Sunday, January 10, 2016

The Jose Flash Review
Pay the Ghost

Daftar film ‘kelas B’ yang dibintangi Nicolas Cage (dan kebetulan di Indonesia didistribusikan oleh pihak yang sama, mungkin beli hak siarnya secara paket) masih belum berakhir. Setelah terakhir kita dibuat kebosanan di drama politik depresif, The Runner, suguhan berikutnya adalah sebuah horor, genre yang jarang (atau malah belum pernah?) dijamah olehnya. Pay the Ghost (PtG) yang disutradarai oleh sineas Jerman, Uli Edel (kita kenal di sini lewat biografi The Baader Meinhof Complex dan FTV The Mists of Avalon), berdasarkan novella berjudul sama karya Tim Lebbon.

Merasa bersalah karena tidak ikut putra tunggalnya, Charlie, trick or treating di malam Halloween karena urusan kerjaan, Mike Lawford, seorang profesor, memutuskan untuk mengajaknya ke karnival. Naas, Charlie malah hilang tanpa jejak. Setahun kemudian, hubungan Charlie dan istrinya, Kristen, makin merenggang pasca hilangnya Charlie. Tiba-tiba saja Mike mulai dihantui oleh keberadaan Charlie. Entah itu halusinasi atau benar-benar terjadi. Investigasi yang ia lakukan berujung pada kasus hilangnya anak-anak di malam Halloween tiap tahun dan berkaitan dengan urban legend kaum Celtic. Melihat kemungkinan menemukan dan menyelamatkan putranya, Mike memilih untuk nekad terjun lebih dalam meski taruhannya adalah nyawa.

Harus diakui, PtG memang sebuah proyek kecil dengan treatment indie dan penayangan yang terbatas. Premise PtG mungkin bukan sesuatu yang baru didengar, namun sebenarnya cukup menarik perhatian saya. Apalagi memang ada fakta di Amerika Serikat tentang anak-anak yang hilang di malam Halloween yang sering saya dengar dikait-kaitkan dengan sekte tertentu (baca: Satanic). Sayangnya, sejak dari segi naskah saja PtG sudah terlihat jauh dari penggarapan yang menarik. Semuanya serba generik dan cenderung mengarah ke treatment FTV atau film direct-to-video. Alur yang berjalan biasa-biasa saja tanpa aspek yang menarik sama sekali, penokohan yang serba seadanya, dan desain produksi yang serba tanggung. Saya membayangkan jika premise ini digarap dengan treatment yang lebih kuat dan matang, ala-ala The Conjuring, Insidious, atau Sinister misalnya. Bisa jadi hasilnya akan jauh lebih baik.

Ya, PtG masih berupaya memasukkan formula ‘cenayang’ ala The Conjuring dan Insidious, dan banyak formula-formula horor lain. Sayangnya hanya dijadikan gimmick-gimmick tempelan semata, tidak dikembangkan lebih lanjut ke dalam plot.

Nicolas Cage sebenarnya tak tampil buruk, namun karena karakteristiknya tidak begitu dikembangkan, maka terkesan biasa saja. Begitu pula penampilan cast pendukung lainnya, seperti Sarah Wayne Callies sebagai Kristen, Lyriq Bent sebagai Detctive Reynolds, atau Jack Fulton sebagai Charlie, yang terasa biasa-biasa saja, tanpa kesan yang begitu berarti.

Teknis pun tidak ada yang benar-benar remarkable, selain tata suara yang untungnya masih ditata dengan cukup baik, sehingga beberapa adegan masih sedikit terasa atmosfer horornya.

Dibandingkan film-film ‘kelas B’ Cage akhir-akhir ini, PtG sebenarnya tidaklah buruk-buruk amat. Setidaknya dengan treatment yang serba tanggung, sangat-sangat generik, dan cenderung terkesan ‘murah’, ia masih cukup lancar menyampaikan ceritanya. Saya pribadi masih berharap ada yang tertarik mengambil ide cerita semacam PtG ini dengan treatment yang jauh lebih matang dan baik.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates