Wednesday, January 27, 2016

The Jose Flash Review
The New Adventures of Aladdin
[Les Nouvelles Aventures d'Aladin]

Siapa yang tidak kenal kisah Aladdin dari hikayat 1001 malam? Walt Disney saja sudah pernah mengangkatnya menjadi salah satu film animasi klasik sepanjang masa. Tak terhitung banyaknya adaptasi yang dilakukan ke berbagai medium. Yang terbaru, Perancis mempersembahkan kisah petualangan ‘baru’ Aladdin sebagai sajian Natal tahun 2015 lalu. Sempat diputar di Festival Sinema Perancis Desember 2015 lalu, The New Adventures of Aladdin (NAA) atau yang judul aslinya Les Nouvelles Aventures d’Aladin ini akhirnya juga menyambangi bioskop reguler Indonesia. Disutradarai Arthur Benzaquen masih bekerja sama dengan penulis naskah Daive Cohen, yang dikenal sebagai kreator serial komedi Zak.

Di depan pacarnya, Sam mengaku bekerja kantoran. Padahal sebenarnya ia pengangguran dan bahkan sedang merencanakan perampokan di Galeries Lafayette bersama partnernya, Khalid. Sam berpura-pura bekerja sebagai Santa Claus untuk mendapatkan akses. Malang, Sam justru terjebak di tengah anak-anak yang memaksanya mendongeng kisah Aladdin. Sam pun memulai narasi cerita petualangan Aladin versinya yang penuh dengan kejutan.

Aladdin menurut Sam, yang diperankan oleh Sam sendiri, bersama Khalid, adalah seorang penipu di kota Baghdad. Tak sengaja, Aladdin bertemu seorang wanita misterius yang membuatnya jatuh hati, yang ternyata adalah putri Sultan, Putri Shallia. Karena aksi kejahatannya, Aladdin diasingkan di gurun pasir. Sementara itu Vizir, sang perdana menteri yang memerintah kota, punya niat jahat untuk menggulingkan kekuasaan Sultan melalui Putri Shallia. Sebuah peristiwa membuat Aladdin menemukan lampu wasiat berisi Jin yang bersedia mengabulkan tiga permintaan. Salah satunya tentu saja menjadi seorang pangeran agar dianggap layak menikahi Putri Shallia, sekaligus menggagalkan rencana jahat Vizir.

Sepintas mungkin tak banyak hal baru yang ditawarkan oleh adaptasi dongeng Aladdin kali ini. Tapi jangan salah, Benzaquen-Cohen menyelipkan cukup banyak twist dari cerita aslinya sebagai bumbu. Alhasil NAA bak sebuah spoof atau parodi dari kisah 1001 Malam, Aladdin. Formula humor yang ditawarkan sebagian besar mengingatkan saya akan formula adapatasi live action Astérix & Obélix atau spoof Robin Hood, Robin Hood: Men in Tights. Memasukkan berbagai budaya pop modern seperti musik hip-hop sebagai bahan guyonan, awalnya NAA terkesan garing. Tapi seiring dengan berjalannya durasi, ternyata konsistensi jokes konyol tapi cerdas ini terasa makin lucu bagi saya. Dari yang hanya senyum-senyum, akhirnya berhasil membuat saya terbahak-bahak di banyak momen. Hit and miss, but to me, mostly hit.

Seperti kisah Natal lainnya, NAA juga tak melupakan heart factor yang diletakkan di penghujung cerita. Membuat karakter Sam yang dibenci namun bisa ditertawakan penonton, menjadi karakter yang lovable. Apalagi setelah cerita dongeng Aladdin yang disampaikan oleh Sam termanifestasi dalam kehidupan nyata. NAA pun ditutup dengan manis dan hangat.

Sebagai lead untuk peran komedik, Kev Adams punya kharisma yang lebih dari cukup. Fisik yang tergolong biasa saja terangkat oleh kemampuannya melucu sekaligus memainkan karakter yang lovable. Eric Judor yang kita kenal lewat parodi Die Hard, La Tour Montparnasse Infernale, berperan  sebagai jin  yang tak kalah kocaknya. Begitu pula William Lebghil sebagai Khalid yang memnghidupkan karakter flamboyan. Di lini female character, Vanessa Guide sebagai Putri Shallia jelas punya pesona kecantikan yang membius sekaligus tak canggung bertingkah konyol. Diikuti Audrey Lamy sebagai Rababa yang jadi female comedic character terkuat di sini.

Selain sinematografi Pierre Aïm yang memframing adegan-adegan kota Baghdad dengan cantik, art direction dan special visual effect patut diberikan kredit tersendiri. Aspek-aspek fantasi berhasil dihidupkan dengan cukup realistis tanpa mengurangi nuansa fantasinya. Editing Brian Schmitt juga berperan penting untuk menjaga pace cerita NAA tetap berjalan penuh energi, bahkan ketika menyampaikan momen-momen hearty-nya. Tata suara turut ditata dengan lebih dari layak guna menghidupkan petualangan sekaligus membangun kemegahan adegan musikal.


Sebagai paket hiburan yang segar, NAA bolehlah dijadikan pilihan. Apalagi jika Anda ternyata cocok dengan gaya humor ala Astérix & Obélix yang gokil. It’s a lot of fun, hilarious, and in the end, warm.

Lihat data film ini di IMDb dan Pathé International.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates