Thursday, December 24, 2015

The Jose Flash Review
Star Wars: The Force Awakens

Star Wars boleh jadi fenomena global sejak tahun 1977, tapi kenyataan tidak bisa bohong. Special Edition re-release tahun 1997 di Indonesia flop. Tidak tayangnya Episode I: The Phantom Menace boleh pakai alasan tidak ada layar bioskop di Indonesia yang tidak memenuhi standard THX. tapi flopnya Special Edition bisa jadi salah satu alasan pihak bioskop lokal enggan mengeluarkan banyak dana untuk upgrade demi Episode I. Sebuah pertaruhan yang tidak main-main. Episode II tayang setelah diundur 3 bulan setelah jadwal US, dan Episode III pun pendapatannya di Indonesia tergolong biasa saja, apalagi jika dibandingkan worldwide gross yang selalu di atas US$ 500 juta, bahkan Episode I melampaui angka US$ 1 miliar! Ini fenomena yang unik sebenarnya, mengingat ada cukup banyak merchandise dan komunitas yang  mengaku fanbase Star Wars.

10 tahun berselang, setelah Lucasfilm dibeli oleh Disney dan J.J. Abrams yang sebelumnya berhasil me-remake Star Trek, dipercaya untuk melanjutkan saga legendaris Star Wars. Beban tugas yang dipikul cukup berat: mempertahankan reputasi sekaligus menjaring fans baru yang bahkan mungkin sebelumnya sama sekali awam dengan Star Wars. Impact-nya jika berhasil pun bakal sangat besar. Mau tak mau fans baru pasti akan memburu merchandise dan film-film lawasnya, dan itu adalah komoditas tanpa batas bagi Disney (lewat Lucasfilm, tentunya). Maka Episode VII yang diberi tajuk The Force Awakens (TFA) ini wajib memuaskan fans lawasnya, sekaligus membuat penonton baru tetap paham, bahkan tertarik untuk mengikuti seri-seri sebelumnya. Di Indonesia sendiri, dimana habit penonton sudah sangat bergeser, yaitu dari nonton karena tertarik, menjadi nonton demi status ‘kekinian’, bisa jadi kesempatan TFA untuk menjaring dolar, dan tentu saja (hopefully), fans baru. Bukan pekerjaan mudah, namun jika Abrams bisa melakukannya untuk Star Trek, kenapa Star Wars tidak?

TFA mengambil setting 30 tahun setelah Darth Vader dan Empire-nya berhasil dikalahkan. Ternyata the dark side masih cukup kuat untuk bangkit. Kali ini di bawah kekuasaan Supreme Leader Snoke, dibantu oleh Kylo Ren yang memakai helm topeng seperti idolanya, Darth Vader, General Hux, dan kapten wanita, Captain Phasma. Mereka berniat membuat seisi galaksi tunduk pada First Order. Untuk memperkuat diri, mereka mengincar keberadaan Luke Skywalker sebagai Ksatria Jedi terakhir di galaksi. Tak ada yang tahu di mana Luke berada. Petanya dipegang oleh R2D2 yang sedang dalam safe mode dan droid baru berbentuk bola, BB8. Takdir mempertemukan pilot Resistance, Poe Dameron, mantan stormtrooper yang membangkang, Finn, dan gadis pengepul sparepart asal Jakku, Rey. Tiga orang yang sebelumnya tak saling kenal ini jadi terlibat dengan perjuangan Resistance menggagalkan obsesi First Order. Satu per satu rahasia jati diri mereka terkuak dan membawa mereka ke takdir yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

TFA memang merupakan sekuel dari seri-seri sebelumnya, namun tak bisa dipungkiri bahwa J.J. Abrams dan tim penulis naskahnya; Lawrence Kasdan (yang juga turut menulis naskah Empire Strikes Back dan Return of the Jedi) dan Michael Arndt (Little Miss Sunshine, Toy Story 3, Oblivion, dan The Hunger Games: Catching Fire), masih menggunakan formula dan template yang serupa dengan dua trilogy sebelumnya, terutama dalam mengolah konflik keluarga, psikologis, dan politiknya yang menjadi tiga pilar cerita utama Star Wars Saga. Tak ketinggalan ‘rahasia-rahasia’ twist-nya yang sebenaranya cukup mudah ditebak bagi fans lawas. Tak ada yang salah, terutama dalam upayanya memuaskan sekaligus mengajak bernostalgia fans lawas. Bagi penonton baru, plot TFA tergolong sangat mudah dipahami, meski tanpa punya referensi apa-apa dari trilogy-trilogy sebelumnya. Oh yes, plotnya berkelok-kelok khas Abrams, namun sesuai kekhasan beliau pula, disampaikan lewat storytelling yang sangat mudah dinikmati. Lengkap dengan adegan-adegan laga yang super seru, seperti serangan pesawat X-Wing ke Starkiller (Death Star baru dengan ukuran jauh lebih besar) dan necessary witty jokes dan menggelitik yang tersampaikan lewat berbagai dialog dalam porsi yang sangat seimbang, terutama yang dilontarkan oleh karakter Finn. It’s totally a fun ride!

Sementara karakter-karakter lawas, seperti Leia (Carrie Fisher), Han Solo (Harrison Ford), Chewbacca (Peter Mayhew), C3PO dan R2D2, berhasil membawa nostalgia bagi penonton lawas dan tampil sama kuatnya seperti di seri-seri sebelumnya, TFA membawa cukup banyak karakter baru yang juga diperankan oleh aktor-akor yang terhitung pendatang baru pula (meski bukan film pertama mereka juga). Daisy Ridley memerankan heroine kita, Rey, dengan kharisma dan pesona yang begitu kuat. Bahkan mungkin sampai Episode IX nanti peran karakternya bisa lebih kuat daripada Princess Leia di original trilogy. John Boyega yang sebelumnya kita kenal lewat film komedi Inggris tentang alien yang sempat cukup populer, Attack the Block, berhasil pula menjadi comedic character yang menyenangkan (baca: tak semenjengkelkan Jar Jar Binks yang lebih banyak memanfaatkan clumsiness dan stupidity sebagai bahan guyonan) sekaligus mengundang simpati penonton di momen-momen serius. Oscar Isaacs sebagai Poe Dameron juga masih bisa mengundang simpati penonton sebagai pahlawan yang layak diidolakan, meski porsinya tak banyak. Semoga saja ke depannya porsinya dan sepak terjangnya semakin banyak, sehingga berhasil menjadi salah satu karakter yang diidolakan.

Adam Driver sebagai villain utama, Kylo Ren, belum terasa begitu mengancam, gara-gara karakternya yang memang masih dibuat belum cukup kuat dalam mengendalikan The Force. Driver tampak sudah berupaya menampilkan performance terbaik, namun I just haven’t felt it strong enough. Terakhir, tak ketinggalan aktor-aktor Indonesia yang berhasil menorehkan sejarah di perfilman Hollywood; Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Cecep Arif Rahman, yang berperan sebagai Tasu Leech dan geng Kanjiklub. Porsinya tak banyak, but hey come on… it’s Star Wars man! It’s a privilege to be part of it anyway.

Meski visual effect memegang peranan penting di franchise Star Wars, rupanya TFA masih berusaha seminimal mungkin penggunaan CGI. That’s why ia masih menggunakan set asli. Untuk CGI, TFA lebih banyak mengingatkan gaya realis ala original trilogy, ketimbang CGI yang bersih namun terlihat palsu seperti di prequel trilogy. Tak ketinggalan sedikit ‘aura Star Trek’ yang terasa lewat beberapa kostum. Flare yang menjadi visual signature Abrams untungnya tak hadir di sini. Gimmick 3D menampilkan petualangan dan berbagai adegan dengan lebih exciting, terutama dari segi depth. Untuk tata suara, TFA juga tak pernah main-main untuk menggarap detail dan kedahsyatan tiap sound effect-nya, termasuk pemanfaatan surround (bahkan Atmos) untuk menghidupkan semua adegannya dan tentu saja membawa penonton ke pengalaman super seru, seperti saat kejar-kejaran X-Wing. Score asli John Williams masih dipakai dengan beberapa variasi yang sayangnya, tak terlalu berkesan, selain sekedar menyambung nuansa yang sama dengan score asli. Patut disayangkan score Duel of the Fates dari prequel trilogy yang begitu saya kagumi saat adegan-adegan pertarungan lightsaber, harus absen di seri ini. Tapi kesemuanya tetap mampu mengiringi tiap adegan menjadi lebih dramatis dalam takaran yang pas.

Yes, TFA is a movie event of the year you wouldn’t want to miss, but never to forget that somehow TFA is just a prolog or an intro to a more and bigger adventure to come. That’s why, in my eyes, it didn’t feel spectacular. Jujur, saya sendiri punya perasaan ‘kurang puas’ lewat presentasi kali ini, selain sekedar senang melihat elemen-elemen khas Star Wars yang selalu bisa bikin saya merinding hanya dengan mendengarkan main theme dan desingan lightsaber yang beradu. But hey, saya masih bisa melihat Abrams dan timnya sudah mempersiapkan grand design yang cukup matang untuk trilogy terbaru ini. Let’s just wait and see. Meanwhile, just enjoy the ride Abrams has delivered for all of us, over and over again!

Lihat data film ini di IMDb.

P.S.: untuk experience maksimal, ini urutan format dari prioritas paling utama :
  • IMAX 3D
  • 4DX 3D
  • Regular 3D
  • Dolby Atmos
  • Regular 2D

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Achievement in Editing - Maryann Brandon and Mary Jo Markey
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - John Williams
  • Best Achievement in Sound Mixing - Andy Nelson, Christopher Scarabosio, and Stuart Wilson
  • Best Achievement in Sound Editing - Matthew Wood and David Acord
  • Best Achievement in Visual Effects - Roger Guyett, Pat Tubach, Neal Scanlan, and Chris Corbould
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates