Friday, December 4, 2015

The Jose Flash Review
Tamasha

Imtiaz Ali adalah salah satu nama sineas baru Hindi yang patut diperhitungkan. Karirnya di layar lebar baru dimulai 2005 lalu lewat Socha Na Tha. Meski secara box office termasuk gagal, romcom yang dibintangi Abhay Deol dan Ayesha Takia ini mendapatkan kritik positif. Kesuksesan box office baru diraih ketika Jab We Met tahun 2007 yang dibintangi pasangan asli Shahid Kapoor-Kareena Kapoor. Kemudian berturut-turut Love Aaj Kaal (2009) dan Rockstar (2011). Kualitas yang di atas rata-rata, membuatnya mulai dikenal publik. Bahkan komposer sekelas A.R. Rahman bersedia menggarap musik-musik untuk Highway yang diproduksi di bawah benderanya sendiri, Window Seat. Drama romantis dengan bumbu penculikan ini sukses jadi box office, baik di dalam negeri maupun secara internasional. Kritik pun memberikan resepsi positif. Tahun 2015, Imtiaz Ali kembali mempersembahkan karya terbarunya, Tamasha, dengan pasangan Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Ditambah dukungan musik yang digubah oleh A.R. Rahman, Tamasha jelas film yang menarik perhatian. Tamasha sendiri bukan berarti tamasya dalam bahasa Indonesia, tapi sebuah pertunjukan yang sangat memikat dan mampu memberikan impact yang besar.


Sejak kecil Ved sangat tertarik dengan cerita. Hampir tiap hari ia mendatangi dan menghabiskan uang jajannya untuk membayar storyteller jalanan demi mendengarkan aneka cerita dari berbagai penjuru dunia. Mulai Rama-Shinta sampai Helena dari Troya. Ayahnya khawatir dengan kegemarannya ini dan mulai memaksakan pilihan pendidikan dan profesi kepadanya. Setelah dewasa kita diperkenalkan Ved dewasa yang sama sekali berbeda. Ia suka bertualang, kharismatik, sangat menarik, dan so alive. Salah satu yang terpikat oleh pesonanya adalah Tara, seorang wanita muda yang free-spirited, ketika mereka bertemu di Corsica, Perancis. Bosan dengan cerita yang klise, keduanya sepakat untuk menjalani ‘petualangan’ dengan tidak menjadi diri sendiri dan berjanji tidak akan bertemu lagi setelah liburan berakhir. Namun rupanya ini bukanlah janji yang mudah untuk ditepati. Hubungan mereka berkembang jadi lebih kompleks dan membawa mereka ke proses pendewasaan yang lebih jauh.

Secara garis besar, Ali ingin mengangkat isu pola didik kebanyakan orang tua (terutama di Asia) yang cenderung mengarahkan anaknya ingin menjadi apa, membuat anaknya melupakan passion dan mengikuti pola hidup ‘normal’ menurut ukuran masyarakat umum. Penuh rutinitas dan membosankan. Ali tak sekedar membungkusnya dengan roller coaster romance yang manis, tapi memang punya koneksi yang cukup penting dengan plot utama. In the end, semua yang memahami psikologis tahu bagaimana pribadi-pribadi yang sudah berhasil menemukan dirinya sendiri mempengaruhi kualitas relationship yang dimiliki. So Ali benar-benar tahu apa yang ingin disampaikannya dan menyampaikannya dengan ke-khas-annya yang sangat menarik.

Di awal, Tamasha memang terkesan seperti rangkaian sequence yang lompat-lompat tak karuan untuk memperkenalkan karakter Ved. Indah, namun bikin kening berkerut untuk sekedar mencerna maknanya, apalagi menikmati. Ketika Ved diperkenalkan Tara dengan latar keindahan Corsica, Tamasha masih saja susah dipahami dan dinikmati. Mereka berdua seperti menggunakan ‘bahasa’ sendiri (apalagi ditambah subtitle Bahasa Indonesia dari distributor sini yang kacaunya bukan main. Alternatif- nya ya mengikuti subtitle English-nya). Namun setidaknya di part ini, penonton disuguhi adegan yang serba cantik, manis, diiringi lagu Matargashti yang menurut saya jadi salah satu lagu Hindi paling memorable tahun ini, dan karakter serta chemistry Ved-Tara, membuat part ini masih bisa dinikmati.

Baru ketika memulai babak setelah Ved-Tara terpisah dan masing-masing menjalani hidup sendiri-sendiri, Tamasha menunjukkan alur cerita yang menarik. Membuat saya tersenyum, tertawa (apalagi dengan kehadiran karakter pengamen waria yang selalu berhasil memancing tawa). Babak-babak berikutnya yang menampilkan fase relationship Ved-Tara hingga penyelesaian konflik personal Ved, semakin lama semakin menjadikan Tamasha tontonan yang cerdas, kritis, namun dengan kemasan yang sangat-sangat menyenangkan. Visually stunning, heartwarming, inspiring, dan full of fun.

Akting Ranbir Kapoor dan salah satu sweetheart Hindi saat ini, Deepika Padukone, tentu tak perlu diragukan lagi. Ved jadi salah satu karakter paling menarik yang pernah dimainkan Ranbir setelah Barfi!. Lihat saja perubahan karakter dari Ved yang adventurer dan so alive jadi Ved, a routine guy yang membosankan. Thanks to the script yang membuat perkembangan karakternya sangat banyak dan berhasil dihidupkan dengan convincing dan masuk akal oleh Ranbir. Deepika pun mengimbangi performa Ranbir dengan sangat baik, terutama perkembangan karakter Tara dalam menyikapi hubungannya dengan Ved dari masa ke masa. Selain mereka berdua, karakter-karakter pendukung lainnya tak diberi porsi yang cukup untuk mencuri layar. Mungkin hanya Piyush Mishra sebagai sang storyteller jalanan dan Javed Sheikh sebagai ayah Ved.

Lagu-lagu cantik dengan lirik-lirik indah serta tune yang terus terngiang dalam ingatan sudah menjadi jaminan mutu A.R. Rahman selama ini. Tahun ini memang banyak film Hindi yang tentu saja selalu dihiasi lagu-lagu ear-catchy, tapi saya berani menobatkan soundtrack Tamasha sebagai salah satu yang paling ear-catchy dan memorable sepanjang tahun ini. Mulai yang playful dengan racikan tradisional Hindi dan European folk music lewat Matargashti, yang kental traditional Hindi lewat Wat Wat Wat, sampai yang dibawakan dengan warna orkestra di Tu Koi Aur Hai. Soundtrack penuh warna ini jelas menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Tamasha. Tentu saja tak perlu diragukan desain produksi yang luar biasa indah, mulai ketika di Corsica, restoran Social, New Delhi yang pasti memikat siapa saja dan membuat penonton ingin mengunjunginya, sampai pedesaan Shimla. Kesemuanya tak lepas dari peran sinematografi S. Ravi Varman dan editor Aarti Bajaj yang membuat Tamasha bak kolase adegan yang acak namun penuh makna.

Seperti kebanyakan film Hindi yang memang jago mengaduk-aduk emosi penonton dan menyajikan visual yang super indah, Tamasha memenuhi kesemuanya dengan menyajikan kecerdasan story telling di atas rata-rata dan best of all, inspiring in its way. Cocok untuk ditonton oleh penonton yang selama ini selalu merasa harus mengikuti tuntutan-tuntutan sosial padahal di dalam dirinya ada jiwa yang ingin memberontak, atau pasangan yang sedang menjalani hubungan namun sedang dilanda kebosanan. Tamasha tak hanya asyik ditonton dan diikuti, tapi juga bisa jadi bahan refleksi yang esensial. Dan saya pun berani mengklaim Tamasha sebagai salah satu film Hindi terbaik tahun ini.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates