Tuesday, December 1, 2015

The Jose Flash Review
Victor Frankenstein

Remake karya sastra klasik sudah menjadi terlalu mainstream, maka modifikasi cerita jadi jalan untuk menghias sebuah remake menjadi lebih menarik. Bisa dengan jalam memadukan berbagai elemen cerita lain, memlintir cerita, atau membidik dari sudut pandang yang berbeda. Wes Craven pernah membuat Dracula dari Bram Stokers dengan setting modern lewat Dracula 2000 dan bahkan pernah ada pula dalam rupa Dracula Untold. Yang terbaru, penulis naskah Max Landis (Chronicle dan American Ultra) dan sutradara Paul McGuigan (Lucky Number Slevin, Wicker Park, dan Push) menawarkan cerita klasik Franskenstein karya Mary Shelley. Sebelumnya sebenarnya sudah ada I, Frankenstein tahun 2013 lalu yang ternyata responnya negatif, baik secara komersial maupun kritik. Dengan cast James McAvoy dan Daniel Radcliffe, Victor Frankenstein (VF) mencoba peruntungan yang lebih baik.

Cerita Victor Frankenstein dibidik dari seorang pria bongkok yang menjadi bulan-bulanan di sebuah grup sirkus. Kendati demikian ia gemar mempelajari anatomi tubuh manusia. Suatu kejadian membuat bakatnya dilirik oleh seorang penonton yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, Victor Frankenstein. Setelah membantu kabur dari sirkus, Victor menjadikannya partner dengan identitas baru: Igor Strausman. Tentu saja Victor memanfaatkan bakat dan intelijensia Igor untuk ambisi pribadinya: menciptakan kehidupan dari kematian melalui ilmu pengetahuan. Di tengah dilema antara balas budi dan etika moralnya, Igor mau tak mau membantu Victor. Toh, with or without Igor, proyek Victor tetap jalan. Namun ambisi Victor ternyata menciptakan monster yang tak terbayangkan sebelumnya.

Jika kisah Frankenstein biasanya lebih berfokus pada sosok si monster, VF memilih untuk fokus pada penciptanya dengan keyakinan bahwa sang pencipta adalah monster yang sesungguhnya. Agar lebih menarik, Landis memasukkan karakter Igor yang seperti mashup dengan cerita Hunchback of Notre Dame. Bromance yang kuat antara Victor-Igor menjadi bangunan background yang mampu men-drive cerita jadi lebih menarik. Tak ada mashup dan modifikasi yang benar-benar baru ataupun unik, termasuk romance antara Igor dan Lorelei, namun secara keseluruhan Landis menurut saya berhasil meramu kesemuanya menjadi satu paket baru yang seimbang, convincing, dan punya korelasi-korelasi yang cukup kuat untuk cerita utama yang sudah kita kenal sejak lama. Belum lagi Landis memasukkan cukup banyak penjelasan ilmiah dan medis yang tak kalah convincing dan logisnya (setidaknya sekedar logis, meski pada kenyataannya tidak demikian). Hasil akhirnya, sebuah drama bromance bersetting London 1800-an dengan bumbu thriller dan sedikit investigasi. Menarik dan dikerjakan dengan baik sehingga menghasilkan film yang ringan menghibur, dengan dukungan cerita yang meski tak terlalu istimewa pula, tetap saja tergolong lebih dari sekedar layak.

Chemistry kuat antara James McAvoy dan Daniel Radcliffe jelas menjadi sajian utama yang untungnya, sangat berhasil menjadi highlight yang kuat. Penampilan masing-masing pun juga bisa dikatakan kuat dan bagus. James McAvoy sebagai profesor yang ambisius dan berada pada titik abu-abu, maupun Daniel Radcliffe yang menunjukkan perubahan karakter dari si bongkok yang minder menjadi Igor yang cerdas namun memikul beban dilematis. Jessica Brown Findlay yang menjadi satu-satunya wanita di jajaran para pria, jelas menjadi pencuri perhatian penonton. Apalagi ternyata pesona fisik dan kharisma aktingnya yang cukup terasa, mampu mengimbangi McAvoy maupun Radcliffe meski pada porsi yang lebih sedikit. Daniel Mays sebagai Barnaby dan Freddie Fox sebagai Finnegan menjadi pemeran pendukung yang juga tampil sama kuat, sesuai porsi masing-masing.

Untuk teknis, desain produksi tentu tampil paling menonjol. Tak hanya setting London 1800-an yang berhasil dihidupkan dengan indah dan sedikit nuansa gothic, namun juga perlengkapan medis, desain monster Gordon dan Prometheus yang begitu bengis tanpa terkesan terlalu kacau seperti kebanyakan desain monster modern. Sinematografi Fabian Wagner merekam tiap detailnya dengan pas, termasuk pula dalam menghadirkan adegan-adegan thriller yang cukup breath-taking. Tata suara tidak terlalu istimewa namun lebih dari cukup untuk menghadirkan atmosfer-atmosfernya, terutama thriller moments. Begitu juga score dari Craig Armstrong yang sekedar cukup mengiringi adegan-adegannya sesuai kebutuhan emosi.

Sebagai sebuah remake, VF jelas termasuk yang berhasil memodifikasi cerita asli dengan baik. Tak terlalu istimewa, namun mampu diramu menjadi sebuah tontonan yang menarik untuk diikuti.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates