It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Friday, February 26, 2016

The Jose Flash Review
Neerja

Tahun 1986 lalu, sebuah pesawat Pan Am dari Mumbai tujuan Amerika Serikat dibajak ketika transit di bandara Karachi, Pakistan. Pembajak ternyata berasal dari kelompok Abu Nidal Organization yang didukung oleh Libya. Peristiwa ini melahirkan sosok pahlawan, Neerja Bhanot, kepala pramugari yang dengan berani mengambil langkah-langkah pengamanan penumpang dari aksi brutal teroris. Atas keberaniannya, Neerja dianugerahi penghargaan militer untuk keberanian demi perdamaian, Ashok Chakra. Tahun 2016, Ram Madhvani (salah satu asisten sutradara di produksi Mission Kashmir) menyutradarai sebuah biopic berdasarkan peristiwa ini, bertajuk Neerja. Aktris cantik yang terakhir makin dikenal lewat Saawariya, Raanjhanaa, Bhaag Milkha Bhaag, Khoobsurat, dan Prem Ratan Dhan Payo, Sonam Kapoor, ditunjuk memerankan sosok Neerja Bhanot. Didukung pula aktris senior Shabana Azmi yang memerankan ibu Neerja, Rama Bhanot.

Tak ada firasat apa-apa selain cincin jimat keselamatan yang ditinggalkan dini hari itu ketika Neerja berangkat kerja. Penerbangan 73 Pan Am dari Mumbai dengan tujuan Amerika Serikat pun berangkat dengan lancar. Namun kedamaian terpecah ketika pesawat itu transit di bandara Karachi, Pakistan. Mendadak sekelompok teroris bersenjata api masuk dan menyerang satu per satu kru kabin. Setelah para pilot berhasil meloloskan diri, keselamatan penumpang berada di tangan para pramugari yang dikepalai oleh Neerja Bhanot. Neerja pun menjadi penghubung yang harus bersikap bijak antara permintaan teroris dengan keselamatan penumpang. Seiring dengan perkembangan kasus, kilasan hidup Neerja sebelum menjadi pramugari mengingatkan kembali akan pergulatan hidupnya selama ini.

Cerita flight hijacking memang sudah sering sekali diangkat, apalagi di Hollywood. Namun Neerja tidak mau sekedar menjadi thriller flight hijacking yang menegangkan semata. Biopic sosok Neerja Bhanot menjadi fokus utama yang lebih diutamakan. Maka tak heran jika di tengah-tengah adegan penyanderaan, penonton diajak untuk flashback masa lalu Neerja sebagai seorang istri dan dengan scoop yang lebih luas lagi, sebagai wanita. Flashback-flashback ini tak sekedar asal masuk, tapi juga lewat sebuah pengantar kejadian yang secara masuk akal mengingatkan Neerja akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Lebih menarik lagi, isu feminisme dimana sosok Neerja yang seorang wanita bisa punya keberanian lebih dibandingkan karakter-karakter pria lain, diselipkan ke dalam cerita secara logis. Semua ini justru memperkuat sosok Neerja yang pada akhirnya berhasil menarik simpati penonton secara maksimal.

Sebagai kompensasi dan menjaga fokus, Neerja memang sengaja tidak membuat karakter-karakter teroris lebih menarik atau digali lebih dalam seperti yang sering dilakukan di sub-genre serupa. Penonton cukup dibuat merasa terancam oleh keberadaan para teroris ini. Untuk urusan thriller, Neerja tidak tanggung-tanggung memompa adrenalin saya. Sangat gripping, sebelum akhirnya dibuat heartbreak oleh sosok Neerja Bhanot. Menjadikan Neerja sebuah tribute untuk sosok kepahlawanannya dengan rollercoaster emosi yang begitu kuat terasa.

Dengan kemiripan wajah, Sonam Kapoor berhasil menghidupkan sosok Neerja Bhanot secara maksimal. Segala keberanian dan ketegarannya ditunjukkan dengan begitu powerful dan meyakinkan. Begitu juga kerapuhan di adegan-adegan flashback.  Highlight berikutnya layak diarahkan kepada Shabana Azmi sebagai ibu Neerja, Rama Bhanot, yang berhasil menyentuh penonton lewat performa kelembutan sekaligus ketegarannya.

Sinematografi Mitesh Mirchandani memframing berbagai emosi Neerja dengan sangat maksimal, seiring dengan keindahan desain produksi Anna Ipe dan Aparna Sud yang membangun nuansa 80-an dengan cukup mendetail, terutama lewat desain interior pesawat. Editing Monisha R Baldawa membuat tiap adegan terasa pada pace yang serba pas, termasuk ketika harus men-drive emosi penonton, dari ketegangan menjadi haru biru. Tata suara menghadirkan sound effect powerful dan pembagian kanal surround yang baik, sehingga suasana ketegangan menjadi lebih terasa maksimal. Terkahir, scoring lirih yang menyayat hati penonton sampai berkaca-kaca dari Vishal Khurana semakin mendukung keberhasilan Neerja mengaduk-aduk emosi penonton dari awal hingga akhir film.


Akhir-akhir ini sinema Hindi memang sedang gemar mengangkat biopic atau peristiwa bersejarah, seperti terakhir, Airlift. Dengan kemasan yang seimbang antara hiburan lewat bangunan thriller dan tribute yang sangat respectful terhadap sosok Neerja Bhanot lewat fokus karakternya yang detail dan mendalam, Neerja hadir menjadi salah satu film Hindi terpenting dan paling berpengaruh selama beberapa tahun terakhir ini. Sayang jika sampai kelewatan, bahkan jika Anda termasuk yang antipati terhadap sinema Hindi sekalipun.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, February 24, 2016

The Jose Flash Review
Zootopia

Sebagai salah satu studio animasi terbesar yang punya sejarah panjang, Walt Disney Animation Studios (WDAS) tak pernah berhenti berkreasi, seiring dengan sister-division-nya yang juga produktif, Pixar. Bedanya, jika Pixar lebih suka memproduksi animasi-animasi bertemakan lebih berat dan lebih bisa dinikmati penonton dewasa ketimbang anak-anak, WDAS masih fokus untuk membidik range penonton yang lebih luas. Setelah Big Hero 6 tahun 2014 lalu, WDAS mempersiapkan karya terbarunya, Zootopia. Kembali mengusung konsep fabel, tapi kali ini dengan skala yang jauh lebih besar dan detail. Bahkan jauh lebih besar daripada Madagascar yang pernah dibuat oleh DreamWorks Animation. Ditangani Byron Howard (Bolt, Tangled) dan Rich Moore (Wreck It Ralph) serta tim-tim yang sudah berpengalaman di WDAS, Zootopia kembali membidik audience anak-anak tapi masih bisa dinikmati oleh penonton dewasa lewat mashup konsep ceritanya.

Alkisah di masa depan, binatang-binatang buas dan jinak bisa hidup berdampingan dengan selaras. Para predator pun bisa mengontrol naluri buasnya. Kesemuanya tinggal di sebuah gambaran tata kota utopia yang serba teratur. Bahkan binatang-binatang berukuran besar dan kecil punya fasilitas sendiri-sendiri. Sayangnya, tidak sepenuhnya spesies apapun bisa menjadi apapun. Itulah yang membuat Judy Hopps, seekor kelinci wanita bertekad menjadi kelinci pertama yang berprofesi sebagai polisi. Padahal secara postur dan kekuatan, selama ini kelinci tidak memungkinkan menjadi polisi. Setelah berhasil pun Judy harus membuktikan diri bahwa dirinya punya kredibilitas lebih ketimbang menjadi seorang petugas tilang parkir semata. Kesempatan muncul ketika kasus hilangnya binatang menghantui Zootopia. Judy menawarkan diri menginvestigasi kasus hilangnya Mr. Otterton, seekor berang-berang. Dengan bantuan rubah penipu, Nick Wilde, Judy harus bisa memecahkan kasus ini dalam 48 jam atau karirnya sebagai polisi berakhir. Investigasi pun dimulai. Tak hanya Judy mengalami petualangan seru ke berbagai penjuru kota, tapi juga mengenal Nick Wilde lebih dalam yang akan mengubah pola pikirnya.

Pada permukaan luar, Zootopia menawarkan sebuah komedi buddy-cop dengan bumbu investigasi ala neo-noir. Tentu saja kesemuanya dengan kemasan kartun fabel yang bisa dengan mudah dinikmati dan dipahami oleh penonton anak-anak sekalipun (Ini fakta bahwa anak-anak, terutama balita, lebih  menyukai karakter binatang ketimbang manusia). Di lapisan yang lebih dalam, Zootopia menyelipkan tema diversity dan prejudice yang terasa cukup kuat, tapi mampu blended dalam cerita utama dengan sangat halus. Ini saya rasa cukup penting sebagai metode penanaman pola pikir positif secara tidak sadar (dan tidak menggurui) kepada anak-anak. Untuk penonton yang lebih dewasa, ia seperti mengajak penonton untuk berkaca: ketika kita sering berkoar-koar tentang prejudice, tapi sebenarnya kita sendiri secara tak sadar juga sering melakukannya.

Tak ketinggalan adegan-adegan bak spoof dari banyak pop culture yang bisa menarik perhatian penonton lebih dewasa. Terutama sekali spoof The Godfather dan berbagai brand populer yang dengan mudah menjadi remarkable bagi penonton. Babak ketiga dari cerita terkesan sedikit bertele-tele, akibat dari fokus investigasi yang harus berpadu dengan sub-plot pribadi Judy, tapi akhirnya berhasil ditutup dengan sangat memuaskan.

Mengisi karakter utama, Ginnifer Goodwin berhasil menghidupkan karakter Judy Hopps dengan cukup baik. Enthusiastic, energetic, positive thinker, tapi juga terkadang bisa merasakan kejatuhan secara manusiawi. Chemistry yang dibangunnya bersama Jason Bateman, pengisi suara Nick, juga terjalin dengan luwes dan menjadikan buddy-cop yang berinteraksi dengan sangat menarik. Sisanya, nama-nama populer seperti J.K. Simmons sebagai Mayor Lionheart, Octavia Spencer sebagai Mrs. Otterton, Alan Tudyk sebagai Duke Weaselton, Idris Elba sebagai Chief Bogo, Tommy Chong sebagai Yax, Jenny Slate sebagai Bellweather, hingga Shakira sebagai diva Gazelle, cukup menyemarakkan cerita dengan lively. Namun tentu saja yang paling berkesan adalah Maurice LaMarche, pengisi suara Mr. Big, yang bisa dengan sangat baik dan menggelitik melakukan impersonasi karakter Don Vito Corleone dari The Godfather.

WDAS tak perlu diragukan lagi soal kualitas animasinya. Berhasil menjaga keseimbangan antara tampilan realistis dan karikatur, ia tak hanya berhasil mendesain karakter-karakter yang memorable, tapi juga keseluruhan konsep kota. Mulai detail prasarana fasilitas kota mumpuni sampai latar alam yang luar biasa cantik dan memanjakan mata. Sayang, gimmick 3D yang ditawarkan tidak memberikan banyak nilai tambahan. Depth effect maupun pop-out-nya terasa biasa saja.
Tata suara digarap dengan sangat maksimal. Detail-detail sound effect, deep bass yang terdengar mantap tapi dengan punya tingkat clarity dan crisp yang tinggi, sampai pembagian kanal surround yang dimanfaatkan maksimal untuk menghidupkan adegan-adegan serunya. Terakhir, scoring Michael Giacchino yang berhasil memberikan kesan-kesan investigatif tanpa kehilangan kesan fun dan karikatur.

Zootopia semakin menguatkan posisi WDAS sebagai produsen animasi berkualitas. Tak hanya lewat inovasi-inovasi visual atau kemasan yang menghibur dengan range usia luas, yang artinya tidak sekedar aman, namun sekaligus bisa dinikmati dengan maksimal oleh penonton anak-anak, tapi juga content positif yang relevan di budaya manapun dan generasi manapun. Sebuah keseimbangan yang mampu dijaga dengan sangat baik oleh WDAS. Sayang untuk dilewatkan begitu saja bersama seluruh anggota keluarga.

Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Animated Feature - Byron Howard, Rich Moore, and Clark Spencer


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 23, 2016

The Jose Flash Review
Dirty Grandpa

Ide cerita tentang ‘kakek nakal’ mungkin masih jarang diangkat, tapi bukan berarti benar-benar baru. Yang paling mudah kita ingat tentu saja karakter kakek nakal dari gank Jackass, Bad Grandpa yang sempat diangkat ke layar lebar 2013 lalu. Namun jika Kakek Irving Zisman sebenarnya diperankan oleh Johnny Knoxville, kali ini aktor kawakan berkelas, Robert DeNiro, yang mencoba untuk memerankan karakter kakek nakal bin cabul. Dengan nama sebesar DeNiro dan tentu saja Zac Efron sebagai karakter sang cucu, Dirty Grandpa (DG) jelas menarik perhatian siapa saja. Meski tak sedikit pula yang mencibir, mau-maunya aktor sekelas DeNiro main di film se-‘murahan’ ini. Well, in my opinion, seiring dengan usia, adalah sebuah perkembangan secara kepribadian jika seseorang hidup semakin laidback, bersenang-senang, dan bisa ‘mentertawai diri sendiri’. Ditangani Dan Mazer yang berada di balik kesuksesan komedi-komedi Sacha Baron Cohen, mulai serial Ali G Indahouse, Borat, hingga Brüno, serta debut penulis naskah John Phillips yang nantinya juga akan menulis naskah Bad Santa 2, DG berpeluang menjadi komedi seks tak senonoh yang mampu menggelitik saraf tertawa.

Pasca kematian sang istri akibat kanker, Dick Kelly tampak sedih tapi berusaha tegar. Sehari setelah pemakaman, beliau meminta diantarkan ke Florida oleh salah satu cucunya, Jason Kelly. Meski sempat menolak karena mepet dengan rencana resepsi pernikahannya dengan Meredith, Jason menyanggupi. Siapa sangka sejak hari pertama perjalanan mereka, Dick menunjukkan gelagat aneh. Perangainya mendadak berubah menjadi nakal dan cabul. Jason yang punya karir bagus sebagai pengacara di firma milik ayahnya dan jauh dari kesan pemuda urakan, ikut terseret. Hingga suatu hari mereka bertemu Shadia, Lenore, dan Bradley. Lenore jatuh hati kepada Dick, sementara Shadia ternyata teman kuliah Jason dan sempat saling jatuh cinta. Kegilaan semakin memuncak serta mengancam tak hanya karir Jason, tapi juga pernikahannya dengan Meredith. Siapa sangka, perubahan drastis Dick ini ternyata bagian dari rencanan besarnya untuk sang cucu.

Di layar, DG memang terasa begitu nakal menghadirkan guyonan-guyonannya, bahkan tak sedikit yang berada di atas batas susila. Dalam hemat saya, DG terasa seperti American Pie versi kakek-cucu. Malah mungkin lebih asusila lagi. Tak hanya guyonan yang bertemakan seks yang sebenarnya masih bisa saya terima dan nikmati, tapi di sisi lain juga tentang narkoba, homoseksual, paedophile yang jujur, membuat saya mengernyitkan dahi. Sangat menggelitik, tapi bisa jadi ofensif. Overall, DG masih mampu membuat saya terbahak terpingkal-pingkal oleh tingkah-tingkah asusila dan celetukan-celetukan Dick yang ternyata sangat ‘melek’ pop culture. Kelemahan justru terletak pada pace film, terutama untuk genre komedi. Mungkin karena saking keasyikan, ada cukup banyak adegan yang terasa terlalu bertele-tele, apalagi wrap-up-nya yang juga tergolong terlalu santai dalam bertutur.

Above all, DG ternyata menyimpan esensi yang baik tentang living life to the fullest by passion. Menariknya lagi, konsep generation gap justru seperti diputar balikkan, yang tua menjadi sangat muda, sementara yang muda justru menjadi terlalu tua. So in the end, DG masih bisa membuat saya tersenyum puas oleh kehangatan dan hati yang cukup besar, setelah dibuat sakit perut saking seringnya tertawa terbahak-bahak.

Sebagai highlight utama, Robert DeNiro tampil begitu luwes memerankan Dick Kelly yang nakal, cabul, sekaligus berhati baik. Di balik kenakalannya, ia masih mampu memenangkan hati penonton. Meski tak bisa dipungkiri kalau ada penonton yang merasa iba, bisa-bisanya seorang DeNiro memainkan karakter se-‘rendah’ itu. Personally, I don’t mind with that. I still can respect him that way. Zac Efron masih memerankan karakter tipikal, tapi berhasil menjalin chemistry yang meyakinkan serta asyik dengan Bob. Zoey Deutch sebagai Shadia mencuri perhatian penonton lewat fisiknya yang memang unggul. Sementara Aubrey Plaza, Jason Mantzoukas, Julianne Hough, Dermot Mulroney, Jeffrey Bowyer-Chapman, Jake Picking, Michael Hudson, Adam Pally, Mo Collins, dan Henry Zebrowski tampil cukup menghibur sesuai porsi dan karakter komikal masing-masing, meski tak ada yang sampai benar-benar jadi remarkable.

Tidak ada yang istimewa dengan tata kamera Eric Alan Edwards, begitu pula editing Anne McCabe yang mungkin agak kebingungan mengedit adegan-adegan overlong yang kadang terasa draggy demi mengejar punchline. Satu-satunya yang patut diberi kredit adalah pemilihan soundtrack-soundtrack yang sedikit memberi energi lebih untuk konsep seru-seruan dan gila-gilaannya. Mulai Classic Man dari Jidenna, Bring Out the Bottles dari Redfoo, Samurai (Go Hard) dari R3HAB, hingga performance Zac Efron menyanyikan Because You Loved Me dari Celine Dion yang juga jadi ringtone Jason.

Dari trailernya saja seharusnya Anda sudah tahu bakal menemukan komedi seperti apa di DG. Bukan film komedi seks yang sangat kuat hingga memorable, tapi sangat menghibur dengan esensi yang cukup penting untuk generasi muda sekarang (terutama di belahan bumi Timur). So it’s your choice, either you’re gonna laugh hard over it or hate it so much due to its inappropriate jokes.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 21, 2016

The Jose Flash Review
I Am Hope

Salah satu sub-genre yang populer dibuat di ranah film Indonesia adalah disease drama atau drama tentang penyakit. Sayangnya, kebanyakan hanya menonjolkan eksploitasi penderitaan untuk menguras air mata penonton, sementara logika cerita termasuk detail fakta medis, dikesampingkan. Satu-dua masih bisa berhasil, tapi lama-lama rupanya penonton jenuh juga dan membuat beberapa judul harus gagal di pasaran. Lantas apa perbedaan yang coba ditawarkan I Am Hope (IAH), film tentang penderita kanker yang digagas oleh Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, dan Amanda Soekasah ini?

Sebelum membahas filmnya, IAH diawali sebagai gerakan kepedulian terhadap para penderita kanker. Misinya memberikan dukungan, baik materiil dan moriil kepada penderita kanker untuk sembuh dan menjadi cancer survivor. Awalnya dengan penjualan ‘gelang harapan’ yang dibuat dari sisa-sisa kain fashion desainer, Ghea Panggabean, sejak Oktober 2014. Gerakan kemudian berkembang menjadi sebuah film yang diharapkan bisa menyebarkan gerakan lebih luas lagi. Naskahnya ditulis dan disutradarai oleh suami Wulan, Adilla Dimitri, dibantu oleh Renaldo Samsara. Di cast, bintang muda yang sedang naik daun, Tatjana Saphira, Fachri Albar, Tio Pakusadewo (yang mana istrinya, Yvonne Ligaya Simorangkir, sedang berjuang melawan kanker, sehingga menjadi salah satu inspirasi naskah IAH), Ariyo Wahab, Febby Febiola, dan Putri Pariwisata 2010, Alessandra Usman.

Sama seperti mendiang ibunya, Mia memiliki passion yang begitu besar pada seni pertunjukan. Sayang di tengah usahanya untuk mulai menulis naskah sebuah pertunjukan, Mia didiagnosis kanker paru-paru. Ayahnya, Raja, yang dulu seorang komposer musik, ingin Mia fokus pada treatment dan kesembuhan. Ia tak mau kehilangan Mia seperti sang istri yang juga meninggal karena kanker. Sementara Mia justru melihat ini sebagai tantangan untuk mewujudkan pementasan drama pertamanya, sebelum pertaruhan hidup, selamat atau tidak dari kanker. Dengan bantuan David, seorang aktor panggung yang jatuh cinta kepadanya, dan teman khayalannya yang selalu memberikan harapan, Maya, Mia menawarkan naskah berjudul “Aku dan Harapanku” kepada Rama Sastra, produser pertunjukan yang karirnya sudah sampai Milan. Di tengah kondisinya yang terus menurun, Mia masih terus berusaha memperjuangkan mimpinya memproduksi pementasan drama pertunjukan itu.

Secara garis besar, IAH terasa sedikit berbeda dengan kebanyakan disease drama Indonesia. Terutama aspek harapan yang menjadi garis besar cerita, bukan eksploitasi kesedihan semata. IAH mungkin bukan yang pertama menawarkan cerita perjuangan melawan penyakit mematikan seiring dengan perjuangan mewujudkan passion. Elemen cerita tentang drama pertunjukan juga seperti berjalan terlalu mulus, tanpa hambatan berarti. Tentu ini dilakukan untuk menjaga fokus cerita tentang perjuangan melawan kanker. Atas nama tujuan tersebut, IAH masih tergolong berhasil. Lewat adegan-adegan yang juga tak berusaha untuk menjadi tearjerker yang eksplisit, IAH secara lembut dan perlahan memancing emosi penonton. Tak terasa beberapa adegan tetap berhasil membuat saya tertegun dan berkaca-kaca.

Keberhasilan IAH memancing emosi penonton tak lepas dari performa cast-nya. Terutama sekali Tio Pakusadewo yang tak hanya membangun chemistry yang kuat dan luwes dengan Tatjiana, tapi juga ekspresi wajar namun terasa mendalam di banyak adegan. Lihat saja ketika ia menyanyikan lagu Kidung Abadi, atau ketika ia berusaha menenangkan Tatjana. Bahkan ketika ia memimpin orkestra, aksinya begitu meyakinkan dan kharismatik. Jujur, performa Tio, lengkap dengan kacamata a la John Lennon-nya, berkali-kali membuat momen di IAH begitu heartbreaking. Tatjana pun terasa sedikit naik kelas lewat karakter Mia. Meski ada adegan menangis yang dilakoninya masih terasa sedikit dibuat-buat, secara keseluruhan Tatjana menghidupkan karakter Mia dengan perkembangan yang terasa wajar, realistik, dan pada akhirnya menjadi karakter yang lovable. Kehadiran Fachri Albar, Ariyo Wahab, Alessandra Usman, dan Febby Febiola juga menjadi peran pendukung yang cukup memorable meski tak sekuat Tio dan Tatjana. Terakhir, taburan cameo superstar di adegan puncak, mulai Sandra Dewi, Sophia Latjuba, Hamish Daud, Kelly Tandiono, dan banyak lagi, tentu menjadi eyecandy yang tak boleh dilewatkan.

Tak perlu mempertanyakan kualitas Yudi Datau sebagai penata kamera yang lagi-lagi berhasil mem-framing adegan demi adegan menjadi begitu cantik dan pergerakan kamera yang sinematik. Tata artistik dan tata kostum juga patut mendapatkan kredit, terutama dalam menghidupkan drama panggung “Aku dan Harapanku”. Meski poster-poster film musikal yang tampak low-res di set kamar Mia tentu terasa menggelikan. Aline Jusria mengedit IAH sehingga menjadi kesatuan yang enak dinikmati, membuat cerita yang sebenarnya tak bergerak terlalu banyak bisa tetap mengalir lancar. Adegan-adegan flashback yang cukup banyak (bahkan menjadi penggerak cerita) pun tak terasa berlebihan. Terakhir, tata musik dari Aghi Narottama dan Bembi Gusti, serta pemilihan lagu-lagu, menjadi pengiring adegan yang terasa begitu tepat dan secara halus menggerakkan emosi penonton. Mulai Nyanyian Harapan dari RAN, Kasih Jangan Kau Pergi dari Yura, dan tentu saja Kidung Abadi dari Almarhum Chrisye yang berhasil menyentuh saya tiap kali mendengarkannya.

So yes, dengan lebih menekankan pada elemen harapan dan survival, IAH terasa sedikit berbeda dengan kebanyakan disease drama yang eksploitatif. Di balik naskah yang sebenarnya biasa saja, ternyata Adilla Dimitri sukses memvisualisasikannya, bahkan juga memancing emosi penonton secara lembut dan perlahan. Ditambah campaign pendonasian sebagian keuntungan film kepada pasien kanker, IAH tentu layak mendapatkan dukungan lebih.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, February 19, 2016

The Jose Event Review
Exclusive Screening A Copy of My Mind

Para peserta kuliah umum beserta para dosen berfoto
bersama Joko Anwar dan Tia Hasibuan di Auditorium UK Petra Surabaya.
Film terbaru Joko Anwar, A Copy of My Mind (ACOMM) yang “hanya” ber-budget US$ 10 ribu (atau sekitar 150 juta Rupiah) tapi berhasil mendulang prestasi internasional bergengsi, seperti Venice Film Festival dan Toronto Film Festival, membuat siapa saja yang bermimpi menjadi filmmaker penasaran. Bagaimana bisa me-manage budget rendah untuk menghasilkan karya berkualitas baik? Itulah highlight kuliah tamu dari Joko Anwar dan produser, Tia Hasibuan,  atas undangan dari Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra Surabaya, yang bekerja sama dengan The Jose Movie Review, Rabu, 17 Februari 2016 mulai jam 11.30 siang lalu. Lawatan ini sekaligus menjadi bagian dari promo film ACOMM di Surabaya. Ratusan mahasiswa dan peserta umum membanjiri Auditorium UK Petra untuk menggali inspirasi dari keduanya. Joko membuka kuliah umum dengan sedikit penjelasan tentang basic storytelling sebelum akhirnya membagi pengalaman seputar pembuatan ACOMM.

Joko Anwar membagi pengalaman produksi
A Copy of My Mind.
Menjawab pertanyaan besar soal budgeting itu, menurut Tia kuncinya terletak pada meminimalisir pengeluaran fee untuk kru yang terlibat.

“Banyak kru yang tidak dibayar di ACOMM. Bahkan kamera dan post-pro, kami mendapatkan bantuan secara cuma-cuma. Kami juga menggunakan set yang sudah ada, jadi tidak perlu membangun lagi. Kalau mau dihitung-hitung, budget 150 juta justru kebanyakan dipakai untuk katering dan transportasi,” aku Tia.

Fasilitas yang serba ‘gratis’ dan minimalis tidak lantas membuat penggarapan ACOMM asal-asalan. Salah satu buktinya adalah musik-musik pengiring sepanjang film yang dibikin mulai dari nol. Mulai dangdut koplo, tarling, Melayu, metal, Manado, sampai Mandarin. Konon total ada sekitar 70-an lagu yang ditulis serta diaransemen oleh Rooftop Sound demi menghidupkan nuansa-nuansa realis di film.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana para kru mau bekerja dengan mood serta semangat terjaga tanpa dibayar.

“Itulah sebabnya menjadi produser dan sutradara perlu yang namanya leadership. Sutradara harus bisa membuat para kru percaya akan hasil akhir dari karya,” kali ini Joko yang menjawabnya.

Tia pun menambahkan sambil sedikit berpromosi, “Perjanjian di awal, para kru mendapatkan share dari keuntungan penayangan di layar lebar. Makanya nonton, bantu kami membayar kru kami. Supaya kami juga bisa bikin film lagi.”


Dari kiri ke kanan: host Rial Adian, produser Tia Hasibuan,
dan sutradara/penulis naskah Joko Anwar.
Tak hanya membagi pengalaman saat produksi ACOMM, Joko dan Tia juga seakan memberikan ‘pencerahan’ bagi mahasiswa dan peserta yang punya passion serta cita-cita di dunia film, yang mungkin selama ini mengira tidak punya penghasilan maupun masa depan yang cerah.

“Selain produksi film, kami di Lo-Fi Flicks juga mengerjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan audio visual. Mulai iklan komersial, web-series, apa saja yang berhubungan dengan audio visual. Syukur selama belasan tahun saya bekerja di bidang ini, tidak pernah sampai kekurangan uang,” jelas Tia yang juga sempat menyebutkan beberapa angka minimal fee penulis naskah dan sutradara, seolah memberikan harapan kepada peserta yang punya passion di film.

Suasana pengambilan tiket Exclusive Screening A Copy of My Mind
di CGV Blitz Marvell City Surabaya.
Setelah kuliah umum di UK Petra, Joko dan Tia meluncur ke CGV Blitz Marvell City Surabaya untuk Exclusive Screening film ACOMM. Dari kapasitas 152 seat di auditorium 1, sebanyak 140 seat sudah habis terjual. Antusiasme yang besar ini membuat Joko dan Tia senang. Apalagi menurut Joko, dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peserta, terlihat bahwa yang hadir benar-benar penonton yang paham film dan nonton film-film yang pernah dibuat Joko sebelumnya.
Peserta Exclusive Screening ACOMM mengantri masuk auditorium.

Suasana Q&A setelah film berakhir.
Joko Anwar menyempatkan selfie bersama
para peserta Exclusive Screening ACOMM.

Tak lupa sebelum rangkaian promo ACOMM di Surabaya berakhir, Joko dan Tia membagi-bagikan merchandise berupa poster ACOMM bertanda tangan serta tumbler stainless steel ACOMM kepada lima orang penonton yang beruntung. 

Para pemenang doorprize poster bertanda tangan
dan tumbler eksklusif ACOMM.



Tim sukses Exclusive Screening ACOMM (dari kiri ke kanan:)
Vincent Jose, Ayu Dwi Astiti dari DuaTiga Project, Tia Hasibuan,
Joko Anwar, host Rian Adian, dan Helene.




Baca review A Copy of My Mind di sini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 16, 2016

The Jose Flash Review
Pride and Prejudice and Zombies

Di antara karya-karya sastra Inggris, novel Pride & Prejudice karya Jane Austen menjadi salah satu yang paling populer. Bagi Jane sendiri, novel tentang lima gadis Bennet juga merupakan novel yang paling populer. Berkali-kali diangkat ke berbagai medium, terutama TV dan layar lebar, tahun 2016 ini difilmkan versi ‘parodi’-nya, Pride and Prjudice and Zombies (PPZ). Jangan salah, versi ini juga diangkat dari versi novel parodi yang ditulis oleh Seth Grahame-Smith tahun 2009. Siapa sangka novel parodi ini berkembang menjadi franchise tersendiri, mulai graphic novel, interactive e-book, video game, bahkan clothing line. Novel ini juga yang ‘menginspirasi’ genre mash-up lainnya, seperti Sense and Sensibility and Sea Monsters dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter (yang terakhir sudah diangkat ke layar lebar lebih dulu tahun 2012 lalu). Rencana adaptasi film PPZ sebenarnya sudah ada sejak 2009. Bahkan sutradara sekelas David O. Russell sempat didapuk menjadi komando. Sayangnya bongkar pasang cast dan crew membuatnya terhambat hingga baru benar-benar mulai produksi tahun 2014 dan siap tayang Februari 2016 ini.

Kelima saudari Bennet saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian pria dan menikahinya. Ini didukung pula oleh sang ibu, Mrs. Bennet yang seolah-olah seperti ‘menjual’ putri-putrinya. Di tengah serangan para zombie di Inggris, Mr. Bennet membekali kelima putrinya dengan ilmu bela diri di Cina. Menurut Mrs. Bennet ini justru membuat kelima putrinya semakin susah menarik perhatian pria kaya dan bangsawan. Adalah Elizabeth Bennet yang paling tidak suka dengan ide buru-buru kawin, tapi sebenarnya jatuh cinta kepada Mr. Darcy, bangsawan yang datang ke desa mereka untuk menginvestigasi serangan zombie. Sayangnya, Mr. Darcy bersikap angkuh dan sering mengejek Elizabeth di belakangnya. Di saat yang bersamaan keluarga bangsawan kaya raya Bingley, pindah ke desa mereka. Salah satu yang menarik perhatian adalah pemuda tampan, Mr. Bingley yang diharapkan memilih satu dari kelima saudari Bennet.

Ada pula Parson Collins yang terang-terangan menyampaikan keinginannya menikahi salah satu saudari Bennet. Terakhir, prajurit Mr. Wickham yang terlihat tampan dan sopan, yang sempat berhasil menarik perhatian Elizabeth. Ternyata Mr. Wickham punya masa lalu dengan keluarga Mr. Darcy yang membuat mereka kini tak akur. Wickham mengusulkan perundingan dengan kaum zombie demi masa depan yang lebih baik. Ide gila ini tentu ditolak mentah-mentah oleh Mr. Darcy dan sang bibi yang terkenal sebagai pemimpin pembasmi zombie, Lady Catherine de Bourgh. Hubungan antara pria-pria ini dengan saudari Bennet semakin memuncak seiring dengan peperangan melawan para zombie.

I have to admit, memadukan kisah klasik Pride & Prejudice yang kental nuansa feminisme dan perubahan budaya kuno menjadi modern, dengan zombie terdengar asal. Betul, di versi layar lebar pun, kedua elemen yang berseberangan ini tak mampu menyatu dengan baik. Terutama elemen zombie yang terkesan hanya tempelan semata, tanpa kaitan yang logis dengan plot utamanya. But hey, try to see PPZ as a light pure entertainment show. Ternyata ia menjadi sajian yang cukup menghibur, terutama saat menggelar adegan-adegan laga gory yang tak ditahan-tahan meski mengantongi rating PG-13.

Sebagai lead character, Elizabeth, Lily James mampu menarik simpati penonton lewat sudut pandang pemikirannya yang lebih modern ketimbang saudari-saudarinya. Ketika melakukan adegan aksi pun Lily semakin terlihat menarik untuk disimak. Meski harus diakui, chemistry-nya dengan Sam Riley tak terasa begitu terasa kuat. Aktor-aktris pendukung, mulai Sam Riley sebagai Mr. Darcy, Douglas Booth sebagai Mr. Bingley, Matt Smith sebagai Parson Collins, Jack Huston sebagai George Wickham, dan Lena Headey sebagai Lady Catherine de Bourgh, memeberikan performa yang sama menariknya bagi penonton sesuai porsi masing-masing. Sayang, saudari Bennet lainnya; Bella Heathcote sebagai Jane, Ellie Bamber sebagai Lydia, Millie Brady sebagai Mary, dan Suki Waterhouse sebagai Kitty, tak punya porsi yang cukup untuk mencuri perhatian penonton, selain sekedar pelengkap yang bisa diperankan siapa saja.

Tak ada yang benar-benar istimewa dari teknis PPZ selain desain produksi yang tergolong niat untuk genre parodi, terutama desain kostum dan set. Sinematografi Remi Adefarasin didukung editing Padraic McKinley cukup mendukung adegan-adegan aksi yang tetap terasa seru. Tata suara yang ditampilkan cukup terdengar mantap lewat deep bass, terutama saat jumpscare, serta pembagian kanal surround yang juga terdengar jelas.


Penampilan para gadis Bennet sebagai pembasmi zombie yang kick-ass harus diakui menawarkan daya tarik tersendiri. Seksi dan keren. Elemen plot utama yang sebenarnya lebih dominan juga disajikan dengan bumbu humor di mana-mana (tapi tidak sampai jatuh menjadi berlebihan), yang menyebabkan laju cerita juga terasa makin segar. Tak benar-benar istimewa apalagi mashup yang tidak menyatu dengan sinergi yang pas, tapi hasil akhir PPZ masih cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 14, 2016

The Jose Flash Review
A Copy of My Mind

Tiap kali menelurkan karya, Joko Anwar selalu menarik perhatian. Sejak debutnya sebagi penulis naskah di Arisan! dan sutradara di Janji Joni, Joko memang selalu menyuguhkan tontonan yang tak hanya asyik diikuti, tapi seolah-olah dibawa ke alternate universe (of Jakarta, most of the time). Atmosfer ini semakin terasa di Kala (Dead Time), Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Trivia menyelipkan berbagai hint project berikutnya juga menjadi gimmick menarik dari tiap karyanya. Namun di project terbarunya, A Copy of My Mind (ACOMM), Joko rupanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Dengan dukungan budgeting dari CJ Entertainment (Korea Selatan), ACOMM sudah masuk banyak ajang penghargaan internasional dan nasional, termasuk memenangkan 3 dari 7 kategori nominasi di Festival Film Indonesia 2015 lalu.

Sari yang bekerja sebagai terapis di Salon Yelo, salon kelas B di tengah rimba Jakarta, mulai bosan dengan kehidupannya yang terasa tak ke mana-mana. Pulang dari kerja, ia lebih suka berkeliling pusat DVD bajakan di Glodok, berburu DVD film tentang makhluk aneh yang ditontonnya di kamar kos sepetak. Film memang jadi pelarian utama Sari di Jakarta. Ia pun memberanikan diri melamar pekerjaan di spa yang lebih mewah dengan harapan mengubah hidupnya yang monoton. Hidupnya pun makin berwarna ketika bertemu seorang penerjemah subtitle DVD bajakan, Alek, yang nasibnya tak beda jauh: terjebak menjadi sosok bukan siapa-siapa yang hanya sekedar ingin menyambung hidup. Bahkan Alek tak punya satu pun kartu identitas diri. Meski diawali dengan protes Sari atas subtitle asal-asalan dari DVD bajakan yang dibelinya, perlahan Sari dan Alek saling menemukan dan merasa nyaman. Tantangan datang ketika Sari menerima pekerjaan outgoing dari penghuni rutas kelas I, Nyonya Mirna, yang membuat keduanya terjebak dalam pusaran teror bermuatan politis.

Sejak menit pertama, saya cukup terkejut dengan gaya visualisasi Joko kali ini. Jika biasanya ia suka menghadirkan visualisasi alternate-universe yang serba cantik (bahkan di Pintu Terlarang, Joko ingin suasana Manhattan untuk setting Jakarta-nya) dan classic cinematic ala old Hollywood, maka ACOMM terasa sangat indie. Mulai dari tata kamera yang shaky (tapi tidak sampai mengganggu atau bikin pusing), editing yang terkesan kasar, hingga sound effect yang riuh bak perkampungan Jakarta yang sesungguhnya. Semua ini membuat ACOMM terasa begitu realistik, just like daily Jakarta di mata warga-warga perkampungannya.

Untuk urusan plotline, Joko masih piawai membangun alur cerita klasik yang tak hanya enak diikuti, tapi tiap menitnya membuat saya penasaran akan apa yang bakal terjadi berikutnya. It’s so riveting and hypnotizing. Faktor utamanya mungkin saja karena Joko menghadirkan kehidupan dunia yang spesifik dan menarik sebagai background cerita, yaitu persalonan dan alur kerja produksi DVD bajakan. Pemilihan ini bukan sembarangan, karena memang saling relevan serta mendukung dengan konflik-konflik utama yang dibangun, baik dari segi romance maupun political thriller-nya. Di babak berikutnya, romance yang terjalin antara Sari dan Alek terasa begitu sensual, tak banyak bicara tapi tiap adegannya membangun chemistry yang wajar, sehingga dengan mudah semakin mengikat perhatian penontonnya. Keberanian keduanya melakoni adegan intim turut menarik perhatian penonton. Film menjadi makin menarik ketika memasuki babak ketiga yang kental nuansa political thriller-nya. Tak perlu aspek politis yang ribet dan berbelit-belit karena memang dibidik dari kacamata Sari dan Alek yang tergolong ‘orang kecil’, ACOMM membuat penonton deg-deg’an dan merasakan ketegangan maksimal lewat kemisteriusan yang minim score maupun dialog. Di akhir, ACOMM memang tak berusaha menyikap tabir misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik teror yang dialami Sari dan Alek. Tidak juga menjelaskan nasib mereka kedua, tapi penonton diajak ikut merasakan menjadi keduanya. Setelah rollercoaster emosi yang mengikat, penonton pun seolah ditunjukkan bahwa in the end, yang terbaik mungkin hanyalah menjalani keseharian kita yang kesannya monoton dan membosankan daripada terancam bahaya.

Kekuatan visualisasi Joko di ACOMM didukung dengan kuat pula oleh penampilan para aktornya, terutama the leads, Tara Basro dan Chicco Jerikho. Keduanya dengan sangat nyata dan natural menghidupkan karakter masing-masing. Lihat saja ekspresi wajah Tara ketika mengalami hal-hal kecil, seperti takjub melihat LED TV 65 inch, berubah menjadi canggung ketika ditawari berbagai promo oleh sang SPB, atau ketika ia merindukan kehadiran Alek. Sementara Alek dengan mudah menarik simpati penonton lewat hal-hal kecil, seperti ketika menyiapkan makanan untuk induk semangnya, atau ketika ia membela Sari lewat handphone. Pemeran-pemeran pendukung pun turut memperkuat secara maksimal dengan porsi masing-masing, terutama Paul Agusta sebagai Bandi, pemilik spa mewah yang di satu sisi menggelikan tapi bisa berubah menjadi mengerikan, dan Maera Panigoro sebagai Nyonya Mirna yang diam-diam punya aura yang tak kalah ‘mengerikan’-nya.

Meski punya konsep visual yang realistik, natural, dan indie, bukan berarti teknis ACOMM asal-asalan. Sinematografi Ical Tanjung jelas menghadirkan konsep visual tersebut dengan kualitas yang tak asal-asalan. Shaky effect yang tak menggangu, fokus gambar yang rapi terjaga sepanjang film sesuai kebutuhan adegan, serta komposisi yang sinematis. Pujian juga patut dialamatkan kepada tata suara dari Khikmawan Santosa yang memasukkan detail-detail realistik di tiap adegan. Mulai lagu-lagu dangdut sayup-sayup yang membuat saya mengira ‘bocoran’ dari luar auditorium, inaudible chatter, riuh jalanan dan suasana rombongan massa, hingga adzan sholat yang bersahut-sahutan, mengiringi nuansa ‘mistik’ ACOMM. Terakhir, pilihan musik dari Aghi Narotama dan Bembi Gusti yang bersinergi maksimal dengan visualisasinya, seperti biasa makin menghipnotis penonton serta memberikan sedikit sentuhan klasik dan berkelas, termasuk One Moon-Lit Night yang dibawakan oleh The Spouse dan A Copy of Your Mind yang dibawakan Aimee Saras.

Surat cinta untuk kota Jakarta lewat film dengan berbagai kacamata memang sudah banyak, tapi ACOMM mencoba mengajak penonton tak hanya melihat, tapi merasakan secara bold dan powerful, kehidupan kaum kelas bawah yang tinggal di gang-gang sempit nan kumuh dan riuh. Sangat mengikat dan menghantui, bahkan lama setelah film berakhir. Salut untuk Joko yang secara brilian berhasil membangun nuansa yang diinginkannya secara maksimal, meski lewat teknis yang tergolong minimalis. Semoga saja rencana sebuah trilogi yang konon bakal bertajuk A Copy of My Heart dan A Copy of My Soul bisa terwujud, because I will be very excited to experience something like this even more.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Monkey King 2
[西遊記之孫悟空三打白骨精]

Siapa yang tidak mengenal hikayat Si Kera Sakti, Sun Wu Kong? Di Indonesia, hampir tiap versinya, baik itu layar lebar maupun serial, tayang. Versi yang paling dikenal tentu saja versi serial TV yang tayang di salah satu stasiun TV swasta kita era 90-an. Tahun 2014 lalu satu lagi versi terbaru dari kisah Journey to the West yang diangkat ke layar lebar dengan judul The Monkey King (TMK). Digarap oleh sutradara Cheang Pou-Soi (SPL2), dengan bintang-bintang kelas A macam Donnie Yen, Chow Yun Fat, dan Aaron Kwok. Seperti kebanyakan film Mandarin akhir-akhir ini, TMK lebih menawarkan cerita fantasi dengan gempuran adegan-adegan aksi berlatarkan CG yang terlihat masih jauh dari meyakinkan. Namun jangan salah, perolehan box office di negara asalnya luar biasa, bahkan memecahkan rekor box office nasional dengan angka akhir melewati 1 miliar Yuan atau US$ 167 juta lebih, dan US$ 181 juta di pasar internasional. Sebuah pencapaian box office yang tak main-main. Sempat dirilis versi edit ulang yang punya durasi 30 menit lebih lama, The Monkey King: The Legend Begins untuk pasar US, kini sudah hadir sekuelnya bertajuk The Monkey King 2 (TMK2) bertepatan dengan Tahun Baru Imlek yang memasuki tahun monyet api. Cast dan crew kurang lebih sama, minus Donnie Yen yang mundur dari project karena konflik jadwal sekaligus perbedaan visi. Aaron Kwok yang di seri pertama berperan sebagai The Bull Demon King alias Siluman Kerbau, kini mengisi peran Sun Wu Kong.

500 tahun setelah dihukum di bawah Gunung Lima Jari, Sun Wu Kong dibebaskan oleh Dewi Kwan Im untuk menemani seorang bhiksu yang sedang melalukan perjalanan jauh ke Barat demi mencari kitab suci. Di perjalanan, Sun Wu Kong dan Bhiksu Tang bertemu Siluman Babi, Zhu Bajie, dan Sha Wu Jing yang juga turut ditugaskan untuk menemani. Rintangan pertama yang harus mereka lalui adalah Iblis Tulang Putih, Baigujing, yang berniat melahap Bhiksu Tang agar bisa hidup sebagai iblis selamanya tanpa harus bereinkarnasi menjadi manusia. Baigujing tak sendiri karena ada pula Raja Hercynian yang juga memburu Bhiksu Tang untuk disantap. Darah anak-anak yang selama ini menjadi santapannya kini kurang bisa menopang hidupnya.

Pou-Soi membagi cerita TMK di titik yang tepat untuk menjaga fokus. TMK2 punya plot cerita utama yang lebih familiar ketimbang seri pertamanya. Masih ‘menjual’ adegan-adegan aksi spektakuler dengan balutan CGI sebagai komoditas utamanya, TMK2 melakukan banyak perbaikan di sana-sini. Mungkin masih ada beberapa CGI yang tampak komikal dan palsu, tapi most of them jauh lebih baik ketimbang seri pertamanya. Tone cerita pun dibuat lebih serius ketimbang yang pertama dengan memasukkan unsur-unsur filosofis yang menarik ke dalamnya. Mempertanyakan tentang mana yang lebih substansial sebagai bentuk kepatuhan: menurut sang Bhiksu atau membangkang demi keselamatanya.

Secara keseluruhan, bagi saya TMK2 masih belum bisa menawarkan plot maupun storytelling yang lebih menarik dari cerita aslinya. Semua tampak berjalan begitu saja tanpa kedalaman (terutama karakter) yang lebih sehingga bisa membuat saya peduli dengan karakter-karakternya. All I can enjoy was its action scenes yang meski makin spektakuler, tapi masih belum se-gripping garapan Pou-Soi lainnya, SPL2. Bisa dimaklumi jika ia ingin membuat seri TMK sebagai sebuah petualangan fantasi dengan range usia target audience yang lebih luas.

Meski ditinggalkan Donnie Yen dan Chow Yun Fat pun sudah tak lagi hadir di installment ini, TMK2 masih punya cast yang lebih dari cukup untuk menarik perhatian. Aaron Kwok yang mengisi peran Sun Wu Kong dengan sangat layak. Kharisma-nya lebih dari cukup untuk menghidupkan Sun Wu Kong. Begitu juga Feng Shaofeng yang mengisi peran Bhiksu Tang. Namun above all yang paling menarik perhatian tentu saja si seductive beauty, Gong Li sebagai Baigujing. Tak hanya dengan pesona kecantikannya yang seolah tak luntur oleh usia, Gong Li memberikan performa menggoda yang maksimal sebagai karakter villain.

Selain CGI yang terasa quite well-improved (tentu saja setelah didukung oleh tim visual effect 3D New Zealand yang juga mengerjakan The Lord of the Rings dan The Hobbit, tata suara 7.1 terasa sangat maksimal pula. Clear, crisp, deep bass, dan pembagian kanal surround yang sangat kentara. Scoring tak terlalu istimewa, begitu juga theme song khas film Mandarin lawas, Jiu Shi Sun Wukong yang dibawakan oleh Aaron Kwok sendiri. Sayang versi 3D, IMAX 3D, dan 4DX 3D tak sampai masuk Indonesia. Saya bisa membayangkan pengalaman yang lebih terasa.

Sebagai tontonan untuk menyambut Tahun Baru Imlek kali ini (apalagi memasuki tahun kera api), TMK2 terasa begitu pas. Asalkan Anda tak berekspektasi muluk-muluk, terutama dari segi plot yang tidak banyak berkembang dari cerita aslinya, ia masih bisa jadi tontonan yang menghibur lewat spektakel visualisasinya dan adegan-adegan laga a la Pou-Soi. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 13, 2016

The Jose Flash Review
Spotlight


Kasus pemuka agama yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur sudah bukan sesuatu yang benar-benar baru. Ini terjadi di agama saja dan negara mana saja. Namun tak mudah untuk menyajikan kisahnya tanpa menyinggung salah satu pihak, karena menyangkut keyakinan banyak orang. Salah satu skandal kasus pelecehan seksual oleh pemuka agama terjadi di Boston, Amerika Serikat, diangkat oleh sutradara Tom McCarthy dan naskahnya dibantu oleh Josh Singer, lewat kacamata jurnalistik. Spotlight pun melaju menjadi salah satu kandidat Best Motion Picture of the Year di Oscar 2016 setelah memenangkan beberapa kategori di ajang penghargaan bergengsi lain. Beruntung, kita di Indonesia yang biasanya ‘kurang ramah film-film Oscar’ punya kesempatan untuk menilai secara langsung kelayakannya di Oscar tahun 2016 ini.

Boston, Juli 2001. Kedatangan Marty Baron yang menjadi editor in chief baru di Boston Globe membuat tim Spotlight melakukan investigasi terhadap kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pastur, Romo Geoghan, lebih dari 30 tahun lalu. Kepala divisi Spotlight, Robby Stewart, reporter Mike, Sacha, dan Matt pun bekerja sama untuk mengulik segala sesuatu terkait kasus ini. Bukan pekerjaan mudah karena selain sudah lama terjadi, pihak Gereja Katolik, pemerintah kota, dan bahkan masyarakat ternyata memilih untuk tutup mulut terhadap kasus ini. Setelah melakukan interview dengan puluhan korban, pengacara, dan jaksa wilayah, terkuaklah sesuatu kasus yang lebih besar. Ternyata kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastur kepada anak-anak juga terjadi di negara bagian lain, bahkan negara-negara lain. Tantangan lain bagi tim Spotlight adalah memilih angle berita yang tergolong sensitif ini. Maka profesionalisme mereka sebagai jurnalis dipertaruhkan.

Di permukaan, Spotlight menyajikan sebuah plot investigatif yang begitu cerdas, seru, dan cukup mengejutkan. Namun tak hanya itu, ia juga menunjukkan sisi-sisi lain yang tak kalah menarik untuk dibahas sekaligus memperkuat cerita utama. Pertama, aspek jurnalisme yang terasa begitu kuat dan realistik. Jika jaman sekarang semakin banyak reporter yang terkesan asal menulis tanpa riset tentang topik yang mendalam, Spotlight menunjukkan kinerja jurnalis sebenarnya yang tak semudah mencari sensasi dalam tiap cerita yang diangkat. Memilih angle yang tepat sehingga tak terkesan menyudutkan salah satu pihak menjadi aspek jurnalis yang paling menarik di sini. Kedua, bagaimana kasus pelecehan seksual yang ternyata begitu global bisa mempengaruhi iman penganutnya. Adegan Sacha yang tak kuasa membayangkan ‘kekotoran’ terjadi ketika berada di dalam gereja menunjukkan sebuah kesan yang sangat kuat dan thoughtful. Bayangan itu tak bisa ditepis begitu saja mengingat fakta yang memang benar-benar terjadi.

Kekuatan naskah didukung pula oleh performa-performa para aktornya yang mungkin tak terlalu spesial, tapi memainkan peran masing-masing dengan begitu kuat. Lihat saja bagaimana Rachel McAdams sebagai Sacha mengulik informasi dari para korban dengan penuh rasa penasaran tanpa menghilangkan rasa simpati. Begitu juga ketika ia menunjukkan moral dilemma ketika berada di dalam gereja. Lihat juga Mark Ruffalo sebagai Mike Rezendes yang begitu meyakinkan sebagai reporter cerdas dan kharismatik. Michael Keaton, Liev Schreiber, John Slattery, Billy Crudup, dan Stanley Tucci turut mendukung dengan performa kharismatik masing-masing yang tak kalah kuatnya.
Spotlight tergolong film yang begitu kuat di cerita, tapi tak melupakan aspek-aspek teknisnya. Sinematografi Masanobu Takayanagi mungkin tak ada yang istimewa, selain lebih dari cukup untuk kebutuhan penceritaan. Editing Tom McArdle mampu membuat laju cerita Spotlight berjalan lancar dan dinamis, meski sebenarnya lebih banyak diisi oleh dialog. Scoring dari Howard Shore yang tergolong minimalis membawa nuansa ‘terenyuh’ dan tensi ketegangan yang terasa berkelas, jauh dari kesan dramatis berlebihan.

Sebagai salah satu kandidat Oscar dengan nominasi di kategori-kategori utama, termasuk Best Motion Picture of the Year, Best Writing, Original Screenplay, dan Best Achievement in Directing, Spotlight memang merupakan sajian yang sangat layak diganjar penghargaan. Tema yang penting, disajikan dengan sangat kuat, diisi pula dengan performa-performa yang tak kalah kuat, ia menjadi salah satu film terbaik dan tepenting tahun ini. Atau malah salah satu terbaik untuk beberapa tahun belakangan. Dukungan saya untuk Best Motion Picture of the Year di Oscar 2016 pun jatuh kepadanya.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards Nominees for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Mark Ruffalo
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role - Rachel McAdams
  • Best Achievement in Directing - Tom McCarthy
  • Best Writing, Original Screenplay - Josh Singer and Tom McCarthy
  • Best Achievement in Film Editing - Tom McArdle
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates