It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Saturday, December 31, 2016

The Jose Flash Review
Why Him?

Perseteruan antara calon mertua dan calon menantu ternyata tak hanya menarik pada kebudayaan Timur saja, tapi juga di Barat. Masih terpatri jelas dalam ingatan saya komedi romantis (atau lebih tepatnya komedi keluarga) tentang mertua vs menantu, Meet the Parents yang dilanjutkan sekuelnya, Meet the Fockers dan Little Fockers. Salah satu penulis naskah di balik ketiga seri tersebut, John Hamburg, bersama Ian Helfer (The Oranges) kemudian kembali menyusun naskah bertema serupa dengan modifikasi-modifikasi yang lebih ‘menyesuaikan jaman’ dan treatment yang lebih ‘nakal’. Shawn Levy dan Ben Stiller pun tertarik memproduseri, sementara aktor James Franco dan Bryan Cranston dari serial Breaking Bad, terpilih untuk mengisi peran lini utama. Sementara di lini pendukung, ada Cedric the Entertainer, Zoey Deutch (Beautiful Creatures dan Dirty Grandpa), Megan Mullally dari serial Will & Grace, dan Keegan-Michael Key dari serial MADtv. Yang tak kalah penting, film bertajuk Why Him? (WH) ini diset sebagai film Natal, yang eksistensinya sudah semakin jarang.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Girl on the Train

Misteri pembunuhan adalah salah satu genre novel yang paling digemari. Lewat teks, pembaca bisa berimajinasi setinggi dan seluas-luasnya, pun penulis juga bisa memberikan deskripsi serta detail yang luar biasa dalam mengajak pembacanya ‘bermain-main’. Tak sedikit juga novel misteri pembunuhan best seller yang diangkat ke layar lebar. Di era 2010-an, novel The Girl on the Train (TGotT) karya debut Paula Hawkins sukses menduduki posisi pertama di daftar The New York Times Fiction Best Sellers tahun 2015 selama 13 minggu berturut-turut, dan akhirnya dinobatkan sebagai novel dewasa dengan penjualan tercepat sepanjang sejarah. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai the next Gone Girl, novel misteri psikologis yang sama-sama menggunakan narator yang tak bisa dipercaya, karya Gillian Flynn yang sudah lebih dulu difilmkan oleh David Fincher tahun 2014 lalu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Railroad Tigers
[铁道飞虎]

Bagi banyak aktor, usia mungkin menjadi kendala yang membuat karir jadi meredup, apalagi di genre action. Namun beberapa aktor membuktikan bahwa tidak semuanya mengalami hal serupa. Jackie Chan adalah salah satu figur aktor Asia yang layak untuk mewakilinya. Setelah sukses di Hollywood, Chan terus mengekspansi reputasinya di perfilman internasional lewat PH yang didirikannya, Sparkle Roll Media. Setelah tahun 2015 lalu memproduksi film Mandarin dengan budget tertinggi sepanjang masa, Dragon Blade (konon mencapai US$ 65 juta dan menghasilkan hingga lebih dari US$ 123 juta di seluruh dunia), akhir tahun 2016 ini ia merilis Railroad Tigers (RT) yang tak kalah ambisius-nya. Bahkan di tahun 2017 ini, Chan sudah mempersiapkan perilisan 5 film sekaligus, termasuk 3 di antaranya diproduksi di bawah Sparkle Roll Media, yaitu Kung-Fu Yoga, Viy 2 (Journey to China: Mystery of Iron Mask), dan Bleeding Steel. Chan kembali menggandeng Ding Sheng sebagai sutradara, penulis naskah (bersama He Keke), sekaligus editor, setelah berkolaborasi di Little Big Soldier (2010) dan Police Story: Lockdown (2013). Di lini aktor, ada personel EXO, Huang Zitao, Hiroyuki Ikeuchi (Ip Man), Zhang Lanxin (Chinese Zodiac, Skiptrace), bintang Taiwan, Darren Wang, Wang Kai, Zhang Yishang, dan bahkan putra kandung Chan sendiri yang beberapa bulan lalu pernah tersandung kasus narkoba, Jaycee Lee.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Eloise

Film horor yang berdasarkan kisah nyata dan melakukan syuting di lokasi asli kejadian sudah bukan formula baru di genrenya. Bahkan sempat jadi trend. Namun seiring dengan perkembangan jaman, sekedar ‘based on true story’ dan ‘shot on real location’ tak cukup untuk mengundang rasa penasaran penonton untuk menyaksikan filmnya. Salah satu upaya demikian coba dilakukan sekali lagi oleh Buy Here Pay Here Entertainment, SLAM, dan Palm Drive lewat Eloise. Bukan, ini bukan berasal dari cergam anak buah tangan Kay Thompson dan Hilary Knight. Ini adalah sebuah horor fiktif yang menggunakan popularitas sebuah rumah sakit jiwa terbesar di Amerika Serikat, Eloise Insane Asylum (EIA). Sayang, rumah sakit jiwa yang berdiri sejak 1832 di Westland, Michigan, dan saking besarnya sampai punya kode pos sendiri, dengan fasilitas meliputi toko roti, bar, kantor pos, serta gedung pemadam kebakaran sendiri ini sekarang sudah terbengkalai dan ludes terbakar. Hanya tersisa gedung utamanya saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, December 29, 2016

The Jose Flash Review
Cek Toko Sebelah

Sebagai bangsa yang kaya akan etnis dan budaya, Indonesia seharusnya kaya pula akan ide cerita untuk diangkat ke medium film. Sayang, sampai saat ini tak banyak yang berani mengangkatnya. Lebih tepat lagi, belum menemukan formula kemasan yang pas sehingga tetap menarik untuk dibahas, tidak hanya sekedar display kebudayaan dengan plot cliche, kedalaman ala sinetron, atau cenderung depresif. Salah satu yang berani dan punya style tersendiri untuk menyampaikannya adalah Ernest Prakasa. Identitasnya sebagai etnis Cina (Yes. Sorry SBY, menurut saya penggunaan istilah ‘Tionghoa/Tiongkok’ untuk menggantikan ‘Cina’ sebagai solusi diskriminasi adalah menggelikan. Seluruh dunia menggunakan kata ‘Cina’ dan tak ada yang terkesan ofensif) dan profesinya sebagai komika membuatnya mampu ‘mengawinkan’ kedua elemen ini jadi kemasan yang menghibur sekaligus berbobot. Sementara ada komika yang ‘terjebak’ dengan image materinya hingga terus-terusan mendaur ulang tema yang itu-itu saja, Ernest memang masih menggunakan tema yang serupa (yaitu tentang “life as an Indonesian-Chinese”), tapi membidik topik yang berbeda dan tak kalah menarik sekaligus krusial untuk dibahas karena bisa jadi relevan secara universal. Jika tahun lalu Ngenest adalah sebuah self-discovery, maka Cek Toko Sebelah (CTS) yang diusungnya tahun ini adalah sebuah potret kondisi sosial, terutama tipikal keluarga etnis Cina di Indonesia. Ernest masih dibantu oleh Jenny Jusuf (Filosofi Kopi) dan sang istri, Meira Anastasia, untuk menyusun naskahnya, serta memboyong lusinan komika dan aktor-aktris populer tanah air untuk meramaikan karya terbarunya ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Earthquake
[Zemletryasenie / երկրաշարժ]

Kita di Indonesia termasuk beruntung memiliki distributor-distributor film yang mengimpor beragam film dari berbagai negara. Salah satu yang patut diapresiasi adalah Moxienotion yang beberapa tahun terakhir mengimpor film-film asing yang berkompetisi untuk kategori Best Foreign Language Film di Academy Awards. Setelah tahun lalu membawa The Wave (Bølgen) dari Norwegia dan Under the Shadow (UK) beberapa bulan lalu, film internasional ketiga yang diimpor adalah Zemletryasenie (atau judul internasionalnya, Earthquake). Film ko-produksi Armenia-Rusia yang dipilih mewakili Armenia di kategori prestisius tersebut untuk kelima kalinya setelah terakhir 2012 silam. Sayang Earthquake didiskualifikasi karena komposisi cast and crew yang dianggap lebih banyak berasal dari Rusia ketimbang Armenia sendiri. Nevertheless, ini adalah kesempatan yang langka untuk bisa menyaksikan sinema Armenia di tanah air. Apalagi film ini bukanlah proyek main-main. Berdasarkan bencana gempa bumi besar yang menimpa Armenia tahun 1988, Earthquake ditangani sutradara muda Armenia yang sukses secara komersial di Rusia seperti lewat The Pregnant (2011), Moms (2012), dan That was the Men’s World (2013), Sarik Andreasyan. Naskahnya disusun oleh tim Sergey Yudakov (The Ghost dan upcoming, Furious), Aleksey Gravitskiy, Arsen Danielyan, dan Grant Barsegyan. Sekedar informasi, The Earthquake yang ditayangkan di Indonesia sudah di-dub ke dalam bahasa Rusia dari bahasa aslinya, Armenia. Bagi saya yang awam terhadap kedua bahasa tersebut, tak menjadi masalah sama sekali.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 27, 2016

The Jose Flash Review
Passengers

Memadukan sci-fi dengan filosofi sejatinya sudah sejak lama dilakukan. Keduanya memang menjadi pasangan yang klop untuk dikawinkan karena sejatinya sci-fi dengan berbagai kisah di dalamnya tak lepas dari filosofi-filosofi kehidupan manusia, apapun aspeknya. Passengers yang naskahnya sudah ditulis oleh Jon Spaihts (The Darkest Hour, Prometheus, Doctor Strange, dan upcoming, reboot The Mummy) sejak 2007 lalu dan sempat masuk dalam daftar Blacklist (daftar naskah yang paling disukai tapi belum direalisasikan ke dalam bentuk film). Namun penggarapannya tak begitu mulus, mulai pergantian studio dari Weinstein Company dengan budget tak lebih dari US$ 35 juta ke Sony Pictures yang akhirnya memberikan lampu hijau dengan budget US$ 110 juta, pergantian sutradara dari Brian Kirk (serial Game of Thrones dan The Tudors) ke sutradara asal Norwegia, Morten Tyldum (Headhunters, The Imitation Game), sampai pemilihan cast yang awalnya dipilih Keanu Reeves dan Rachel McAdams, Reese Witherspoon, sampai Emily Blunt, sebelum akhirnya dipilih Chris Pratt dan Jennifer Lawrence sebagai keputusan akhir. Disusul Michael Sheen, Laurence Fishburne, dan Andy Garcia. Kabar honor Lawrence yang mencapai US$ 20 juta ditambah 30% dari profit final, sementara Pratt ‘hanya’ dibayar US$ 12 juta, mewarnai menjelang perilisan filmnya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Assassin's Creed

Kendati film adaptasi dari video game sudah sejak lama mendapatkan stigma negatif dan seringkali flop di pasaran, upaya untuk mengambilnya sebagai materi layar lebar selalu dilakukan dengan harapan bisa lebih baik atau setidaknya masih mampu meng-grab pemain game-nya yang jumlahnya tak bisa dianggap remeh. Syukur-syukur bisa sekaligus mengubah stigma tersebut. Namun tentu ini bukan upaya yang mudah untuk dilakukan. Upaya terbaru dilakukan Ubisoft dengan franchise terbesar mereka, Assassin’s Creed (AC), yang pertama kali dirilis tahun 2007 dan sudah ada sembilan judul game utama serta beberapa judul pendukung. Tak tanggung-tanggung, Ubisoft sampai membuka divisi sendiri atas nama Ubisoft Motion Pictures dengan menjadikan adaptasi AC sebagai proyek pertama mereka. Awalnya sempat menggandeng Sony Pictures di tahun 2011, tapi negosiasi yang panjang dan keinginan kontrol kreativitas yang lebih besar membuat mereka akhirnya memutuskan untuk memproduksi sendiri. New Regency, RatPac Entertainment, dan Alpha Pictures kemudian turut bergabung, dengan 20th Century Fox sebagai distributor internasional.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 26, 2016

The Jose Flash Review
Dangal
[दंगल]

Baru Lebaran tahun ini kita disapa oleh film Hindi bertemakan gulat dari Salman Khan, Sultan, yang kualitasnya sangat baik, akhir tahun ini giliran Aamir Khan yang unjuk gigi di tema yang serupa. Sebagai salah satu aktor papan atas Bollywood, tiap penampilannya tak pernah main-main. Setelah terakhir memikat publik dunia lewat PK tahun 2014 lalu, baru tahun 2016 ini ia bermain di Dangal, sebuah drama berlatar belakang olahraga gulat yang diangkat dari kisah nyata sosok pegulat Mahavir Singh Phogat dan putrinya yang menjadi wanita India pertama yang memenangkan medali emas di Commonwealth Games 2010, Geeta Phogat. Proyek ini sebenarnya sudah tercetus sejak 2012 silam oleh tim kreatif Disney yang kemudian menggandeng Nitesh Tiwari (Chillar Party, Bhoothnath Returns) untuk menyusun naskah sekaligus menyutradarainya. Khan lantas setuju untuk ikut memproduksi dan bermain sebagai lead actor dengan effort yang tak ringan demi perannya ini. Mulai naik-turun berat badan sampai latihan gulat betulan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 25, 2016

The Jose Flash Review
Hangout

Baru Lebaran lalu Raditya Dika mencetak sukses Koala Kumal yang berhasil menggaet 1.8 juta penonton lebih, di akhir tahun ini ia mencoba peruntungan di genre serta konsep yang jauh berbeda dari biasanya. Jika image-nya selama ini sudah tertanam kuat komedi olok-olok diri karena status jomblo, kali ini ia ‘bermain-main’ menggabungkan komedi absurd khas-nya dengan thriller misteri a la Agatha Christie (terutama Ten Little Niggers atau kemudian juga dikenal sebagai And Then There Were None – 1939 – yang sudah beberapa kali diadaptasi ke berbagai medium, termasuk layar lebar). Tak hanya itu, nama-nama populer tanah air, mulai Soleh Solihun, Bayu Skak, Titi Kamal, Surya Saputra, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, sampai Mathias muchus, digandeng untuk meramaikan sekaligus mengundang penonton sebanyak-banyaknya. Sejak trailer pertama dirilis, film bertajuk Hangout ini sudah mengundang rasa penasaran akan seperti apa racikan komedi-thriller a la Raditya Dika. Menariknya lagi, Hangout dirilis hanya enam hari sebelum film yang digarap oleh komika terkemuka tanah air lainnya, Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah dirilis. Maka akhir tahun ini bisa menjadi ajang battle yang seru dari dua komika populer tanah air yang sudah tak perlu diragukan lagi kekuatan masing-masing fanbase-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 19, 2016

The Jose Flash Review
My Annoying Brother
[Hyeong/형]

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sinema Korea Selatan memang piawai dalam menggarap drama (atau mix-genre apapun) yang begitu emosional hingga sukses membuat penonton ter-bebal sekalipun berkaca-kaca. Tak diabaikan pula karakterisasi yang kuat dalam mendukung momen-momen emosionalnya. Selain meng-eksplorasi emosi lewat hubungan pasangan maupun orang tua-anak, ada satu materi yang pernah sesekali diangkat tapi tergolong jarang, yaitu hubungan antar-saudara (baca: brotherhood). CJ Entertainment selaku distributor film-film Korea Selatan terbesar untuk peredaran internasional tahun ini menawarkan materi tersebut lewat My Annoying Brother (/Hyeong - MAB). Dari salah satu penulis naskah (terutama untuk part-part dramatisasi-nya) Miracle in Cell No. 7 (2013), Young-A Yoo, dan sutradara Soo-Kyung Kwon (Barefoot Kibong – 2006), MAB menggandeng aktor Jung-suk Jo (Architecture 101, Time Renegade), personel boyband EXO-K, Kyung-soo Do alias D.O., serta aktris cantik, Shin-hye Park yang sempat kita lihat sebagai Ye-seung dewasa di Miracle in Cell No. 7. Pencapaiannya di pasar domestik termasuk sukses setelah berhasil mengumpulkan satu juta penonton dalam empat hari pertama perilisannya (sampai tulisan ini diturunkan sudah mencapai tiga juta penonton). Fans sinema Korea Selatan di Indonesia boleh bersorak karena Jive Movies membawa MAB untuk diputar di bioskop-bioskop Indonesia mulai 21 Desember 2016.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 16, 2016

The Jose Flash Review
Collateral Beauty

Keringnya film-film Natal beberapa tahun terakhir agaknya akan sedikit berbeda tahun ini. Setidaknya Village Roadshow Pictures, Overbrook Entertainment, dan Anonymous Content melalui Warner Bros. mencoba menghadirkan film bertemakan Natal dengan jajaran cast yang tak bisa diabaikan begitu saja. Ada Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Peña, Helen Mirren, Naomie Harris, dan Keira Knightley. Either pemenang di berbagai ajang penghargaan bergengsi atau pencetak box office hit, bukan? Meski punya elemen magical fantasy, film bertajuk Collateral Beauty (CB) ini mengulik sisi melankoli manusia, terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup yang tak terelakkan. Penulis naskah Allan Loeb (21, Wall Street: Money Never Sleeps, Just Go with It, Rock of Ages) pernah ber-statement bahwa naskah aslinya ini merupakan hasil meditasi dari perasaan seseorang dengan perasaan kehilangan mendalam yang terus-terusan mengganggu pikirannya. Pilihan David Frankel (The Devil Wears Prada, Marley & Me, The Big Year, Hope Springs) yang lebih dikenal lewat film-film dengan bumbu humor, justru menjadi daya tarik lebih, selain premise-nya sendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 14, 2016

The Jose Flash Review
The Professionals

Tahun 2016 ini MNC Pictures semakin terlihat gencar memproduksi film layar lebar. Setelah Surat Cinta untuk Kartini, 1 Cinta di Bira, dan Me vs Mami, kini giliran The Professionals (TP) yang ditangani langsung oleh eksekutif produser Affandi Abdul Rachman. Ini menandai come back Affandi di bangku sutradara setelah terakhir Negeri 5 Menara 2012 silam. Menariknya, TP ini berani mengusung tema yang termasuk sangat jarang (atau malah belum pernah sama sekali?) diangkat di ranah film Indonesia, yaitu heist atau ‘perampokan’. Gambaran umumnya seperti Ocean’s Eleven. Ketika mulai merilis materi-materi promo pun, ia punya ‘look’ yang menjanjikan. Naskahnya dikerjakan oleh Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 1-2, Hi5teria, Dejavu: Ajian Puter Giling, Kampung Zombie, Ghost Diary, dan Sawadikap) bersama Stella Gunawan (Ghost Diary). Sementara jajaran cast populer, mulai Fachri Albar, Arifin Putra, Cornelio Sunny, Imelda Therine, Lukman Sardi, sampai pendatang baru, Richard Kyle, dan Melly Nicole, tentu menambah daya tarik TP.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Rogue One:
A Star Wars Story

Sejak kemunculan pertama kalinya di tahun 1977, franchise Star Wars yang kemudian menjadi franchise terbesar Hollywood, sudah menampakkan kekayaan universe yang berlimpah selain plot utama tentang ‘dinasti’ Skywalker. Tak heran kemudian muncul berbagai spin-off dalam bentuk animasi, novel, graphic novel, game, maupun fanfic yang tak terhitung jumlahnya. Setelah LucasFilm Ltd. dibeli oleh Disney tahun 2012 senilah US$ 4.05 milyar, kesempatan ekspansi serta eksplorasi kisah-kisah Star Wars menjadi lebih besar lagi. Disney tentu tak mau menyia-nyiakan nilai empat milyar dollar Amerika tersebut dengan hanya bertumpu pada ekspansi plot utama yang dimulai dari The Force Awakens (TFA) tahun 2015 lalu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Befikre
[बेफिक्रे]

Jika Anda termasuk rajin mengikuti perkembangan sinema Bollywood, ada kecenderungan trend tema akhir-akhir ini, yaitu proses kedewasaan dalam hubungan asmara. Termasuk di dalamnya, mendefinisikan cinta yang sesungguhnya, yang ‘meant to be as a long-term relationship partner’. Belum lama ini ada Katti Batti dan Ae Dil Hai Mushkil. Uniknya, sinema Bollywood selalu punya treatment berbeda-beda dan unik meski mengusung tema yang itu-itu saja. Sajian terbaru bertema sejenis di penghujung tahun 2016 adalah Befikre (yang arti dalam bahasa Inggris-nya: carefree) yang diproduksi, ditulis, dan disutradarai oleh CEO salah satu studio raksasa India, Yash Raj Films (YRF) sendiri, Aditya Chopra. Ini menandai come back-nya dalam menyutradarai setelah Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995), Mohabbatein (2000), dan Rab Ne Bana Di Jodi (2008). Jarangnya ia duduk langsung di bangku sutradara membuat Befikre jadi sesuatu yang menarik. Menambah daya tariknya, aktor Ranveer Singh (Gunday, Finding Fanny, dan Bajirao Mastani) dipasangkan dengan aktris yang masih tergolong pendatang baru, Vaani Kapoor (Shuddh Desi Romance dan Aaha Kalyanam), serta dipilihlah setting secara keseluruhan di Paris yang notabene adalah kota paling romantis di dunia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Sing

Trend film animasi tahun 2016 ini rupanya jatuh pada fabel dengan karakter-karakter binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Terhitung ada Kung Fu Panda 3, Zootopia, The Angry Birds Movie, dan The Secret Life of Pets. Illumination Entertainment yang pertengahan tahun melepas The Secret Life of Pets, di penghujung tahun ini mencoba menawarkan film animasi Sing. Konsepnya yang musikal dengan memuat lagu-lagu populer lintas jaman sedikit mengingatkan saya akan Trolls yang dirilis belum lama ini. Tak heran jika saya mengira Sing akan menjadi gabungan antara Zootopia dan Trolls pada derajat tertentu. Ide ini berasal dari Garth Jennings (The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, Son of Rambow) yang duduk selaku penulis naskah sekaligus sutradara bersama Christophe Lourdelet yang sudah berpengalaman di balik film-film animasi seperti Balto, A Monster in Paris, The Lorax, Arthur Christmas, The Pirates! Band of Misfits, Despicable Me 2, dan Minions. Selebriti-selebriti yang digandeng untuk menyumbangkan suaranya pun tak tanggung-tanggung. Mulai Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Taron Egerton, sampai Jennifer Saunders dan Jennifer Hudson. Dengan track record film-film animasi Illumination yang lebih untuk menghibur ketimbang mengedepankan value, saya sudah menyiapkan diri dengan ekspektasi secukupnya sebelum menonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, December 8, 2016

The Jose Flash Review
Your Name
[Kimi no Na Wa / 君の名は。]

Full review posting soon.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 6, 2016

The Jose Flash Review
Equals

Full review posting soon.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 5, 2016

The Jose Flash Review
Bulan Terbelah di Langit Amerika 2

Akhir tahun 2015 lalu, Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTdLA) produksi Maxima Pictures yang berhasil menggaet 900 ribu penonton lebih. Film yang diadaptasi dari novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini merupakan follow up dari film yang juga diangkat dari novel karya mereka sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Tahun 2016 ini, Maxima (dengan bendera yang baru: Max Pictures) menghadirkan sekuel dari BTdLA dengan komposisi cast dan crew utama yang kurang lebih sama. Alim Sudio dan Baskoro Adi pun bergabung bersama Hanum dan Rangga untuk menyusun naskahnya, sementara Rizal Mantovani masih dipercaya sebagai sutradara. Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (BTdLA2) menjadi semakin bikin penasaran dengan isu yang provokatif (sekaligus delusional), ‘apakah benar muslim penemu benua Amerika?’ sebagai materi promonya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Kahaani 2: Durga Rani Singh

Tahun 2012 lalu sinema Hindia mengejutkan publik internasional lewat Kahaani. Film thriller investigasi yang menggabungkan elemen action, petualangan, motherhood, dan mitologi tradisional, sertapunya salah satu twist ending paling brilian ini tak hanya berhasil secara komersial (dengan mengumpulkan US$ 16 juta di seluruh dunia dalam 50 hari) maupun rekoknisi di berbagai ajang penghargaan, tapi juga meningkatkan popularitas banyak pihak. Mulai aktor Nawazuddin Siddiqui sampai kota Kolkata. Tahun 2016 ini sutradara/penulis naskah Sujoy Ghosh kembali menggandeng Vidya Balan untuk sebuah sekuel. Meski sempat tertunda sejak 2013 karena perbedaan visi dengan co-produser yang lain, proyek ini akhirnya tetap jalan. Awalnya pada 2014, Ghosh membuat konsep cerita Kahaani 2 sebagai film yang berdiri sendiri berjudul Durga Rani Singh dengan aktor Irrfan Khan dan Vidya Balan. Sayangnya kedua aktor ini mundur dan Ghosh memutuskan untuk menjadikannya sebagai sekuel dari Kahaani. Ghosh menjadikan sekuel ini bukan sebagai kisah lanjutan yang berhubungan langsung dengan Kahaani pertama, tapi sebagai kisah baru dengan tema dan style penceritaan serupa. Ia ingin membuat Kahaani sebagai sebuah seri dengan cerita yang berbeda-beda seperti kisah detektif Feluda. Kahaani yang artinya ‘cerita’ memungkinkan konsep ini. Aktor populer Arjun Rampal pun didapuk untuk mendampingi Vidya Balan, serta tentu saja menambah daya tariknya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, December 3, 2016

The Jose Flash Review
Headshot

The Raid dan The Raid: Berandal tak hanya menjadi salah satu pembangkit genre action di film Indonesia, tapi juga salah satu tonggak sejarah terpenting sepanjang sejarah film Indonesia. Sejak itu, beberapa film bergenre action mencoba untuk menorehkan prestasi serupa, tapi belum ada yang benar-benar layak menyamai pencapaian tersebut. Maka Mo Brothers; Timo Tjanjanto dan Kimo Stamboel yang kita kenal lewat Rumah Dara (2010) dan Killers (2014), mencoba untuk membuat prestasi yang setara, setidaknya dikenal di peredaran internasional. Bertajuk Headshot, Mo Brothers menggandeng Iko Uwais yang sudah populer bahkan di kancah internasional lewat franchise The Raid, didukung Julie Estelle dan Very Tri Yulisman yang juga sempat muncul di The Raid: Berandal, Chelsea Islan, Zack Lee, dan aktor Singapura yang juga stuntman sekaligus koreografer bela diri, Sunny Pang. Mendapat sambutan hangat di Toronto International Film Festival dan L’estrange Fetival Paris serta sudah dibeli untuk peredaran di berbagai negara, Headshot akhirnya siap menyapa penonton di rumah sendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Cinta Laki-Laki Biasa

Setelah Pesantren Impian di awal tahun dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea di musim libur Lebaran dirilis, tahun ini ada satu lagi novel Asma Nadia yang mendapatkan giliran diadaptasi ke layar lebar, yaitu Cinta Laki-Laki Biasa (CLLB). Kembali bekerja sama dengan ‘the dream team’; penyusun naskah, Alim Sudio (Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, dan Pesantren Impian, dan Jilbab Traveler) dan sutradara Guntur Soeharjanto (Assalamualaikum Beijing dan Jilbab Traveler), kali ini giliran Starvision yang mendapatkan giliran mencoba peruntungan. Deva Mahenra, Velove Vexia, dan Nino Fernandez diletakkan di lini terdepan untuk menarik perhatian penonton, sementara Ira Wibowo, Cok Simbara, Dewi Yull, Dewi Rezer, Fanny Fabriana, Donita, Muhadkly Acho, Agus Kuncoro, Dhini Aminarti, dan Adi Nugroho digandeng untuk ‘meramaikan’.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Underworld: Blood Wars

Underworld bisa jadi sebuah franchise yang menarik untuk dikaji. Hikayat bak Romeo & Juliet di tengah perseteruan antara vampire dan lycan (werewolf) yang melambungkan nama Len Wiseman sebagai sutradara film layar lebar sekaligus menjodohkan dirinya dengan mantan istri, Kate Beckinsale ini akhirnya berkembang menjadi tiada akhir seperti franchise Resident Evil. Sejak installment pertama di tahun 2003, sebenarnya tak pernah benar-benar mencetak angka box office yang mencengangkan, apalagi di peredaran domestik yang cenderung menurun. Hanya pendapatan internasional saja yang setidaknya bisa mendulang lebih banyak pemasukan. Namun dengan budget yang memang tergolong minim untuk genrenya, maka Lakeshore Entertainment selalu tertarik untuk terus menghidupkan franchise ini. Sementara kritik sejak installment pertama lebih banyak yang memberikan impresi negatif. Seiring dengan waktu dan bongkar-pasang cast & crew, tak terasa Underworld sudah sampai pada installment kelimanya dengan sub-judul Blood Wars.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Dear Zindagi

Nama Gauri Shinde sebagai sineas wanita di Bollywood meroket ketika film debutnya, English Vinglish (2012) banjir pujian maupun sukses menjadi box office. Maka kesempatan untuk membuat film dengan skala yang lebih besar pun terbuka lebih besar. Tak tanggung-tanggung, proyek Dear Zindagi (DZ) yang sudah direncanakan sejak pertengahan 2015 lalu mendapatkan dukungan dari Gauri Khan lewat Chillies Entertainment dan Karan Johar lewat Dharma Productions. Di jajaran cast-nya pun berhasil menggaet aktris muda yang sedang naik daun, Alia Bhatt dan sang legenda himself, Shah Rukh Khan. Tentu nama-nama ini membuat DZ yang sebenarnya punya budget biasa-biasa saja mengundang excitement dari banyak pihak, bahkan langsung menyandang status high profile project. Meski tanggapan kritik beragam, DZ terbukti mencetak box office di negaranya dan beberapa negara lain di seluruh dunia. Tentu cast menjadi faktor utamanya. Namun reputasi Shinde sendiri jelas tak bisa dianggap remeh.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Force 2

Full review posting soon.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 29, 2016

The Jose Flash Review
Moana

Tema princess selalu punya tempat tersendiri bagi Walt Disney Animation Studios selama puluhan tahun. Terakhir, suguhan princess dengan isu yang lebih modern (dibandingkan karakter-karakter Disney Princess populer sebelumnya), Frozen (2013), sukses besar, bahkan menjadi salah satu Disney Princess modern-classic. Tak salah jika mereka selalu menggali materi-materi ‘princess’ dari berbagai budaya. Pilihannya kali ini jatuh pada budaya Polynesia kuno atau jika dipadankan dengan era sekarang, budaya Hawaii. Merupakan kisah orisinal, bukan diambil dari dongeng atau legenda, Moana atau dalam bahasa Polynesia bermakna ‘lautan’ atau ‘biru’. Naskahnya disusun oleh Jared Bush yang pernah menggarap naskah Zootopia dan serial animasi Penn Zero: Part-Time Hero, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada duet Ron Clements dan John Musker yang pernah sukses dengan Basil, the Great Mouse Detective, The Little Mermaid, Aladdin, Hercules, Treasure Planet, dan The Princess and the Frog. Suara karakter utama, Moana, dipercayakan kepada aktris muda pendatang baru asli Hawaii, Auli’i Cravalho, didampingi Dwayne Johnson, Nicole Scherzinger, dan Alan Tudyk.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Allied

War and romance. Dua elemen yang sudah sejak lama dipadukan kendati termasuk jarang. Sebut saja The English Patient yang pernah mendominasi berbagai ajang penghargaan bergengsi dunia. Begitu pula tema pasangan yang sama-sama menjalani profesi sebagai mata-mata. Judul paling populer di era millenium ini ada Mr. and Mrs. Smith dan bahkan di tahun ini ada Keeping Up with the Joneses. Menambah daftar panjang dari tema dan formula tersebut, salah satu sutradara papan atas Hollywood, Robert Zemeckis, mencoba menyumbangkan pasangan Brad Pitt-Marion Cotillard yang sempat heboh lantaran gosip penyebab retaknya rumah tangga pasangan Brad Pitt-Angelina Jolie, lewat Allied. Kendati merupakan skenario asli, penulis naskah Steven Knight (Eastern Promises, Hummingbird, Locke, The Hundred-Foot Journey, The Seventh Son, dan Burnt) mengaku mendapatkan ilham dari kisah nyata yang diceritakan kepadanya saat berusia 21 tahun. Terlepas dari benar atau tidak, duet pasangan Brad Pitt-Marion Cotillard serta nama besar Robert Zemeckis tentu membuat Allied sebagai sajian yang menarik untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 26, 2016

The Jose Flash Review
Rumah Malaikat

Meski tergolong salah satu genre yang paling diminati, ternyata tak banyak sineas spesialis horror yang (setidaknya) punya visi unik dan menarik selain sekedar menjual jumpscare dengan konsep generik. Salah satunya adalah Billy Christian yang mulai dikenal setelah menangani Kotak Musik, salah satu segmen di Hi5teria (2012). Setelah menjajal berbagai genre lainnya, mulai komedi di The Legend of Trio Macan (2013), drama remaja di 7 Misi Rahasia Sophie (2014), hingga puncaknya, dipercaya untuk men-develop sekaligus menangani Tuyul Part 1 (2015), karir Billy semakin diperhitungkan, terutama di genre horror. Sempat kontroversi lewat Kampung Zombie (2015), Billy move on lewat Rumah Malaikat (RM). Didukung aktris muda, Mentari De Marelle, Roweina Umboh, Dayu Wijanto, Agung Saga, serta beberapa aktor-aktris cilik pendatang baru, RM menawarkan kisah misteri dengan rahasia untuk diungkap di klimaks. Tak banyak yang berani ‘bermain-main’ dengan jenis ini di ranah perfilman Indonesia. Apalagi dengan konsep visual yang ditata serius. Tak heran jika RM lantas mengundang rasa penasaran, terutama dari penggemar horror/thriller.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 19, 2016

The Jose Flash Review
Death Note:
Light Up the New World
[デスノート]

Manga berjudul Death Note karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata sudah menjadi salah satu manga paling populer era 2000-an sejak pertama kali kemunculannya di tahun 2006. Sejak itu pula berkembang menjadi sebuah franchise besar meliputi novel, serial animasi, game, FTV, dan tentu saja film layar lebar live action. Versi layar lebarnya pertama kali menyambangi bioskop tahun 2006 dengan dua judul sekaligus, Death Note dan Death Note 2: The Last Name yang sukses secara komersial. Diikuti sebuah spin-off yang mengambil setting setelah seri kedua versi layar lebarnya yang dirilis tahun 2008 bertajuk L: Change the World. Kini setelah berselang 8 tahun, dibuat lagi installment yang merupakan sekuel dari Death Note 2: The Last Name dengan tajuk Death Note: Light Up the New World (LUTNW). Tatsuya Fujiwara, Ken’ichi Matsuyama, dan Erika Toda kembali memerankan karakter dari seri asli, sementara plot utama diisi oleh pemeran-pemeran baru seperti Sosuke Ikematsu, Masaki Suda, dan Sota Aoyama. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Shinsuke Sato yang pernah populer secara internasional lewat I Am Hero (2015), sementara naskahnya disusun oleh Katsunari Mano (serial TV Aibô). Seperti installment ketiganya, kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikan LUTNW di layar lebar hanya tak lebih dari satu bulan setelah penayangan perdana di Jepang. Thanks to Moxienotion to bring this to Indonesia!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Under the Shadow
[زیر سایه]

Meski kondisi negaranya tergolong tidak stabil, Iran selalu mampu memukau dunia internasional lewat film-film yang dilahirkan dari para sineasnya. Satu sutradara berbakat baru yang masuk dalam jajaran ini adalah Babak Anvari. Setelah menulis sekaligus menyutradarai empat film pendek, termasuk Two & Two yang dinominasikan sebagai Best Short Film di BAFTA Awards 2012, ia dipercaya mewujudkan film panjang pertamanya, Under the Shadow (UtS), hasil co-produksi antara Qatar, Yordania, dan Inggris. Tak diduga tanggapan kritikus luar biasa, hingga dipilih untuk mewakili Inggris di Academy Awards ke-89 2017 nanti untuk kategori Best Foreign Language Film. Netflix pun tertarik untuk membeli haknya untuk ditayangkan di Amerika Serikat. Sementara kita di Indonesia punya kesempatan berharga untuk mengalaminya di layar lebar dengan fasilitas yang tentu jauh lebih layak ketimbang di rumahan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Nine Lives

Trend film keluarga dengan value tertentu dan melibatkan hewan peliharaan memang sudah lama lewat. Apalagi dengan genre fantasi magis seperti bertukar jiwa. Maka apa yang coba disajikan Nine Lives (NL) di tahun 2016 ini bisa dibilang cukup berani dan langka di tengah gempuran tema superhero. Mungkin bagi beberapa penonton mungkin tema ringan seperti ini bisa menyegarkan setelah berpuluh-puluh tahun sirna. Tak heran ketika dirilis berbarengan dengan Suicide Squad di Amerika Serikat, ia masih mampu mengumpulkan US$ 10 juta saat opening weekend. Total film produksi Perancis-Cina berbahasa Inggris ini berhasil mengumpulkan US$ 50.5 juta di seluruh dunia dengan budget awal US$ 30 juta. Meski konsepnya sudah usang dan cenderung seperti film direct-to-video, nama Barry Sonnenfeld (The Addams Family, Get Shorty, franchise Men in Black, Wild Wild West) di bangku sutradara dan aktor-aktor populer seperti Kevin Spacey, Christopher Walken, dan Jennifer Garner jelas menjadi daya tarik tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Melbourne Rewind

Winna Efendi dikenal sebagai salah satu penulis novel roman young adult populer. Dua judul novelnya sudah diadaptasi ke film layar lebar; Refrain (2013) dan Remember When: Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta (2014). Tahun 2016 ini giliran Rapi Films yang mengangkat novel Melbourne Rewind (MR) ke layar lebar. Haqi Achmad kembali ditunjuk sebagai penyusun naskah setelah sukses mengadaptasi Refrain dan Remember When, dengan surradara Danial Rifki (La Tahzan, Haji Backpacker, dan Spy in Love). Morgan Oey, Pamela Bowie, Aurellie Moeremans, dan Jovial da Lopez mengisi deretan cast utama untuk menarik perhatian target audience utamanya; remaja dan dewasa muda.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Offering

Singapura memang bukan termasuk negara dengan industri perfilman yang menggeliat. Namun sesekali ada karya dari Singapura yang menarik untuk disimak. Salah satu sineas asal Singapura yang berhasil minat produser Hollywood untuk mendanai filmnya adalah Kelvin Tong yang dilirik lewat horror The Maid (2005), action-thriller co-production dengan Hong Kong, Rule Number One (2008), serta komedi keluarga It’s a Great, Great World (2011). Tahun 2016 ini ia menawarkan sebuah horror dengan unsur-unsur relijius Katolik dan teka-teki misteri kematian berantai. Film berjudul The Offering (atau dikenal dengan judul alternatif The Faith of Anna Waters) ini dibintangi aktris Amerika Serikat yang belum begitu populer, Elizabeth Rice dan Matthew Settle (masih ingat Will Benson dari I Still Know What You Did Last Summer?).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 16, 2016

The Jose Flash Review
Fantastic Beasts
and Where to Find Them

Siapapun harus mengakui bahwa Harry Potter merupakan salah satu fenomena pop-culture paling besar sejak akhir 90-an sampai sekarang. Maka ketika novel terakhir selesai difilmkan, sayang rasanya jika franchise sebesar itu harus berakhir pula. Untungnya J.K. Rowling adalah penulis dengan visi yang luar biasa detail. Ini merupakan bakat yang jarang ada dari seorang penulis. Dengan demikian ia sudah bisa disejajarkan dengan J.R.R. Tolkien yang juga membuat universe Lord of the Rings dan begitu mendetail. Seiring dengan buku-buku ‘pelengkap’ yang ia terbitkan untuk tujuan amal, seperti Fantastic Beasts and Where to Find Them (FBaWtFT) yang merupakan buku pelajaran bak ensiklopedia tentang makhluk-makhluk magis, Quidditch Through the Ages yang merupakan buku perjalanan sejarah olah raga Quidditch, dan The Tales of Beedle the Bard yang merupakan buku kumpulan dongeng. Warner Bros. tertarik untuk mengangkat FBaWtFT ke film layar lebar. J.K. Rowling sendiri yang memulai debut penulisan naskah, dengan sutradara David Yates (Harry Potter and the Order of Phoenix sampai The Deathly Hallows Part 2) setelah Alfonso Cuarón menolak. Mengingat ini adalah sebuah spin-off dengan setting jauh sebelum cerita orisinilnya, tentu diperlukan konsep serta karakter-karakter baru. Eddie Redmayne didapuk memerankan karakter sentral, Newt Scamander. Didukung Katherine Waterston, Dan Fogler, Alison Sudol, Colin Farrell, Ezra Miller, Ron Perlman, dan Jon Voight. Untuk pertama kalinya pula aktor-aktor asal Amerika Serikat masuk ke dalam universe sihir ini mengingat setting-nya pun berpindah dari Inggris ke Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung, Warner Bros. dan Rowling sudah mengumumkan akan ada lima seri dari Fantastic Beasts.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 15, 2016

The Jose Flash Review
Rock On 2

Tahun 2008, Rock On!! (RO), film musikal tentang perjalanan karir sebuah band rock bernama Magik berhasil menarik perhatian di India. Ditulis dan disutradarai oleh Abhishek Kapoor dengan bintang Arjun Rampal, Farhan Akhtar, Purab Kohli, dan Luke Kenny, RO yang mendapatkan respon kritik beragam menjurus ke positif serta pendapatan box office yang tergolong biasa-biasa saja, keputusan pembuatan sekuel tak perlu waktu lama. Kendati demikian, perjalanan menyusun cerita dan pembuatan sekuelnya ini yang ternyata memakan waktu lama. Terhitung ada jeda delapan tahun sampai sekuelnya, Rock On 2 (RO2) ini dirilis. Abhishek Kapoor masih menyusun naskahnya bersama Pubali Chaudhuri, sementara bangku penyutradaraan diberikan kepada Shujaat Saudagar yang sebelumnya ditunjuk produser Ritesh Sidhwani sebagai second unit director di Don 2. Arjun Rampal, Farhan Akhtar, Purab Kohli, Prachi Desai, dan Shahana Goswami kembali, dengan tambahan dukungan dari bintang muda yang tengah bersinar, Shraddha Kapoor (Aashiqui 2, Ek Villain, Any Body Can Dance 2, Baaghi).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 14, 2016

The Jose Flash Review
Billy Lynn's
Long Halftime Walk

Perang dan dampak psikologis seperti yang pernah diangkat oleh Clint Eastwood di American Sniper (2014) memang menarik dan bisa menggugah siapa saja. Konsep yang mirip inilah yang diusung oleh Billy Lynn’s Long Halftime Walk (BLLHW). Diangkat dari novel karya Ben Fountain yang dirilis tahun 2012, proyek ini tak main-main. Meski adaptasi naskahnya dipercayakan kepada Jean-Christophe Castelli yang menandai debutnya sebagai penulis naskah (sebelumnya menjadi associate producer Life of Pi), tapi bangku penyutradaraan diberikan kepada Ang Lee yang seolah sudah punya jaminan mutu dalam bercerita. Setelah memaksimalkan penggunaan teknologi di Life of Pi, kali ini Ang Lee lagi-lagi mencoba teknologi baru untuk memvisualkan ceritanya, yaitu high frame rate 120 frame per second (frame rate tertinggi saat ini, melebihi rekor 48 fps dari The Hobbit: An Unexpected Journey) dengan format 3D pada resolusi 4K. Konon kabarnya ini untuk memberikan kesan serealistis mungkin dari adegan-adegan yang ia sajikan. Sayangnya, teknologi yang benar-benar baru pertama kali ini tidak bisa ditayangkan di semua teater. Hanya ada enam teater di seluruh dunia yang mampu memutar format ini (dua di Amerika Serikat, sisanya di Taipei, Beijing, dan Shanghai). Teater lain harus puas dengan format normal atau ‘hanya’ 24 fps.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Keeping Up with the Joneses

Ada alasan mengapa action dan comedy menjadi genre yang sering dipadukan. Keduanya merupakan genre yang paling mudah untuk menghibur penonton. Sudah ada banyak sekali film dengan perpaduan genre ini yang menuai sukses di box office, bahkan mencatatkan diri dalam sejarah film. Di era 2000-an sebut saja Mr. & Mrs. Smith yang menjadi fenomenal karena memasangkan dua selebriti papan atas yang kemudian menjadi pasangan suami-istri, Brad Pitt dan Angelina Jolie. Tema espionage yang kental dengan genre action dan bumbu komedi kemudian menjadi fprmula yang sering digunakan. Terakhir ada Spy (2015) yang bertumpu pada pesona comedic Melissa McCarthy dan Central Intelligence yang memasangkan Dwayne Johnson dengan Kevin Hart. Kini penulis naskah Michael LeSieur (You, Me & Dupree) dan sutradara Greg Mottola (Adventureland, Superbad, dan Paul) mencoba menggabungkan tema espionage couple ala Mr. & Mrs. Smith dan komedi bertetangga a la The Whole Nine Yards. Menambah daya tarik dari segi komedi, Zach Galifianakis (The Hangover Trilogy) ditunjuk menjadi salah satu aktor di film yang diberi tajuk Keeping Up with the Joneses (KUwtJ) ini. Didukung Isla Fisher, Jon Hamm (serial Mad Men), dan aktris beraura seksi yang sedang naik daun berkat perannya sebagai Wonder Woman, Gal Gadot. 

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
#Grace
[Awasarn Lok Suay /
อวสานโลกสวย]

Social media dan cyberbullying memang bisa jadi materi film thriller/horror yang menarik. Setelah Unfriended (2014) yang berhasil mencekam saya dengan treatment yang ‘terbatas’, Kantana Motion Pictures, PH asal Thailand, tahun ini menawarkan gory thriller yang juga mengangkat fenomena cyberbullying dan social media. Meski konsepnya tidak ‘online’ sepenuhnya seperti Unfriended, film bertajuk #Grace (judul asli Awasarn Lok Suay) memadukan tema teenage dengan home invasion thriller bermotifkan perebutan popularitas. Ditulis dan disutradarai oleh pendatang baru, Ornusa Donsawai dan Pun Homchuen, #Grace didukung oleh bintang-bintang muda, seperti Apinya Sakuljaroensuk (4bia, Friendship), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13-Rak Kan Ja Tai), Napasasi Surawan (The Ugly Duckling), dan Hataichat Eurkittiroj (3 A.M. Part 2, Ghost Coins).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Girl with All the Gifts

Tahun 2014 lalu novel bertajuk The Girl with All the Gifts (TGwAtG) karya M. R. Carey dirlis. Novel yang berdasarkan cerpen karyanya sendiri yang memenangkan Edgar Award, Iphogenia in Aulis ini dipuji sebagai variasi genre post-apocalypse dan zombie yang menarik. Uniknya, antara novel dan naskah filmnya ditulis secara bersamaan setelah mendapatkan pendanaan dari BFI Film Fund. Colm McCarthy yang selama ini dikenal menggarap beberapa episode dari serial-serial seperti Sherlock, The Tudors, dan Doctor Who, ditunjuk sebagai sutradara. Jajaran cast-nya pun tak kalah menarik. Mulai Glenn Close, Gemma Arterton, Paddy Considine, dan pendatang baru cilik, Sennia Nanua. Jika Anda pernah menyukai film zombie Inggris, 28 Days Later dan 28 Weeks Later, maka TGwAtG bisa jadi sajian yang menarik pula.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Barakati

Indonesia memang kaya akan kisah sejarah, legenda, mitologi, maupun cerita rakyat yang menarik untuk dijadikan materi film aksi petualangan. Sayangnya, tak mudah untuk memproduksinya. Mungkin Sumber Daya Manusia kita sebenarnya sudah mampu, tapi budget yang tentu jauh lebih besar ketimbang genre drama atau komedi, misalnya, masih menjadi kendala terbesar. Terakhir yang paling notable dalam ingatan saya mungkin hanya Ekspedisi Madewa (2006) dan Dead Mine (2013) yang sebenarnya merupakan produksi bersama dengan HBO Asia, bukan sepenuhnya produksi Indonesia. Setelah itu masih ada Firegate produksi Legacy Pictures yang sampai tulisan ini diturunkan masih belum menetapkan tanggal rilis pasti. Sambil menantikannya, sebenarnya ada satu lagi film aksi-petualangan ala Indiana Jones dengan memanfaatkan legenda Nusantara masa lampau yang sudah rampung sejak awal tahun 2014 lalu. Film bertajuk Barakati (dalam Bahasa Buton artinya “yang diberkati”) ini disutradarai Monty Tiwa yang sekaligus menuliskan naskahnya bersama Eric Tiwa. Fedi Nuril, Acha Septriasa, Dwi Sasono, Jono Armstrong (mantan basis Gugun Blues Shelter) dipasang di lini utama, serta didukung Tio Pakusadewo, Niniek L. Karim, dan Mario Irwinsyah. Dengan mengambil kisah legenda Patih Gajah Mada dan latar Pulau Buton yang eksotis, di atas kertas Barakati sebenarnya sangat menarik. Setelah penantian yang lama, Barakati akhirnya mendapatkan jadwal tayang yang entah kebetulan atau memang disengaja, hanya satu minggu setelah perilisan Shy Shy Cat yang juga merupakan kerjasama Monty-Acha-Fedi. Let’s saya ini adalah momentum yang bisa dimanfaatkan jika memang tak ada banyak dana untuk melakukan promosi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Hacksaw Ridge

Selain menjadi salah satu aktor papan atas Hollywood, Mel Gibson juga beberapa kali duduk di bangku sutradara. Tak tanggung-tanggung, prestasinya sebagai sutradara sempat diganjar Oscar untuk Braveheart (2005). Juga ada film Biblical The Passion of the Christ (2004) yang menuai kontroversi. Setelah Apocalypto (2006), baru proyek biopic tentang prajurit Perang Dunia II yang enggan memanggul senjata, Desmond Doss, yang berhasil menarik perhatiannya. Padahal sebelumnya ia sempat dua kali menolak proyek yang sudah direncanakan sejak empat belah tahun yang lalu dan telah melalui beberapa kali pemindahan tangan. Bahkan produser Casablanca, Hal B. Wallis, di era 50-an sempat tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar dengan bintang Audie Murphy. Sayang Desmond Doss sendiri tak menyetujuinya karena takut kisahnya akan menjadi tipikal Hollywood. Baru setelah kematian Doss tahun 2006, produser Bill Mechanic mengantongi hak untuk mengangkatnya ke layar lebar. Robert Schenkkan (The Quiet American) dan Randall Wallace (The Water Diviner) ditunjuk untuk menyusun naskahnya, dan aktor The Amazing Spider-Man, Andrew Garfield, didapuk untuk memerankan sosok Doss, didukung Teresa Palmer, Vince Vaughn, Sam Worthington, Hugo Weaving, Richard Roxburgh, dan Rachel Griffiths.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, November 10, 2016

The Jose Flash Review
Shy Shy Cat

Pertengahan tahun 2016 netizen dikejutkan dengan foto aktris Acha Septriasa bersama Nirina Zubir di Instagram. Di tengah marak film-film Indonesia populer di awal era 2000-an yang bereuni, tentu ini menimbulkan spekulasi akan adanya follow up dari film roman karya Hanni R. Saputra rilisan tahun 2006 alias sepuluh tahun lalu, Heart yang melambungkan nama Acha Septriasa dan mantan pasangannya, Irwansyah. Ternyata dugaan itu salah. Acha dan Nirina memang kembali dipertemukan dalam satu layar, tapi untuk sebuah film komedi romantic baru berjudul Shy Shy Cat (SSC). Ini juga bukan remake dari film komedi romantis keluaran 1980, Malu-Malu Kucing yang dibintangi Mutia Datau dan Herman Felani.  Disutradarai Monty Tiwa yang termasuk sangat berpengalaman di genrenya, dan naskah yang disusun oleh Monty bersama Adhitya Mulya (Jomblo, Test Pack: You Are My Baby, dan Sabtu Bersama Bapak), daya tarik utamanya adalah trio Nirina-Acha dan Tika Bravani yang karirnya akhir-akhir ini kian melambung.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 9, 2016

The Jose Flash Review
Shivaay

Selain SRK, nama Ajay Devgn di peta perfilman Bollywood juga tak kalah populer. Sejak 1991, suami dari aktris Kajol ini sudah membintangi lebih dari seratus judul. Tak hanya puas menjadi aktor, Devgn pun merambah bangku penyutradaraan yang dilakoninya pertama kali lewat U Me Aur Hum (2008) di bawah bendera Ajay Devgn Ffilms. Salah satu ambisinya adalah membuat film aksi yang sudah direncanakannya sejak lama tapi harus dipending karena over-budget. Setelah mengalami perjalanan yang cukup berliku, proyek yang diberi tajuk Shivaay ini akhirnya siap rilis bertepatan dengan perayaan Diwali tahun 2016, head to head dengan film terbaru Karan Johar, Ae Dil Hai Mushkil. Dengan bekal trailer yang menjanjikan adegan-adegan aksi mendebarkan dan money-shot, Shivaay dengan mudah mengundang rasa penasaran untuk mengalaminya sendiri di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ouija: Origin of Evil

Jika kita di Indonesia mengenal Jelangkung, maka publik Amerika Serikat mengenal Ouija Board. Ditemukan sejak 1980 oleh Elijah Bond, Ouija Board yang punya kaitan erat dengan praktik okultisme nyatanya berkembang menjadi komoditas board game tersendiri hingga trademark dan patennya dimiliki oleh Hasbro sejak 1991. Kemudian Universal Pictures-Blumhouse-Platinum Dunes tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar pada tahun 2014 dengan judul Ouija yang disutradarai oleh Stiles White. Kendati dianggap horror mediocre dengan penanganan yang seadanya, Ouija berhasil mengumpulkan US$ 103 juta lebih di seluruh dunia. Padahal budget produksinya ‘hanya’ sekitar US$ 5 juta saja. Tentu tak perlu waktu lama untuk memutuskan pengembangan franchise baru ini. Michael Flanagan yang mulai dilirik sebagai sineas spesialis horror setelah Absentia dan Oculus dipercaya untuk menyutradarai sekaligus co-writer bersama partnernya di Oculus, Jeff Howard. Film bertajuk Ouija: Origin of Evil (OOoE) yang merupakan prekuel dari installment sebelumnya ini menandai film ketiga Flanagan yang dirilis di tahun 2016 ini setelah Hush dan Before I Wake.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 4, 2016

The Jose Flash Review
Café Society

Woody Allen bisa jadi salah satu sineas Hollywood paling produktif. Bagaimana tidak, terhitung sejak debutnya di tahun 1966, hampir tiap tahun (bahkan benar-benar tiap tahun sejak 1982) ada film yang ia sutradarai sekaligus ia tulis dan bahkan sesekali turut membintangi. Meski tak semuanya selalu diakui sebagai karya yang bagus, tapi sudah tak terhitung pula yang termasuk Hollywood’s classics. Seperti Annie Hall (1977), Manhattan (1979), Vicky Cristina Barcelona (2008), hingga Midnight in Paris (2011). Para bintang Hollywood kelas A pun sulit menolak ajakan untuk meramaikan film-filmnya. Tak terkecuali untuk karya terbarunya, Café Society (CS) yang dihiasi Jesse Eisenberg (sebelumnya pernah bekerja sama dengan Allen di To Rome with Love), Kristen Stewart, Steve Carell, dan Blake Lively. CS mengambil setting era 1930-an antara gemerlapnya Hollywood dan kerasnya Bronx, New York.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Trolls

Mainan memang menjadi salah satu sumber inspirasi yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Tak terkecuali untuk boneka troll atau Dam doll/good luck trolls yang pertama kali dibuat oleh orang Denmark bernama Thomas Dam sebagai hadiah Natal buatan sendiri tahun 1959. Karakter berwujud ‘unik’ ini segera menjadi fenomena dunia, tak terkecuali di Amerika Serikat sekitar tahun 60-an. Kemudian karakter troll ini berkembang menjadi franchise dengan produk video game, film video, dan lebih banyak karakter boneka. Adalah DreamWorks Animation yang tertarik untuk membeli haknya tahun 2010 (kemudian pembelian keseluruhan hak merchandising di tahun 2013) untuk diangkat ke layar lebar. Mike Mitchell (Deuce Bigalow: Male Gigolo, Sky High, Shrek Forever After, dan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked) ditunjuk sebagai sutradara bersama Walt Dohrn, sementara naskahnya disusun oleh duo Jonathan Aibel dan Glenn Berger (Kung Fu Panda 1-3, Monsters vs Aliens, Alvin and the Chipmunks: The Squeakquel dan Chiprwrecked, dan The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water). Justin Timberlake yang pernah mengisi suara Artie di Shrek the Third, dikontrak sebagai voice talent karakter utama sekaligus music director, bersama Anna Kendrick, Zooey Deschanel, Christopher Mintz-Plasse, Russell Brand, John Cleese, Jeffrey Tambor, dan masih banyak lagi. Mengusung konsep musikal, animasi Trolls sedikit melakukan modifikasi ciri fisik karakter Trolls, tapi tetap mempertahankan bentu serta rambut warna-warninya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 2, 2016

The Jose Flash Review
Doctor Strange

Sejak kemunculannya pertama kali sebagai salah satu karakter superhero Marvel tahun 1963, Doctor Strange punya sejarah adaptasi film yang cukup panjang. Setelah muncul sebagai sebuah FTV tahun 1978 yang dianggap gagal secara rating, beberapa kali haknya berpindah tangan. Mulai versi 1992 yang akhirnya naskahnya dimodifikasi menjadi Doctor Mordrid karena haknya sudah keburu expired duluan, hingga film animasi direct-to-video tahun 2007. Untuk rencana versi layar lebarnya sendiri sebenarnya sudah tercetus sejak 1986 ketika naskahnya akan diproduksi Regency tapi batal karena film-filmnya didistribusikan Warner Bros (which of course, has exclusive DC Comic movie adaptation), kemudian pindah ke tangan Savoy Pictures dengan (Almarhum) Wes Craven yang sempat tanda tangan kontrak untuk menulis naskah dan menyutradarai, kemudian ke tangan David S. Goyer, Columbia Pictures dengan naskah yang dikerjakan Jeff Welch, Dimension Films dengan Goyer yang kembali mengemban tugas hingga memutuskan untuk keluar dari proyek tahun 2002.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 1, 2016

The Jose Flash Review
Ae Dil Hai Mushkil

Nama Karan Johar di industri perfilman Bollywood sudah tak perlu diragukan lagi. Lewat Dharma Productions yang didirikan oleh sang ayah, Yash Johar, ia memulai sukses karirnya lewat film Hindi paling fenomenal, Kuch Kuch Hota Hai (1998), Kabhi Khushi Kabhie Gham (2001), Kabhi Alvida Naa Kehna (2006), My Name is Khan (2010), dan Student of the Year (2012). Diwali (hari raya masyarakat Hindi) tahun ini, Johar mempersembahkan karya terbarunya, Ae Dil Hai Mushkil (ADHM, terjemahan Inggrisnya: This Heart is Complicated). Ia menggandeng aktor populer Ranbir Kapoor, didukung Anushka Sharma, Aishwarya Rai Bachchan, Imran Abbas, Fawad Khan, bahkan cameo dari Alia Bhatt dan Shah Rukh Khan. Sempat diwarnai kontroversi boikot karena keterlibatan aktor Pakistan, Fawad Khan, akhirnya ADHM bisa rilis secara serentak di seluruh dunia, berkompetisi dengan film Diwali lainnya, Shivaay.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 31, 2016

The Jose Flash Review
The Doll

Seperti namanya, Hitmaker Studios yang merupakan anak perusahaan dari Soraya Intercine Films sejak didirikan tahun 2012 sudah memproduksi film-film hit yang rata-rata bergenre horor dari tangan sutradara Jose Purnomo, seperti Rumah Kentang (2012), 308 (2013), Rumah Gurita (2014), Mall Klender (2014), dan Tarot (2015). Akhir tahun lalu untuk pertama kalinya Hitmaker Studios mencoba menelurkan film di luar horor lewat Sunshine Becomes You. Tahun 2016 ini Hitmaker Studios kembali memproduksi genre ‘akar’ mereka, yaitu horor. Masih mengusung nama Shandy Aulia yang seolah sudah menjadi Soraya’s sweetheart dan Denny Sumargo yang sudah dua kali bekerja sama dengan Hitmaker Studios, yaitu lewat 308 dan Mall Klender. Kali ini Rocky Soraya yang selama ini lebih sering bertindak sebagai produser turun tangan langsung sebagai sutradara setelah Chika (2008) dan Sunshine Becomes You. Riheam Junianti yang juga sudah bekerja sama dengan Soraya-Hitmaker sejak Apa Artinya Cinta (2005) hingga Tarot, kembali menuliskan naskah untuk film yang menambah panjang daftar horor dengan sosok boneka lewat tajuk The Doll ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Catatan Dodol Calon Dokter

Dunia literasi Indonesia era 2000-an diramaikan oleh buku-buku sketsa komedi. Mungkin harapannya bisa menumbuhkan minat baca di Indonesia yang tergolong rendah. Tak sedikit buku sketsa komedi yang juga sukses ketika diangkat ke layar lebar. Buku-buku Raditya Dika dan My Stupid Boss menjadi bukti nyatanya. Mengikuti jejak-jejak kesuksesan itu, Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) karya dokter mata Ferdiriva Hamzah yang sudah terbit hingga tiga jilid akhirnya diangkat juga ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung, Radikal Films (Love is U dan The Legend of Trio Macan) berhasil menggandeng CJ Entertainment, salah satu PH terbesar di Korea Selatan yang film-filmnya sudah sering mencetak box office. Dengan naskah adaptasi yang disusun oleh Ardiansyah Solaiman dan Chadijah Siregar, serta sutradara Ifa Isfansyah (Sang Penari, 9 Summers 10 Autumns, dan Pendekar Tongkat Emas), Catatan Dodol Calon Dokter (CDCD) mengusung aktor-aktris muda seperti Adipati Dolken, Tika Bravani, Aurellie Moeremans, Albert Halim, dan Rizky Mocil.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates