Tuesday, January 12, 2016

The Jose Flash Review
The Forest

Kultur Jepang begitu dekat dengan horor hingga melambungkan image J-horror di peta perfilman dunia. Tak terkecuali Hollywood yang sudah me-remake lusinan horor sukses Jepang. Ini tak lepas dari fakta bahwa Jepang punya cukup banyak mitologi horor yang menarik untuk diangkat ke medium film. Belum lagi fenomena bunuh diri yang selalu lekat dengan kondisi sosial masyarakat Jepang sampai saat ini. Ternyata ada hutan di Jepang yang dikenal angker dan sering dijadikan lokasi bunuh diri. Hutan bernama Aokigahara ini terletak di kaki Gunung Fuji yang otomatis dilewati oleh para wisatawan. ‘Pesona’ Hutan Aokigahara sempat menggerakkan sutradara Gus Van Sant untuk mengangkatnya ke medium film berjudul The Sea of Trees tahun 2015 lalu. Meski cukup bertabur bintang Hollywood kelas A macam Matthew McConaughey, Naomi Watts, dan Ken Watanabe, film yang diputar di Cannes Film Festival ini mendapatkan kritik negatif di mana-mana, bahkan kebanjiran boo dari penonton. Tak mau kalah, PH indie AI Film dan Lava Bear Films mencoba sekali lagi mengangkat fenomena Hutan Aokigahara dengan kemasan yang lebih komersial. Tak ada nama populer di bangku sutradara dan penulis naskah. Bahkan The Forest ini menjadi debut layar lebar buat sutradara Jason Zada. Selain premise, daya tariknya hanyalah Natalie Dormer yang kita kenal lewat serial Game of Thrones.

Sara Price nekad terbang ke Jepang demi mencari saudari kembarnya, Jess, yang bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di Jepang. Jess dikabarkan hilang ketika perjalanan karya wisata di Gunung Fuji. Murid-muridnya menduga Jess masuk ke dalam Hutan Aokigahara. Konon, hutan ini punya kekuatan magis untuk membuat siapapun yang masuk ke dalamnya merasa sedih, depresi, dan ujung-ujungnya ingin mengakhiri hidup. Hutan ini juga dikenal menjadi lokasi favorit orang-orang yang ingin bunuh diri. Merasa punya insting yang kuat bahwa Jess masih hidup, Sara bertekad masuk ke hutan itu meski semua orang menghalang-halanginya. Untung ada Aiden, penulis artikel wisata untuk majalah Australia, yang bersedia menemani Sara, tentu saja dengan imbalan cerita menarik untuk diangkat di majalahnya. Turut memandu mereka, Michi, seorang volunteer yang tugasnya berpatroli di hutan untuk mencegah orang-orang yang ingin bunuh diri sekaligus mengevakuasi jenazah korban-korban Hutan Aokigahara. Tak hanya depresif, hutan ini ternyata juga suka menipu daya korban-korbannya dengan halusinasi. Jelas Sara jadi ‘korban yang sempurna’ bagi Hutan Aokigahara.

Formulaic, tapi sebenarnya saya menyukai premise The Forest. Begitu juga bagaimana ia menggerakkan cerita, menampilkan tipu daya halusinasi yang membuat penonton menerka-nerka antara nyata atau tidak, bahkan twist yang meski, lagi-lagi formulaic, menarik. Bahkan sejak awal saya terus penasaran seperti apa pengalaman di dalam hutan, pun juga penasaran dengan nasib Sara maupun Jess. Sayangnya, ketika divisualisasikan dalam medium film di layar, The Forest terasa begitu hambar sebagai sebuah sajian horor. Nuansa J-horror-nya sebenarnya cukup mendukung, terutama dalam menghadirkan mood misterius. Namun tidak bisa dipungkiri, Jason Zada belum punya sense scary telling yang cukup kuat dan scary timing yang pas untuk sekedar menghadirkan pop-corn horror yang berhasil menakuti (atau mengageti) penonton lewat jumpscare sekalipun. Kesemuanya gagal mengikat emosi penonton, malah mungkin banyak yang merasa kelelahan mengikuti adegan-adegan The Forest yang sebenarnya dimaksudkan untuk membangun suasana tegang.

Blend antara plot utama dengan masa lalu Sara-Jess pun terkesan kurang bisa menyatu dengan baik. Di saat penonton dibuat penasaran karena porsinya yang cukup sering dibahas dan sebenarnya menarik untuk diikuti, ternyata hanya ditampilkan begitu saja, tanpa perkembangan lebih lanjut, terutama mengenai kaitannya dengan plot utama.

Natalie Dormer jelas menjadi satu-satunya tombak utama untuk menarik perhatian penonton. Selain reputasinya yang paling dikenal, karakter yang ia mainkan pun dibuat begitu mendominasi. Untungnya, Natalie juga memberikan performa yang cukup kuat sebagai Sara, sekaligus juga sebagai Jess di penghujung film. Sekuat performance Naomi Watts di US-remake The Ring. Taylor Kinney pun mampu menyeimbangkan dominasi Natalie lewat karakternya, Aiden. Pesonanya mungkin tak sekuat ketika ia bermain di The Other Woman, tapi sebagai pendamping lead utama, he’s doing pretty good. Notable performance lainnya adalah debut Yukiyoshi Ozawa di film Hollywood, setelah selama ini kita kenal sebagai Ito Hirobumi di versi live action Rurouni Kenshin.

Sinematografi Mattias Troelstrup cukup berhasil mengeksplor Hutan Aokigahara dalam menghadirkan kengerian-kengeriannya, termasuk lewat shot-shot panoramic dan macro yang menghadirkan keindahan tersendiri. Tata suara juga mampu mendukung dan membangun suasana magis hutan dengan cukup detail dan memanfaatkan fasilitas surround dengan maksimal. Score Bear McCreary masih tergolong generik di genrenya, namun menyumbangkan satu score unik di credit. Penggabungan chant Jepang tradisional dengan loop techno dan rock, menghasilkan musik yang unik sekaligus cukup mengerikan.


Melihat kru utama di belakangnya, hasil akhir The Forest sebenarnya masih bisa dipahami. Punya potensi cerita yang sangat menarik dan dikembangkan dengan baik pula. Sayang eksekusinya masih jauh dari kesan menarik sebagai sajian horor ringan sekalipun. Lebih banyak pengalaman mungkin bisa semakin mengasah sense horor dari sutradara Jason Zada.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates