Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Saturday, January 31, 2015

The Jose Flash Review
Foxcatcher

Gulat bukan olahraga yang populer di Indonesia. Paling-paling masyarakat kita mengenal gulat dalam kemasan entertainment macam WCW atau WWE. Itupun di TV nasional sempat dilarang tayang. Maka ketika muncul sebuah drama yang bercerita di balik olah raga gulat, apalagi sebuah based on true story, sebenarnya Foxcatcher adalah sebuah tawaran film yang menarik. Belum lagi dukungan Steve Carell dan Channing Tatum yang bermain di luar tipikal peran mereka sebelumnya.

Sejatinya Foxcatcher punya cerita yang cukup kelam dan depresif, namun tetap menarik. Bercerita tentang tragedi yang terjadi antara seorang konglomerat yang terobsesi akan olahraga gulat, John du Pont, pegulat juara Olimpiade, David Schultz, dan adiknya Mark Schultz, yang juga seorang pegulat tapi ingin lepas dari bayang-bayang kesuksesan sang kakak. Maka terjalinlah sebuah cerita menarik dari masing-masing karakter yang akhirnya saling terkoneksi, terutama karena ambisi. Plot yang sebenarnya menarik bukan? Sayangnya sutradara Bennett Miller yang sebelumnya dikenal lewat Moneyball dan Capote membawa Foxcathcer ke dalam jurang kekelaman dan depresi yang begitu dalam, sehingga sulit untuk bisa dinikmati.

Jika dianalisis dari segi skrip, sebenarnya saya menemukan tidak ada yang salah. Bisa saja Foxcatcher disajikan lewat sebuah drama yang padat, efektif, dan punya penekanan emosi yang lebih dalam, sehingga penonton bisa bersimpati lebih dalam lagi terhadap tiap karakternya. Nyatanya, Foxcatcher dibawa ke sebuah drama dengan alur yang serba lambat, lebih banyak hening, dan mengandalkan mimik serta aksi dari para karakternya dalam bercerita. Konsep ini sebenarnya tidak menjadi masalah jika diperlukan dalam menyampaikan cerita. In my opinion, lebih cocok untuk film-film yang lebih bersifat mind-provoking ketimbang emotion-stirring. In the end, hasilnya mungkin memang akan “mengusik” penonton karena memang shocking, tapi tidak akan mengundang simpati penonton terlalu jauh.

Keheningan Foxcatcher begitu terasa hingga membuat seolah fasilitas surround-nya terasa mubasir. Hanya dialog yang terdengar crisp dan suara tembakan yang durasinya tidak sampai semenit beserta suara gemanya yang membuat audio Foxcatcher terasa layak dinikmati di layar bioskop. Bahkan adegan pertandingan gulat pun terdengar jauh dari gemuruh suara penonton. Selain itu tone color yang sengaja dibuat kusam semakin membuatnya terasa depresif.

Satu-satunya yang membuat Foxcatcher terasa masih worth to watch adalah performa yang luar biasa, terutama dari Steve Carell dan Channing Tatum. Bisa dibilang performance mereka di sini adalah sebuah turnover yang patut diapresiasi lebih. Steve berhasil keluar dari image komikal menjadi karakter kelam yang bengis, dingin, sekaligus rapuh. I have to say, he’s the best performer in Foxcatcher. Sementara untuk Channing Tatum sebenarnya tidak terlalu istimewa. Namun mengingat peran-peran “ringan” yang diambil Channing selama ini, penampilan seriusnya kali ini harus diakui memang berhasil dibawakan dengan maksimal. Sementara Mark Ruffalo sebenarnya juga tampil baik  tapi karena porsi perannya yang memang secukupnya, maka penampilannya tidak begitu mengesankan.


Hate it or love it, Foxcatcher punya banyak potensi yang luar biasa. Tak heran jika diganjar penghargaan di mana-mana, tak terkecuali Academy Awards yang memberikannya 5 nominasi di kategori-kategori utama kecuali Best Motion Picture of the Year. Tapi kegagalannya masuk nominasi tertinggi itu, menurut saya, bukan tanpa alasan. John du Pont mungkin masih masuk nominasi sebagai sutradara terbaik karena dianggap berhasil mengarahkan aktor-aktornya, namun kurang membuat sebagian besar penontonnya nyaman dengan gaya penceritaan yang demikian. One viewing has been disturbing yet a little impressive enough. Menonton ulang adalah sebuah keputusan yang sangat sulit.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Steve Carell
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Mark Ruffalo
  • Best Achievement in Directing - Bennett Miller
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen - E. Max Frye & Dan Futterman
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Bill Corso & Dennis Liddiard
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, January 30, 2015

The Jose Flash Review
Annie (2014)

Annie versi tahun 1982 adalah salah satu film musikal klasik yang abadi. Semenjak itu, hanya ada satu FTV buatan Disney yang rilis tahun 1999. Maka ketika kabar dibuat remake tersiar, banyak yang meragukan kualitasnya. Selain memang tak banyak film remake yang berhasil, mengubah 2 karakter utamanya menjadi Afro-America adalah keputusan yang cukup menjadi tanda tanya, tanpa bermaksud rasis. Tapi melihat nama Will Smith, istrinya, Jada Pinkett Smith, dan Jay-Z di jajaran produsernya, maka keputusan besar ini bisa lantas dimaklumi. Toh aktor-aktris yang dipilih bukan sembarangan; Quvenzhané Wallis dan Jamie Foxx. Keduanya pernah menjadi nominee Oscar.

Kontroversi Annie tidak sampai di situ. Naas, ketika akan dirilis harus menjadi salah satu korban bocornya data-data Sony Pictures di internet yang diduga sebagai ancaman dari dirilisnya The Interview. Untung saja di balik berbagai sandungan dan review-review negatif dari media, Annie masih berhasil mengumpulkan US$ 117 juta lebih (menurut data box office hingga akhir Januari 2015). Sayangnya di Indonesia nasibnya kembali terganjal karena jadwal rilis yang benar-benar terlambat (bayangkan, di Amerika Serikat rilis 19 Desember 2014, tapi di Indonesia baru dirilis 28 Januari 2015), ditambah kurangnya promosi dan jumlah layar yang terbatas.

Karena saya pecinta film musikal dan menyukai versi aslinya, maka Annie tetap masuk dalam tontonan wajib di layar lebar. Ternyata Annie versi 2014 sama sekali tidak seburuk yang ditulis review-review media luar. Ya, ia memang tidak bakal bisa menjadi seklasik versi aslinya, tapi Annie versi 2014 adalah sebuah update yang sangat pas dengan keadaan dan selera anak-anak (terutama di atas usia 10 tahun sebagai target audience utamanya) dengan esensi dan hati yang terasa mendekati versi aslinya.

Masih mengusung premise dasar yang sama dengan versi aslinya, skrip Annie versi 2014 memang tidak berkembang semulus dan sealami versi aslinya. Namun ia cukup berhasil dalam menyesuaikan berbagai hal dengan masa kini. Mulai tingkat kecerdasan,  kecenderungan perilaku, hingga pola pikir karakter-karakter anaknya. Tak ketinggalan berbagai impian terindah rata-rata anak berusia 13 tahun: aneka kemewahan yang porsinya cukup mendominasi, bahkan sampai mocking terhadap film macam Twilight Saga. Semuanya ditampilkan dengan tujuan memanjakan mata dan imajinasi penonton anak-anak, sekaligus menjadi bahan lelucon bagi penonton yang lebih dewasa.

Yes, Annie juga men-serve penonton dewasa dengan joke sarkasme yang sangat inspiratif bagi penonton seperti saya yang doyan nyinyir, dan satir di beberapa elemen ceritanya. Mungkin ada beberapa yang terdengar inappropriate bagi anak-anak, namun besar kemungkinan anak-anak tidak akan begitu memahami joke-joke kasar dan sedikit nyerempet materi seksual.

Namun above all, sebagai sebuah film musikal yang terpenting adalah kualitas musik yang ditampilkan sepanjang film. Lagu-lagu “wajib” seperti Maybe, It’s the Hard Knock Life, I Think I’m Gonna Like It Here, Little Girls, dan tentu saja Tomorrow, terasa begitu segar dan modern, serta masih mengusung nuansa ceria dengan aransemen barunya. Lagu-lagu barunya pun mampu menyentuh emosi saya, meski belum mampu sememorable lagu-lagu aslinya. Toh, baik Foxx dan Wallis nyatanya punya kualitas yang lebih dari cukup untuk menghidupkannya. Simak saja ketika Wallis menyanyikan Opportunity. Di beberapa bagian lagu memang terasa mengalun agak berantakan dan terkesan buru-buru, tapi I have to admit, begitulah tipikal musik populer jaman sekarang bukan? Setidaknya saya masih sangat menikmati ikut bernyanyi sepanjang film.

Sebagai karakter utama, Wallis dan Foxx  berhasil menunjukkan chemistry yang pas, meski perkembangan relasinya masih terasa kurang convincing akibat skripnya. Cameron Diaz terasa begitu pantas memerankan karakter wali asuh yang manusiawi, dan tetap patut diapresiasi meski masih tidak semulus Wallis ataupun Foxx ketika menyanyi. Toh Diaz memang tidak punya background bernyanyi sama sekali sebelumnya.

Pilihan cameo juga turut menambah fun-factor dari Annie versi 2014. Mulai pasangan Ashton Kutcher dan Mila Kunis, Rihanna, Sia (yang juga menyanyikan You're Never Fully Dressed Without a Smile), hingga si produser, Jay-Z sendiri.

Di balik berbagai kelebihan dan kekurangannya, Annie versi 2014 masih jadi tayangan yang layak disaksikan di layar lebar. Tata sinematografi, koreografi, tata artistik, hingga tata musiknya sangat mendukung pengalaman sinematis. Saya masih bisa merasakan kemegahan, kehangatan, keceriaan, dan keharuan sepanjang film seperti versi aslinya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 27, 2015

The Jose Flash Review
The Imitation Game

Tak banyak orang awam yang mengenal nama Turing. Mungkin hanya mereka yang punya background informatika yang mengenal mesin Turing. Tak heran, konon cerita di balik mesin Turing baru diungkap setelah sekitar 50 tahun kemudian. Maka sebuah film yang mengangkat biografi Alan Turing, sosok di balik mesin Turing, bisa jadi hal yang menarik. Apalagi ada yang mengatakan bahwa mesin Turing adalah cikal bakal komputer yang kita pakai sehari-hari. Siapa yang tidak penasaran?

Sebagai porsi utamanya, The Imitation Game (TIG) menyuguhkan cerita penciptaan mesin Turing yang dikembangkan untuk memecahkan kode rahasia NAZI Jerman saat Perang Dunia II. Karena melibatkan perpacuan dengan waktu dan resiko yang besar, maka porsi ini menjadi kekuatan utama TIG sebagai sebuah permainan yang seru, menegangkan, sekaligus mengasyikkan. Porsi ini pulalah yang mampu menarik perhatian penonton untuk mengikuti alurnya yang ditata dengan sangat pas sebagai sebuah tontonan menghibur.

Namun lebih dalam lagi, TIG menggali tentang sosok Alan Turing secara keseluruhan. Mulai dari bagaimana perkembangan kepribadiannya yang menjadi arogan berkat kejeniusan otaknya, keberaniannya mendobrak cara-cara lama untuk memecahkan kode rahasia, sampai sisi yang dianggap borok di masa itu. Ya, ketika porsi permainan serunya memuncak, barulah terkuak konsep besar TIG sebagai sebuah metafora. Sosok Alan Turing sebagai seorang homoseksual mulai dimunculkan. Bagi beberapa penonton turning over cerita ini bisa jadi mengganggu fokus cerita yang sudah tersusun dengan rapi sejak awal. Apalagi dengan adanya epilog di ending yang lebih menekankan pada sisi homoseksual ketimbang sebagai sebuah cerita penciptaan sebuah teknologi, membuat TIG seolah semakin kehilangan fokusnya. Padahal menurut saya pribadi, TIG secara terang-terangan memaparkan metafora cara berpikir antara manusia dan mesin dengan manusia straight dan homoseksual. Ada dialog yang saya cantumkan di sini, yang cukup mewakili hal tersebut.

Belum lagi ditambah dengan performa akting yang luar biasa dari Benedict Cumberbatch. Tak hanya mampu menirukan mimik unik dari Alan Turing, Benedict berhasil menghidupkan sosok Turing dengan maksimal. Keira Knightley seperti biasa, mampu membuat karakternya menjadi menarik berkat kharisma khasnya. Sementara di jajaran pemeran pendukung, Matthew Goode, Rory Kinnear, Allen Leech, Matthew Beard, dan Mark Strong juga cukup tampil menarik mengisi peran masing-masing meski porsinya tak begitu banyak.

Terakhir, tentu saja scoring yang begitu menyatu dan cocok dengan karakter musik Alexandre Desplat yang klasik, misterius, sekaligus membangkitkan rasa penasaran.

Dengan jalinan permainan seru yang mengasah otak tanpa melibatkan jargon-jargon atau teori-teori yang susah dicerna, sebagai pengantar ke esensi utama cerita yang sangat menyentuh, TIG jelas punya skrip yang ditulis serta disusun dengan sangat bagus dan rapi, serta disutradarai dengan craftsmanship yang tepat sasaran dan serba pas. Menjadikan TIG sebuah tontonan yang sangat menghibur meski tidak terlalu ringan, dan dengan konsep besar yang cukup mendalam.


Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance for an Actor in a Leading Role – Benedict Cumberbetch
  • Best Performance for an Actress in a Supporting Role – Keira Knightley
  • Best Achievement in Directing – Morten Tyldum
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published – Graham Moore
  • Best Achievement in Editing – William Goldenberg
  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score – Alexandre Desplat

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 20, 2015

The Jose Movie Review
Di Balik 98

Overview

Tragedi 1998 termasuk salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah perjalanan Indonesia. Sampai sekarang mungkin masih menyisakan luka bagi korban dan keluarganya, seiring dengan belum sepenuhnya jelas terungkap siapa di balik peristiwa berdarah ini. Terlepas dari itu, tragedi 1998 adalah titik balik bagi negeri ini, maka perlu selalu dijadikan pengingat. Maka ketika akan diangkat ke medium film, tak heran jika banyak yang khawatir akan seperti apa muatannya. Sejak awal Lukman Sardi selaku sutradara menegaskan bahwa film debutnya ini tidak berusaha untuk mengupas tuntas tragedi 1998 maupun membela atau menyalahkan salah satu pihak. Di Balik 98 (DB98) dipasarkan sebagai drama kemanusiaan dengan karakter-karakter fiktif dan background kejadian nyata.

Memang benar, di paruh pertama film porsi utama DB98 adalah kisah drama fiktif. Kita diajak terlibat dalam konflik Diana, seorang mahasiswi yang sedang berjuang menuntut reformasi, sementara kakaknya, Salma, adalah staf dapur istana dan suami kakaknya, Bagus, adalah tentara. Tidak hanya itu, Diana menjalin hubungan asmara dengan sesama mahasiswa keturunan Cina bernama Daniel. Seiring dengan guliran peristiwa menjelang lengsernya mantan presiden Soeharto, kesemuanya semakin tercerai-berai. Sebagai tambahan, ditampilkan pula figur seorang gelandangan dan putra tunggalnya yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sekitarnya namun turut menjadi korban.

Namun semakin lama, konflik-konflik personal dan sosial ini menjadi semakin berkurang. Yang kemudian muncul dan mengaburkan porsi tersebut adalah kronologis kejadian nyata yang melibatkan tokoh-tokoh nyata penting di balik peristiwa 1998. Mulai BJ Habibie, Soeharto, Harmoko, dan banyak lagi. Sayang sekali, kronologis ini sangat mengganggu jalinan cerita fiktif yang sudah dirangkai dengan rapi dan tingkat emosi yang sangat pas. Tak hanya itu, tingkat logis cerita fiktifnya menjadi berkurang dari segi timeline akibat mengikuti kronologis peristiwa nyatanya. I mean, bagaimana mungkin Bagus dan Diana bisa tampak setenang itu, padahal tidak ada kabar keberadaan Salma sama sekali selama beberapa hari. Keadaan Salma pun menjadi mustahil seaman itu dalam hitungan hari. Porsi kronologis nyata ini juga sebenarnya mengingkari konsep utama film yang katanya ingin menyuguhkan sisi humanis ketimbang mengupas peristiwa Tragedi 98, meski di layar sebenarnya tampak sekedar sebagai formalitas.

Untungnya DB98 masih cukup pas menempatkan diri tanpa memihak atau menyalahkan salah satu pihak. Sosok Soeharto yang kenyataannya sering dianggap sebagai “penjahat” dan dalang tragedi 1998, di sini ditampilkan dalam sisi humanisnya pula. Bagaimana reaksi raut wajahnya dan bagaimana kedekatan hubungannya dengan putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana, tanpa banyak dialog. Sama sekali tidak ada yang berusaha memojokkan maupun membelanya. Setidaknya dari sini bisa dilihat niatannya memang bukan untuk mencari pembenaran atau menyalahkan. Itu patut diapresiasi lebih.

Tapi tentu saja kekuatan utama DB98 adalah kepiawaian Lukman Sardi dalam menghidupkan adegan-adegan fiktifnya menjadi begitu menyentuh. Terlebih lagi dalam banyak kasus, bagian-bagian yang emosinya terasa paling kuat justru tersampaikan melalui bahasa gambar saja, tanpa banyak dialog. Di bagian akhir pun, DB98 mampu terasa manis menutup ceritanya tanpa juga harus menjadi cliché.

The Casts

Karakter-karakter fiktif utamanya mampu begitu dihidupkan oleh aktor-aktris dengan sangat baik dan cukup merata. Chelsea Islan semakin mengukuhkan kemampuan aktingnya terutama untuk peran-peran rebel. Boy William juga menunjukkan kualitas akting yang semakin baik. Sementara tidak perlu mempertanyakan lagi kualitas Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, dan Teuku Rifnu Wikana. Keberhasilan emosi DB98 utamanya juga merupakan faktor akting dari mereka.

Sementara pemilihan aktor untuk peran-peran tokoh nyata sebenarnya cukup menarik dan kebanyakan juga mampu membawakan peran masing-masing dengan baik. Terutama sekali Agus Kuncoro yang kebagian peran sebagai BJ Habibie dan sebenarnya secara fisik ternyata memang cukup mirip. Tidak sebrilian Reza Rahadian di Habibie & Ainun, tapi ia mampu menirukan gesture dan suara BJ Habibie dengan cukup baik. Masih terasa komikal di beberapa bagian, namun Agus menunjukkan keseriusan di adegan-adegan lainnya. Sementara yang terasa tampil kurang meyakinkan adalah Iang Darmawan yang memerankan sosok Harmoko. Entah disengaja atau tidak, sosok Harmoko justru terasa lebih untuk melawak ketimbang menampilkan sesuatu yang serius.

Technical

DB98 terasa dibuat dengan dukungan teknis yang sangat memadai dan dengan niatan yang tinggi. Seperti biasa, Yadi Sugandi berhasil merekam adegan dengan framing yang sinematik dan indah, ditambah coloring tone yang mendukung nuansa film secara keseluruhan.

Sementara tata suaranya juga ditata dengan pas. Keseimbangan antara dialog, sound effect, music scoring, dan detail latar suara seperti teriakan orasi, terjaga dengan seimbang dan jelas. Fasilitas efek surround juga dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menghidupkan adegan. Begitu pula dengan pemilihan musik yang mampu menggugah emosi penonton, baik ketika menampilkan adegan yang menyentuh maupun ketika membakar semangat.

The Essence

DB98 menjadi potret banyak hal. Mulai dari sebuah perubahan yang dimulai dengan pergerakan berani dan mengorbankan banyak hal. Bukan tidak mungkin pula punya imbas yang besar secara tidak langsung kepada orang-orang di sekitar.

Di bagian akhir ditampikan kejadian demonstrasi di Thailand melalui TV yang seolah ingin menggambarkan perjuangan yang sama dengan para mahasiswa ketika tahun 1998. Semangat mengubah sesuatu yang dianggap salah akan selalu muncul di mana-mana sampai kapanpun selama dibutuhkan.

They who will enjoy this the most

  • Audiences who like socio-drama with humanistic approach
  • Audiences who are interested in Indonesia’s historical events

 Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 19, 2015

The Jose Movie Review
Hijab

Overview

Di ranah film Indonesia, nama Hanung Bramantyo sudah jadi salah satu nama sutradara papan atas yang dikenal selalu menggarap film-filmnya dengan serius. Lebih dari itu, film-film Hanung selalu membidik fenomena-fenomena (khususnya yang bersifat sosial, religi, atau politik) yang terjadi di masyarakat. Sempat dikenal lewat drama-drama dengan sentuhan komedi seperti Catatan Akhir Sekolah, Brownies, Jomblo, dan yang jadi franchise box office, Get Married. Namun sejak Ayat-Ayat Cinta, Hanung jadi punya label baru: sutradara film religi (baca: islami). Mulai dari Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah, dan Cinta tapi Beda. Padahal jika menganalisa lebih dalam film-filmnya yang berbau religi, sebenarnya Hanung mengkritisi berbagai fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita, apalagi ketika harus berbenturan dengan nilai-nilai agama yang masih ... Religi hanya berfungsi sebagai background cerita. Hanung yang “rebel” lebih menunjukkan realitas di masyarakat ketimbang berceramah. In that fact, menurut saya karya-karyanya tidak bisa dikatakan sebagai film religi.
Sayang semakin lama Hanung seolah-olah terlalu tenggelam (dan terlalu serius) dalam berbagai protesnya dalam karya-karyanya sehingga menimbulkan kejenuhan dan semakin jauh pula untuk bisa dinikmati. Apalagi ketika menggarap film-film biopic, seperti Sang Pencerah dan Soekarno: Indonesia Merdeka, terasa datar dan hanya seperti sekedar meruntut timeline. Ada kerinduan untuk menikmati film Hanung yang ringan, menghibur, namun masih merupakan refleksi sosial yang relevan dan dalam. Maka Hijab bisa jadi salah satu jawabannya.
Tidak seperti judulnya, Hijab nyatanya sama sekali tidak membahas seperti apa hijab yang benar menurut agama, atau apa perlunya memakai hijab. Seperti sebelum-sebelumnya, Hanung sangat menghormati berbagai pilihan wanita dalam berhijab, termasuk jika memilih untuk tidak berhijab. Lebih dari itu, konflik Hijab jauh lebih substansial dan universal. Terutama sekali tentang independensi wanita terutama setelah berumah tangga, bahkan jika punya suami yang modern dan liberal sekalipun. Saya yakin tidak hanya bagi muslim, konflik peran wanita dalam rumah tangga masih sering jadi perdebatan. Apapun agamanya.
Tak hanya itu, Hijab juga menyentil berbagai fenomena kekinian, mulai online shop, lifestyle sosialita, sampai ketergantungan masyarakat terhadap gadget. Tentu saja semua dirangkai dengan cukup solid, natural, tidak terasa dipaksakan, dan yang pasti dalam kemasan yang lucu dan fresh. Humornya mungkin tidak selalu berhasil (tergantung selera humor dan preferensi masing-masing penonton sih), namun secara keseluruhan humornya mampu bersinergi dengan sangat baik dengan plot.
Dengan alur yang sangat enak untuk dinikmati, Hanung juga tidak terjebak dalam drama berlebihan. Endingnya mungkin sangat bisa ditebak, namun justru itulah yang membuat Hijab terasa realistis, natural, manis, sekaligus hangat. Toh berbagai permasalahan di kehidupan nyata sebenarnya juga sebenarnya punya penyelesaian yang nggak ribet-ribet amat kan?

The Casts

Keberhasilan dalam menghidupkan film sangat dipengaruhi oleh cast-nya yang mampu mengisi peran masing-masing dengan sangat hidup, segar, dan chemistry yang saling kuat. Carissa Putri, Tika Bravani, Zaskia Adya Mecca, dan Natasha Rizky mampu membangun chemistry persahabatan yang solid dan very convincing. Masing-masing pula membuktikan mampu tampil segar dan hidup, baik ketika adegan comedic maupun mellow.
Tak hanya 4 karakter utamanya, Mike Lucock, Nino Fernandez, Ananda Omesh, dan Dion Wiyoko yang berperan sebagai pasangan mereka pun mampu mengimbangi porsi para wanita. Pun juga masing-masing mampu tampil dengan porsi yang pas dan seimbang. Begitu pula puluhan pemeran pendukung yang sengaja dipilih all-star. Mulai Sophia Latjuba, Jajang C Noer, Rina Hassim, Marini Soerjosoemarno, Meriam Bellina, Mathias Muchus, Slamet Rahardjo Djarot, Epy Kusnandar, Mpok Atiek, Cici Tegal, hingga yang katanya dijadikan gimmick promosi, Dijah Yellow yang nyatanya cukup berhasil sebagai bahan humor.

Technical

Tak perlu meragukan kualitas Faozan Rizal dalam merangkai gambar. Art-nya yang punya tone warna vibrant terekam dengan sangat cantik dalam framing serta angle sinematis yang indah.
Tata musik yang pop dan komikal mampu menghidupkan nuansa film menjadi lebih terasa urban ketimbang religi. Apalagi suara Andien yang menyumbangkan beberapa lagu, termasuk Let It Be My Way dan Satu yang Tak Bisa Lepas mampu memaksimalkan emosi sesuai dengan adegannya.
Terakhir, teknis yang patut mendapatkan apresiasi lebih adalah tata kostum yang mampu menampilkan variasi hijab dengan sentuhan lifestyle modern, sekaligus juga warna-warni yang mendukung konsep tone warna film secara keseluruhan.

The Essence

Seperti biasa, Hanung berusaha mengajak untuk menghormati segala perbedaan. Dengan konteks kali ini, dalam hal pilihan berhijab dan juga dalam pilihan mengijinkan istri bekerja. Semua harus tepat pada porsinya masing-masing agar berjalan harmonis.

They who will enjoy this the most

  • Hijabers
  • Woman in general, especially modern and stylish young adult ones
  • Mature men
  • General audiences who seek for a light and enjoyable entertainment
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 18, 2015

The Jose Flash Review
Blackhat

Michael Mann dikenal sebagai sutradara spesialis action thriller yang punya gaya sendiri, baik dari segi visual maupun pengadeganan. Tidak seperti sutradara spesialis action lain, Michael Bay misalnya, Mann tidak tertarik untuk membuat adegan-adegan action yang serba dinamis dan short shot. Sebaliknya, Mann tak jarang sering memberikan adegan-adegan aksi yang realistis dan mampu menciptakan thrill tersendiri. Terkadang kita bisa disuguhi adegan diam atau percakapan panjang yang mungkin bagi beberapa orang tidak penting. Tidak selalu berhasil, terkadang ia pernah berlarut-larut hingga gagal menciptakan atmosfer thrill di adegan-adegan aksinya seperti di Miami Vice. Suka, tidak suka, begitulah gaya visualisasi dan bercerita dari seorang Michael Mann. Sekali lagi, bagi penonton ini soal bisa menerima gayanya atau tidak.

Blackhat menjadi highlight film 2015 yang menarik, khususnya bagi kita yang tinggal di Indonesia. Bagaimana tidak, sekitar seperempat film mengambil lokasi di Jakarta yang syutingnya berlangsung saat Lebaran 2014. Tak heran jika menjelang klimaks dan endingnya, konsentrasi penonton kita tidak lagi pada alur cerita, namun seringkali tak bisa menahan tawa dengan berbagai elemen-elemen Indonesia di film. Well, that’s okay, secara penonton kita masih suka minder dan mentertawai bangsanya sendiri.

Secara keseluruhan, Blackhat mengangkat tema cybercrime yang semakin menghantui semua orang di dunia, seiring dengan perkembangan internet yang makin membuat manusia tergantung padanya. Jika tahun lalu kita cukup dihantui oleh ancaman privasi di Transcendence, maka Blackhat mengajak dampak terburuk yang lebih jauh lewat jalur internet. Bayangkan, sebuah PLTN bisa meledak dan menyebarkan radiasinya yang berbahaya ke sekeliling, hanya karena reaktornya di-hack lewat internet. Premise-nya sebenarnya sangat-sangat sederhana dan sudah sering diangkat. Pun juga plot dan berbagai sub-plot yang cliché, seperti hubungan asmara antar karakter beda ras. Memang ada cukup banyak jargon-jargon dunia cyber yang cukup spesifik. Tak perlu sampai menjadi expert internet, tapi setidaknya penonton perlu tahu basic cara kerja jaringan internet untuk bisa memahami plot utamanya.

Selain detail hacking melalui jaringan internet beserta trik-triknya, nyaris tidak ada yang istimewa dari segi plot. Namun bukan berarti Blackhat lantas menjadi film action investigasi yang gagal sepenuhnya. Mann masih tahu bagaimana mempermainkan emosi penonton dengan timing, framing, pace, dan kejutan-kejutan terutama saat adegan-adegan aksi. Meski alurnya tergolong lambat, dengan detail adegan yang sedikit agak bertele-tele dan shot-shot panjang khasnya, terutama di paruh awal film, semakin ke belakang film menjadi semakin bikin penasaran dan menarik. Well, my advice, tidak perlu pusing-pusing berusaha mencerna cerita ataupun terlalu keras menantikan kejutan-kejutannya. Nikmati saja apa yang disajikan di layar dan ketika saatnya tiba, nikmati kekhasan Mann yang (setidaknya bagi saya) sudah dinanti-nantikan.

Mann memang tidak begitu banyak memberikan perkembangan karakter baik utama maupun pendukung. Ia lebih fokus menggerakkan cerita investigasinya. Tapi bukan berarti cast-nya tampil tidak mengesankan. Chris Hemsworth semakin mengukuhkan image-nya sebagai action hero yang keras, brutal, dan patut diperhitungkan, lebih dari sekedar karakter superhero Marvel. Tang Wei memang lebih terasa sebagai sidekick pemanis ketimbang peran yang cukup penting bagi karakter utama, namun pesonanya tereksploitasi dengan cukup baik. Sementara Wang Leehom juga masih cukup meninggalkan kesan dengan karakternya yang cerdas dan mudah mendapatkan simpati dari penonton.

Peran Viola Davis mungkin terasa tidak begitu memberikan pengaruh lebih, namun setidaknya performance Viola berhasil menjadikan karakter Barrett menjadi lebih memorable dan cukup khas. Sayang sekali, sosok villain yang diperankan oleh … tidak berkesan karena selain kemunculannya hanya di klimaks di menjelang ending.

Salah satu kekuatan terbesar Blackhat adalah visualisasinya. Seperti biasa, Mann menampilkan visual-visual yang unik sebagai signature-nya. Khusus di Blackhat, Mann memberikan beberapa shot yang super keren. Opening title yang stunning dan shot dari bawah keyboard komputer adalah contoh dari sekian banyak shot menarik. Mann juga masih membuat beberapa adegan dengan teknik shaky handheld. Namun porsinya hanya untuk adegan kejar-kejaran. Karena tidak terlalu banyak dan diaplikasikan pada adegan kejar-kejaran yang tidak punya banyak detail adegan, sehingga tidak terasa begitu mengganggu.


Ya, secara plotline Blackhat memang tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, bahkan ada cukup banyak plot hole serta adegan-adegan yang terasa aneh dan canggung. Tapi overall, saya masih sangat menikmati Blackhat as it is. Mann’s usual thrilling action, and it’s still grippin’ and kickin’ it.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, January 15, 2015

The Jose Flash Review
Taken 3

Taken adalah sebuah fenomena sinema (khususnya di ranah film action) yang tidak terduga. Berangkat dari film Perancis yang diproduseri Luc Besson, premise-nya yang sederhana namun punya style yang electrifying dan dinamis. Meski gaungnya agak terlambat di Indonesia karena tidak didistribusikan secara luas oleh jaringan bioskop terbesar di negara ini, namun berhasil membuat orang-orang penasaran dan tersebar dari mulut ke mulut. Apalagi Taken bisa disebut trend-setter untuk tema badass-oldman sekaligus menobatkan Liam Neeson sebagai action hero baru yang lebih banyak mengandalkan aksi tangan kosong, meski sudah tidak muda lagi. Meski sekuelnya, Taken 2 tergolong sekedar mengulang formula yang nyaris sama, namun setidaknya masih punya banyak aspek yang membuatnya tetap enak dinikmati dan seru. Kemudian ketika dibuat seri ketiganya, tidak salah jika penonton mencibir, “Siapa lagi nih yang diculik kali ini?”.

Taken 3 ternyata tidak lagi mengulang formula seri pioneer-nya. Namun bukan berarti premise-nya jadi sesuatu yang baru. Tema fugitive jelas sudah berkali-kali diangkat oleh Hollywood, dengan kualitas keseruan yang bervariasi pula. Sebenarnya menurut saya, Taken 3 punya konsep cerita yang menarik di balik premise dasarnya yang cliché. Sayangnya, tidak dieksekusi dengan baik. Mulai dari skrip yang mengembangkan konsep cerita dengan sangat biasa, tanpa ada satu pun yang benar-benar kuat, baik dari segi pengadeganan, perkembangan karakter-karakter, dialog, sampai twist yang sebenarnya cukup tertebak (setidaknya oleh saya) sejak pertengahan film. Semuanya seperti berjalan begitu plain.

Eksekusi buruk diperparah dengan penyutradaraan yang super lemah, baik ketika adegan-adegan drama maupun action. Sama sekali tidak mengundang emosi penonton. Saya sama sekali gagal berempati terhadap para karakter ketika adegan-adegan (yang seharusnya) menyentuh, serta gagal pula merasakan ketegangan dan keseruan seperti di dua installment sebelumnya. Bisa jadi penyebab lainnya adalah sinematografi yang bikin pusing dan editing yang terlalu cepat berpindah shot. In my opinion, perpaduan kedua aspek inilah penyebab utama Taken 3 jatuh menjadi film yang tidak nyaman ditonton. Tiring dan causing nausea.

Meski tidak terasa se-badass dan se-emosional di dua installment sebelumnya, Liam Neeson masih punya kharisma yang setidaknya sedikit menolong film ini. Tapi sebenarnya ini merupakan kekuatan karakter yang dibangun sejak film pertamanya. Seandainya Taken 3 adalah film yang berdiri sendiri, kharismanya tidak akan sekuat ini. Selain Neeson, aktor-aktris lainnya tidak begitu diberi porsi untuk tampil menarik. Maggie Grace dan Famke Janssen yang di dua installment sebelumnya cukup menarik perhatian, di sini justru terasa seperti pemanis semata. Apalagi Forest Whitaker dan Dougray Scott yang bakatnya sangat disia-siakan di sini. Jika digantikan oleh aktor TV atau aktor kelas B, tidak akan terlalu memberikan pengaruh apa-apa.

Gimmick Dolby Atmos yang jadi salah satu materi jualan Taken 3 pun ternyata tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tata suaranya tergolong sangat biasa, termasuk jika dibandingkan dengan film-film yang 'hanya' menggunakan tata suara surround biasa.

Well after all, bagi Anda yang asal ada banyak adegan action sudah bisa terpuaskan, apalagi jika belum mengalami Taken dan Taken 2, mungkin masih bisa menikmatinya. Sebaliknya, jika Anda butuh craftman khusus dan emosi dari adegan-adegan aksi agar terasa hidup, apalagi menyukai Taken dan Taken 2, maka Taken 3 akan membuat Anda capek dan kesal begitu credit title bergulir.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 14, 2015

The Jose Flash Review
The Crossing Part 1 (太平轮)

Di era 90-an, John Woo sudah bukan lagi nama sutradara iconic Hong Kong, tapi sudah merambah Hollywood. Filmografinya di Hollywood sendiri sudah cukup panjang, mulai Hard Target-nya Jean Claude Van Damme, Broken Arrow, Face/Off, sampai M:I-2. Maka reputasinya sudah tidak perlu diragukan lagi, terutama dalam menangani film-film action ber-pace dinamis. Kembali ke Hong Kong dengan duologi epic Red Cliff, namanya masih belum mampu menyamai reputasinya di era 80-90’an. Maka tahun 2014 ini John Woo mencoba menggebrak dengan karya baru yang tak kalah epic-nya, The Crossing.

‘Dijual’ sebagai Titanic versi Cina, kisah The Crossing ternyata dibagi menjadi 2 bagian yang bertolak belakang. Di bagian pertamanya ini kita masih belum diajak untuk menginjakkan kaki ke kapal uap Taiping yang benar-benar tenggelam tahun 1949. Di sini kita dibawa dulu melihat latar belakang para karakter utamanya sebelum berada di kapal Taiping. Woo memasang 3 pasang karakter utama yang berjalan sendiri-sendiri, mulai perang antara Cina-Jepang hingga perang sipil antara kubu Nasionalis dan Komunis. Benang merahnya adalah romance dan sosial dengan problematikanya sendiri-sendiri. Memang pada akhirnya durasi 129 menit belum mampu menampung porsi yang cukup adil untuk kesemua karakter utamanya. Terutama sekali karakter Yu Zhen yang (Zhang Ziyi) dan Yan Zenkun (Takeshi Kaneshiro) yang seolah-olah belum terlihat jelas kepentingannya di film, padahal penokohan serta penampilan pemerannya termasuk menarik. Well, tentu kita tidak bisa menilai bagaimana skripnya mengembangkan karakter-karakter hanya dari seri pertama ini. Toh masih ada kesempatan untuk melihat keseluruhan cerita secara utuh di bagian keduanya.

Dari yang tersampaikan di layar, sebenarnya kisah yang diusung tidak ada yang baru, malah perkembangan ceritanya termasuk lambat dan bertele-tele. Tapi berhasil ditutupi oleh art directing dan sinematografi yang luar biasa cantik. Maka semua yang dilihat (dan dirasakan) penonton adalah pengalaman sinematik, keindahan demi keindahan, beserta emosi yang tergali cukup pas dan efektif di beberapa adegan. Tak hanya beauty shot dan keindahan romance, The Crossing juga mengkontraskannya dengan adegan-adegan perang yang keras, sadis, dan mendebarkan. Tak heran John Woo mampu mengarahkan adegan-adegan perang dengan sangat baik, mengingat ia sudah berpengalaman menggarap Windtalkers. Tentu saja dengan kadar kesadisan yang lebih.

Jika Anda cukup mengenal signature-signature Woo yang khas dari film-film sebelumnya, maka Anda akan dengan mudah mendapatkannya di sini. Mulai tema brotherhood, slow motion, freeze frame, hingga burung merpati beterbangan. Saya masih mendapati beberapa slow motion yang tampak patah-patah, dan juga beberapa wideshot yang tampak agak pixelated. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Cukup mengganggu karena terlihat dengan sangat jelas, tapi untungnya termaafkan berkat kelebihan-kelebihan lainnya yang memang digarap dengan luar biasa.

Bintang Korea Selatan, Song Hye-kyo yang mendapatkan porsi paling banyak, cukup mampu membawakan performa yang dibutuhkan karakter. Tidak terlalu istimewa, namun setidaknya sudah mampu menarik perhatian penonton. Apalagi berkat kecantikan fisiknya yang menghipnotis. Apalagi jika disandingkan dengan kecantikan Zhang Ziyi yang sudah mulai pudar dan agak ‘berisi’. Sementara Huang Xiaoming yang mengisi peran Lei Yifang dengan porsi yang juga besar, berhasil menghidupkan perannya dengan cukup gemilang. Meski awal-awalnya karakternya yang sedikit angkuh terasa agak aneh jika kemudian membandingkannya dengan sosoknya di beberapa adegan penting, termasuk di ending bagian pertama. Namun secara keseluruhan, Xiaoming berhasil memberikan impresi tersendiri bagi penonton.

Tong Dawei kali ini juga berhasil membuktikan diri layak mengisi peran dengan porsi yang lebih banyak dan lebih penting dalam cerita dari biasanya. Sementara karakter Yan Zenkun yang diperankan Takeshi Kaneshiro masih belum terasa begitu berkesan, selain karena kharismanya yang tetap terpancar kuat meski usianya sudah tidak muda lagi.

In the end, penonton akan dengan mudah menikmati (atau malah jatuh cinta) alur cerita serta tiap adegan yang disuguhkan The Crossing. Benar kata Woo, ia membuat The Crossing bak Gone with the Wind yang punya kisah sederhana namun berhasil membuat penontonnya terpaku dan penasaran meski durasinya sangat panjang. Saya pun masih penasaran menyaksikan The Crossing Part 2 yang direncakan rilis Mei 2015.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates