The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Opens August 16.

Saturday, March 28, 2015

The Jose Flash Review
The Gunman

Sejak Liam Neeson tampil di franchise Taken (dan tentu juga sejak Sylvester Stallone mengajak rekan-rekan seangkatannya bergabung di The Expendables), tema badass oldman menjadi sebuah trend baru yang masih relevan bahkan sampai tahun 2015 ini. Bahkan belum lama ini kita masih disuguhi aksi Liam Neeson untuk kesekian kalinya di Run All Night. Disandingkan dengan aktor gaek lainnya, Ed Harris pula. Entah apakah penonton sudah mulai bosan dengan tema seperti ini. Saya rasa selama menampilkan adegan-adegan aksi yang mendebarkan, inovatif, dan kickass, tema ini bakal terus bertahan.

Salah satunya yang mencoba mengikuti jejak Liam adalah Sean Penn yang selama ini kita kenal untuk peran-peran watak dan serius. Dengan nama Pierre Morel di bangku sutradara, cukup jelas terlihat kalau The Gunman ini berusaha mengulang kesuksesan (atau syukur-syukur bisa jadi franchise baru) Taken, dengan ‘mengorbitkan’ Sean Penn. Banyak formula dan treatment dari Taken yang dicoba diimplementasikan di sini. Mulai style-nya yang Eropa banget, karakter utama, Terrier yang diburu sepanjang film, dan tentu saja karakteristik Terrier yang tipikal badass oldman lainnya.

Sayang formula yang sama tak sepenuhnya berhasil di sini. Pertama, The Gunman memang punya premise yang cukup menarik untuk diikuti. Tapi sayangnya di layar, hasilnya tak semenarik di atas kertas. Selain pace-nya yang ‘kurang pas’, storyline-nya ternyata banyak yang berlangsung bertele-tele dan sebagian besar sebenarnya mencomot dari berbagai film. Kedua, Sean Penn bukanlah Liam Neeson. Di banyak adegan, Sean terlihat tidak segarang dan setegap Liam. Bahkan caranya berjalan saja sudah tidak begitu meyakinkan sebagai action hero. Untung saja di banyak adegan fight, Sean masih menunjukkan sedikit kharismanya. Tak sampai memorable, namun cukup asyik untuk diikuti dan dinikmati.

Di jajaran pemeran pendukung, Javier Bardem, Ray Winstone, dan Mark Rylance sebenarnya cukup mencuri perhatian. Namun somehow di layar ketiganya seperti kekurangan porsi untuk menjadi lebih memorable. Jasmine Trinca yang menjadi satu-satunya wanita di jajaran cast pria juga belum begitu berhasil mencuri perhatian karena perannya yang seolah tak lebih dari sekedar pemanis film. Sementara Idris Elba diberi karakter yang tidak begitu jelas ‘fungsi’ dan sepak terjangnya di layar, kalau tidak mau disebut dipaksakan muncul.

Bak film-film bergaya Eropa lainnya, The Gunman juga menawarkan desain produksi yang indah. Tentu pemilihan Barcelona, Congo, dan Gibraltar sebagai lokasi syuting bukanlah tanpa tujuan. Mulai setting lokasi apartemen, rumah dan villa Felix, kantor Cox, hingga tentu saja arena bullfight yang menjadi latar belakang adegan klimaks. Semuanya begitu indah direkam oleh Flavio Martinez Labiano.

Dengan berbagai kelemahannya, The Gunman sebenarnya bisa dipresentasikan dengan jauh lebih layak dan menarik. Namun apa yang tersaji di layar cukup menghibur sebagai instant entertainment. Tidak sampai memorable sehingga akan Anda ingat untuk jangka waktu lama.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 26, 2015

The Jose Flash Review
The Spongebob Movie: Sponge Out of Water

Siapa yang tidak kenal Spongebob dan teman-temannya yang berasal dari Bikini Bottom? Mereka ini adalah ikon generasi di era 2000-an yang begitu kuat. Sekaligus menandai perubahan selera penonton di generasinya dengan humor-humor cerdas di balik keluguan dan kebodohannya. Maka tak heran jika menjadi franchise animasi paling berpengaruh, meski menjadi kontroversi di mana-mana yang justru menguatkan brand franchise-nya. Kontroversi yang sebenarnya sebuah kejujuran dalam realita kehidupan sehari-hari, seperti misalnya umpatan yang ditampilkan dengan cara cerdas sehingga tak terkesan kasar. Tapi di balik cerita-ceritanya yang terkesan ngaco, Spongebob Squarepants tetap punya message-message positif  untuk disampaikan. Itulah yang membuat franchise ini terus hidup sampai sekarang dan begitu dicintai jutaan fans-nya di seluruh dunia. Tak hanya anak-anak, tapi juga remaja dan bahkan dewasa.

Beberapa kali diangkat ke layar lebar, kali ini Nickelodeon mencoba melakukan treatment yang berbeda untuk The Spongebob Movie: Sponge Out of Water (SOoW). Tak hanya membuatnya dalam format animasi 2D seperti serialnya, tapi juga menghadirkan adegan-adegan dalam format 3D dan menggabungkannya dengan adegan-adegan live action. Tidak ada yang baru sebenarnya, tapi harus diakui penggabungan kesemuanya menjadi satu paket menjadikan film kali ini sangat menarik untuk diikuti, apalagi bagi penggemar serial TV-nya.

Cerita yang melatari penggabungan berbagai teknik animasi ini ternyata juga dibuat dan ditata dengan sangat menarik. Di atas kertas mungkin premise-nya terdengar ngaco dan absurd, tapi itulah Spongebob. Ia mewujudkan semua ide dan fantasi terliar ke dalam satu cerita yang innocent tapi diwarnai dengan humor-humor cerdas yang berlagak bodoh. Memang tak semua penonton bisa menerima dan memahaminya. Begitu pula dengan serialnya bukan? Jika Anda menyukainya, maka Anda akan sangat menikmati dan mencintai SOoW karena kadarnya yang dilipat gandakan. Ditambah penampilan yang sangat menarik dari Antonio Banderas yang punya aksen dan gesture yang khas. Elemen-elemen klasik dari layar TV yang ditampilkan di sini turut membuat fans-nya menyadari seberapa besar cintanya terhadap franchise ini. Terutama sekali bagaimana jingle Spongebob dikumandangkan di penghujung film. Sangat lovable bagi saya yang begitu mencintai franchise-nya. Tapi jika Anda sedari dulu sudah antipati bahkan membenci serialnya, maka tak ada gunanya juga Anda menyaksikan SOoW. My advice, try to open your mind and let everything flow in front of you.

Jika Anda punya kesempatan untuk menyaksikan SOoW dalam format 3D, saya sangat merekomendasikannya. Tak hanya saat adegan-adegan live action dengan animasi 3D, tapi juga saat adegan dengan teknik animasi 2D yang terasa begitu hidup. It was like a fantasy come true. Termasuk juga depth yang begitu terasa dan sesekali pop-out effect yang mengasyikkan.
Dukungan soundtrack-soundtrack yang diisi oleh N.E.R.D. turut membuat nuansa SOoW menjadi begitu menyenangkan, ceria, dan trippy.

Like I always said, SOoW adalah sajian layar lebar yang pantang untuk dilewatkan bagi pecinta serial TV-nya. Inilah treatment termaksimal dan terliar yang pernah diangkat oleh franchise Spongebob.


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 24, 2015

The Jose Flash Review
The Divergent Series: Insurgent

Di tengah maraknya novel young adult bertema dystopian, Divergent karya Veronica Roth berhasil mengikuti kesuksesan seri The Hunger Games yang juga diproduksi oleh Lions Gate, hanya saja Divergent dikerjakan oleh salah satu anak perusahannya, Summit Entertainment. Mengumpulkan US$ 288 juta lebih di seluruh dunia, tak perlu menunggu lama bagi Summit memutuskan melanjutkan franchise-nya. Tak tanggung-tanggung, Insurgent diberi kucuran dana yang lebih besar, yaitu sekitar US$ 110 juta. Bahkan bagian pamungkasnya, Allegiant, mendapatkan treatment yang sama seperti franchise Harry Potter, The Twilight Saga, dan The Hunger Games, yaitu dibagi menjadi 2 bagian. Tentu saja yang terakhir adalah upaya untuk memperpanjang usia franchise sehingga bisa menghasilkan lebih banyak pundi-pundi.

Insurgent punya formula yang kurang lebih sama dengan franchise sejenis. Tak hanya itu, treatment adegannya pun tak jauh berbeda. Dibuka dengan sebuah adegan mimpi, penambahan karakter-karakter baru yang mungkin mengejutkan dan punya pertalian dengan karakter utama, dan juga revealing rahasia yang selama ini disembunyikan oleh karakter utama, namun masih punya goal utama yang tetap. Insurgent has it all. Tidak ada yang baru. Bisa jadi menarik jika disampaikan dengan menarik pula. Terutama sekali dilematis moral yang dialami Tris, yang realistis dan menarik untuk diangkat. Sayangnya sutradara Robert Schwentke (RED, R.I.P.D.) masih kurang luwes dalam bercerita. Alhasil  storyline Insurgent berjalan begitu saja, tanpa emosi yang berarti, sehingga menjadikan film secara keseluruhan kurang terasa hidup. Belum lagi banyak kejadian yang terasa begitu bertele-tele dan seperti pengulangan semata. Sedikit melelahkan untuk diikuti, apalagi dengan cerita yang sudah formulaic.

Namun Summit paham betul bagaimana men-treat sebuah sekuel sehingga terasa lebih megah daripada sebelumnya. Ya, dana yang lebih besar tentu saja digunakan untuk lebih banyak adegan dengan visual effect bombastis. Benar saja, ada banyak adegan yang ditampilkan sangat spektakuler, terutama simulasi kesemua faksi yang harus dilalui Tris untuk menguji divergent level-nya. Adegan-adegan aksi yang terutama melibatkan Tris dan Four, karakter utama kita, juga punya level dan kadar yang meningkat. Sangat intens dan thrilling. Setidaknya part ini berhasil menghibur dan cukup membayar kelemahan storytelling-nya.

Shailene Woodley tak begitu mengalami perkembangan akting dari seri sebelumnya, namun ini bukan berarti buruk karena ia sudah memulainya dengan cukup bagus. Begitu juga pria-pria yang sebagian pernah menjadi pasangannya di film lain, mulai Theo James, Ansel Elgort, sampai Miles Teller. Kate Winslet masih punya kharismatik yang sama sebagai karakter antagonis Jeanine. Tapi karakter baru yang berhasil mencuri perhatian adalah Evelyn yang diperankan oleh aktris papan atas lainnya, Naomi Watts. Dengan kharisma yang setara Kate (dan juga Julianne Moore di franchise The Hunger Games), karakter yang diperankan Naomi seharusnya bisa jadi perhatian yang menarik untuk digali di seri berikutnya.

Dukungan soundtrack yang memenuhi seri pertamanya juga masih mendukung di seri ini, terutama M83. Sayangnya sepanjang film, tak satupun lagu yang digunakan untuk mengiringi adegan. Lagu-lagu ini hanya diputar saat credit title. Itu pun ternyata lagu-lagunya tidak se-ear catchy di seri pertama. Untung saja score dari Joseph Trapanese cukup mampu sedikit mewarnai nuansa intensitas film.

Tak hanya visual effect yang dilipat gandakan, tata suara pun mendapatkan peningkatan yang cukup signifikan. Apalagi dengan memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos yang mampu menghasilkan suara yang lebih detail dan efek surround yang lebih hidup.

In the end, meski punya storyline yang sudah formulaic, Insurgent sebenarnya menggali lebih dalam isu pembagian manusia dalam faksi-faksi. Bahkan ia juga menjelaskan tujuan pembagian faksi-faksi. Karakter Tris juga mendapatkan perkembangan yang cukup menarik. Sayang storytelling yang bertele-tele tak mampu memoles maupun menutupi elemen-elemen cerita yang menarik ini. Untung saja akhirnya bisa sedikit terbayar dengan tampilan visual yang megah dan adegan-adegan aksi yang mendebarkan, sehingga hasil akhirnya bisa cukup menghibur. Kita lihat saja bagaimana jadinya Allegiant yang malah dibagi menjadi 2 bagian. Apakah akan mengulang kesalahan The Hunger Games: Mockingjay Part 1 yang terasa tak punya perkembangan cerita berarti dan terkesan membosankan karena harus dibagi menjadi 2 bagian? Let’s see in incoming years!


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 20, 2015

The Jose Flash Review
Run All Night

Pesona Liam Neeson masih belum pudar pasca Taken 3 yang terasa begitu melelahkan. Setidaknya begitulah menurut studio-studio Hollywood. Maka sekali lagi di tahun 2015 ini, kita diajak menyaksikan aksi Liam Neeson sebagai sosok action-hero tua. Kali ini ia tak sendiri, karena ia harus head to head dengan aktor gaek lainnya, Ed Harris. Di bawah komando Jaume Collet-Serra yang pernah berkolaborasi dengan Liam di Non-Stop dan Unknown, Run All Night sebenarnya menawarkan cerita yang tak beda jauh dari franchise Taken: karakter utama action hero yang harus beraksi untuk menyelamatkan keluarganya.

Bedanya Run All Night dibekali storyline yang lebih kompleks. Karakter utamanya, Jimmy Conlon ditampilkan sebagai pembunuh bayaran, instead of penegak hukum seperti di Taken. Dengan karakter anak yang tak kalah jagoannya dan digambarkan membenci ayahnya, Mike Conlon, cerita menjadi menarik. Apalagi setelah Mike dikejar-kejar oleh bos Jimmy karena dituduh membunuh putra satu-satunya. Cerita pun bergerak menjadi menarik, sebenarnya. Sayang rupanya cerita bergerak cukup lambat di babak pertama, terutama ketika memperkenalkan karakter Jimmy dan hubungannya dengan Mike. Di babak ini mungkin hanya visualisasi scenic yang menarik perhatian. Cerita baru terasa benar-benar hidup dan seru ketika Mike mulai diserang hingga penghujung adegan. Satu per satu adegan kejar-kejaran, hide and seek,  serta baku hantam head to head ditampilkan mewarnai layar dengan pace yang terasa sangat pas dan dinamis. Tak lupa pula perkembangan hubungan antara karakter Jimmy-Mike yang diberi porsi cukup banyak  dan cukup berhasil menyentuh saya meski tak sampai emosional berlebihan.

Liam Neeson sekali lagi membuktikan ketangguhannya sebagai action-hero tua. Ed Harris pun menjadi rival yang seimbang, baik dari segi akting maupun ke-bad ass-an. Joel Kinnaman sebagai Mike juga memberikan performa yang seimbang dengan Liam, sekaligus menampilkan chemistry yang cukup kuat pula. Di lini pemeran pendukung, Vincent D’Onofrio dan Common turut mencuri perhatian berkat penampilan masing-masing.


Overall, Run All Night mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru. Pun juga bukan yang terbaik di sub-genre maupun untuk premise sejenis. Namun saya rasa  bisa saja menjadi bagian dari franchise Taken, dengan jalinan cerita yang jauh lebih menarik dan emosi yang sedikit lebih terasa, tanpa meninggalkan adegan-adegan aksi yang intens, thrilling, dan disajikan bertubi-tubi. Menarik dan sangat menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 17, 2015

The Jose Flash Review
Cinderella (2015)

Siapa yang tidak kenal Cinderella? Selain menjadi salah satu dongeng princess paling populer sepanjang masa, premise dasarnya sudah digunakan berkali-kali di berbagai ranah film dunia dengan berbagai modifikasinya mulai modern ala A Cinderella Story sampai feminisme ala Ever After: A Cinderella Story. Bahkan namanya masuk dalam judul film macam Cinderella Man. Cinderella bukan lagi hanya sekedar nama, namun juga istilah untuk menjelaskan keadaan seseorang. Disney sebagai salah satu pemegang hak untuk kisah Cinderella, tak lupa untuk mengangkat animasi klasiknya ke live action, setelah Maleficent tahun lalu, dan sebelum Beauty and the Beast tahun 2017 nanti.

Di bawah komando Kenneth Branagh, Cinderella versi 2015 ternyata memilih untuk setia terhadap materi aslinya. Tidak ada lagi pandangan-pandangan feminisme modern ala Ever After atau yang pernah diselipkan Disney di Maleficent. Storyline dan desain karakternya masih sama dengan materi aslinya. Namun bukan berarti Cinderella kali ini kehilangan gregetnya. Pembaruan-pembaruan visualisasinya berhasil memperbarui visi dan aspek magical dari Cinderella. Mulai desain set, desain produksi karakter-karakter sekaligus property-property magisnya, hingga tentu saja costume design Sandy Powell yang tak perlu lagi diragukan kualitas dan kecantikannya

Penampilan Lily James sebagai karakter utama sudah cukup merepresentasi karakter Cinderella. Tak sampai remarkable, tapi cukup mengesankan. Sementara seperti karakter antagonis di dongeng lainnya, penampilan Cate Blanchett berhasil mencuri perhatian sepanjang film.  Sayangnya karakter sang pangeran kurang menarik perhatian di tangan Richard Madden. Namun bukan sekali ini saja karakter pangeran menjadi tenggelam di antara karakter-karakter kuat lainnya di sebuah film berdasarkan dongeng. Sebelumnya, Brenton Thwaites juga tidak begitu menonjol dan diingat sebagai pangeran di Maleficent. Yang tampil lebih mengesankan justru Helena Bonham Carter sebagai Fairy Godmother meski durasinya sangat terbatas. Well, harus diakui Helena memang cocok untuk peran-peran negeri dongeng seperti ini.

Sama seperti film-film Disney lain, Cinderella versi 2015 juga dibekali soundtrack yang diisi oleh penyanyi Inggris, Sonna Rele lewat lagu Strong. Sayang, lagu ini terasa kurang kuat sehingga tidak begitu bergema. Lagu tradisional Lavender’s Blue yang dinyanyikan karakter ibu Ella di awal film justru lebih familiar dan terus terngiang di ingatan saya.


Overall, tidak ada sesuatu yang baru dari Cinderella versi 2015 ini. Tak sampai menjadi sesuatu yang istimewa, namun harus diakui berhasil memperbarui kisahnya sekaligus me-revive franchise-nya yang harus di-pass on antar generasi, lewat berbagai elemen desainnya. Ditambah iming-iming short Frozen Fever di opening yang tentu mengundang penasaran banyak penonton, meski nyatanya biasa saja walau cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominee for:

  • Best Achievement in Costume Design - Sandy Powell
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Chappie

Tahun 2009 saya dikejutkan dengan judul District 9, sebuah film sci-fi bertemakan serangan alien yang berhasil dinominasikan untuk kategori Best Motion Picture of the Year. Mengejutkan karena menurut saya The Academy jarang sekali memasukkan tipikal film ini ke dalam nominasi, apalagi untuk kategori tertinggi. Maka saya berpikir pasti ada sesuatu yang spesial dari film yang digarap oleh Neill Blomkamp yang saat itu juga masih asing terdengar. Benar saja, District 9 adalah film panjang pertama sutradara asal Afrika Selatan itu, setelah sebelumnya sempat menggarap beberapa film pendek.

Karir Blomkamp di Hollywood berlanjut ketika dipercaya untuk menggarap Elysium yang skalanya jauh lebih besar. Benang merahnya pun sama, tema sci-fi dengan sindiran-sindiran tentang kemanusiaan, kondisi sosial, dan politis. Tahun 2015, sekali lagi Blomkamp mendapatkan lampu hijau untuk mewujudkan Chappie, sebuah sci-fi yang ciri-cirinya juga tak beda jauh dari 2 film Neill sebelumnya. Kali ini Neill membidik premise yang mirip perpaduan kisah Pinokio (atau lebih tepatnya Artificial Intelligence dan Bicentennial Man) dan Robocop.

Dengan pendekatan satir, dari luar Chappie terkesan seperti sebuah action-komedi yang tak jarang membuat penonton tertawa terbahak-bahak, terutama melihat tingkah robot Chappie yang lugu dan pasangan karakter Ninja-Yolandi yang berusaha mengajari Chappie berbagai tindak kejahatan. Tapi jika mau dipahami lebih dalam, sajian komedi yang ditampilkan teramat sangat gelap, bahkan sampai at some point, saya tidak lagi menganggapnya lucu. Mungkin Neill sendiri sengaja berusaha ‘menghibur’ penonton dengan mengajak tertawa tapi pada akhirnya dibuat miris. Jika benar demikian, maka sekali lagi karya Neill berhasil mencapai tujuannya.

Namun Chappie tidak sesederhana itu. Ada beberapa karakter lain yang dihadirkan untuk ‘meramaikan’ cerita. Ada Michelle Bradley, bos polisi robot yang ambisius dan hanya mementingkan keuntungan, dan Vincent Moore, teknisi robot yang iri karena karyanya tidak dilirik untuk direalisasikan. Sebenarnya kehadiran karakter-karakter penting ini mampu menjadikan kisah Chappie menjadi lebih menarik dan padat. Namun sayangnya kesemuanya disajikan dengan kurang seimbang sehingga alih-alih menjadi satu kesatuan cerita yang padat, Chappie malah terasa agak bertele-tele. Message utama tentang parenting yang ingin disampaikan pun menjadi bias dan terasa kurang kuat gara-gara sub-plot-sub-plot ini. Belum lagi ending-nya yang terkesan kurang klimaks, kalau tidak mau dibilang aneh.

Sebagai karakter utama yang hanya terdengar suaranya, Sharlto Copley tampil sangat mengesankan. Dengan artikulasi yang lugu, membuat siapa pun yang mendengarkan akan lirih dan tersentuh. Pasangan musisi hip-hop Ninja dan Yo-Landi Visser yang sekaligus mengisi soundtrack-nya dan menjadikan film menjadi semakin asyik diiikuti, turut memberikan warna terindah bagi Chappie. Komikal sekaligus serius. Begitu juga Sigourney Weaver dan Hugh Jackman yang meski terkesan hanya menjadi pelengkap, sebenarnya tampil menarik. Namun sayangnya Dev Patel yang sebenarnya diletakkan sebagai salah satu karakter utama, justru terasa tenggelam di antara cast-cast pengisi karakter lainnya. Bukan salah Dev, tapi memang karakternya yang tidak ditulis dengan baik.

Aspek menarik lain dari Chappie adalah desain produksinya yang colorful dan terkesan youth, namun terkesan ‘gelap’ dan suram, sejalan dengan kisahnya sendiri. Musik-musik bernuansa techno dan rave, dipadukan dengan scoring Hans Zimmer, yang mewarnai sepanjang film, cukup berhasil menghidupkan nuansa universe dan ceritanya, meski tak semuanya terasa berkesan.


In the end, Chappie mungkin bukan karya terbaik Blomkamp. Namun sebagai suguhan hiburan yang menggelitik sekaligus sedikit menggugah, Chappie masih cukup berhasil menyampaikan tujuannya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 14, 2015

The Jose Flash Review
American Sniper

Film dijadikan sebuah propaganda bukanlah barang baru lagi. Bahkan sudah terjadi sejak awal sejarahnya. Di Indonesia sendiri tentu kita semua mengenal film Pemberontakan G30S/PKI yang digarap oleh Arifin C. Noer. Meski pada akhirnya film-film macam ini banyak yang anti, tapi sebagai suatu karya sinematik harus diakui banyak yang digarap dengan sangat baik. Tidak hanya dari segi teknis, tapi juga kemampuannya untuk ‘menggerakkan’. Maka tak heran jika film memang menjadi media paling ampuh untuk ber-propaganda.

Sebagai sutradara, Clint Eastwood sudah pernah menggarap film yang sempat dituduh sebagai propaganda Amerika. Sebelumnya, Clint membuat secara back-to-back Flags of Our Fathers dan Letters from Iwo Jima yang memberikan dua sudut pandang yang berbeda dari peristiwa perang Jepang-Amerika Serikat di penghujung Perang Dunia II. Meski demikian jika mau dilihat lebih dalam, keduanya punya message anti-war ketimbang propaganda pembelaan Amerika Serikat atas serangannya. Tahun 2014 Clint kembali mengangkat tema serupa dengan background peristiwa yang jauh lebih dekat dengan masa sekarang: perang Iraq, dengan sudut pandang salah satu sniper paling kontroversi, Chris Kyle.

Kali ini Clint mencoba membuat penonton merasakan dan memahami dampak psikologis seorang Chris Kyle dari perang-perang yang dilaluinya. Secara runtut Clint membawa penonton mulai masa kecil Chris, ketika sang ayah men-doktrinnya yang akhirnya memotivasi Chris pada tiap keputusan yang diambilnya, hingga peristiwa-peristiwa dalam perang yang mempengaruhi kondisi psikologisnya. Alhasil, penonton mendapatkan gambaran dan bahkan pengalaman yang utuh untuk ikut merasakan serta memahami kondisi psikologis Chris. Bukan tak mungkin adegan-adegan perang yang digarap serba intens, keras, dan sadis juga turut ‘mempengaruhi’ kondisi psikologis Anda seusai menontonnya.

Dengan porsi antara action dan drama yang seimbang, American Sniper menjadi sajian dengan message serta efek yang tersampaikan dengan pas, namun juga memberikan entertainment yang sangat berkesan berkat adegan-adegan perang yang menurut saya termasuk salah satu yang paling intens. Apalagi didukung sound mixing dan sound editing yang sangat terjaga. Detail sound effect dan efek surround-nya luar biasa. Tak heran jika sampai diganjar Oscar untuk kategori Best Achievement in Sound Editing.

Bradley Cooper yang menjadi spotlight utama sepanjang film, patut mendapatkan kredit yang sangat besar. Ia mampu bertransformasi menjadi sosok bengis sekaligus rapuh, sosok polos yang hanya ingin ‘menjaga dan melindungi’. Terlepas seperti apa sosok Chris Kyle yang sebenarnya, Bradley sudah menampilkan performance yang begitu convincing (bahkan gemilang) sesuai dengan tujuan cerita. Sienna Miller yang berperan sebagai pasangan Bradley pun mampu mengimbangi performa sang aktor utama dengan sangat baik.


Sekali lagi Clint Eastwood menampilkan karya yang luar biasa powerful berkat script yang disusun dengan sangat runtut, padat, dan berhasil membangun emotional impact secara maksimal. Bahkan ketika credit title mulai rolling tanpa pengiring musik sedikit pun justru membuat nuansa emosionalnya terasa begitu menyayat. Tentu saja Anda harus membuang jauh-jauh prasangka propaganda untuk bisa merasakannya. Toh dari yang saya tangkap sepanjang film, American Sniper hanya sekedar  berusaha mengajak penonton merasakan efek psikologis, terutama trauma, yang dirasakan oleh Chris. Bahkan saya menangkap pesan anti-war dari sajian Clint kali ini.  Namun tentu tiap orang punya perspektif yang berbeda-beda dalam menanggapi kisah American Sniper, itu hak Anda, tergantung pula dari seberapa banyak jenis informasi yang Anda terima selama ini berkaitan dengan subjek. Namun bagaimanapun American Sniper tetaplah suatu karya yang powerful sekaligus impactful.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Achievement in Sound Editing – Alan Robert Murray, Bub Asman
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role – Bradley Cooper
  • Best Writing, Adapted Screenplay – Jason Hall
  • Best Achievement in Film Editing – Joel Cox, Gary Roach
  • Best Achievement in Sound Mixing – John T. Reitz, Gregg Rudloff, Walt Martin
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 6, 2015

The Jose Flash Review
Silent Hero(es) (沉默英雄)

Etnis Tionghoa adalah salah satu dari etnis yang cukup besar dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Tapi eksistensi (budaya)-nya baru terdengar dan benar-benar menjadi bagian dari kebudayaan nasional sejak pemerintahan mantan presiden Abdurrahman Wahid. Satu per satu sineas dari etnis ini pun bermunculan dan mewarnai perfilman Indonesia. Akan tetapi yang benar-benar mengangkat kebudayaan etnis Tionghoa masih bisa dihitung dengan tangan. Maka ketika Ducko Chan, yang sebelumnya dikenal sebagai fotografer/videografer komersil/filmmaker film pendek, membuat sebuah film panjang pertamanya yang mengangkat Barongsai sebagai salah satu budaya Tionghoa, ini menjadi menarik. Apalagi dengan gimmick “film Indonesia pertama yang dialog-nya sebagian besar menggunakan bahasa Mandarin” seperti yang dimiliki Singapura atau Malaysia yang sama-sama punya cukup banyak etnis Tionghoa. Dengan dukungan dari mantan bupati Singkawang, Hasan Karman, sebagai investor, Silent Hero(es) (SH) dibuat dengan semangat indie, melibatkan komunitas DSLR  Cinematography Indonesia, bahkan menurut closing title-nya, sebagian besar kru adalah volunteer yang tidak dibayar. Tujuan utamanya, yang katanya, untuk membantu melestarikan budaya Barongsai, patut mendapatkan apresiasi tersendiri, terlepas dari bagaimana hasil akhirnya.

Namun rupanya debut film panjang Ducko Chan ini masih sangat jauh dari kata baik, apalagi sempurna. Terutama sekali adalah naskah yang tampaknya menjadi terabaikan. Bagaimana tidak, bahkan di seksi cast & crew situs resminya, tidak ada satupun yang tercantum sebagai penulis naskah. Sedangkan menurut filmindonesia.or.id, nama Ducko Chan sendirilah yang dicatat sebagai penulis naskah. Tidak heran jika jalan cerita SH tidak hanya formulaic, tapi juga berkembang klise, dengan struktur yang kacau sehingga menyebabkan plot hole dan kontinuiti adegan yang tidak logis di mana-mana. Premise-nya sendiri sebenarnya sederhana, yaitu tentang sekelompok anak muda yang mengusahakan sendiri untuk berhasil menyalurkan passionnya, di tengah penentangan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga. Tapi sebenarnya dengan naskah dan penyutradaraan yang inovatif, masih tetap bisa jadi sajian yang menarik. Sayangnya, SH masih jauh dari harapan itu. Misalnya saja, alasan penentangan keluarga masing-masing anggota barongsai yang kurang kuat dan tidak konsisten. Ditambah lagi perubahan sikap penentangan menjadi penerimaan yang mendadak dan drastis. Logika lain, misalnya bagaimana tokoh Ernest alias Li Jia Cheng diperbolehkan menekuni apa saja kecuali barongsai. Maka ia pun belajar saxophone. So, apa bedanya barongsai dan saxophone yang sama-sama produk kesenian dan "tidak bisa menghasilkan uang" seperti halnya berbisnis?

Kekacauan juga terjadi pada struktur cerita. Dari awal hingga hamper klimaks, cerita berjalan lurus seperti halnya drama gereja yang klise. Namun kemudian dilanjutkan klimaks cerita (apalagi kalau bukan final perlombaan yang menentukan), banyak turnover yang terasa begitu drastis dan terkesan gampangan. Baru setelah klimaks cerita berakhir, dijelaskan satu-satu apa yang terjadi, yang menyebabkan turnover itu. Well, niatan untuk men-twist cerita harus gagal karena: satu, yang sebenarnya terjadi biasa saja, tidak istimewa sama sekali. Dua, terlalu banyak angle karakter yang digunakan untuk men-twist sehingga menjadi terlalu panjang dan klimaks-nya sudah terlampau jauh lewat.

Naskah yang standard dan tereksekusi berantakan masih ditambah dengan instinct storytelling yang masih jauh untuk menghasilkan sesuatu yang lebih menarik. Saya mencatat ada cukup banyak momen yang seharusnya bisa jadi jauh lebih emosional, namun harus terlewatkan begitu saja hanya karena timingnya yang terlalu cepat dan penekanan adegan yang nihil. Alhasil, cerita yang sudah biasa saja tidak berhasil tampil menjadi lebih menarik karena tidak di-“perk up” sama sekali. Performance barongsai yang sebenarnya menjadi highlight utama, juga tidak tergarap dengan maksimal. Tidak ada something yang membuat penonton kagum, baik itu dari segi koreografi maupun camera work yang seharusnya bisa mengeksploitasi keindahan performance-nya. Yang ada hanyalah fusion antara performance barongsai dengan musik hiphop dan jazz yang hasilnya ternyata biasa saja. Seolah menggampangkan image bahwa sesuatu yang bagus dan beda hanya bisa disajikan dengan fusion berbagai elemen budaya. Well, boleh saja sih asal hasilnya memang blending dengan bagus. Kalau biasa saja, ya tetap saja terasa mubazir sih.

Di jajaran cast sebenarnya tidak buruk, meski sebagian besar adalah penampilan pertama mereka di film panjang. Justru kalau mau jujur, penampilan para cast-nya lah yang menolong SH sehingga masih bisa nyaman dinikmati. Terutama sekali pelafalan dialog berbahasa Mandarin dialek Hakka dengan lancar dan hidup. Bahkan jika menutup mata dan hanya mendengarkan audionya, SH sudah seperti film Mandarin sungguhan. Nirina Zubir sebagai satu-satunya aktris professional di jajaran cast jelas terasa yang paling menonjol. Latar belakangnya yang anak duta besar dan memang jago bahasa Mandarin, memperkuat karakternya di sini.

Sementara itu penampilan Fina Phillipe, Ivanaldy Kabul, Zemary Sahat, dan Alena Wu memang masih jauh dari kata istimewa, tapi cukup baiklah sebagai debut. Namun above all, penampilan Joyln Hendrawan sebagai si kecil Yu Yu, berhasil mencuri perhatian saya.

Untuk teknis, secara keseluruhan tergolong cukup mumpuni. Meski ada beberapa pergerakan kamera yang kurang rapi dan coloring yang tidak merata, tapi masih bisa ditolerir apalagi sebagai film indie yang serba terbatas. Sebaliknya tata suara justru terdengar lebih tergarap baik. Setidaknya keseimbangan antara dialog, sound effect, dan musik yang tertata baik.

Once again, SH memang masih jauh dari kata bagus. Namun mengingat semangat indie dan segala keterbatasannya, hasil akhir SH masih layak untuk diapresiasi. Toh, dengan mengesampingkan berbagai kekurangan dan keanehannya, SH juga masih cukup bisa dinikmati. Semoga saja jejak SH bisa terus diikuti oleh karya-karya lain dengan berbagai aspek yang lebih mumpuni, baik sebagai film yang mengangkat budaya Tionghoa maupun film yang berani menggunakan bahasa dan dialek daerah.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 3, 2015

The Jose Flash Review
Focus

Film bertemakan conman atau penipu mungkin sudah banyak diangkat, namun tak banyak yang benar-benar punya ‘trik’ yang menarik dan bikin penasaran. Yang mungkin paling mudah diingat penonton adalah remake yang dijadikan trilogy, Ocean’s Eleven di awal 2000-an. Kalau tema conman yang disandingkan dengan romance, saya mengingat judul The Thomas Crown Affair yang menyatukan Pierce Brosnan dan Rene Russo, serta Entrapment yang mempertemukan Sean Connery dan Catherine Zeta Jones. Keduanya mampu mengecoh masing-masing pasangan dan penonton. Formula yang serupa sekali lagi digunakan untuk film terbaru Will Smith, Focus.

Berfokus pada sosok Nicky (Will Smith), cerita Focus dimulai dengan aksi penipuannya yang mempertemukan dengan sesama penipu, Jess (Margot Robbie). Dari situ keduanya dilebur dan bergulirlah cerita utamanya. Penonton akan dibawa pada adegan-adegan “tipu” yang tak hanya berhasil bikin penasaran tapi juga memperdaya. Babak pertama berjalan dengan mulus meski terasa sedikit overlong, namun memasuki babak kedua, perlahan cerita berpindah jalur. Sekali lagi penonton dibuat bingung apakah yang terjadi antara Nicky dan Jess benar atau masing-masing lagi-lagi punya motif penipuan. Tapi kali ini intensitasnya menurun. Entah karena penonton seolah tidak bisa ditipu untuk kedua kalinya, atau adegan-adegannya memang tidak semenarik babak sebelumnya. Menjelang konklusi, Focus lagi-lagi berusaha memberikan twist, namun sayangnya turnover di babak kedua sudah lebih dulu membuat saya merasa agak dipaksakan tanpa setup yang cukup meyakinkan. Tapi saya berusaha berpikir positif, ini kan film tentang conman jadi wajar kalau sering ‘menipu’.

Naskah yang begitu cerdas dan meyakinkan dalam membangun tipuan demi tipuan, membuat aspek romance-nya menjadi sedikit terbengkalai (atau setidaknya, terdistraksi). Memang porsi romance-nya ada dan cukup banyak, namun secara keseluruhan masih terasa kalah dibandingkan “wow factor” yang disebabkan oleh aspek tipu-tipunya. Untung saja chemistry antara Will Smith dan Margot Robbie terjalin dengan kuat dan manis sehingga setidaknya unsur romance-nya masih sedikit terasa.
Will Smith yang hampir selalu menjadi one man show (atau setidaknya menjadi kekuatan utama bagi filmnya) kali ini masih menunjukkan kharismanya. Tapi siapa yang bisa mengalihkan perhatian dari Margot Robbie yang tampil memikat seiring dengan porsi peran yang lebih banyak daripada penampilan breakthrough-nya sebagai istri Jordan Belfort di The Wolf of Wallstreet? At some point, aura seksi yang dimilikinya mengungguli kualitas aktingnya yang sebenarnya termasuk baik.

Aktor-aktor pengisi karakter pendukung juga mampu ditulis dan ditampilkan dengan porsi yang pas sehingga tetap berkesan tanpa harus mengalahkan karakter-karakter utamanya. Mulai Rodrigo Santoro (Garriga), Gerald McRaney (Owens), bahkan BD Wong (Liyuan), dan tentu saja Adrian Martinez (Farhad).

Aspek teknisnya juga digarap dengan taste tinggi. Mulai sinematografi Xavier Grobet, desain produksi yang cantik dan berkelas, serta tentu saja pemilihan soundtrack yang semakin menguatkan nuansa mewah dan classy dengan musik-musik jazz, blues, dan folk Argentina.

In the end, Focus mungkin kehilangan fokus di babak kedua hingga konklusi, namun ia punya flow cerita yang menarik dan bikin penasaran, serta kemasan yang berkelas. Lagipula, ia sudah berhasil membuat saya tersenyum ketika film berakhir. So why not try to enjoy the tricky ride of Focus?

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
2014: Siapa di Atas Presiden?

Hanung Bramantyo seolah tak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan terhadap sekitarnya lewat medium film. Setelah puas memotret berbagai fenomena sosial kita, terutama dalam bingkai agama, Hanung mencoba memasuki ranah politik yang masih jarang sekali diangkat di ranah perfilman Indonesia, apalagi dengan genre action thriller. Sedianya akan ditayangkan sebelum pemilu dengan harapan terasa relevansinya, 2014 mengalami dua kali penundaan jadwal. Ada beberapa kabar yang menjadi spekulasi alasan penundaan ini, mulai menghindari sensitivitas subjek menjelang pemilu, hingga pengambilan gambar dan edit ulang karena hasil sebelumnya tidak begitu memuaskan. Apapun itu, penundaan jadwal yang menjelang pemilu bisa jadi pilihan yang bijak ketimbang memaksakan diri mengambil momen namun menjadi bumerang dan memperkeruh keadaan dalam negeri. Toh sampai sekarang pun apa yang ditampilkan di 2014 masih terasa sangat relevan.

Di atas kertas, 2014: Siapa di Atas Presiden? sebenarnya seperti sebuah ringkasan dari berbagai fenomena di panggung politik negeri ini. Mulai korupsi, kasus-kasus untuk mengalihkan perhatian publik maupun menjegal lawan politik, hingga yang menjadi highlight utama dan menjadi judul film; sesosok yang menjalankan negeri ini melalui presiden-presiden terpilih sebagai bonekanya. Penulis naskah Ben Sihombing dan Rahabi Mandra meramu kesemuanya dalam sebuah fiksi yang tersusun dengan rapi dan punya porsi yang serba pas. Mungkin perkembangan karakter-karakternya tidak terlalu ditonjolkan di sini, namun alur ceritanya mengalir dengan lancar. Buat yang cukup melek akan kondisi politik di negeri ini, plot 2014 mungkin akan dengan sangat mudah ditebak, namun di sinilah bumbu investigasi dan action thriller memainkan perannya sehingga ia tetap menjadi tontonan yang menarik. Berbagai adegan laga disebar di sepanjang film dengan timing, durasi, dan visualisasi yang pas sehingga bisa dinikmati secara maksimal. Tak ketinggalan pula komedi yang diselipkan di beberapa adegan, tanpa merusak intensitas serta atmosfer ketegangan yang terbangun dengan rapi.

Penampilan aktor-aktrisnya yang tergolong all-star juga tidak sia-sia. Meski ada beberapa karakter yang terasa janggal terutama dalam menampilkan faktor dampak psikologis, secara keseluruhan masih tergolong baik. Seperti biasa, Ray Sahetapy terasa paling pas mengisi perannya sebagai calon presiden yang dikenal paling bersih. Tapi yang paling menonjol adalah Donny Damara yang begitu luwes dan santai membawakan karakternya yang sangat berkharisma. Atiqah Hasiholan juga tampil menarik. Tak hanya berhasil tampil lebih natural, tidak terlalu menggebu-gebu seperti biasanya, tapi kepiawaiannya melakoni berbagai adegan baku hantam berhasil membuat saya kagum. Apalagi adegan pertarungan melawan suaminya sendiri di dunia nyata, Rio Dewanto.

Aktor-aktris mudanya pun tak kalah menarik. Rizky Nazar terbukti tak hanya punya fisik yang menarik, tapi juga diimbangi kemampuan akting yang cukup, serta juga berhasil membangun chemistry yang pas dengan Maudy Ayunda.

Tata kamera Faozan Rizal cukup mampu membingkai adegan-adegan aksi hingga terasa seru dan tidak terkesan terlalu chaotic. Sayang beberapa shot paronamic masih terlihat pecah-pecah, dan color tone-nya yang kebanyakan tampak kusam membuat gambarnya menjadi kurang menarik. Untung saja dukungan editing Cesa David Lukmansyah bisa menutupinya sekaligus menjaga pace film secara keseluruhan. Juga tata suara yang terdengar cukup dahsyat terutama di adegan-adegan laganya dan pemanfaatan fasilitas surround yang cukup maksimal. Jika harus menyebut aspek yang mengganggu dari 2014, adalah gimmick visualisasi freeze-frame yang justru memberi kesan dramatisasi yang berlebihan dan tidak pula memunjukkan detail adegan maupun emosi.

Above all, 2014: Siapa di Atas Presiden? mungkin belum menjadi karya yang sempurna, namun setidaknya keberaniannya menampilkan variasi genre, apalagi dengan presentasi yang cukup baik di berbagai aspeknya, sudah cukup membuatnya menjadi tontonan yang menarik sekaligus representatif dalam mendokumentasikan panggung politik Indonesia saat ini.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, March 1, 2015

The Jose Flash Review
Love, Rosie

Apakah Anda termasuk umat yang percaya bahwa kalau jodoh itu ada? Meski terpisahkan sejauh apapun, bahkan oleh janur kuning yang melengkung sekalipun, jika sudah jodoh, suatu hari pasti bakal dipersatukan lagi. Percayakah juga Anda bahwa persahabatan menjadi dasar yang kuat dalam sebuah hubungan asmara? Dua ‘kepercayaan’ tentang asmara ini tentu tidak bisa dianut semua orang, secara setiap orang pasti punya pengalaman pribadi yang berbeda-beda. Maka tak heran jika tiap kemunculan film romance yang manis, selalu ada saja dua kubu yang saling bertolak belakang. Beruntung, saya termasuk umat yang meyakini dua ‘kepercayaan’ tentang asmara itu, sehingga bisa dengan mudah menikmati film romance, asal tidak kelewatan dalam menjual mimpi saja.

Love, Rosie (LR) yang diangkat dari novel berjudul Where Rainbows End karya Cecelia Ahern ini sebenarnya punya premise yang sudah sangat-sangat sering diangkat oleh film romance. Yang paling saya ingat punya premise mirip adalah One Day (OD) yang juga diangkat dari novel. Namun meski sama-sama tentang pasang-surut hubungan asmara dalam rentang waktu yang cukup panjang, LR punya perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan OD. Terutama sekali adalah kemasan LR yang jauh lebih fun, bahkan tidak segan-segan menyelipkan beberapa humor yang cukup slapstick di dalamnya. LR juga lebih banyak mengambil sudut pandang kaum wanita, yang di sini diwakili oleh Rosie, sementara OD lebih berimbang dalam mengambil sudut pandang. Sehingga tak salah jika terkadang LR lebih terasa sebagai chicklit.

Tapi jangan salah, meski didominasi oleh adegan-adegan manis dan unfortunate events yang terkesan bertubi-tubu, saya sama sekali tidak merasakan LR sebagai tontonan yang tenggelam terlalu dalam ke jurang mellodrama maupun terlalu menjual mimpi. The best part of LR justru terletak pada pendekatannya yang sangat realistis, terutama dari segi berbagai keputusan yang diambil oleh karakter-karakternya yang manusiawi, rasional, dan dewasa. Tak ketinggalan pula dialog-dialog manis yang quotable. 

Meski chemistry antara karakter Rosie (Lily Collins) dan Alex (Sam Claflin) tak sepenuhnya terasa kuat, namun masing-masing mampu memainkan perannya dengan sangat pas, baik ketika adegan komedi maupun romantis. Di lini pemeran pendukung pun juga diisi dengan sangat pas sesuai dengan porsinya. Tapi favorit saya adalah Jaime Winston yang memerankan karakter Ruby.

Aspek lain yang turut mendukung nuansa komedi maupun romance-nya adalah pilihan-pilihan soundtrack yang tak hanya pas menghidupkan adegannya menjadi lebih semarak dan mellow ringan, tapi juga populer sesuai dengan rentang waktunya. Mulai I’ll Never Fall In Love Again, Alone Again - Naturally, Asereje, Crazy in Love, Hip Hop Hooray, Played Alive, Push It, Suddenly I See, sampai Hey How.


So yes, LR mungkin punya premise yang just another romance movie. Tapi come on, akui atau tidak kita semua selalu butuh romance seperti ini untuk sekedar merasakan atau diyakinkan lagi akan manisnya cinta. As for me, racikan serba pas dari LR selalu bisa jadi pilihan yang tepat dan manis untuk ditonton bersama pasangan tiap Valentine’s Day tiba.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates