Wednesday, January 20, 2016

The Jose Flash Review
The Hateful Eight

Bagi penggemar setianya, tiap perilisan film terbaru Quentin Tarantino alias QT adalah hukum wajib untuk ditonton di layar lebar dengan spesifikasi terbaik. Di film kedelapannya ini, Hateful Eight (H8), QT menambahkan lagi alasan dari hukum wajib itu: film ini di-shot dengan Ultra Panavision 70 yang sampai sekarang tergolong jarang digunakan karena alasan biaya. Terhitung H8 baru film ke-11 yang menggunakan proses ini setelah di antaranya, Ben-Hur (1959), Mutiny on the Bounty (1962), The Greatest Story Ever Told (1965), dan yang terakhir Khartoum (1966). Tak hanya proses pembuatannya, penayangan spesial sesuai dengan yang diinginkan QT menjadi terbatas karena hampir semua bioskop di seluruh dunia sudah beralih ke proyektor digital. Maka ada dua versi H8: versi asli dengan seluloid 70mm berdurasi 187 menit (termasuk 12 menit overture dan 6 menit adegan yang memang didesain khusus untuk proyektor 70mm) yang pada akhirnya ditayangkan secara roadshow karena berbagai keterbatasan, dan versi wide-release dengan format digital berdurasi 167 menit. Kompensasi lainnya yang harus ‘diterima’ penonton versi digital dengan lapang dada adalah black bar di atas-bawah gambar karena faktor aspect ratio 2.76:1 yang tergolong sangat tidak lazim. Tapi tentu saja ini semua tidak menyurutkan antusiasme fansnya untuk ‘berziarah’, meski ditambah ‘drama’ di balik pembuatannya yang disebabkan kebocoran naskah dan menyebabkan QT sempat ngambek tidak ingin melanjutkan produksi. Akhir 2015, H8 siap dinikmati dan tentu saja membuat para juri berbagai festival di awal 2016 melirik karya terbarunya ini.

Awalnya diset sebagai sekuel Django Unchained (DU), namun akhirnya dijadikan cerita berdiri sendiri karena QT ingin membuat penonton ‘bersenang-senang’ dengan karakter baru yang belum dikenal, H8 mengambil setting pasca Perang Sipil di Amerika Serikat. Kalau mau dihitung-hitung, setting ini masih termasuk paska DU. Penonton dipertemukan dengan penghuni sebuah kereta kuda di tengah badai salju. Kereta itu dikendarai oleh O.B., yang dibayar untuk mengangkut John Ruth, seorang bounty hunter yang dikenal dengan julukan ‘the hangman’ karena selalu membawa buruannya hidup-hidup untuk dibawa ke tiang gantungan, bersama Daisy Domergue, buronan wanita tukang jagal yang kepalanya dihargai 10.000 dollar. Di tengah jalan, mereka mengangkut Major Marquis Warren, bounty hunter kulit hitam legendaris yang mantan pasukan kavalri, dan Chris Mannix yang mengaku calon sherrif baru di kota tujuan mereka semua, Red Rock.

Pertemuan yang sempat mengakibatkan ketegangan ini masih belum apa-apa dibandingkan ketika mereka singgah di Minnie’s Haberdashery. Ditinggal pemiliknya yang sebenarnya sudah kenal baik dengan Marquis dan John, kehadiran empat pria di kedai itu terasa mencurigakan, setidaknya bagi Marquis. Ada Oswaldo yang mengaku eksekusioner hukuman gantung di Red Rock, yang artinya John nantinya akan menyerahkan Daisy ke dirinya ketika tiba di Red Rock, Joe Gage yang mengaku sedang perjalanan pulang ke rumah ibunya di luar kota Red Rock untuk merayakan Natal, Bob yang mengaku karyawan Minnie, yang diserahi kepercayaan menjalankan kedai itu selama dirinya pergi ke Utara untuk menjenguk sang ibu, serta Jenderal Sandy Smithers yang reputasinya tidak perlu diragukan lagi. Siapa sangka di antara orang-orang yang terjebak di Minnie’s Haberdashery ini ternyata saling bersinggungan, one way or another, dan memuncak menjadi peristiwa akbar. Singkatnya, wrong persons met the wrong persons in the wrong place at the wrong time.

Penggemar setia QT pasti sudah tahu persis bagaimana ekspektasi terhadap film-filmnya. Tak hanya look yang sangat signatural QT bak sinema grindhouse kelas B 80’an yang selalu terlihat dari opening title, pembagian chapter, dan musik pengiring yang dipotong sewaktu-waktu, tapi juga style penceritaannya yang suka memasukkan dialog basa-basi yang sekilas terkesan nggak nyambung tapi selalu berhasil membangun tensi tersendiri, karakter-karakter eksentrik, klimaks tak terduga, serta tentu saja bumbu gore yang tak kalah gilanya. Tentu saja H8 punya semua itu. Bahkan ia butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk memperkenalkan karakter-karakter pentingnya beserta latar belakang masing-masing yang nantinya menjadi penyulut klimaksnya, melalui dialog-dialog serta monolog. Referensi Perang Sipil dimasukkan ke dalam latar belakang para karakter, tak hanya sekedar latar belakang, tapi punya impact yang cukup besar terhadap kecenderungan tiap karakter, terutama isu rasialis yang diwakili oleh Marquis. Tiap dialog terasa tak sembarangan dipasang, karena tiap detail katanya punya pengaruh dan hint terhadap karakter serta ‘bekal’ yang penting bagi penonton untuk menganalisis kejadian-kejadian berikutnya. Dialog dan monolog yang cukup panjang ini mengingatkan saya gaya penceritaan salah satu masterpiece QT, Reservoir Dogs. Latar yang sebagian besar di dalam interior Minnie’s Haberdashery dan sedikit outdoor bersalju, menjadikan H8 terasa seperti sebuah panggung opera dengan plot yang runtut, rapi, kuat, dan tentu saja membuat karakter-karakter eksentriknya tampak lebih menarik.

Namun keseruan utama mengikuti plot H8 meski berdurasi cukup panjang adalah bagaimana QT mengajak penonton menebak-nebak apakah tiap karakter menyampaikan fakta atau kebohongan, lengkap dengan analisis-analisis tajam ala karakter Marquis. Sampai film berakhir pun ada cukup banyak hal yang dilontarkan para karakternya yang meninggalkan misteri, apakah kenyataan atau bualan semata. In this case, seperti biasa QT membiarkan penonton menganalisa sendiri dan punya ‘keyakinan’ sendiri-sendiri. Tak hanya itu, penonton diajak pula untuk menganalisa untung-rugi, klausa sebab-akibat, serta what’s the worst that could happened dari tiap keputusan yang ditawarkan. Tentu saja tak semua penonton bisa menikmati ‘permainan’ yang ditawarkan QT ini, but if you’re interested enough, you’ll love it til the end.

Samuel L. Jackson yang selama ini jadi langganan QT tapi untuk supporting role, akhirnya kali ini didapuk menjadi lead. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Samuel memberikan performa terbaiknya, sesuai dengan kharisma-nya yang memang sudah kuat. Karakter Marquis yang eksentrik, manipulatif, namun juga cerdas dalam mengalisis, berhasil dihidupkan dengan sangat meyakinkan oleh Samuel.

Kesemua karakter yang ditulis dengan porsi sama-sama kuat dan saling mendukung secara seimbang di sini sebenarnya diperankan dengan sangat baik oleh para aktor sesuai kebutuhan masing-masing karakter. Lihat saja karakter John Ruth yang diperankan Kurt Russell dengan kharisma yang cukup kuat dalam mengundang simpati penonton, Demian Bichir sebagai Bob dengan aksen Meksikonya, Tim Roth sebagai Oswaldo Mobray yang mengingatkan saya akan karakter-karakter yang diperankan Christoph Waltz di film-film QT, Michael Madsen sebagai Joe Gage, Bruce Dern sebagai General Sandy Smithers, bahkan James Parks (aktor langganan QT juga) sebagai O.B. Namun yang paling menonjol adalah penampilan Jennifer Jason Leigh sebagai Daisy Domergue. Jennifer berhasil bertransformasi jadi karakter ‘sakit jiwa maksimal’ yang luar biasa kasar, bengis, sekaligus mampu memainkan emosi penonton. Tak heran jika The Academy mengganjarnya nominasi Best Actress in a Supporting Role untuk perannya di sini. Daya tarik yang tak kalah kuatnya adalah Walton Goggins sebagai Chris Mannix yang memorable berkat gesture, cara berbicara, dan beberapa line yang terlontar dari mulutnya. Sebagai bonus, Goggins juga berfungsi menjadi the joker yang cukup berhasil memancing tawa penonton.

Kehadiran cameo lain seperti Zoë Bell dan Dana Gourrier (aktris langganan QT) menambah semarak suasana. Tak ketinggalan, Channing Tatum yang harus saya akui, penampilan singkatnya begitu berkesan, malah mungkin jadi salah satu peran terbaik yang pernah ia mainkan.

Tak perlu meragukan hasil dari penggunaan proses Ultra Panavision 70. Setiap frame H8 bak panggung opera megah yang kaya akan detail dan warna. Aspect ratio yang lebih lebar dibandingkan umumnya film layar lebar (2.35:1 atau 1.85:1) semkin menambah kemegahan visualnya yang memanjakan mata. Robert Richardson tau betul bagaimana memaksimalkan format ini lewat framing dan pergerakan kamera yang tak hanya efektif menangkap detail adegan, tapi juga menghasilkan frame-frame berkomposisi sempurna. Ia tahu betul bagaimana style QT dalam bercerita. Begitu juga dengan editor Fred Raskin yang sudah bekerja sama dengan QT sejak Kill Bill. Berhasil menggantikan peran editor langganan QT, Sally Menke, Raskin pun paham pace dan energi bercerita QT dengan serba pas.

Komposer Ennio Morricone yang akhirnya setuju mengaransemen original score untuk film QT, semakin menambah kemegahan pengalaman sinematiknya, tak terkecuali score dari The Thing yang diakui QT punya pengaruh cukup banyak terhadap H8, dan score The Exorcist yang mengiringi adegan-adegannya menjadi terasa semakin magis. Tata suara memaksimalkan fasilitas 5.1. surround dengan detail yang luar biasa serta keseimbangan antara dialog, sound effect, suara latar (terutama suara badai), dan score.

In the end, H8 memang ‘sangat QT’. Ia masih menggunakan formula biasanya dalam membangun plot. Namun H8 membuat saya semakin kagum dengan kecermatan dan kecerdasannya dalam menyusun naskah. Tak hanya berhasil menciptakan karakter-karakter yang serba kuat dengan latar belakang masing-masing, namun dalam menciptakan kejadian demi kejadian yang punya impact terhadap kejadian berikutnya. Alhasil, H8 menjadi tontonan opera yang asyik diikuti karena permainan analisis true-or-lie dan untung-rugi. Kegilaan QT juga sekali lagi membuat H8 seringkali tak terduga, namun punya konklusi yang sangat memuaskan. Mungkin efeknya belum bisa membuat saya mengalami katarsis sebesar Inglourious Basterds atau Pulp Fiction, tapi jelas jauh lebih mengalir, rapi, dan mengasyikkan ketimbang Django Unchained. Apalagi dengan tawaran pengalaman sinematik yang luar biasa, baik dari segi audio maupun visual, H8 wajib ditonton oleh penggemar QT di bioskop dengan layar sebesar mungkin dan audio equipment sedahsyat mungkin, setidaknya sekali dalam seumur hidup.

Lihat data film ini di IMDb

88th Academy Awards nominee for:

  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role - Jennifer Jason Leigh
  • Best Achievement in Cinematography - Robert Richardson
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - Ennio Morricone
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates