film-film remaja ringan, kemampuan aktingnya terasa naik kelas lewat peran Yulia yang lebih dewasa dan punya kompleksitas karakter lebih dibandingkan biasanya. Nyatanya Pevita mampu melakoninya dengan baik, termasuk pula dalam menjalin chemistry yang meyakinkan dengan Chicco Jerikho. Tarik-ulur hubungan mereka menjadi rollercoaster kisah asmara yang terasa manis. Chicco sendiri berhasil tampil nakal, gila-gilaan, sekaligus depresif dan misterius lewat transformasi yang wajar dan hidup. Annisa Hertami dan Nova Eliza sebagai ibu Yulia dan Rumi tampil tak kalah menonjol meski porsinya tak sebanyak Chicco-Pevita. Terakhir, tentu saja penampilan aktor cilik Bima Azriel sebagai Rumi kecil yang tampil tak kalah baiknya dengan Chicco meski punya kompleksitas karakter yang serupa.

Departemen artistik memegang peranan paling penting dalam menghadirkan set multi era dengan begitu signatural. Mulai warna-warni vibrant ala 70-an, potongan-potongan busana yang stylish sesuai eranya, hingga interior rumah yang memfusi budaya Jawa tradisional dan Barat modern dengan tak kalah cantiknya. Salah satu shot terbaik tentu saja siluet Rumi dan Yulia di balik layar latihan drama panggung Romeo & Juliet. Batara Goempar Siagian sebagai penata kamera mampu memframing tiap keindahan desain produksinya, ditambah angle-angle sinematis plus pergerakan kamera dinamis yang membuat alur AAJC berjalan makin menarik.

Musik yang menjadi salah satu elemen terpenting untuk film-film Garin berhasil diisi oleh scoring Charlie Meliala dan lewat lagu-lagu lawas Ismail Marzuki yang bisa terus-menerus menghantui ingatan penonton jauh setelah filmnya berakhir, seperti Dari Mana Datangnya Asmara. Khikmawan Santosa dan Mohamad Ikhsan Sungkar menjaga keseimbangan yang pas antara score sebagai salah satu elemen terpenting dalam mengaduk-aduk emosi cerita, kejelasan dialog, dan tata suara yang hidup.

AAJC memang tidak menawarkan kisah asmara yang ribet atau muluk-muluk. Toh cinta sejatinya adalah hal yang sederhana. Dengan gaya penceritaan opera a la Garin, visualisasi yang serba cantik dan puitis, serta musikalitas yang mendukung, AAJC menjelma menjadi kisah cinta penuh kekacauan yang tetap menarik untuk disimak dan dinikmati. Bahkan mungkin berbagai elemennya juga bakal terus menginspirasi berbagai trend populer.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates