Blade Runner 2049

Ryan Gosling continue the replicant's tale as the next generation, K.
Read more.

Geostorm

Gerard Butler, Ed Harris, Andy Garcia, Jim Sturgess, and Abbie Cornish was stuck in an unprecedented series of natural disasters threat.
Opens Oct 13.

Happy Death Day

What if you have to keep repeating the day you die, which also your birthday, again and again?
Opens Oct 18.

One Fine Day

Jefri Nichol and Michelle Ziudith to paired up against Maxime Boutierre in Barcelona's exoticisim.
Read more.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Read more.

Saturday, June 27, 2015

The Jose Flash Review
The Age of Adaline

Seorang wanita muda berusia 29 tahun mengalami perlambatan metabolisme tubuh setelah mengalami kecelakaan. Akibatnya, secara fisik usianya tampak berhenti bertambah, dan kemungkinan besar… hidup abadi. Ini adalah premise dari The Age of Adaline (TAoA) yang cukup menarik dan unik. Memang bukan ide yang benar-benar baru dan orisinal, tapi harus diakui premise cerita seperti itu masih jarang diangkat dan dieksplor. Belum tentu satu film dalam satu dekade. Tak sepenuhnya mirip, tapi mungkin ada banyak juga yang langsung teringat dengan The Curious Case of Benjamin Button (TCCBB) tahun 2008 lalu. Mungkin karena itulah film bertema mirip yang paling dekat rentang waktu rilisnya dan cukup dikenal penonton film.

Sebenarnya ada pilihan seperti apa premise seperti ini bakal dikemas: bisa drama serius dan cenderung mellow, seperti halnya TCCBB, atau romantic comedy (ditambah lagi nuansa remaja supaya lebih fresh dan fun) seperti halnya 13 Going On 30 (dulu di Indonesia judulnya menjadi Suddenly 30). Namun rupanya sutradara Lee Toland Krieger (Celeste & Jesse Forever) memilih untuk berada di antara keduanya. Alhasil, TAoA menjadi sajian drama romantis yang tak terlalu serius sehingga lebih accessible oleh range penonton yang lebih luas, namun juga tak jatuh menjadi terlalu slapstick dan teenage. Mungkin itulah alasan kenapa usia yang dipilih adalah 29.

Masih meng-underline message memaknai hidup lebih dari sekedar youth dan immortality, nyatanya TCCBB juga tak mau terbebani dengan cerita yang berat. Dipilihlah romance sebagai rasa utamanya. Tentu saja dengan bumbu problematika dan dilematik yang relevan dengan tema youth dan immortality. Nyatanya bumbu-bumbu ini bagi saya cukup berhasil membuat penonton merasakan dan memikirkan apa yang dialami oleh Adaline. Rentang waktu penceritaan yang tergolong sangat panjang pun cukup rapi diringkas, dengan tetap fokus pada setting present day. Sisanya, perjalanan hidup yang cukup panjang dari Adaline Bowman ditampilkan sebagai flashback dari adegan present day yang relevan. In the end, keseluruhannya menjadi seperti kesatuan yang utuh dan esensial dari kisah hidup Adaline Bowman, tentu saja sesuai dengan fokus message yang ingin disuarakan sejak awal.

Bagi beberapa penonton mungkin penceritaan yang terfokus pada romance ini terkesan lambat, tanpa lonjakan dramatis yang cukup signifikan, dan tidak begitu penting. Namun bagi saya ini adalah cara penyampaian cerita yang sangat efektif kepada range penonton yang lebih luas. Intinya, keep it simple and very accessible. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya sangat menikmati alurnya yang berjalan santai, terasa manis di sana-sini, dan secara keseluruhan, feel good. Seperti menikmati film yang diangkat dari novel Nicholas Spark (mungkin faktor J. Mills Goodloe, salah satu penulis naskahnya yang memang pernah mengadaptasi novel The Best of Me), namun tentu saja dengan premise yang lebih unik dan nuansa yang jauh dari menye-menye.

Keberhasilan TAoA tentu tak lepas dari karakateristik Adaline Bowman yang cukup detail, logis, dan dibawakan dengan sangat believable dari Blake Lively. Dengan demikian Lively berhasil membuktikan diri mampu membawa beban peran utama dengan kompleksitas karakter yang cukup rumit dengan sangat baik. Sementara itu di deretan pemeran pendukung, Harrison Ford patut mendapat kredit lebih. Dengan screen presence yang jauh lebih sedikit, namun mampu mengimbangi performa Lively, sekaligus mencuri perhatian penonton. Penampilan Michiel Huisman sebagai Ellis Jones mungkin tak begitu istimewa maupun mengesankan, namun juga tak buruk. Begitu pula Ellen Burstyn sebagai Flemming dan Kathy Baker sebagai Kathy Jones. Above all, saya patut menyematkan kredit yang cukup besar kepada Anthony Ingruber sebagai William muda. Ia sangat mencuri perhatian karena kemiripan yang luar biasa dengan Harrison Ford muda, tak hanya dari segi paras, tapi juga suara dan kharisma. Keren!

Tak ada yang istimewa dari segi sinematografi, namun sudah cukup mampu mempresentasikan sesuai kebutuhan cerita. Keistimewaan justru dihadirkan dari divisi tata suara. Saya dibuat takjub oleh tata suara yang begitu detail, terutama dalam hal pembagian kanal surround. Ini sebenarnya jarang menjadi perhatian khusus untuk genre romantic drama. Apalagi ternyata TAoA mendukung Dolby Atmos dan Auro 11.1. Meski melihat dari skala filmnya, tidak memungkinkan 2 fasilitas tata suara ini dimanfaatkan di bioskop-bioskop Indonesia, namun fasilitas surround di studio reguler sudah lebih dari cukup untuk bisa merasakan detail tata suaranya.

In the end, TAoA adalah sajian romantic drama dengan premise yang unik dan bumbu manis di sana-sini dengan takaran yang pas sehingga begitu feel good untuk dinikmati. Tak hanya oleh penonton wanita, tapi nyatanya juga penonton pria. Toh eternal youth juga menjadi impian para pria kan?

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, June 24, 2015

The Jose Flash Review
Poltergeist (2015)

Poltergeist versi asli yang dirilis tahun 1982 adalah salah satu film horor legendaris sepanjang masa. Dengan sutradara Tobe Hooper yang punya background horor cukup terpercaya (The Texas Chainsaw Massacre) dan produser Steven Spielberg, Poltergeist punya keseimbangan yang pas antara horor, family, dan sedikit nuansa sci-fi. Apalagi ditambah isu kutukan gara-gara tiga bintangnya tewas tak lama setelah filmnya dirilis, menambah status ‘horor’ dari Poltergeist. Dilanjutkan dengan 2 installment lagi yang hasilnya biasa saja atau malah cenderung buruk, tahun 2015, produser Sam Raimi bersama Ghost House Pictures yang tahun 2013 lalu bisa dibilang cukup sukses me-remake Evil Dead, berniat membawa kembali (baca: meng-estafet) kisah Poltergeist dengan sutradara Gil Kenan (Monster House dan Citi of Ember).

Secara keseluruhan, Poltergeist versi 2015 sangat setia dengan pakem aslinya. Tak hanya dari segi basic cerita, tapi juga elemen-elemen adegan, sampai dandanan karakter-karakter utamanya (terutama karakter si gadis cilik, Madison yang dibuat semirip mungkin dengan Carol Anne). Pembaruan yang dibawa hanyalah update teknologi yang menyesuaikan dengan saat ini. Seperti TV tabung ke TV LCD, iPhone, dan drone. Di tengah trend horor yang menghadirkan atmosfer eerie yang klasik dan penampakan-penampakan yang terpengaruh horor Asia, Poltergeist versi 2015 dengan cukup berani tampil beda. Entah atas pertimbangan apa, namun atmosfer dan nuansa yang jauh dari mengerikan ini tak banyak berhasil memuaskan penonton dan penggemar horor generasi ini.

Namun tunggu dulu, meski tak menghadirkan atmosfer horor klasik, Poltergeist versi 2015 masih punya cukup banyak jump scare dengan timing dan durasi yang pas. I know most of casual horror audiences nonton film horor karena faktor ini kan? So yes, overall Poltergeist versi 2015 masih menghadirkan hiburan khas horor yang menegangkan dan bikin cemas. Dengan tanpa adegan kekerasan dan darah seperti versi aslinya, ia pun cukup aman ditonton oleh penonton yang lebih luas range usianya.

Meski masih berada pada alur yang bisa dinikmati, bukan berarti tak ada yang terasa salah dengan Poltergeist. Tidak, bukan selipan adegan komedik yang sedikit dibubuhkan di beberapa bagian yang melibatkan karakter paranormal Dr. Brooke Powell dan Carrigan Burke. Melainkan bagaimana karakter pasangan suami-istri Eric dan Amy Bowen yang relatif terasa tenang-tenang saja pasca putri bungsu mereka ‘diculik’ ke dimensi lain. Bandingkan, misalnya, ketika pasangan Josh dan Renai Lambert mendapati putra mereka, Dalton, diculik ke dunia astral, di Insidious. Entah konsep cerita seperti apa yang ingin disampaikan. Salah Sam Rockwell dan Rosemarie DeWitt selaku pemerannya kah, salah sutradara Gil Kenan yang mengarahkan mereka, atau salah penulis naskah David Lindsay-Abaire? Entahlah, yang pasti ini terasa agak mengganggu bagi saya.

Kelemahan lain Poltergeist versi 2015 adalah sosok makhluk halus yang ditampilkan di sini seperti tanpa nyawa yang patut ditakuti. Alhasil serangan-serangan yang terjadi pada keluarga Bowen seperti kejadian-kejadian yang berdiri sendiri, bukan serangkaian kejadian yang mengarah ke satu titik utama. Apalagi kemudian sosok (-sosok)-nya ditampilkan dalam animasi 3D yang tidak begitu meyakinkan sebagai makhluk halus yang nyata dan mengancam.

Di jajaran cast-nya, anak-anak pasangan Bowen patut mendapatkan kredit teratas, terutama sekali Kennedi Clements sebagai Madison dan Kyle Catlett sebagai Griffin. Ekspresi yang merepresentasikan psikologis Griffin setelah Madison kehilangan, terlihat lebih natural dan masuk akal ketimbang kedua orang tua mereka. Sementar Saxon Sharbino sebagai si sulung Kendra Bowen cenderung biasa saja karena porsi yang juga tak banyak memberikan kesempatan kepadanya untuk menarik simpati penonton. Sedikit di bawah Kennedi dan Kyle adalah Jared Harris sebagai paranormal Carrigan yang meski tak sekuat karakter Elise Rainier di Insidious, namun cukup menghadirkan kharisma serta keseimbangan yang pas antara serius dan komedik.

Aspek teknis yang perlu mendapatkan kredit dan cukup mendukung Poltergeist versi 2015 adalah tata kamera yang bergerak dinamis sehingga mampu menciptakan visual yang menegangkan. Tata suara juga menjadi pendukung keberhasilan adegan-adegan menegangkan. Mulai dari detail suara, keseimbangan antara clarity dan crisp, sampai fasilitas surround yang begitu detail dimanfaatkan.

In short, Poltergeist versi 2015 mungkin tak begitu menambahkan apa-apa pada versi aslinya selain update teknologi, tak juga jadi film horor yang mengerikam dan mampu bertahan lama dalam ingatan, namun ia masih bisa jadi sajian horor yang menghibur dengan jump scare dan ketegangan yang dihadirkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Minions

Ketika menyaksikan Despicable Me (DM) pertama tahun 2010, saya sama sekali tidak menyangka kalau karakter-karakter Minion bakal jadi karakter ikonik pop culture seperti sekarang. Selain karena porsinya yang saat itu hanya sekedar comedic gimmick, seperti karakter Scrat di franchise Ice Age, DM pertama sendiri menurut saya bukan termasuk animasi yang terlalu istimewa, meski harus diakui punya storyline yang menarik dan bagus. Baru ketika Despicable Me 2 (DM2), ketika karakter-karakter Minion dieksploitasi lebih, makhluk-makhluk kuning kecil ini mewabah di mana-mana. Mungkin sudah bagian dari strategi, tapi di mata saya kehadiran para minion yang serba konyol dan bodoh, dengan porsi yang sama kuat dengan plot utama Gru dan ketiga putri angkatnya yang lebih ‘dewasa dan serius’, jelas sangat mengganggu. That’s why sejak itu saya jadi sebal dengan para minion hingga tak begitu tertarik untuk menyaksikannya sebagai sajian stand alone, sebuah spin-off bertajuk Minions. Meski harus diakui, DM2 justru sudah berhasil menjadikan para minion predikat salah satu ikon pop culture yang digilai banyak orang, tak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa.

But again, rupanya benar kehadiran minion di seri-seri DM sebagai bagian dari sebuah strategi besar. Setelah menyaksikan hasil akhirnya, saya baru menyadari betapa para minion ini jauh lebih baik berdiri sendiri dalam sebuah film ketimbang menjadi bagian dari DM dan merusaknya. Now I know pasti susah untuk tidak membandingkan Minions dengan kedua installment DM, tapi sebenarnya keduanya punya perbedaan konsep yang sangat besar sehingga tidak adil rasanya untuk melihatnya dengan kacamata yang sama.

Sama seperti kehadirannya di 2 installment DM, para minion masih punya karakteristik yang sama: lucu, menggemaskan, ceroboh, meski sebenarnya cukup cerdas. So yes, di sini pun kita akan disuguhi semua yang ditampillan para minion di DM secara penuh. Artinya kita tidak perlu membagi otak kita untuk mencerna plot Gru dan ketiga putri angkatnya yang lebih bisa dipahami anak-anak di atas 8 tahun, dengan berbagai kelucuan tingkah minion yang mengganggu namun bisa dipahami oleh range usia yang lebih luas, bahkan mulai balita hingga dewasa. Jelas, mengubah cerita dari sudut pandang para minion yang lebih polos dan sederhana, tidak akan bisa menyamai kompleksitas cerita dari sudut pandang Gru dan ketiga putri angkatnya. Jadi sangat aneh dan timpang kalau Anda mencoba untuk membandingkan DM dengan Minions.

Mengubah sudut pandang cerita dari kacamata para minion jelas butuh adjustment penonton remaja dan dewasa yang sudah termindset dengan cerita DM, ke mode yang lebih ringan, bahkan kalau bisa ke pola pikir anak-anak balita yang tak perlu terlalu mencerna untuk menangkap maksudnya, hanya mengikuti alurnya, tertawa karena tingkah-tingkahnya, dan enjoy the ride. Apalagi ternyata ia tetap punya  impact cerita yang cukup besar, dengan adegan-adegan spektakuler sebagai sebuah film layar lebar. Terbukti, dengan cara seperti itu, saya yang dulunya begitu membenci para minion di DM2, balik mencintai mereka. Tidak hanya sekedar mengumbar kekonyolan, kepolosan, dan kecerobohan para minion, kreator sekaligus sutradara Pierre Coffin yang kali ini bekerja sama dengan  Kyle Balda, pada kesempatan ini juga mengajak penonton untuk lebih mengenal minion-minion utama. Saya yang di DM dan DM2 tidak bisa membedakan ciri-ciri fisik dan nama para minion, di sini jadi terasa lebih mengenal dan dekat perbedaannya, terutama 3 karakter utamanya: Bob, Kevin, dan Stuart. Bahkan ada cukup banyak adegan yang membuat saya tersentuh oleh keluguan, kelucuan, namun berhati besar dari para minion ini (terutama sekali, Bob). Karena faktor inilah, saya menjadi berpikir memang benar spin-off Minions ini dibutuhkan untuk membuat kita lebih dekat dan bahkan bisa menyukai mereka apa-adanya, tanpa harus berkompetisi dengan karakter-karakter manusia lainnya di DM.

Jika penonton anak-anak akan dihibur habis-habisan oleh tingkah para minion tanpa perlu banyak pencernaan, Coffin masih memberikan cukup banyak joke-joke bereferensi untuk men-treat (baca: menghibur) penonton yang lebih dewasa (tentu saja itupun jika penonton dewasanya paham yang dimaksud), seperti tradisi minum teh orang Inggris, kontroversi kejadian nyata saat itu (tahun 1968), sampai cameo dari berbagai icon musik tahun 70-an, mulai Jimi Hendrix sampai The Beatles. Oh ya, kalau Anda termasuk penggemar The Beatles, rugi kalau sampai melewatkan after credit scene-nya!

Sayangnya dominasi para minion yang jelas mencuri layar tidak memberikan ruang yang cukup untuk karakter-karakter lainnya, termasuk sang villain utama, Scarlet Overkill dan Herb Overkill yang diisi suaranya oleh Sandra Bullock dan John Hamm. Alhasil plot utamanya pun menjadi sekedar tempelan dan karakter Scarlet & Herb terkesan asal ada. Tak heran jika lantas keduanya juga terkesan tidak jahat dan mengundang kepedulian penonton untuk dibenci dan dikalahkan. Selain dari mereka berdua, penampilan Jennifer Saunders sebagai Ratu Elizabeth, Michale Keaton sebagai Walter Nelson, dan Allison Janney sebagai Madge, yang meski screentime-nya tak banyak tapi cukup berkesan.

Aspek lain yang patut mendapatkan kredit lebih adalah tata suaranya yang begitu detail, hidup, dan memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos dengan cukup maksimal. Dengarkan saja, misalnya saat para minion sedang koor yang terasa sekali perbedaan arahnya. Penggunaan lagu-lagu rock n roll era 70’an, mulai The Kinks, The Who, Jimi Hendrix, dan The Beatles, jelas menjadi nilai tambah tersendiri, terutama bagi penonton dewasa yang relate.

Oh yes, dengan berbagai formulanya, Minions jelas punya target audience yang jauh lebih luas, termasuk balita, dan itu artinya more money. Terlebih lagi bagi penonton Indonesia yang ‘rasa kebanggaannya’ masih mudah dibeli oleh elemen-elemen ke-Indonesia-an di film Hollywood. Coffin menyadari itu dan berkat darah Indonesia yang dimilikinya (seperti yang sudah dipublikasikan sejak promo DM2, Coffin putra dari penulis novel Indonesia, N.H. Dini), Coffin semakin memaksimalkan potensi itu dengan memasukkan lebih banyak kata-kata berbahasa Indonesia sebagai bagian dari bahasa Minion, berpadu terutama dengan bahasa Spanyol. So yes, I bet Minions will be easily become Hollywood’s number 1 hits in 2015 in Indonesia. And I think it quite deserves it.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 21, 2015

The Jose Flash Review
Entourage

Dibandingkan comic book to movies, terhitung tak banyak TV show yang diangkat ke layar lebar. Mungkin hanya Mission: Impossible dan Transformers yang paling sukses sampai sekarang. Itu pun karena genrenya yang bisa lebih ‘menjual’ di layar bioskop ketimbang sekedar layar kaca. Ada alasan kenapa fenomena TV to movie terhitung jarang. Selain segmentasinya yang lebih sempit, ada cukup banyak juga penonton yang merasa malas nonton di bioskop karena beranggapan apa bedanya dengan nonton TV show-nya. Tak salah juga, karena kebiasaan menonton sebuah acara di TV yang gratisan (atau sekalipun bayar, kalau dihitung-hitung masih lebih murah daripada datang ke bioskop), bisa-bisa nonton di bioskop pengalamannya tidak jauh beda dengan di TV. HBO sebagai salah satu channel TV berbayar terkenal, cukup berani mengangkat salah satu serial paling legendarisnya sepanjang masa, Sex and the City (SatC) dan ternyata hasilnya cukup berhasil. Kini, HBO mencoba peruntungan lagi dengan serial sitkom yang sempat populer di Amerika Serikat namun masih sangat segmented di sini, Entourage. Jika Anda berpikir SatC di sini sudah termasuk segmented, maka Entourage ini lebih segmented lagi. Saya sendiri belum pernah menyaksikan serialnya. Jadi ketika menyaksikan versi layar lebarnya saya hanya berbekal premise serialnya: perjuangan seorang aktor muda, Vincent Chase, dengan backup geng-nya: Johnny, Turtle, Eric, dan agennya, Ari Gold, dalam mengarungungi liar dan ganasnya Hollywood.

Ternyata bekal ini sudah lebih dari cukup untuk saya bisa menikmati versi layar lebarnya. Selain premise yang sebenarnaya tidak rumit-rumit amat, Entourage versi layar lebar memberikan adegan introduksi karakter-karakter utamanya secara efektif dan tentu saja, menggelitik, lewat adegan sebuah interview acara TV eksklusif. Introduksi ini menjadi sangat penting mengingat serialnya mengandalkan perkembangan karakter-karakter sebagai basis cerita. Segera setelah itu, saya dibawa ke belantara Hollywood yang serba wild, keras, tapi fun. Tentu saja dari sudut pandang geng Vincent Chase dkk yang naif, sehingga dengan mudah mengundang tawa bagi penonton yang memahami humor-humornya.

Secara keseluruhan, utamanya Entourage versi layar lebar menyorot hubungan antara produser-sutradara-investor yang memang menarik untuk diangkat. That’s why tidak ditampilkan proses produksi film Hyde yang disutradarai oleh karakter utamanya, Vincent Chase (dimana katanya, di serial sering ditampilkan proses produksi yang ‘fucked-up’), dan lebih banyak menampilkan intrik di belakangnya. Doug Ellin selaku kreator yang kali ini menangani langsung sebagai penulis naskah-sutradara, menulisnya dalam storytelling yang masih serial banget. Bukan karena saya tahu seperti apa serialnya, tapi demikianlah style storytelling rata-rata serial yang tayang di TV, termasuk SatC The Movie yang bahkan tetap bisa setia dengan storytelling ala serial dengan durasi yang mencapai 5 kali lipat versi serialnya. As for me, ini tidak menjadi masalah karena toh masih bisa dinikmati tanpa terlalu terasa draggy. Malah, saya seperti menyaksikan keseruan ‘petualangan’ ala The Hangover, tapi tentu saja dengan kadar ‘fucked-up’ yang jauh lebih wajar.

Tapi yang juga harus diakui adalah Entourage versi layar lebar tak ubahnya menyaksikan salah satu episode yang durasinya lebih panjang, karena faktor story scope yang tidak begitu besar, juga sub plot-sub plot yang diselipkan di sana-sini, seperti skandal video Johnny Drama, hubungan Eric dan Sloan, Turtle yang PDKT dengan petarung UFC, Ronda Rousey, dan masih banyak lagi, yang sengaja dimasukkan untuk memberi warna lebih pada cerita dan humor. Untung saja kesemua sub plot ini dihadirkan dengan relevansi dan porsi yang pas, serta yang paling penting, tidak mengganggu konsistensi fokus main plot. Namun tentu saja yang menjadi komoditas utama Entourage adalah humor-humor yang sarkas, satir, terkadang ofensif, dan seringkali membutuhkan kedekatan dengan dunianya (dalam hal ini, dunia showbiz Hollywood) untuk bisa memahaminya. That’s why, once again, Entourage was very, very segmented.

Sayangnya, sebagai karakter utama, Adrian Grenier kali ini tidak diberikan porsi yang cukup untuk bisa menarik perhatian penonton. Terutama sekali karena karakternya tidak ditulis dengan cukup kuat. Jeremy Piven sebagai Ari Gold justru jauh lebih menarik perhatian. Jadi sorotan utama, malah karena dibawakan dengan sangat baik oleh Piven. Sementara itu pendukung lainnya yang berhasil menonjol, baik berkat penulisan karakter dan penampilannya adalah Kevin Dillon sebagai Johnny, serta kembalinya Haley Joel Osment.

Tak ketinggalan kemunculan lusinan cameo, mulai Ronda Rousey, Emily Ratajkowski, Pharrell Williams, T.I., Jon Favreau, Liam Neeson, Mike Tyson, Kalsey Grammer, Gary Busey, Jessica Alba, Mark Wahlberg, sampai Warren Buffett, tentu menjadikan Entourage tontonan yang semakin menyenangkan.

Pemilihan soundtrack-nya pun patut mendapatkan kredit tersendiri. Mulai genre hip-hop, EDM, hingga alternative rock yang tidak hanya cocok mengiringi adegan-adegannya, tapi juga merepresentasikan filmnya secara keseluruhan: American Dream dan Hollywood’s wilderness.

Well, after all, bagi penonton setia serialnya, Entourage versi layar lebar jelas menjadi sebuah obat kangen yang memuaskan. Pun bagi non penonton serialnya (tapi paham dunia showbiz Hollywood), ia masih bisa jadi jendela rimba Hollywood yang menyenangkan dan menggelikan. Bagi saya, ia juga berhasil membuat saya penasaran untuk mengikuti serialnya. Well, I’ve got 8 seasons to go then.


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 12, 2015

The Jose Flash Review
Jurassic World

Sejak dirilis tahun 1993, semua orang setidaknya pernah dengar judul Jurassic Park (JP), dan saya yakin lebih dari separuhnya pernah menonton film sefenomenal itu. Meski bukan menjadi film pertama yang menghadirkan dinosaurus, JP lah yang berhasil menyebarkan demam dinosaurus ke seluruh dunia secara masif. Selain faktor novel karya Michael Crichton yang menjadi dasar cerita film dan teknologi special effect yang mumpuni dalam menghidupkan dinosaurus-dinosaurus ini, Steven Spielberg memang berhasil membuat sebuah film yang setiap adegannya berkesan dan mampu membekas lama dalam benak penontonnya. Tak heran jika JP menyandang gelar klasik dan legendaris sepanjang masa, yang warisannya harus diteruskan ke tiap generasi. Sekuelnya, The Lost World: Jurassic Park juga tak buruk meski tak sekuat dan sememorable JP, begitu juga Jurassic World III yang masih mempan membuat penonton olahraga jantung dan jump on seat sewaktu menontonnya. Setelah 14 tahun sejak film terakhir (serta 22 tahun sejak film pertamanya rilis), ketika generasi penonton pun juga berganti, tentu warisannya perlu diteruskan dan dilestarikan. Bukan sebagai remake, tapi sekuel yang masih punya pertalian cerita dengan seri-seri sebelumnya, namun masih bisa dipahami tanpa menyaksikan seri-seri sebelumnya. Lagipula bagi penonton yang dulu pernah menyaksikan kedahsyatan seri-seri sebelumnya di bioskop, pasti merindukan exciting experience yang pernah dibawa, bukan? Bukan PR yang mudah, mengingat jaman sekarang di mana special effect bukan lagi hal menakjubkan. Apalagi penonton jaman sekarang sudah terbiasa melihat makhluk sebesar dan semengerikan dinosaurus. Perlu lebih dari sekedar pameran special effect yang mumpuni untuk membuat penonton jaman sekarang bisa merasakan kedahsyatan seperti seri pertamanya dulu.

Maka Jurassic World (JW) tak hanya menjadikan PR itu sebagai tujuan utama film, tapi juga memasukkanya sebagai plot utama cerita: creating a new breed of monster, bigger, louder, more teeth, hanya supaya taman hiburan Jurassic World tetap diminati pengunjung. Diciptakanlah hibrida yang mencampurkan berbagai spesies menjadi satu dengan nama Indominus Rex. Secara keseluruhan ide ini memang tidak benar-benar baru. Tak hanya ide dasar cerita ini, tapi juga berbagai elemen penyusunnya, terutama desain-desain karakter manusianya memang sengaja diciptakan untuk resemblance dengan JP pertama. Misalnya saja karakter kakak-adik Zach dan Gray yang mengingatkan kita pada Tim dan Lex Murphy, Owen yang seperti perpaduan Dr. Alan Grant dan Dr. Ian Malcolm, serta Claire yang mirip peran Dr. Ellie Sattler. Tak ada yang salah dengan itu. Toh tujuan utamanya, sekali lagi, adalah ‘melestarikan’ legacy yang ada dan membuat penonton aslinya bernostalgia sambil bersenang-senang. Untuk urusan homage dan tribute ini, Trevorrow dan tim penulis naskah sudah memberikan respect yang luar biasa terhadap seri-seri sebelumnya, dengan polesan yang relevan dan tetap menarik.

Keseluruhan JW memang berhasil membawa penonton kembali ke keseruan JP tentu saja dengan kacamata penonton jaman sekarang. Sutradara Colin Trevorrow (yang mana ini merupakan proyek film besar pertamanya) terbukti mampu menciptakan teror yang setidaknya selevel dengan installment-installment sebelumnya. Tak perlu berlama-lama atau terlalu detail dengan karakter-karakternya maupun menjabarkan teoritis-teoritis ilmiahnya, JW lebih fokus membawa penontonnya seru-seruan berada di dalam taman di pulau terpencil ini. Mulai pertama kali melihat sosok Indominus Rex, sepak terjangnya melahap semua yang dilihatnya, dikejar-kejar Indominus Rex, sampai the final showdown yang membuat penonton film pertamanya kegirangan bak anak kecil karena melibatkan dinosaurus bintang utama di JP. Berkali-kali saya dibuat berteriak, mengumpat, dan berlompatan di kursi, karena adegan-adegan breathtaking-nya yang berhasil.

Tak hanya adegan-adegan mendebarkan yang gripping, saya juga menyukai konsistensi konsep cerita, yaitu tentang kontrol, yang berkali-kali diselipkan dalam dialog dan direlevansikan ke dalam berbagai kondisi. Ini artinya mereka tahu persis apa yang ingin disampaikan dan dikembangkan di installment ini. Tak hanya dalam cerita, tapi juga dalam berbagai konteks lainnya. So bold, and delivered very well on script. Apalagi ternyata, ia juga punya cukup banyak line yang memorable dan bagus.

Namun bukan berarti JW tampil tanpa minus. Ya, saya bisa memahami dan menerima kalau demi menjaga pace cerita, karakter-karakternya tidak begitu diberi perkembangan yang cukup menarik dan dalam, selain yang relevan dengan fokus cerita utama. Tapi yang disayangkan adalah koneksi antar karakternya yang masih sering terasa canggung, terutama antara sibling Zach dan Gray. Untung saja minor ini masih bisa dimaafkan setelah semua yang terjadi sepanjang film. Meski tidak bisa dipungkiri, terutama bagi penonton JP, celah ini sangat terasa.

Untungnya penampilan para aktornya sangat baik membawakan peran masing-masing. Mungkin banyak yang menganggap Chris Pratt masih menjadi Peter Quill di Guardians of the Galaxy, tapi hey bukankah sebenarnya mereka punya karakteristik yang memang mirip? As for me, harus diakui Chris Pratt punya kharisma yang lebih dari cukup untuk menjadi perpaduan Dr. Alan Grant dan Dr. Ian Malcolm, ditambah skill action hero yang kuat. Begitu juga dengan Bryce Dallas Howard yang akhirnya tampil lebih lovable dan memorable ketimbang peran-peran sebelumnya. Even more than Laura Dern has done before. Si cilik Ty Simpkins pun berhasil menarik simpati penonton lebih besar ketimbang Nick Robinson yang berperan sebagai sang kakak, Zach. Tak lupa Vincent D’Onofrio sebagai antagonis Hoskins yang meski tak begitu besar porsinya dibanding yang lain namun cukup memorable. Irrfan Khan yang porsinya juga tak banyak tapi kharismanya begitu terasa dan membuat penonton respect terhadap karakter Simon Masrani. Terakhir, jangan lupakan kehadiran BD Wong sebagai Dr. Henry Wu, satu-satunya karakter dari JP yang kembali muncul di sini.

Secara teknis, bisa dipastikan semua digarap dengan mumpuni. Mulai CGI yang diterapkan untuk most of the dinosaurs and raptors, kecuali beberapa adegan yang katanya menggunakan animatronic, hingga tata suara yang begitu menghidupkan berbagai emosi di semua adegannya. Crisp, dahsyat, tapi tetap jernih. Fasilitas surround pun dimanfaatkan secara maksimal. Score dari Michael Giacchino memberikan warna tersendiri di samping tetap setia pada original score karya John Williams yang ‘emotionally magic’. Tambahan elemen choir di samping orchestra menjadikan emosi epic-nya terasa lebih powerful. Tak ketinggalan sinematografi John Schwartzman yang sudah berpengalaman di banyak film blockbuster dan beberapa kali jadi langganan Michael Bay, yang mampu menerjemahkan teror dengan efektif. Banyak dari adegan ‘jump on seat’ yang disebabkan oleh tata kamera, ketimbang gimmick pop-out 3D-nya.

So yes, nikmati JW as it is, have fun with it! Hidupkan lagi memori pengalaman sinematik luar biasa yang pernah ditawarkan JP, sambil mengestafetkannya ke generasi yang lebih baru. Toh JW melakukannya dengan sangat berhasil. Saya sendiri saja sudah tak sabar untuk mengalaminya lagi, padahal baru sehari.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 8, 2015

The Jose Flash Review
Insidious: Chapter 3

Nama James Wan menjadi semacam brand jaminan mutu di horor Hollywood semenjak debutnya, Saw yang lantas berkembang menjadi salah satu franchise horor besar. Tak hanya itu, Insidious di tahun 2010 pun akhirnya juga menjelma menjadi sleeper hit dan bahkan berdiri sebagai franchise yang tak kalah kuatnya. Banyak yang beranggapan kunci suksesnya adalah membawa kembali atmosfer dan unsur-unsur horor klasik ke dalam formulanya. Tak lupa unsur keluarga yang menjadikan ceritanya semakin dekat dengan penonton. Jika Insidious: Chapter 2 masih punya hubungan langsung dengan installment pertamanya, maka chapter 3 ini kita dibawa ke beberapa tahun sebelum chapter 1 dan chapter 2, dengan mengubah fokus cerita ke karakter paranormal Elise Rainier. Selain sebagai refreshment, tentu saja sebagai sebuah franchise tidak mungkin terus-terusan hanya bermain-main di tempat yang sama. Sampai satu titik pasti mengalami kejenuhan. Maka perlu dipilih salah satu karakter yang bisa universal menjadi benang merah keseluruhan cerita, dan Elise adalah karakter yang cocok untuk mewakili. Kursi sutradara yang kali ini dijabat langsung oleh Leigh Whannell yang sudah bekerja sama dengan Wan sejak Saw dan menulis naskah Insidious sejak chapter pertama, seharusnya tidak perlu sampai jadi masalah yang berarti.

Ternyata Insidious: Chapter 3 (IC3) tak hanya mengubah POV cerita untuk me-refresh, tapi juga tone film secara keseluruhan. Buat yang nge-fans franchise ini karena tone atmosfer yang creepy dan berbagai elemen klasiknya, siap-siap agak kecewa karena cukup banyak dikurangi. Meski saya masih bisa merasakan sedikit benang merah atmosfer dari original Insidious. Jump scare khasnya pun masih ditebar di sana-sini dengan timing yang masih cukup tepat dan efektif. Tak mengganggu seperti di Annabelle, misalnya. Sebagai penambal, ditambahkan sedikit unsur komedi dan fighting. Ini bisa jadi semacam bunuh diri secara horor, terutama yang sudah terlanjur menjadi fanatik franchise. Tapi saya cukup bisa memahami dan menerima kepentingan untuk mengakomodasi lebih banyak kebutuhan dari penonton yang lebih luas akan hiburan murni. Jujur, target penonton utama film sejenis ini pastilah lebih banyak yang berbondong-bondong buat seru-seruan beramai-ramai, ketimbang horror geek yang merasa lebih seru nonton sendirian. Kalau mau berpikir secara bisnis pun, golongan yang pertama jelas lebih menguntungkan daripada yang kedua. Toh ternyata komedi-komedi yang dihadirkan tak sampai jatuh menjadi berlebihan dan slapstick. Masih bermain-main di komedi sehari-hari yang hanya sampai membuat saya tersenyum atau sedikit chuckle. Adegan fighting-nya pun ditampilkan dengan konsep cerita yang masuk akal: terjadi di alam astral yang memungkinkan sebagai semacam visualisasi atau metafora dari keberanian melawan evil entity, secara manusia sejatinya lebih kuat dari roh. Meski secara horor, ini lagi-lagi menjadi semacam bunuh diri, karena pecinta horor pastinya lebih menyukai penyelesaian masalah yang lebih magis atau melibatkan ritual. But hey, I don’t mind with that. Kinda cool, malah.

Namun yang patut saya apresiasi terutama adalah plotnya yang meski tak sepenuhnya baru atau fresh, namun bisa jadi background story yang masuk akal dan ternyata ditampilkan dengan hearty pula. Okay, mungkin chemistry antara karakter ayah dan anak, Sean dan Quinn tidak ditampilkan sekuat keluarga Lambert di installment-installment sebelumnya. Namun karakter Quinn ditulis dengan detail yang menarik dan bisa menjadi setup cerita horor yang kuat dan relatable. Mulai motivasinya bermain-main dengan dunia spiritual, dilematisnya sebagai putri sulung yang harus menggantikan peran sang ibu dan sebagai remaja yang memikirkan masa depannya, hingga konklusinya yang ternyata jauh lebih mengena dan hearty ketimbang yang ditampilkan keluarga Lambert. Bagi siapa saja yanag pernah merasakan kehilangan salah satu orang tua di usia muda pasti dengan mudah tersentuh oleh beberapa part di sini. Sayangnya detail yang bagus ini tidak diimbangi dengan latar belakang karakter evil entity utama. Penonton (dan juga karakter-karakter manusia di sini) hanya diberi penjelasan umum dan tanda-tanda fisikal untuk dianalisa dan diterka-terka sendiri. Ini jelas berbeda dengan yang ditampilkan installment-installment sebelumnya yang cukup detail menjelaskan latar belakang sosok The Black Bride. Untungnya secara keseluruhan, cerita IC3 mengalir dengan nyaman untuk diikuti, dengan timing-timing yang pas. Tak sampai ada adegan jump scare yang ujung-ujungnya ternyata biasa saja (seperti, lagi-lagi, Annabelle), ataupun durasi thrilling moment yang terasa terlalu diulur-ulur.

Dengan porsi yang jauh meningkat, Lin Shaye ternyata mampu memenuhi tuntutan peran sebagai Elise Rainier. Tak canggung pula beradaptasi dengan nuansa baru yang kadang masih bisa bercanda dan kickass, sehingga menjadikan karakter Elise terasa lebih hidup, manusiawi, dan menyenangkan. Tak melulu sebagai paranormal yang selalu tampak misterius. Stefanie Scott sebagai Quinn pun cukup mampu mencuri hati penonton. Menjadikannya salah satu bintang muda yang punya kans menjadi besar suatu saat nanti.

Tak banyak inovasi dari segi scoring yang masih dikerjakan oleh Joseph Bishara (yang sekaligus berperan sebagai Lipstick-Face Demon di sini). Masih bermain-main di elemen horor klasik, termasuk shrieking string yang menjadi ciri khas franchise. Toh masih cukup efektif membangun atmosfer horornya. Hanya saja ada satu score yang cukup mengganggu di credit title dimana penggunaan shrieking string terasa begitu berlebihan. Malah cenderung seperti kaset tape rusak.


So yes, IC3 akan semakin banyak menimbulkan haters dari kalangan fans setia franchise sejak awal. Tapi bukan tidak mungkin, tetap mendatangkan penonton-penonton baru. Karena harus diakui mau di-review sejelek apapun, film horor (yang asal tetap digarap dengan baik, tidak asal-asalan) tetap komoditas yang menguntungkan. As for me, IC3 mungkin tidak semenyeramkan installment-installment sebelumnya, tapi saya sangat mengapresiasi plot yang ditulis dan menyukai hearty moment keluarga yang begitu warm.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
San Andreas

Sejak awal sejarah perfilman, genre disaster sudah ada dan selalu menempatkan wakil di setiap eranya. Sayang di era 2000-an, tak banyak film bergenre disaster yang stand out, padahal genre ini pernah begitu berjaya di era 90-an. Mungkin karena genre ini sudah terlalu jenuh, apalagi karya Roland Emmerich yang seolah menjadi ‘maestro’ di genrenya, tapi bagi saya karyanya semakin lama semakin ‘tak bertenaga’. Bukan perkara plot cerita utama yang digunakan untuk menghiasi latar bencana alamnya, tapi yang terutama adalah kemampuannya membawa penonton turut merasakan ‘mimpi buruk’ berada di tengah-tengah bencana alam. Bukan sekedar pameran visual effect memukau mata tanpa kekuatan mempermainkan emosi penonton. Di era 2000-an ini saya baru mencatat The Impossible (2012) yang punya efek dahsyat bagi penontonnya, disusul Into the Storm (2014) yang meski punya tak begitu besar tapi ternyata punya adegan-adegan yang breathtaking dan mampu membawa penonton seolah-olah berada di lokasi kejadian.

Awalnya saya cukup skeptis dengan San Andreas (SA). Meski diramaikan oleh bintang-bintang yang atraktif, ia ditangani oleh sutradara Brad Peyton yang filmografi sebelumnya masih meragukan (seperti Cats & Dogs: The Revenge of Kitty Galore dan Journey 2: The Mysterious Island). Namun rupanya ekspektasi yang cukup rendah punya efek yang cukup positif ketika menyaksikan langsung filmnya.

Seperti kebanyakan film bergenre disaster, SA masih memanfaatkan plot keluarga dan asmara untuk mewarnai latarnya. Ini wajar, karena kedua tema ini adalah pondasi hubungan antar-manusia yang bisa dimanfaatkan untuk menarik simpati penonton secara kemanusiaan. Untungnya meski klise, Peyton mampu menghadirkan plot drama-dramanya dengan porsi, korelasi, dan relevansi yang serba pas.

Namun yang menjadi kekuatan utama SA adalah tampilan adegan-adegan disaster yang begitu intense, breath-taking dan realistis, tanpa terkesan terlalu chaotic dan tanpa ada darah yang terlihat, terutama berkat timing yang serba tepat dan tata kamera yang efektif memaksimalkan hampir semua setup-setup thrilling-nya. Menjadikan adegan demi adegan disaster, mulai gempa awalan, aftershock, hingga tsunami, sebuah rangkaian mimpi buruk modern yang mengerikan, ketimbang sekedar pameran visual effect yang memukau mata. Apalagi bagi penonton yang acrophobia. Tata suara yang dahsyat dan memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos secara maksimal pun turut membuat adegan-adegannya semakin hidup.

Di sisi lain, dihadirkan pula karakter pakar gempa, Lawrence. Mesti terkesan terpisah dengan plot utama, kemunculannya memang berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa gempa yang sedang terjadi di layar. Bagi saya, ini adalah cara yang tepat untuk mengedukasi tentang gempa (yang ternyata sangat informatif dan akurat, kecuali tentu saja dari segi geografis) dan tentu saja pre-caution bencana, tanpa terkesan pretensius. Toh kehadiran karakternya ternyata dipadukan dengan plot utam secara lebih halus dan bagi saya, lebih berkesan ketimbang karakter sejenis di film-film disaster lainnya.

Keberhasilan drama klise SA sehingga masih mampu menyentuh saya, tak lepas dari faktor para cast-nya. Terutama sekali Dwayne Johnson alias The Rock yang ternyata bisa juga mengundang simpati melalui karakter family man dan adegan-adegan yang hearty, tanpa meninggalkan kharismanya sebagai action hero. Meski harus diakui agak aneh melihatnya menjadi suami Carla Gugino maupun ayah dari Alexandra Daddario. But hey, setidaknya chemistry antara ketiganya cukup membangkitkan nuansa kekeluargaan yang hangat. Penampilan Daddario sendiri pun juga menarik perhatian lebih ketimbang peran-peran di film-film sebelumnya, seperti franchise Percy Jackson. Tak hanya karena faktor porsi yang memang cukup dominan dan fisik yang semakin menarik perhatian, tapi juga kharismanya yang terasa semakin kuat sebagai smart girl.

In the end, yes, SA memang sebuah film summer blockbuster yang begitu memanjakan mata dan telinga, pun juga berhasil menjadi sesuatu yang exciting, menyentuh, sekaligus informatif. Sebuah paket lengkap yang tak hanya jarang ditawarkan di genre disaster, tapi juga di kategori summer blockbuster secara keseluruhan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 6, 2015

The Jose Flash Review
Pitch Perfect 2

Di Hollywood sudah bukan barang baru lagi kalau sebuah sekuel dari franchise baru bakal lebih laris dibanding installment pertamanya. Ini bisa dipahami karena penonton sekarang lebih ‘percaya’ menyaksikan sebuah franchise yang sudah dikenal lebih dulu ketimbang materi orisinal. That’s why jaman sekarang kita bakal lebih sering menemukan sekuel, prekuel, remake, reboot, atau apapun istilahnya untuk mengeruk keuntungan lebih dari materi yang sudah ada. Salah satu yang cukup beruntung bisa berkembang menjadi franchise laris adalah Pitch Perfect yang jadi sleeper-hit di tahun 2012. Sayangnya, genre musikal tidak begitu diminati oleh penonton Indonesia, sehingga rupanya sang distributor tidak mempercayainya untuk tayang di layar lebar sini. Tapi karena hype-nya ternyata tetap sampai di sini, maka kali ini kita berkesempatan menyaksikan penampilan The Barden Bellas dan grup akapela lainnya di layar lebar. Tentu saja menonton di layar lebar menawarkan pengalaman stage performance yang jauh lebih terasa megah ketimbang di layar laptop. So, kesempatan ini sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Masih sama seperti kebanyakan franchise populer, Pitch Perfect 2 (PP2) mengikuti pola yang dipertahankan dari installment sebelumnya. Yes, kita tetap akan menemukan embarrassing moment sebagai adegan pembuka, konfrontasi dengan kontender terberat, chained aca-battle yang seru, kolase kumpulan adegan latihan yang kocak, dan tentu saja final performances yang paling akbar. Pola yang harus diakui berhasil membangun mood penonton, termasuk timing performance-performance yang dijaga pas sehingga tak terkesan melelahkan ataupun jeda antar performance-nya terlalu lama. Namun saya harus mengakui, PP2 punya cukup banyak poin yang mengungguli pendahulunya.

Jika di installment pertama kita dibuat tertarik tak hanya dengan performance-performance akapelanya, tapi juga desain karakter yang tak kalah menarik, maka di PP2, sisi perkembangan karakter tak terlalu banyak diutak-atik, kecuali tentu saja karater utama, Beca. Selain merasa tak perlu untuk memperkenalkan kembali karakter-karakter khasnya, PP2 memilih untuk membahas isu yang secara umum lebih berbobot ketimbang sekedar urusan persaingan antar group seperti di installment pertama. Dampaknya, penonton pun terbagi dua. Bagi yang mementingkan atau menyukai franchise PP karena karakter-karakternya, mungkin akan sedikit kecewa, meski kesemua karakter dari installment pertama kembali hadir dengan kekhasan masing-masing. Di lain sisi, PP2 mengangkat 2 isu yang cukup penting dan relevan: orisinal vs cover yang akhir-akhir ini jadi isu kontroversial di era digital dan media sosial, serta isu “what’s next after college?”. Isu yang pertama jelas sebuah isu yang relevan, karena akapela identik dengan meng-cover lagu yang sudah populer. Namun harus diakui seorang musisi sejati di satu titik harus menghasilkan karya orisinil untuk mencapai kesuksesan yang sebenarnya. Untuk isu ini, saya selalu berpendapat bahwa meski seorang penyanyi cover mampu membawakan sebuah lagu populer dengan lebih baik daripada artis aslinya, lagu tersebut mungkin tidak akan sepopuler itu jika dibawakan oleh si penyanyi cover lebih dulu. Somehow, keunikan karakter suara jauh lebih berpengaruh ketimbang sekedar suara yang bagus.

Isu kedua, yaitu tentang what’s next after college mungkin terasa lebih berat dan sudah sering diangkat di film remaja, namun di sini ditampilkan dengan ringan, mengundang senyum, namun tak kehilangan kemampuan menyentil bagi penonton yang relate.

Tentu saja selain 2 isu utama ini, ada beberapa sub-plot lain yang ditampilkan untuk mewarnai cerita, termasuk misalnya kisah asmara Fat Amy dengan Bumper. Positifnya, kesemua isu dan sub-plot ini dijahit dengan sangat rapi sehingga tidak terkesan penuh sesak dijejalkan. Kesemuanya menjadi satu paket hiburan yang komplit, dengan suguhan utama (saya yakin ini yang menjadi alasan utama kebanyakan penonton menyaksikan PP2), tentu saja performance-performance keren yang tak hanya mengandalkan songs mash-up dengan voice-split yang cantik, tapi juga stage performance yang serba megah dari The Barden Bellas, dan yang tidak kalah kerennya, kontender terkuat mereka, Das Sound Machine (saya yakin nama ini memang disengaja punya singkatan DSM, apalagi setelah ada line, “Beat DSM!”). Tak ketinggalan, pemilihan lagu-lagu yang range-nya semakin diperluas dari segi genre dan era. Mulai hip-hop era 80-90’an seperti Baby Got Back, Insane in the Brain, Scenario, Doo-Woop (That Thing), Thong Song, This is How We Do It, Jump, hingga 2000-an seperti Bootylicious, Low, alternative rock seperti Uprising dari Muse dan My Songs Know What You Did in the Dark dari Fall Out Boy, dan tentu saja pop lintas jaman, seperti A Thousand Miles, We Are Never Ever Getting Back Together, dan What’s Love Got to Do with It. Jangan lupakan juga Any Way You Want It yang dibawakan dengan berbagai bahasa. Keren!

Berpindahnya sutradara dari Jason Moore ke tangan Elizabeth Banks (yang juga memerankan Gail, salah satu komentator yang turut menyumbangkan humor sindiran cukup banyak di film pertama maupun kedua)  agaknya juga mempengaruhi nuansa feminisme yang terasa lebih kental dan menjadi warna tersendiri di PP2. Contoh yang paling mudah adalah melalui beberapa humor satir bertemakan feminisme yang ditebar di banyak bagian.

Para cast masih mengisi peran-peran ikonik mereka dengan kualitas yang masih sama, mulai Anna Kendrick yang porsi perkembangan karakternya paling banyak. Masih loveable dan mengundang simpati di balik karakternya yang dilematis, Katey Sagal, Brittany Snow, Anna Camp, Alexis Knapp, dan tentu saja Rebel Wilson yang seperti biasa, paling menarik perhatian secara komedi. Sementara Hailee Steinfeld yang memerankan karakter baru, Emily, juga mampu tampil menonjol, lebih dari sekedar faktor fisik yang memang menarik perhatian, meski karakternya tak begitu banyak dikembangkan.

Selain tata kamera yang sangat mendukung terutama stage performances, PP2 juga menyajikan tata suara dengan arah surround yang begitu detail, membuat setiap performance terkesan hidup. Ini juga menjadi alasan kenapa PP2 wajib dinikmati di layar lebar.

Dengan berbagai poin plus yang melebihi installment pertama, PP2 jelas menjadi tontonan wajib bagi mereka yang mengaku fans dari seri pendahulunya, juga bagi penonton baru yang mengaku punya referensi musik yang cukup luas.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 1, 2015

The Jose Flash Review
Begin Again

Tahun 2006, Once, sebuah film musikal indie asal Irlandia berhasil menarik perhatian dunia. Bahkan The Academy sampai menganugerahinya 1 piala Oscar di kategori Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song untuk salah satu lagunya, Falling Slowly. Otomatis nama John Carney selaku penulis skenario sekaligus sutradara dikenal luas. Film sederhana ini berhasil menggali emosi penonton lewat alunan nada dan lirik yang menyayat seperih jalan ceritanya yang agak depresif. Tahun 2014, Carney kembali berkesempatan membuat film yang mirip, tapi dengan dukungan aktor-aktris yang lebih populer, dan tentu saja lagu-lagu yang mudah menginvasi ingatan, lewat Begin Again.

Tak jauh berbeda dengan Once, alur kisah Begin Again begitu sederhana dan tenang, namun ternyata masih tetap mampu menggugah emosi penonton yang mungkin kebetulan bernasib mirip dengan karakter-karakternya, baik Dan maupun Gretta. Intinya adalah menemukan kembali diri sendiri dan healing dari apapun yang telah menimpa. Namun perjalanan cerita sederhana ini menjadi menarik karena dilakukan melalui musik. Tak hanya itu, ide membuat rekaman outdoor secara berpindah-pindah di sudut-sudut kota New York menjadi sebuah ‘petualangan perjalanan’ tersendiri. Apalagi kali ini Carney membawa Begin Again pada nuansa yang lebih fun dan ceria ketimbang Once yang cenderung depresif. Manis dan indah. Tak heran jika Anda sampai sering tersenyum sendiri mengikuti kisahnya.

Kisah Begin Again yang meski sederhana dan tanpa gejolak yang berarti, namun terkesan sangat nyata berkat akting yang begitu natural dari para aktornya. Keira Knightley menjadi aktris yang menghidupkan keseluruhan adegan musikalnya. Siapa yang menyangka Keira cukup berbakat dalam bernyanyi. Emosi yang ditampilkan cenderung tenang dan tidak meledak-ledak, namun mampu dirasakan oleh penonton dengan sangat jelas. Sementara Mark Ruffalo lebih berperan banyak dalam menciptakan nuansa ceria dan menghibur, sekaligus membangun chemistry yang sangat baik dengan Knightley maupun pendukungnya, seperti Hailee Steinfeld dan bahkan Catherine Keener yang porsinya jauh lebih sedikit. Tak ketinggalan debut vokalis Maroon 5, Adam Levine, di layar lebar yang ternyata cukup baik dan mampu mengimbangi aktor-aktor utama lain yang punya jam terbang lebih banyak.

Above all, tentu saja faktor utama keberhasilan Begin Again adalah lagu-lagunya yang manis dan earcatchy, dengan lirik membumi namun indah. Jangan kaget kalau seusai menonton Anda minimal akan bersenandung lagu-lagu yang ada di sini.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:


  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song - Gregg Alexander & Danielle Brisebois (Lost Stars)
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates