Sunday, January 10, 2016

The Jose Flash Review
Life

James Dean adalah sosok aktor muda legendaris karena kiprahnya yang ‘hanya’ sempat bermain di tiga film layar lebar yang nantinya berstatus legenda: East of Eden, Rebel Without a Cause, dan Giant, sebelum akhirnya tewas beberapa bulan setelah Rebel Without a Cause rilis dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di usia 24 tahun. Sosoknya dianggap terus menjadi inspirasi bagi aktor muda sampai saat ini. Biopic-nya sudah beberapa kali diangkat, yang paling notable film TV James Dean (2001) yang diperankan James Franco, dan ada pula versi arthouse yang lebih ke dreamy ketimbang realis, Joshua Tree, 1951: A Portrait of James Dean (2012).

Penulis naskah Luke Davies (Candy dan Reclaim) yang tertarik untuk menulis sebuah biografi tentang James Dean, menemukan sudut penceritaan yang menarik setelah menemukan foto Dean di Time Square karya Dennis Stock untuk majalah Life. Maka mulailah disusun plot yang kemudian menarik perhatian Anton Corbijn, sutradara music video langganan Depeche Mode dan U2 yang pernah menangani The American dan A Most Wanted Man, untuk menangani karena keunikan sudut pandangnya.

Dennis Stock adalah fotografer yang sering ditugaskan untuk liputan red carpet, premiere film, dan pesta-pesta selebriti Hollywood. Bosan dengan tugas yang itu-itu saja, ia mencoba mencari materi berbobot untuk essay photography yang rencananya akan dijual ke Majalah Life. Di sebuah pesta ia tak sengaja bertemu James Dean, aktor muda yang sedang menunggu rilis East of Eden sebagai debutnya, dan proses kontrak untuk film besar produksi Jack Warner dari Warner Bros berikutnya, Rebel Without a Cause. Dennis melihat Dean sosok yang menarik untuk dibahas. Sebuah rencana yang awalnya tak berjalan mulus. Tak hanya agensinya yang skeptis sehingga enggan membiayai Dennis, tapi juga Dean sendiri yang awalnya mengatakan tertarik namun sikapnya kemudia seperti ogah-ogahan. Hubungan mereka secara profesional maupun pribadi semakin dekat ketika keduanya mendapati pergulatan dan kecenderungan menyikapi yang kurang lebih sama.

Kisah biopic yang diceritakan melalui sudut pandang orang yang tidak begitu terkenal namun pernah dekat memang bukan formula  baru. Yang paling saya ingat dalam benak adalah My Week with Marilyn, The Last King of Scotland, dan Almost Famous. Namun saya menemukan sesuatu yang beda dengan Life. Tak sekedar berusaha menceritakan sisi lain (baca: manusiawi) dari sang sosok populer, Life memberikan keseimbangan pada sosok Dean dan Stock. Yang jadi fokus utama justru persamaan keduanya: sama-sama berusia muda, sedang melakukan struggle demi karir yang lebih tinggi, dan punya jiwa kebebasan yang berusaha adjust dengan bidang profesi masing-masing. Khsus untuk karakter Stock; punya keluarga di usia muda ketika ia juga harus membagi waktunya demi karir. Sisi-sisi menarik yang ditunjukkan dan dikomparasi dengan porsi yang seimbang secara paralel lewat alur ceritanya yang berjalan begitu mengalir. Malah mungkin terlalu sederhana dan terlalu biasa saja bagi beberapa penonton. Justru sisi-sisi itulah yang menarik perhatian saya untuk mengikuti kisah Life yang diceritakan dengan begitu elegan pula oleh Corbijn.

Dalam sebuah biopic, salah satu yang paling menarik perhatian adalah siapakah yang memerankan sosok populer. Life memasang aktor Dane DeHaan (The Amazing Spider-Man 2, Kill Your Darlings) untuk menghidupkan sosok James Dean. Pilihan yang cukup mengejutkan, menimbang secara fisik DeHaan punya postur (dan tentu saja, kharisma) yang berbeda dengan Dean. Di layar, DeHaan membuktikan keraguan itu dengan effort penampilan yang cukup mencengangkan. Gesture, cara bicara, cara memicingkan mata, so James Dean. Yes, postur dan kharismanya memang tak bisa banyak menutupi, namun effort-nya boleh lah dihargai lebih. Sementara Robert Pattinson semakin menunjukkan performa yang lebih mature dan cukup berhasil pula. Aktor pendukung berikutnya yang cukup menarik perhatian adalah Ben Kingsley sebagai Jack Warner, Joel Edgerton sebagai John Morris, dan tentu saja Alessandra Mastronardi sebagai Pier Angeli.

Sebagai sebuah drama biopic, Life memang tak menawarkan banyak keistimewaan di teknisnya. Sinematografi Charlotte Bruus Christensen cukup berhasil bercerita dengan mood yang sesuai dengan style Corbijn. Editing Nick Fenton cukup banyak mempengaruhi mood dan terutama berperan penting dalam menjaga pace penceritaan yang tergolong lambat menjadi tak terlalu terasa membosankan. Tata suara tak terlalu istimewa, termasuk dalam hal pembagian kanal surround. Sementara scoring Owen Pallett menghantar mood classy dan flowing Corbijn dengan sangat baik.


Life memang bukan tipikal film besar ataupun arthouse yang akan mendominasi banyak event award. Namun bagi saya pribadi, Corbijn berhasil menyuguhkan sebuah biopic dari sosok penting di Hollywood dengan sudut pandang dan problematika yang berbeda. Bagi yang belum mengenal James Dean mungkin tidak akan memahami seberapa hebat dan pentingnya sosok Dean lewat film ini. Namun ia tetap bisa membuat penonton (yang related, tentu saja) merefleksikan pergulatan antara profesi sesuai passion dengan kebebasan idealis yang menjadi salah satu aspek kedewasaan. Corbijn menyuguhkannya dengan santai, elegan, sederhana, hangat, dan mengalir.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates