Tuesday, January 12, 2016

The Jose Flash Review
The Big Short

Tahun 2007-2008 dunia finansial dan perekonomian Amerika Serikat sempat collapse setelah pasar properti dan penggelembungan kredit menjejak titik terendahnya. Tak banyak yang paham bagaimana ini bisa terjadi, apalagi dampaknya ternyata tak hanya di Amerika Serikat, tapi juga perekonomian di beberapa negara Eropa lainnya. Penulis Michael Lewis (Moneyball) sempat mengangkatnya dalam sebuah buku yang dirilis tahun 2010.  Tahun 2015 ini penulis naskah/sutradara komedi yang selama ini kita kenal lewat kolaborasinya bareng Will Farrell, Tim McKay mengangkat buku Lewis itu ke dalam sebuah film berjudul sama, The Big Short (TBS). Konon, McKay harus setuju menggarap sekuel Anchorman berikutnya demi disetujuinya proyek ini oleh Paramount. Maklum, film bertemakan bidang profesi spesifik seperti ini memang tak banyak mendatangkan keuntungan. Selain hanya dipahami penonton segmen-segmen tertentu, tak banyak pula penonton yang meminati dunia finansial yang penuh istilah khusus dan terkenal ribet macam ini. Lihat saja Wall Street atau Margin Call.  Perlu treatment khusus, seperti sudut pandang penceritaan yang berbeda, yang bisa dipahami lebih penonton dengan range lebih luas, seperti The Wolf of Wallstreet, daripada sekedar menceritakan dunianya secara spesifik. McKay pun menggandeng nama-nama populer dan punya reputasi award winning untuk meramaikan: Mulai Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling, sampai Brad Pitt. Melihat topiknya yang punya dampak luar biasa terutama bagi warga Amerika Serikat, TBS punya chance untuk mengundang lebih banyak penonton.

Tahun 2005, Michael Burry, seorang manager keuangan nyentrik di sebuah perusahaan meneliti data dan mendapati bahwa pasar properti di Amerika Serikat ternyata tidak sekokoh yang diprediksi selama ini. Ini berdasarkan data pinjaman beresiko yang cukup tinggi dengan pengembalian yang rendah. Belum lagi beberapa pihak yang mengambil keuntungan pribadi dari keadaan ini. Burry menciptakan pasar credit default swap (CDS) dan menawarkannya pada bank-bank besar. Intinya, Burry bertaruh dengan para bank bahwa kredit properti akan collapse. Karena selama ini pasar properti dianggap yang paling kokoh, bank-bank besar menerima proposal Burry dengan senang hati. Seorang trader dari Deutsche Bank DE Jared Vennett membaca kecenderungan yang sama dan memanfaatkannya untuk ikut menjual CDS. Salah satu calon partner terkuat adalah Mark Baum, seorang manajer keuangan yang sudah muak dengan bisnis finansial, yang ia kenal secara tak sengaja lewat telepon salah sambung. Baum pun menyelidiki kemungkinan ini mulai stripper sampai Forum Sekuritas Amerika di Las Vegas. Hasilnya, Baum mendapati sebuah horor perekonomian negara yang lebih menyeramkan ketimbang sekedar pasar properti yang kolaps. So, he’s on the CDS deal, too.

Terakhir, Charlie Geller dan Jamie Shipley, sepasang partner investor muda dengan payung Brownfield Funds yang selalu ditolak oleh bank, tak sengaja menemukan proposal Vennett dan memutuskan untuk membuat proposal serupa.  Untuk mendapatkan kepercayaaan dari bank, keduanya memanfaatkan kerabat lama mereka yang mantan bankir, Ben Rickert. Paska Forum Sekuritas Amerika di Las Vegas, ketiganya sukses deal dengan banyak pihak. Charlie-Jamie bersorak, sementara Ben semakin muak dengan dunia finansial yang penuh dengan orang-orang pencari keuntungan semata di atas bencana besar perekonomian Amerika.

Jujur, saya termasuk orang yang agak apatis dengan perekonomian, jadi wajar jika saya benar-benar awam tentang dunia perbankan, finansial, saham, dan sekitarnya. Sebelum menonton TBS, saya membekali diri dengan riset kecil-kecilan tentang krisis ekonomi Amerika Serikat tahun 2008-2009, setidaknya seputar kronologisnya secara garis besar (seorang teman merekomendasikan video ilustrasi ini sebagai referensi). Ketika menyaksikan filmnya, ternyata riset saya cukup berguna. Meski pada akhirnya TBS memang memberikan penjelasan yang cukup detail tentang istilah-istilah dasar yang berakaitan dengan kasus, seperti mortgage bond (surat hutang gabungan), sub-prime, CDS, CDO (Collateralized Debt Obligations atau obligasi hutang terjamin), persetujuan ISDA, dan CDO sintetis. Uniknya, McKay menggandeng nama-nama populer untuk menjelaskan istilah-istilah ini, seperti Selena Gomez, Chef Anthony Bourdain, Margot Robbie, dan Bapak Perilaku Ekonomi, Richard H. Thaler. Di awal, kita diperkenalkan oleh karakter-karakter pentingnya, awal kejadiannya dengan satire yang gokil dan menggelitik. Bahkan tak jarang karakter-karakter sentral ini berdialog langsung ke penonton untuk mengungkapkan kata hati mereka. I have to admit, metode McKay menjelaskan lewat visual yang menggelitik dan menggigit seperti ini membuat tampilan TBS tidak seserius dan semembingungkan film-film tentang finansial lainnya.

Even more, McKay tak hanya menjadikan kronologis kejadian sebagai penggerak cerita, tapi juga dampak psikologis bagi karakter-karakter utamanya, terutama Mark Baum dan Ben Rickert. Mereka memang ikut ambil keuntungan dari kolapsnya perekonomian, tapi mereka digambarkan punya dilemma moral yang jijik dengan langkah mereka sendiri. So meski sekalipun Anda mungkin tidak sepenuhnya memahami tiap detail kejadian, setidaknya Anda masih bisa membayangkan betapa mengerikannya horor ekonomi sebagai dampak dari perilaku-perilaku beresiko tinggi ini. In the end, tentu kita bisa belajar dari kejadian-kejadian yang digambarkan di TBS.

Jajaran cast kelas A di garda depan terbukti bukan pilihan yang sia-sia. Kesemuanya mampu memberikan performa maksimal sekaligus menjadi daya tarik penonton. Christian Bale yang nyentrik tapi jenius, sedikit mengingatkan saya akan perannya di American Psycho, tentu saja tanpa jiwa yang sadis. Steve Carell yang terlihat paling emosional terkesan paling menonjol. Terkesan sedikit overacting, tapi mungkin saja karakternya disengaja seperti itu. Toh dia berhasil menjadi penggerak emosi utama bagi film. Ryan Gosling diberi porsi karakter yang relatif lebih sedikit dibanding yang lain, sehingga penampilannya yang kalem terkesan ‘kalah’. Brad Pitt yang karakternya juga tak punya banyak porsi, justru tampil lebih mencuri perhatian berkat karakternya yang unik dan misterius, selain kharisma Pitt yang memang tak sedikit pun pudar. John Magaro dan Finn Wittrock  sebagai pasangan partner investor muda Charlie dan Jamie, juga berhasil menghidupkan karakter masing-masing meski masih belum berhasil mencuri perhatian maupun simpati penonton.

Keunikan editing yang dilakukan Hank Corwin (Natural Born Killers dan The Tree of Life) menjadi salah satu kelebihan yang menonjol dari TBS dalam menyampaikan ceritanya. Corwin yang memang berpengalaman dan piawai dalam menyusun montase-montase gambar ke dalam shot-shot utama berhasil menjadi penggerak cerita sekaligus emosi dari TBS. Pemilihan lagu-lagu populer sesuai setting waktu dan kebutuhan emosi adegan, seperti Money Maker dari Ludacris, Burning Up dari Ladytron, Lithium dari The Polyphonic Spree,  Master of Puppets dari Metallica, Milkshake dari Kelis, Feel Good Inc. dari Gorillaz, You Know What dari N.E.R.D., Sweet Child O’ Mine dari Guns N’ Roses, sampai When I Grow Up dari Pussycat Dolls, juga patut diacungi jempol. Nuansa film pun tetap terjaga gokil dan fresh, meski di saat keadaan semakin kelam.

Yes, TBS memang masih jadi tontonan yang segmented, terutama bagi penonton Indonesia yang tak terlalu familiar dengan kasus sebenarnya. Namun jika Anda punya ketertarikan pada materinya, sekalipun tergolong awam dengan kasus maupun dunianya, TBS adalah pilihan yang tepat. Kepiawaian McKay menangani komedi masih terasa begitu kuat meski hanya sebagai kemasan luar yang membungkus topik berat dengan begitu menarik dan menggelitik. Setidaknya tidak seperti film tentang dunia finansial lain yang memang terkesan berat, TBS masih bisa dicerna dan dinikmati penonton awam sekalipun, tentu saja dengan sedikit bekal pengetahuan eksternal. Atau setidaknya setelah menonton, Anda mungkin jadi tertarik untuk mempelajari kasus ini lebih dalam lagi.

Lihat data film ini di IMDb

The 88th Annual Academy Awards Nominees for:


  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Christian Bale
  • Best Achievement in Directing - Adam McKay
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published - Charles Randolph & Adam McKay
  • Best Achievement in Editing - Hank Corwin
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates