Friday, December 25, 2015

The Jose Flash Review
Sunshine Becomes You

Hitmaker Studio selama ini dikenal sebagai produsen film-film horor yang dibesut oleh sutradara Jose Poernomo, seperti Rumah Kentang, 308, Rumah Gurita, Mall Klender, dan tahun ini, Tarot. Namun tahun 2015 ini, Hitmaker Studio memproduksi film yang di luar kebiasaannya: drama romantis. Film berjudul Sunshine Becomes You (SBY) yang diangkat dari novel national best seller karya Ilana Tan keluaran 2012 ini dirilis hanya seminggu setelah induk perusahaan Hitmaker Studio, Soraya Intercine Film, merilis Single dari Raditya Dika. Disutradarai oleh Rocky Soraya, dan naskahnya diadaptasi oleh Riheam Junianti yang sudah menjadi langganan produksi-produksi Soraya maupun Hitmaker, SBY didukung oleh bintang-bintang muda yang punya fanbase cukup besar, yaitu Herjunot Ali, Nabilah JKT48, dan Boy William.

Ray Hirano, anggota group B-boy berdarah Jepang-Indonesia, tertarik dengan seorang gadis di tempatnya mengajar tari, Mia Clark. Selain memang cantik dan berbakat, Mia juga punya darah Indonesia sehingga bisa mengobati kekangenannya berbahasa Indonesia selama tinggal di New York. Namun rupanya Mia tidak terlalu menanggapi sinyal-sinya Ray, sampai suatu hari memperkenalkan Mia pada kakaknya, Alex Hirano, seorang pianis penting di generasinya yang super perfeksionis, kasar, dan temperamen. Sebuah kecelakaan yang tak disengaja disebabkan oleh Mia membuat tangan Ray terluka. Sebagai bentuk penyesalan, Mia menawarkan diri menjadi asisten Alex sampai tangan Alex sembuh. Alex setuju dan dimulailah neraka bagi Mia yang harus meladeni perfeksionisme Alex. Namun justru dari peristiwa ini sedikit demi sedikit Alex lebih mengenal Mia. Kedekatan pun terjalin dan mereka saling tertarik. Ray mulai merasakan kedekatan mereka tetapi memutuskan untuk tidak mengambil sikap apa-apa. Apalagi setelah mengetahui fakta tentang Mia yang membuat keduanya mengesampingkan ego masing-masing.

Meski diangkat dari novel, gaya storytelling yang dipilih untuk SBY serupa dengan Eiffel, I’m in Love produksi Soraya yang jadi box office tahun 2003 lalu. Cheesy, formulaic, dan dragging, namun berkat dialog yang cukup menarik diikuti serta perkembangan chemistry antara Alex-Mia di paruh pertama film yang mengalir lancar, setidaknya part ini masih menjadi semacam enjoyable cheesiness. Namun kesemuanya ini jadi berbalik 180 derajat ketika memasuki paruh kedua, yaitu ketika formula disease exploitation drama mengambil alih cerita. Adegan-adegan long take yang seolah mandeg berkembang mulai terasa dragging-nya. Alih-alih menghanyutkan emosi, saya justru mulai merasakan kebosanan, sehingga tak peduli ending seperti apa yang akan dipakai. Toh semua kemungkinan ending sudah sangat generik dipakai. Termasuk aftermath pada karakter Alex yang juga bukan barang baru.

Jika Anda mengikuti filmografi Soraya, tentu Anda tahu bagaimana Shandy Aulia diposisikan sebagai Soraya’s sweetheart. Begitu sering digandeng di film-film produksi mereka namun dengan kualitas dan karakteristik yang cenderung serupa. Nabilah JKT48 di SBY ini rupanya meneruskan tradisi Soraya dalam penggambaran karakter utama wanitanya. Sangat tipikal dengan karakter-karakter yang diperankan Shandy Aulia sebelumnya, mulai dari watak, gesture, hingga kecenderungan perkembangannya. Nabilah tak tampil begitu buruk, apalagi ini adalah penampilan pertamanya di layar lebar, namun tentu masih jauh dari kata bagus. Performance-nya ketika melakoni adegan-adegan balet pun cukup convincing, meski tidak sampai mengundang decak kagum berlebih. Sayangnya fisik yang tergolong chubby agak mengganggu, apalagi untuk perannya yang seorang penari balet kontemporer profesional. Herjunot masih tak beranjak jauh dari karakter-karakter yang sudah-sudah, misalnya sebagai Ferre di Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, atau Zainuddin di Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Masih melankoli, hanya ditambahkan sedikit kejudesan yang mungkin tak akan terlalu sulit bagi Herjunot. Penampilannya ketika memainkan piano (tentu saja musik yang terdengar bukan berasal dari permainan tangannya, tapi diakali dengan editing) tidak terlalu meyakinkan. Meski demikian, setidaknya Herjunot dan Nabilah cukup berhasil membangun chemistry yang convincing. Kualitas akting yang setara dengan Herjunot juga ditampilkan Boy William sebagai Ray Hirano. Selain dari tiga cast utama, ada pula Annabella Jusuf tampil mencuri perhatian berkat parasnya yang menarik, Sam Brodie yang masih menjadi tipikal diri sendiri namun cukup berhasil menyegarkan suasana, serta cameo dari Kimmy Jayanti.

Latar New York tentu terlihat begitu megah dan cantik di tangan sinematografer Dicky Maland dan Jose Poernomo. Pergerakan kamera yang begitu smooth dan mem-framing adegan demi adegan cantik, berhasil mengeksplor latar-latarnya. Sementara itu ada cukup banyak yang patut dipertanyakan untuk properti. Misalnya sheet lagu Sunshine Becomes You di piano Alex dengan not-not balok berukuran besar-besar dan tebal seperti yang biasa dimainkan oleh pemain piano anak-anak pemula. Padahal kita tahu bahwa Alex adalah pianis kelas dunia.

Tata suara tak terlalu istimewa, selain sekedar cukup menampilkan dialog yang jelas terdengar. Pilihan-pilihan lagu yang mengiringi pun tergolong pas, menarik, dan tidak terasa ada pengulangan yang biasa dilakukan di film-film produksi Soraya/Hitmaker sehingga terkesan brainwash. Favorit saya Sunshine Becomes You, Selamanya, dan Melaju Kencang. Sayang ada satu score yang hanya mengaransemen ulang score film klasik Cinema Paradiso (1988) yang digubah Ennio Morricone, tanpa ditulis di kredit pula.


Diangkat dari novel metropop yang ringan, SBY memang punya target audience utama remaja perempuan. Dengan kemasan ala Eiffel I’m in Love yang ringan dan manis (kalau tidak mau dikatakan cheesy), tentu SBY bisa dengan mudah disukai oleh target audience utamanya. Belum lagi ditambah pemilihan cast yang memang sedang menjadi idola mereka. Saya pribadi menikmatinya ketika menjadi romantic comedy seperti di paruh pertama film. Enjoyable dan dengan perkembangan karakter yang menarik. Sayangnya paruh kedua menciderai kenikmatan keseluruhan film menjadi total cheesy. Tanpa detail adegan yang begitu diperhatikan (tapi juga akan diabaikan oleh penonton awam) dan penampilan aktor-aktris yang biasa-biasa saja, SBY di mata saya bukan sajian yang mengesankan. Bahkan kadang menggelikan dan painful. But yes, tentu saya bukan termasuk target audience utamanya. Jadi, jika Anda merasa termasuk target audience utamanya dan kebetulan juga menyukai Eiffel I’m in Love atau film-film drama romantis produksi Soraya yang lain, mungkin Anda akan bisa menikmati SBY di liburan Natal dan tahun baru ini.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates