Wednesday, January 27, 2016

The Jose Flash Review
Love the Coopers

‘Kering’-nya film bertemakan Natal beberapa tahun belakangan ini membuat tiap film Natal menarik untuk disimak. Termasuk Love the Coopers (LTC), sebuah drama komedi keluarga (yang ternyata nggak keluarga-keluarga banget) anti-Christmas dengan gaya penceritaan bak omnibus seperti yang pernah ditawarkan Love Actually tahun 2003 lalu. Daya tarik utamanya tentu saja ensemble cast papan atas yang menghiasi layar. Mulai Diane Keaton, John Goodman, Alan Arkin, Marisa Tomei, Ed Helms, hingga generasi Olivia Wilde, Amanda Seyfried, dan Anthony Mackie. Padahal yang duduk di bangku sutradara dan penulis naskahnya tergolong ‘berkelas’, Steven Rogers dan Jessie Nelson yang pernah bekerja sama untuk naskah Stepmom (1998), selain filmografi masing-masing yang cukup mengesankan.

Sama seperti keluarga kebanyakan, pasangan Sam dan Charlotte Cooper mengharapkan momen Natal sebagai momen berkumpulnya semua anggota keluarga. Terutama Charlotte yang baru menyadari bahwa kecintaannya dengan keluarganya membuat cinta terhadap suaminya, Sam, memudar. Tahun ini, Charlotte memutuskan untuk mengumumkan hal terbesar dalam keluarganya setelah 40 tahun pernikahan saat perayaan Natal.

Di sisi lain, ternyata tiap anggota keluarganya merasa kurang antusias untuk berkumpul saat Natal. Si putra sulung, Hank yang sudah bercerai dengan istrinya, Angie, baru saja kehilangan pekerjaan sehingga merasa minder dan tertekan ketika berkumpul. Sementara Eleanor, adiknya, mengalami trauma dengan yang namanya cinta sehingga memutuskan untuk menjalin affair dengan pria beristri. Ketika di bandara, tak disangka ia bertemu Joe, seorang opsir militer yang ternyata ‘nyambung’ dengannya. Ayah Charlotte, Hank, menjalin hubungan yang menarik dengan seorang waitress muda tempat ia biasa makan, Ruby. Mereka sering diskusi tentang banyak hal, salah satunya tentang film lawas. Ketika Ruby memutuskan untuk pindah kerja, Hank mengajaknya makan malam Natal bersama keluarga Cooper. Terakhir, Emma, adik Charlotte, memutuskan untuk mencuri anting-anting sebagai kado Natal untuk kakaknya dengan alasan tak ingin memberikan sesuatu yang berharga ketika didapatkan untuk orang yang ia tidak sukai. Malangnya, aksi Emma terendus sekuriti dan ia pun dibawa oleh Opsir Williams. Selama perjalanan Emma justru terlibat aksi saling curhat dengan Opsir Williams. Makan malam Natal menjadi puncak yang menentukan, apakah keluarga Cooper akan retak untuk selamanya.

Serupa dengan Love Actually, LTC berusaha menyajikan karakter-karakter menarik dengan konflik yang juga menarik. Bedanya, jika Love Actually menampilkan konflik yang sederhana dengan pengembangan yang sederhana namun manis, karakter-karakter LTC punya konflik yang terkesan lebih kompleks. Konflik-konflik batin yang sebenarnya tak terjelaskan dengan kata-kata namun bisa dirasakan. Naskah Rogers dan pengarahan Nelson bisa menunjukkannya, tapi belum mampu memberikan penjelasan yang cukup logis dan rasional. Tak hanya soal penyebabnya, tapi juga keputusan maupun resolusi yang diambil oleh para karakternya. Ini terasa sekali pada karakter Charlotte yang memutuskan untuk bercerai atau Eleanor yang bisa jatuh cinta kepada Joe meski sebelumnya sempat terjadi tarik ulur love-hate. We might be able to feel it, but we’re so confused how come or why. Belum lagi jika kita ingin menjelaskan hubungan antara Hank dan Ruby. Beberapa sequence flashback dan imajiner mencoba untuk membuat kesan ‘gokil’ dalam penceritaan. Meski pada akhirnya tak banyak membantu penceritaan, selain sekedar cukup membuat penonton tersenyum.

Jajaran cast papan atas jelas membuat LTC masih menyenangkan untuk diikuti. Terutama sekali Diane Keaton sebagai Charlotte yang penampilannya selalu mengagumkan, tak peduli sesederhana apapun karakter yang ia mainkan. Chemistry love-hate dengan John Goodman pun terjalin dengan menarik dan meyakinkan. Daya tarik berikutnya jatuh kepada Olivia Wilde sebagai Eleanor yang somehow terasa sangat kuat dibandingkan yang lain sejak menit pertama. Above all, I love the way she talked and laughed. So adorable!

Marisa Tomei sebagai Emma yang manipulatif namun seorang joker yang kata-katanya selalu bikin tersenyum tampil cukup mengesankan. Jake Lacy sebagai Joe juga menarik dan sedikit mengingatkan saya akan sosok Hugh Grant. Alan Arkin dan Amanda Seyfried berhasil menjalin chemistry yang kuat sebagai ‘pasangan yang aneh’ sehingga tak sampai terkesan  terlalu ‘menyimpang’. Terakhir, Anthony Mackie berhasil menampilkan sosok Opsir Williams yang pendiam namun terasa memendam kepedihan dan ketakutan yang besar.

Di atas sinematografi dan editing yang tak terlalu istimewa, scoring dari Nick Urata dan pilihan versi lagu-lagu Natal-nya menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya berhasil mengiringi, tapi juga sekaligus memperkuat emosi tiap adegan.

Untungnya di balik cerita yang terkesan absurd dan resolusi yang terkesan ‘semudah itu berubah’, LTC masih menyisakan beberapa momen khas Christmas-movie yang masih berhasil membuat hati terasa sejuk. Most of them were sweet moments and full of joy. Maka jika syarat utama Christmas movie dikatakan berhasil hanya sejauh itu, LTC masih layaklah menjadi sajian ringan di hari Natal. Setidaknya lebih dari cukup untuk uplifting suasana Natal yang identik dengan joy and warm.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates