Tuesday, January 5, 2016

The Jose Flash Review
Alvin and the Chipmunks: Road Chip

Entah dari mana ide yang didapat oleh Ross Bagdasaria, Sr. ketika pertama kali menciptakan karakter musik yang terdiri dari tiga ekor chipmunk. Ciri khasnya teknik suara yang di-pitch up untuk menghasilkan suara khas chipmunk. Berawal dari proyek musik, Alvin and the Chipmunks yang awalnya hanya bernama The Chipmunks berkembang jadi komoditas franchise. Mulai komik, serial animasi, bahkan film layar lebar. Bahkan teknis suara pitch-up lebih dikenal sebagai chipmunk-voiced. So like it or not, Alvin and the Chipmunk (AatC) punya andil yang cukup penting dalam budaya populer dunia. Terbukti meski lahir sejak tahun 1958 dan di-bash habis-habisan oleh para kritik ketika versi layar lebarnya dirilis tahun 2007,  antusiasme penonton luar biasa, baik anak-anak yang menjadi target audience utama (padahal generasi yang sangat berbeda ketimbang ketika pertama kali keluar atau ketika masih populer) maupun orang tua yang pernah tumbuh di era popularitas puncak Alvin, Simon, dan Theodore. Ini terbukti bahwa penonton tak peduli dengan kritik yang terkesan terlalu serius dan jauh dari paham akan kebutuhan anak-anak untuk sekedar bersenang-senang, serta kebutuhan tiap orang untuk dihibur dengan sajian ringan dan menyenangkan adalah universal, tidak memandang usia maupun generasi. Terbukti AatC sukses mengumpulkan US$ 361 juta di seluruh dunia, dengan budget ‘hanya’ US$ 60 juta saja. Dua sekuelnya dengan sub-judul The Squeakquel dan Chipwrecked juga sukses mengumpulkan keuntungan berlipat-lipat dari budget-nya. Maka persetan dengan komentar kritik, selama fans masih ‘membutuhkan’ hiburan ringan yang menghibur, Alvin dkk. masih bisa terus menjual, dan akan terus dibuatkan installment-nya.

Setelah merintis karir sebagai group musik profesional, survival dari kejaran bos musik ambisius, Ian, mempertahankan popularitas setelah kemunculan rival The Chipettes,  dan bertualang di pulau terpencil, kali ini para chipmunks menghadapi fase baru dalam kehidupan mereka yang sebenarnya sudah menginjak remaja: Dave Seville memperkenalkan seorang wanita yang naga-naganya bakal menjadi pasangan tetap Dave, Samantha. Sam adalah wanita yang baik-baik saja sampai ia memperkenalkan putra tunggalnya, Miles. Diam-diam Miles suka membully Alvin, Simon, dan Theodore. Keempatnya akhirnya saling menemukan dan memutuskan misi yang sama: membuat hubungan Dave-Samantha tak berhasil. Ini berdasarkan ketakutan masing-masing akan diabaikan jika Dave-Samantha bersatu. Maka ketika Dave-Samantha terbang ke Miami untuk sekalian mengurus konser artis terbaru Dave, Ashley, sementara Miles dan para chipmunk ditinggal di rumah, mereka memutuskan untuk menyusul Dave-Samantha. Seiring dengan kekacauan-kekacauan sepanjang perjalanan yang biasa disebabkan oleh para chipmunk, kedekatan pun mulai terjalin antara Miles dan para chipmunk.

Dari plot demikian, Alvin and the Chipmunks: Road Chip (RC) tampak ingin mengambalikan  konflik bertemakan keluarga sebagai porsi utama. Tidak lagi menjadi sub-plot di antara plot utama tentang karir bermusik atau Hollywood life. This is a good one I should appreciate from RC. Generik dan klise sih untuk genre keluarga, tapi come on. You don’t really need a unique story in this genre, as long as you can feel the warmth, it’s a good one. Randi Mayem Singer dan Adam Sztykiel selaku penulis naskah berhasil memasukkan plot generik tentang ketakutan akan anggota keluarga yang ditinggalkan ini ke dalam template khas AatC dengan cukup rapi, setup-setup yang masuk akal dan menarik, alur turnover yang convincing, fun, chipmunk way, dan yang pasti membuat penonton merasakan kehangatan hati besarnya. Oh ya, mereka tak melupakan sub-plot kejar-kejaran dengan karakter antagonis yang kali ini diemban oleh polisi udara, Agen Suggs, yang jelas-jelas mengingatkan kita akan karakter Ian yang menjengkelkan tapi berhasil jadi ‘tumbal’ dari kejadian-kejadian konyol akibat ulah Alvin, Simon, dan Theodore. Terkesan menyebalkan? Namanya juga karakter villain, di film anak-anak pula. Delusional kalau Anda mengharapkan karakter penjahat yang kharismatik seperti Joker. Kehadirannya bukan untuk menjadi karakter favorit, tapi memang untuk memancing tawa. So set your views right about this. Bahkan dari jaman film selegendaris Home Alone sekalipun, karakter penjahatnya sudah dibuat menyebalkan.

Kembali ke topik sub-plot kejar-kejaran, RC masih memberikan porsi yang cukup dan seimbang untuk menjadi objek hiburan di samping topik utamanya yang hangat. Terakhir yang wajib ada di setiap installment Alvin adalah performance musikal yang selalu update. Kali ini tak hanya update, tapi juga menyesuaikan dengan background cerita perjalanan mereka, seperti lagu country South Side ketika berada di bar Atlanta dan Uptown Funk ketika karnaval di New Orleans. Penggunaan musik thematic ini menjadi poin lebih untuk RC di mata saya. Jangan lupakan pula lagu orisinil Home yang menjadi klimaks yang bikin tersenyum dan tersentuh. Manis dan hangat.

Most of the original cast masih menjalankan peran masing-masing dengan kualitas setara seperti installment-installment sebelumnya, seperti Jason Lee sebagai Dave, Justin Long, Matthew Gray Gubler, dan Jesse McCartney sebagai the Chipmunks. Di jajaran cast pendukung sebenarnya tak ada yang benar-benar istimewa. Kembalinya Kimberly Williams-Paisley dari franchise Fathers of the Bride mungkin memberikan sedikit nuansa nostalgic selain karakternya yang cukup mampu mengundang simpati penonton. Bintang muda Josh Green pun mampu sedikit mencuri perhatian berkat fisiknya dan juga perubahan karakter Miles yang dilakoninya dengan manis. Tony Hale sebagai Agen Suggs tak semenjengkelkan karakter Ian tapi tetap mampu menjadi pemancing tawa. Bella Thorne sebagai Ashley mungkin bisa jadi pencuri perhatian bagi penonton muda. Terakhir, cameo beberapa selebriti seperti Redfoo (mantan personel LMFAO) dan Jennifer Coolidge semakin memeriahkan suasana film.

Di divisi teknis, yang patut dibahas adalah penggunaan Weta Digital untuk visual effect, terutama dalam menghidupkan karakter-karakter chipmunk. Ini akibat firma visual effect di film-film sebelumnya, Rhythm & Hues bangkrut tahun 2013 lalu. Hasilnya sedikit terasa lebih halus dan real daripada installment-installment sebelumnya, meski mungkin tidak terlalu disadari oleh penonton. Notable technique lainnya terletak pada tata suara yang menghadirkan detail suara mengagumkan. Crisp, natural, bass mantap, dan fasilitas surround yang terdengar dimanfaatkan maksimal. Keseimbangan antara dialog, sound effect, dan dialog pun ditata dengan sangat baik.

Di mata penonton modern (terutama penonton dewasa yang terlalu (atau sok?) kritis terhadap tontonan anak-anak), AatC mungkin masih menjadi tontonan tak berisi yang menjengkelkan karena lagu-lagu populer dengan suara high-pitch dan karakter villainnya. So if you think you’re one of them, mending tak perlu repot-repot untuk nonton, karena Anda sendiri sudah tahu bagaimana akan bereaksi nanti. It's not for you in your personal appetite and that's okay. Don't force yourself or you will harm the movie. Tapi bagi Anda yang sudah terlanjur mencintai the chipmunks dari dulu, haus akan pure entertainment anak-anak dan keluarga yang ringan, meriah, dan menghibur, RC adalah pilihan tontonan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan plot yang lebih ‘berbobot’ dan relevan untuk ditonton seluruh keluarga, saya berani mengklaim RC sebagai salah satu installment terbaik dari versi layar lebar era 2000-an, so far.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates